Penyihir Dan Pangeran Vampir

Penyihir Dan Pangeran Vampir
18 — Keluarga Cayenne


__ADS_3


Sore hari telah tiba. Pintu kamar lantai bawah terbuka perlahan. Merlin sudah siuman. Kepalanya celingukan, di mana ia melihat para vampir itu tertidur pulas.


"Apa yang direncanakan Louis, sih?" gumam Merlin sedikit kesal. Perlahan ia berjalan ke anak tangga dan pergi ke kamar tidur.


Tetapi saat di depan pintu, ia mendengar suara tawa cekikik Phyllis dan Louis. Keduanya bercanda dan terdengar saling menggelitik. Phyllis jarang seperti itu. Mungkin terakhir dia tertawa sampai selepas ini saat.. sebelas tahun lalu.


Benar, waktu perayaan ulang tahunnya. Saat itu mereka tengah membuat pesta kecil untuk ulang tahun Phyllis yang ke-5 tahun. Tetapi tiba-tiba warga desa mendatangi dengan obor, mayoritas dari mereka adalah pria muda. Sementara para wanita dan anak-anak diungsikan ke desa sebelah. Mereka takut jika keluarga penyihir Cayenne mengamuk dan mengutuk seluruh penduduk desa.


Rumah mereka memang tidak jauh dari rumah penduduk lain, tapi bisa dibilang letaknya sedikit minggir dan seolah memisah. Ini karena orang tua Cayenne ingin melatih sihir lebih leluasa. Mungkin kecurigaan warga yang menumpuk akhirnya membuat mereka berbuat nekat dan berasumsi mereka penyihir—meski sesungguhnya benar.


Ibu Cayenne memperingatinya untuk segera membawa Phyllis ke hutan sebelum para warga masuk ke dalam rumah. Tetapi rasanya tidak mungkin karena mereka sudah mengepung gubuk kecil itu.


Merlin tidak tahu pasti apa yang mereka bicarakan selain teriakan 'bakar penyihir!'. Kedua orang tuanya ditarik keluar dan ditaruh di halaman rumah. Sang ayah dipukuli hingga babak belur. Kedua tangannya diikat dan mulutnya disumpal dengan kain basah karena minyak. Hal ini untuk menghalangi penyihir untuk tidak mengucap mantra.


Merlin dan Phyllis dibekukan, ditaruh agak jauh dari kedua orang tuanya. Ibu Cayenne yang masih bebas langsung membuat sebuah pelindung untuk melindungi kedua anaknya sehingga tidak bisa disentuh warga. Para warga semakin marah dan mengikat tangan ibu Cayenne.


"Bunuh ibunya supaya sihirnya hilang!"


Beberapa pria memegangi perempuan itu, mendudukkannya tidak jauh dari suaminya. Para warga hendak membakar mereka. Tetapi sungguh, iblis macam apa yang merasuki. Ketika mereka ingin mengguyur tubuh ibu Cayenne dengan minyak, mereka diam. Tertegun.

__ADS_1


Ibu Cayenne adalah perempuan dengan paras cantik. Setiap melihatnya, pasti setidaknya ada rasa tertarik. Wajah yang tak lazim dimiliki manusia. Memang benar penyihir juga manusia, tetapi Cayenne ini seperti malaikat.


Surai cokelat panjang dengan netra bak berlian biru, mengkilap. Lentiknya bulu mata, hidung mancung, bibir merah ranum tanpa polesan kosmetik. Dagu dan pipi tirus. Leher jenjang yang indah berkalung bunga yang dibuat Phyllis sore tadi. Bahunya kecil, namun badannya berisi.


Dia tampak sempurna sebagai seorang manusia.


"Hei! Sabar! Tidak bagus kalau langsung membunuh mereka. Bagaimana kalau kita siksa?"


Senyum seringai dan jahat itu menghiasi wajah menjijikkan mereka. Para pria dengan gairah memuncak segera melecehkan wanita beranak dua itu. Di depan suaminya, mereka sangat bangga melakukan perbuatan menggelikan itu.


Tentunya kepala keluarga Cayenne tersebut tidak terima. Tetapi ia tidak bisa berbuat apapun selain menyaksikan istrinya yang dikotori tepat di depan mata. Di mana dia melihat para manusia kotor itu bahagia di atas nasib kematian pasangan penyihir ini.


"MERLIN! Lari!!"


Seperti dugaan, setelah para manusia b*jingan itu puas, mereka mengguyur tubuh wanita Cayenne itu dan digabungkan dengan suaminya. Tak bisa melakukan apa-apa lagi, yang penting kedua anaknya tidak mati di tangan manusia-manusia gila ini.


Api mulai dinyalakan. Kecil, kecil, dan semakin membesar. Kobaran itu melahap kedua tubuh yang terikat bersama di halaman rumah. Tak lupa kediaman mereka dijarah, barang penting atau terlihat unik segera diambil, sisanya dibiarkan lalu ikut dibakar.


Sorak-sorak bahagia, penuh kemenangan. Mereka merayakan kematian keluarga penyihir Cayenne dengan bangga. Melupakan jasa-jasa Cayenne selama ini di desa. Hanya karena mendengar rumor tentang Cayenne adalah penyihir, mereka langsung menghakimi. Sungguh biadab.


"Manusia memang begitu," suara itu membuyarkan lamunan Merlin.

__ADS_1


Pintu kamar itu terbuka dan Louis berdiri di sana dengan senyum, menyambut kakak iparnya—tentu usia yang lebih muda darinya.


"Kenapa—" gelagapan, Merlin sedikit malu karena sesuatu yang ia pikirkan bisa dibaca Louis. Walau begitu, vampir itu tidak merespon lebih. Ia memberikan jalan pada Merlin untuk masuk.


Merlin mendekati Phyllis yang duduk di ranjang. Paras manis, mirip seperti ibu mereka. Seolah ini duplikat ibunya. Sangat, sangat cantik. Dengan senyum yang menggembang, wajah muramnya selama ini sudah digusur dengan kehadiran Louis. Haruskah Merlin berterima kasih pada vampir itu?


"Phy, kamu cantik sekali," puji Merlin seperti biasanya. Ia tak tahan jika melihat kecantikan adiknya. Ini luar biasa. Andai orang tua mereka masih hidup, pasti mereka dibilang kakak-adik karena sangat mirip. Hanya saja tubuh Phyllis mungil dan tak seberisi ibunya.


Hanya senyum malu dan pipi merona sebagai jawaban Phyllis. Merlin sudah sangat tahu adiknya pemalu, apalagi jika ada yang memuji penampilannya. Jika boleh, Phyllis lebih memilih dipuji tentang keterampilan sihirnya. Tapi dia akan mendapat keduanya, karena sama-sama bagus dan sempurna.


Keduanya lalu membicarakan hal-hal ringan. Louis sendiri turun ke bawah dan membangunkan para pengawalnya. Mereka sudah cukup tidur hari ini.


"Bangun! Kalian mengabdi padaku bukan untuk tidur!" bentak Louis yang membuat mereka membuka mata dan buru-buru berbaris. Memuaskan. Meski baru bangun tidur, tapi refleks mereka sangat bagus. Latihan militer yang mereka dapat selama ini sangat berguna untuk serangan tiba-tiba seperti ini.


Setelahnya, Louis mengajak mereka untuk olahraga sore. Hari ini mereka belum bisa membantu Phyllis. Selain karena mendadak, Louis tidak ingin bersikap kejam seperti dulu saat membentuk pasukan khususnya. Ia tidak ingin memberatkan mereka lagi. Lagipula, Phyllis gadis yang cerdas. Dalam waktu singkat, Phyllis sudah bisa menguasai beberapa mantra berbahaya untuk bertahan.


Merlin dan Phyllis turun ke lantai bawah setelah puas berbincang. Menyiapkan makan malam untuk mereka dan para vampir. Merlin memberikan beberapa resep yang ia temukan di perpustakaan tentang makanan alternatif untuk vampir.


Di tengah olahraganya, para vampir dikejutkan dengan aroma manusia serigala. Berasal dari jalan setapak menuju pedesaan. Dengan sigap mereka menghadang pangerannya dan sosok itu untuk tidak mendekat. Namun Louis sangat mengenali bau itu.


"Selamat sore. Aku membawa beberapa bahan masak. Apa aku boleh masuk?" tanya Louve kepada gerombolan para vampir itu.

__ADS_1


...* * * * *...


__ADS_2