
Kita tidak tahu di dalam hutan seperti apa dan siapa saja yang tinggal. Mungkinkah hanya ada binatang buas tak berperasaan? Mungkin ada elf tinggal di dalam hutan seperti yang tersebar di buku-buku mitologi, atau makhluk lain yang sulit dijelaskan asal-usulnya.
Hanya beberapa persen dari seluruh alam yang bisa kita ulik, yang bahkan tidak pasti apakah pengetahuan kita saat ini layak disebut benar atau hanya sok tahu.
Banyak yang belum terungkap, apalagi di jaman ini. Segala mata uang menggunakan kepingan logam, perak, dan emas. Tidak ada uang kertas dan barter masih sangat lumrah di kala ini. Belum banyak peneliti yang mencari informasi soal hutan karena mereka masih sibuk dengan wabah penyakit atau bereksperimen.
Dengan sosok vampir yang terdengar tabu di masyarakat dan hanya dicap dongeng, ternyata mereka memang ada. Sama halnya dengan manusia serigala atau werewolf. Mereka berbaur layaknya penyihir dengan manusia, menjadi musuh bebuyutan para penghisap darah, dan mencoba melindungi para manusia baik di sekelilingnya.
Contohnya keluarga Gilbert penjual obat-obatan yang ternyata manusia serigala. Keluarga yang dikenal baik oleh Cayenne. Mereka sudah berteman lama sejak nenek buyut. Karena saking dekatnya, terkadang percintaan tak dapat dihindari. Perjodohan antara anak keluarga Gill dan keluarga Cayenne.
Merlin yang seharusnya menikah dengan anak perempuan Paman Gill, pada akhirnya dibatalkan karena banyak alasan. Meninggalnya kedua orang tua Cayenne dan berubahnya Merlin menjadi kucing. Walau perjodohan itu telah batal, keluarga Gill tetap melindungi anak-anak tersebut.
Paman dan Bibi Gill selalu datang ke rumah Merlin. Datang membawa bahan makan dan keperluan kecil lain seperti baju atau barang yang diinginkan kedua anak itu. Terkadang anak mereka juga ikut untuk menemui Merlin.
Kini setelah Paman Gill mengetahui ada ras musuh bebuyutannya bersama anak Cayenne, Paman Gill mengerahkan beberapa teman manusia serigalanya untuk mengawasi rumah Cayenne.
Walau Louis tidak begitu peka, tapi dia tahu ada sesuatu yang tidak beres. Hawa sekitar yang semula hanya dingin perlahan menjadi mencekam. Mungkin karena insting vampir dengan musuh rasnya. Karena jika dilihat, Merlin maupun Phyllis tampak biasa saja setelah memasuki daerah dekat rumahnya.
"Phyllis, Merlin. Kalian merasa aneh?" tanya Louis sambil duduk di kursi kayu perpustakaan mini milik Phyllis. Merlin sendiri yang sudah lelah berpergian langsung berubah menjadi kucing. Karena ia butuh istirahat sebelum pergi menemui Paman Gill nanti.
"Biasa saja," jawab Phyllis singkat. Gadis itu mengambil sebuah buku tebal dan membacanya. Ada beberapa mantra sihir di sana yang bisa ia gunakan.
Charlie mendekati kaki Phyllis lalu melingkar di sana, kembali tidur. Louis melirik ke arahnya, menatap sinis. "Kenapa kucingmu bisanya tidur terus?"
"Emangnya kamu pikir dia harus apa? Memasak?" balas Phyllis tanpa menoleh ke Merlin.
Louis mendengus, ia kemudian mengambil gelas susu yang dibeli Phyllis dan meminumnya. Perut yang lapar akhirnya terisi lagi. Setelah perjalanan jauh dari pasar membuatnya lelah dan kembali keroncongan.
__ADS_1
Setelah itu, pangeran vampir tersebut kembali menemani Phyllis di ruang perpustakaan. Ia bersender pada kursi kayu buatan Charlie dulu. Mengamati sekitar, dikelilingi rak-rak penuh buku tebal. Beberapa judulnya mengarah ke mantra, ada pula buku resep.
"Kamu suka baca buku," ucap Louis lalu mengambil buku resep di salah satu rak. Phyllis lagi-lagi tidak menjawab, Louis bahkan sudah terbiasa dengan sikap Phyllis yang seperti ini.
Namun ketika Louis membuka buku itu, semerbak bau tidak asing tertangkap hidungnya. Aroma ini sangat familiar. Kedua matanya membelak kaget, ia menatap tajam halaman pertama buku itu. Dan secepatnya ia kembali menutup.
Tetapi bau itu masih tetap ada. Louis melihat sekitar, kemudian bergegas keluar dari perpustakaan. Charlie yang semula tidur tiba-tiba terbangun. Ia menggeram ke arah Phyllis.
"Kenapa?" tanya Phyllis sambil menutup bukunya pelan. Charlie menengok ke Louis dan kembali menatap Phyllis. Phyllis menoleh ke arah Louis. "Ada apa?"
"Kamu pakai sihir pelindungmu. Yang lebih kuat dari malam kemarin," perintah Louis.
Charlie tampak setuju yang akhirnya Phyllis membuat perisai untuk dirinya dan Charlie. Lalu keduanya pergi keluar dari perpustakaan.
Dari arah luar, tiba-tiba terdengar suara teriakan dan aungan keras. Aroma yang dicium Louis semakin pekat. Ia langsung keluar rumah, diikuti Phyllis dan Charlie.
"T-tenang. Aku bukan bagian dari mereka." Jawaban Louis langsung ditolak Paman Gill. Cakar-cakar tajamnya ia keluarkan sebagai tanda dirinya tak suka atas pembelaan Louis.
Padahal sudah jelas para makhluk berjubah itu adalah bangsa darah sepertinya. Louis menyadari itu dan tahu tujuan mereka datang ke sini apa. Yaitu membawa Louis kembali ke kerajaan.
"Louis, sebaiknya bicara jujur pada Paman Gill," ucap Phyllis sambil mendekati Paman Bill yang berubah menjadi serigala.
"Oke, oke. Tapi bisakah pertarungan ini dihentikan dulu?" tanya Louis. Paman Gill melirik ke arah Phyllis, kemudian mengaung memberi tanda untuk berhenti. Begitupun dengan Louis yang mengatur para vampir bawahannya.
Setelah itu Paman Gill berubah menjadi manusia. Mereka berdiri di teras. Di halaman itu penuh dengan dua ras berbeda. Walau ada perintah berhenti, sorot kebencian satu sama lain tidak dapat ditutupi lagi. Hasrat ingin membunuh bisa dilihat dari ujung mata mereka.
"Jelaskan siapa kamu dan vampir-vampir ini, apa tujuanmu datang ke sini." Paman Gill merangkul Phyllis.
"Aku Louis Campbell, pangeran kerajaan vampir. Aku kabur dari acara besar di kerajaan. Mereka adalah orang suruhan raja," jawab Louis sedikit gugup. Ia takut jika sewaktu-waktu Paman Gill berubah dan mencakar wajahnya.
__ADS_1
"Kalau begitu pergilah dari sini sekarang sebelum aku koyak tubuhmu itu," ancam Paman Gill.
Louis sendiri merasa keberatan. Ia tidak ingin kembali ke kerajaan, tapi di sini dia hanya akan menjadi santapan para manusia serigala. Apalagi jika dilihat, vampir lainnya banyak yang terluka. Mereka tidak sekelas vampir tentara.
Pemuda vampir itu membutuhkan waktu lama untuk berpikir. Hingga ia mendapati sebuah alasan. "Taringku dilunakkan Phyllis. Aku sudah memintanya untuk mengembalikan tapi dia tidak mau."
Paman Gill menoleh ke Phyllis. Gadis itu hanya diam dan sesekali melirik Charlie.
"Benarkah, Phyllis?" tanya Paman Gill. Phyllis mengangguk kecil.
Rangkulannya perlahan terlepas dan Paman Gill mengelus kepala Phyllis. "Anak baik. Kamu sudah bisa melindungi diri dari makhluk kotor seperti dia. Nah, karena sekarang Paman Gill ada di sini, bisakah kamu mengembalikannya?" tanya Paman Gill lembut.
Phyllis menggeleng pelan. Raut ketakutannya sangat terlihat dari netra birunya.
"Paman Gill dan paman lain berjanji akan melindungi Phyllis di sini," lanjut Paman Gill, ia lalu menoleh ke manusia serigala lainnya. Mereka mengiyakan dan ikut berjanji.
Charlie yang sejak tadi diam akhirnya berubah menjadi Merlin. Ia menepuk pundak Paman Gill dan menggelengkan kepala. Wajahnya terlihat putus asa. Seketika Paman Gill was-was dan menatap Phyllis.
"Phyllis sayang. Kamu suka dengan vampir ini? Kamu tidak mau jauu darinya?! Apa yang bagus dari makhluk hina ini?!" Jari Paman Gill menunjuk-nunjuk wajah Louis. Vampir itu hanya menggerutu.
"Bukan, bukan begitu, Paman Gill," ucap Merlin sambil menurunkan tangan Paman Gill.
"Katakan, Phy," lanjut Merlin kemudian.
Phyllis mengangguk dan sedikit menjauh dari mereka. Kedua tangannya bersatu, saling menggenggam karena takut. Kaki-kakinya bergerak tak nyaman.
"Sebenarnya.. sebenarnya aku belum mempelajari sihir untuk mengembalikannya."
...* * * * *...
__ADS_1