
"Seharusnya aku ingat dengan maniak kebersihan sepertimu. Selalu gatal melihat benda kotor di sekitar," gumam Louis sambil mengelus pipinya yang kena tampar Phyllis beberapa menit lalu.
Phyllis baru selesai mencuci piring dan gelasnya. Ia menyelesaikan belajarnya dan pergi ke kamar atas untuk tidur. Sementara Merlin dan Louve masih mengobrol di teras. Terdengar suara tawa mereka bersama para vampir.
Louis berbaring di kasur selagi Phyllis melepas jubah dan mengganti pakaian. Hanya menggunakan rajutan yang dibawa Louve beberapa hari lalu, kemudian naik ke ranjang.
Pangeran Vampir tersebut segera memeluk tubuh mungilnya begitu Phyllis merebahkan diri. Gadis itu tidak berkutik, hanya diam di dalam dekapan si vampir. Terasa hangat.
"Mau membicarakan sesuatu?" pancing Louis. Kepala Phyllis mengangguk kecil di dadanya. Kemudian ia melepaskan pelukannya dan menatap Phyllis.
"Seperti yang kamu tebak. Ada sesuatu yang terjadi. Aku tidak masalah dengan manusia serigala remaja yang sombong. Bukan itu masalahnya," jelas Phyllis sambil melihat ke arah bawah. Meski dia mengatakan demikian, tapi gerak-geriknya tetap gelisah.
"Tapi kamu sebenarnya terganggu, kan?" tebak Louis.
Phyllis tidak menjawab, ia bahkan tidak tahu jawaban pastinya karena takut dianggap terlalu kekanak-kanakan. Menurutnya, hal sepele seperti ini tidak seharusnya dipikirkan lebih.
"Mereka masih remaja. Aku sengaja memberi kesempatan mereka untuk berada di posisi atas dan merasa menguasai. Jiwa-jiwa muda yang haus untuk mengejar sesuatu, melupakan orang sekitar, dan hanya memikirkan tujuannya. Di sini kita bisa melihat jika mental mereka belum siap," ujar Louis.
"Apa maksudmu tentang mental mereka?"
"Mental bekerja sama. Berani bertarung satu sama lain demi memperebutkan tujuan bersama. Contohnya saat kamu membantu manusia serigala untuk menangkap vampir. Aku kurang tahu sikap mereka seperti itu hanya kepadamu atau tidak, tapi intinya mereka berpikir lebih unggul darimu dan menganggap bantuanmu adalah ancaman," lanjut Louis sambil mengelus kepala Phyllis, mencoba memberikan ketenangan padanya.
__ADS_1
"Aku yakin cepat atau lambat kamu akan menyadari. Metode latihanku dulu kejam di militer vampir, ini hanya langkah pertama untuk melihat jati diri mereka."
Phyllis enggan menjawab. Otaknya masih sibuk mencerna penjelasan Louis. Kekasihnya masih sabar menunggu hingga Phyllis melontarkan pertanyaan kedua.
"Aku tadi menggunakan indera penciuman yang kamu sarankan. Tetapi baunya sangat tajam. Aku bahkan tidak bisa membedakan setiap bau. Padahal kamu selalu bilang kalau kamu mengenali aromaku, Louve, dan lainnya," lanjut Phyllis.
"Itu jawaban simple. Karena aku sudah terbiasa. Aku tidak tahu batasan indera penciuman manusia seperti apa. Mungkin kita bisa praktik?" tawar Louis yang lagi-lagi memasang raut menggodanya. Phyllis mendengus dan menutupi wajah Louis yang mulai nakal dengan telapak tangannya.
Louis tertawa kecil dan memegang tangan Phyllis, menaruh di pinggangnya. "Aku akan mengajarimu itu. Mari kita lanjut pertanyaan selanjutnya," ucap Louis sembari menatap lekat netra Phyllis.
"Soal perang. Apa akan ada perang di sini?" Pertanyaan yang bisa ditebak Louis. Gadis mungilnya tidak mungkin tidak tertarik dengan hal itu.
"Sebelumnya aku ingin kamu berjanji padaku. Janji untuk tidak marah," balas Louis sambil memberikan kelingkingnya, membuat pinky promise. Phyllis tidak mengerti, tetapi dia tetap berjanji. Dia tidak mau bertele-tele.
Louis lalu bangun dari tidurnya, duduk dan menyender ke bantal. Lalu ia lanjut menjelaskan, "keluarga itu sangat sering berbuat onar. Salah satunya pembantaian manusia serigala di sini. Pada akhirnya kerajaanku dan Washington membuat perjanjian. Washington dilarang datang ke sini dan sebagai gantinya..."
Louis menoleh pada Phyllis. Tangannya mendekat ke pipi Phyllis dan mengelusnya pelan. Tatapan tajamnya perlahan melayu. "Aku harus menikahi anaknya, Alice Washington."
Kedua mata Phyllis membelak. Ia menepis tangan Louis, marah. Tak percaya dengan yang dia dengar. Itu artinya sekarang Louis bertunangan dengan putri vampir kejam?!
Seketika pikiran Phyllis ke mana-mana. Keamanan dan kedamaian yang baru ia dapat terancam. Jika Louis terus ada di sini dan Alice tahu, keluarga bengis itu akan membantai seluruh penduduk di wilayah ini. Peperangan tidak bisa terelakkan.
Wajah Phyllis menjadi cemas, netra biru berliannya menyipit takut. Bisa-bisanya Louis masih sesantai ini. Tetapi jika dipikir ulang, Louis sedang mengajari mereka untuk memperkuat ketahanan diri. Dengan mengerahkan pasukan elitnya untuk berlatih bersama, sepertinya kemungkinan perang terjadi lebih besar.
__ADS_1
Ia tahu sedikit banyak Keluarga Washington adalah keluarga yang tidak terima dengan penolakan dan tidak sabaran. Dengan adanya Louis menunda-nunda pernikahan, hal ini akan memicu kecurigaan. Louis banyak cerita jika usia Alice lebih muda dan terlihat seperti bocah. Alice bisa saja berbuat lebih untuk mempercepat pernikahan mereka.
Tapi meskipun pernikahan diselenggarakan, status pernikahan mereka tidak akan sah karena Louis sudah menikah dengan Phyllis—meski ini tidak diduga jika upacara itu adalah upacara pernikahan adat vampir. Alice pasti akan tahu tentang Phyllis dan bisa membunuhnya demi menikahi Louis.
"Phyllis. Tenang saja. Asal kamu berlatih serius, kamu akan setara dengan Alice," ucap Louis mencoba menenangkan Phyllis yang khawatir. Tapi gadis itu tidak menjawab. Ia memunggungi Louis, kemudian beranjak dari kasurnya. Gadis itu mendekati jendela kamar dan membukanya.
Hembusan angin semilir menerpa wajah putihnya. Tatapan sayu memandang hamparan pepohonan di samping rumah. Sepasang telinganya dapat mendengar dengan jelas para vampir dan kakaknya bercanda ria. Mereka menikmati malam ini dengan riang, tak menyadari bahwa bahaya besar sedang mengancam.
Andai kedamaian ini berlanjut seterusnya. Mau berharap apapun, Louis sendiri sudah mempunyai perkiraan kemungkinan Alice akan melakukan cara berbahaya untuk membawanya kembali. Bahkan sudah tidak ada cara lain selain menghadapi kedatangan Alice. Itulah kenapa Louis berusaha keras untuk melatih kekuatannya dan para manusia serigala.
Alice tidak akan melepaskan Louis, begitupun Louis yang tidak mau berpisah dengan Phyllis. Phyllis ingin pangeran vampirnya itu pergi demi keselamatan orang-orang sekitar, tapi benaknya menolak dan terus membelenggu nama Louis di dalam hati. Lagipula, pernikahan mereka sudah sah dan tidak bisa dihapus kecuali salah satu mati. Dan cara yang akan ditempuh Alice untuk mendapatkan Louis hanya satu.. membunuh Phyllis.
"Sudah berpikir beratnya?" tanya Louis sembari melingkarkan kedua tangan di pundak Phyllis—jarak tinggi mereka cukup jauh dan tangannya tidak bisa memeluk pinggang Phyllis.
Phyllis hanya menoleh singkat. Ia tidak menjawab, membiarkan sang kekasih memeluk tubuh mungilnya. Louis segera menggendong Phyllis ke ranjang dan merebahkannya, lalu memeluk Phyllis erat. Seolah tak ingin melepaskan gadis itu untuk meninggalkannya dari atas kasur.
"Tenang saja. Aku sedang menundanya sampai tahun depan. Selama itu, kamu harus berlatih dengan giat. Oke?" tawar Louis yang tidak direspon Phyllis lagi. Walau begitu, Louis tahu jawabannya. Mau tidak mau Phyllis harus setuju.
"Lebih baik kita tidur. Aku akan mengajari cara mengendalikan indera penciumanmu besok," lanjut Louis lalu mengecup pelan kening Phyllis.
Gadis itu diam, lalu menghela napas berat dan mulai memejamkan mata. Dalam lelapnya, ia berharap apa yang dikatakan Louis tentang Alice dan perjanjian Washington hanya bualan belaka. Mentalnya belum siap untuk menghadapi kekacauan di masa depan.
...* * * * *...
__ADS_1