Penyihir Dan Pangeran Vampir

Penyihir Dan Pangeran Vampir
20 — Sihir Phyllis


__ADS_3


Seluruh pasang mata tertuju pada Phyllis dan Louis. Mereka memperhatikan gadis penyihir itu. Louis sedikit menjauh untuk memberikan tempat pada Phyllis.


"Gunakan kedua tanganmu dan pusatkan sihirmu di sana," ucap Louis.


Phyllis segera mengadahkan kedua tangannya di udara dan mengalirkan energinya ke telapak tangan. Beberapa detik menunggu, sebuah asap yang perlahan berubah menjadi bola, dan beralih menjadi kobaran api warna merah.


Senyum mereka mengembang. "Golongan panas!" seru salah satu vampir. Tetapi Louis melihat ada percikan di sisi tangan kanan Phyllis. Ia menahan para vampir untuk bersorak.


Di sisi kanan api itu muncul api warna biru yang kemudian beradu dengan warna merah. Keduanya bercampur di pusat bola dan merubah warnanya menjadi ungu. Warna ungu pucat, sedikit demi sedikit menjadi ungu pekat.


Semua terdiam, begitu juga dengan Phyllis yang bisa menyimpulkan dia termasuk golongan apa. Di mana ada unsur dingin dan panas di dalam sihirnya. Phyllis lalu menyudahi tontonannya.


"Golongan sihir netral. Ini cukup langka. Merlin, tolong tunjukkan punyamu," ucap Louis.


Charlie segera berubah menjadi Merlin, kemudian mendekati Phyllis dan mengikuti arahan dari Louis. Di tangannya ada gumpalan asap dan berubah menjadi kobaran api biru. Merlin adalah golongan dingin. Tidak heran karena kebanyakan sihir yang ia pelajari adalah mantra pelindung.


Merlin lalu kembali ke tempat semula dan berubah menjadi kucing hitam, meminta pangkuan pada Bibi Gill.


"Golongan netral memiliki kelebihan yang mudah beradaptasi dengan sihir apapun. Tetapi kekurangannya, sihir yang dipelajari tidak begitu kuat. Harus mengerahkan lebih banyak energi untuk memperkuatnya. Terutama saat duel," jelas Louis sambil mengelus kepala Phyllis.


"Itu kenapa dia stabil dan bisa menggunakan macam-macam sihir. Walau begitu, kalian pasti bisa merasa kekuatan sihir Phyllis masih terbilang biasa saja. Bahkan dengan menambah sedikit kekuatan untuk melawannya, sihir Phyllis tidak berguna lagi."


Phyllis lalu kembali duduk, diikuti Louis di sampingnya.


"Sebenarnya sihir Phyllis bisa lebih diperkuat, tapi itu artinya dia harus dilatih lebih keras. Bagaimana, Phyllis?" tanya Louis sambil menatapnya.

__ADS_1


"Bukan masalah buatku. Aku akan melakukannya selagi aku bisa," jawab Phyllis enteng. Louis tersenyum lebar, lalu menoleh ke Paman Gill dan beralih ke pasukan khususnya.


"Besok pagi, kita akan berlatih dengan para manusia serigala. Kita akan latihan di dalam hutan seperti tadi," jelas Louis. Mereka mengangguk paham dan setelahnya kembali mengobrol.


Tak terasa waktu sudah berjalan lama. Phyllis mulai mengantuk dan izin undur diri. Bibi Gill membantunya masuk selagi Charlie bersama Louve. Paman Gill dan Louis bercengkrama dan membahas tentang latihan besok pagi. Paman Gill berharap latihan ini berjalan lancar dan bisa memperkuat pertahanan wilayahnya.


...* * *...


Esok pagi, seperti rencana sebelumnya. Sekelompok manusia serigala dari desa Paman Gill sudah datang. Para vampir berada di sisi kanan, dan Phyllis berdiri di tengah-tengah mereka. Paman dan Bibi Gill asik menikmati pemandangan ini di teras rumah selagi Louve memandikan Charlie di halaman samping.


Louis dengan gagah berdiri di depan mereka. Memberikan arahan untuk latihan hari ini dan menunjuk beberapa wilayah yang boleh dilalui.


"Kita bagi dua kubu. Phyllis dan manusia serigala sebagai kubu penyerang dan vampir harus bertahan hingga nanti siang. Vampir tidak boleh menyerang dan hanya untuk bertahan saja. Sihir yang dilarang adalah sihir tingkat berbahaya dan penyembuh. Kalian cukup menangkapnya dan membawa ke sini, jangan sampai melukai. Paham?"


"Paham!"


Setelah Louis memberi aba-aba dan memulai latihan, para vampir berlari masuk ke hutan. Ada yang menggunakan pelindungnya dan bersembunyi di suatu tempat. Louis menghitung selama sepuluh detik lalu menyuruh kubu penyerang masuk ke hutan.


Para manusia serigala remaja itu segera berubah menjadi tubuh serigalanya, mengendus aroma vampir yang tentunya sudah sangat jauh. Para remaja ini dengan percaya diri mengikuti arah ke mana bau itu berasal.


Tetapi mereka banyak yang terlalu meremehkan. Sok pintar dan menganggap ini mudah. Padahal jejak-jejak itu mudah disembunyikan oleh para vampir untuk mengelabui mereka. Bercampur lalu memisah sehingga baunya di mana-mana. Jika lawan mereka Phyllis, cara ini tidak akan berguna. Tapi karena mereka niat mengacaukan fokus manusia serigala muda yang sombong, ini adalah taktik yang bagus.


Serigala-serigala itu berpencar, meninggalkan Phyllis di jalan masuk. Phyllis hanya berjalan santai sambil mengamati sekitar. Hidungnya tidak setajam serigala dan ia bergantung pada telinga dan mata. Pemuda serigala itu tidak ingin membantu Phyllis karena menganggap Phyllis hanya akan merepotkan.


Saat di tengah jalan, mata Phyllis menangkap sesuatu. Ia mengamati ke benda itu, ada ular hitam melingkar di salah satu ranting pohon. Tetapi ular itu hanya diam saja dengan mata terpejam.


Lalu dengan sengaja Phyllis menghentak-hentakkan kaki di lantai dan membuat suara berisik sambil terus mengamati gerak-gerik ular tersebut. Sesekali Phyllis mengibas-ibaskan sebuah kayu di depan si ular. Binatang itu merasa terusik dan perlahan pindah untuk menjauh ke arah ranting yang lebih tinggi.

__ADS_1


Dengan cepat Phyllis mengarahkan tangannya dan merapal mantra. Ular tersebut terjatuh dan seketika berubah menjadi seorang vampir. Ia tertawa, meringis karena tubuhnya terhantam tanah.


"Dapat satu," ucap Phyllis sambil membantu vampir tersebut. Ia membawa sosok itu sambil berjalan santai. Phyllis tidak begitu mencari lebih karena mengingat para serigala terlalu ambisius.


"Nona Phyllis yang pertama menemukan kami," ujar vampir tersebut.


"Masih sisa sembilan belas vampir lagi, kan," balas Phyllis dijawab anggukan mantap vampir itu.


Keduanya berjalan hingga sampai di halaman rumah Phyllis. Di sana sudah ada Louis yang menunggu dengan senyum bangga.


"Kenapa cuma satu?" tanya Louis remeh. Phyllis cemberut dan melengos. "Sulit. Aku tidak bisa menjadi penyerang," jawab Phyllis kesal.


Jika diingat, latihan sebelumnya Phyllis yang dikejar dan harus bertahan diri dari dua puluh vampir itu. Phyllis sama sekali belum pernah menjadi penyerang kecuali praktik sihir baru. Tampaknya Phyllis sulit untuk melacak sesuatu.


"Kenapa tidak pakai sihir penajam penciuman?" tanya Louis lalu menyentuh hidung mancung Phyllis. Gadis itu diam, merenunginya. Kemudian berbalik sambil berlari.


"Terima kasih sarannya!" seru Phyllis kembali masuk ke dalam hutan.


Louis dan vampir yang ditangkap Phyllis hanya memandang punggungnya yang mulai tenggelam dalam jajaran pepohonan. Louis menoleh ke pengawalnya dan memberi tatapan marahnya.


"Kenapa mengalah?" tanya Louis ketus.


"Maafkan saya, saya ingin memberi poin untuk Nona Phyllis karena dia tidak punya tim. Dan untuk indra penciumannya kalah dengan para serigala. Saya takut membuatnya min—" Louis menutup mulut vampir tersebut dan menggelengkan kepala.


"Jangan kasihani Phyllis. Dia ini gadis pintar. Lain kali jangan begini lagi," peringat Louis yang langsung dijawab anggukan mantap dari si vampir.


...* * * * *...

__ADS_1


__ADS_2