
Hutan lebat itu telah ada sejak ribuan tahun lalu. Tidak ada manusia yang berani menginjakkan kaki lebih jauh dari bibir hutan. Sekadar mencari kayu kering. Para pemburu pun tidak mau terlalu dalam. Rumornya banyak penduduk yang nekat masuk dan tak pernah kembali lagi.
Selain itu, kabar tentang adanya makhluk aneh dan mengerikan membuat para pemburu bergidik. Banyak saksi mata mengiyakannya.
Pada faktanya makhluk seram itu adalah buatan Merlin. Benar. Rumah mereka memang cukup jauh di dalam hutan, tapi bukan berarti manusia biasa tidak pernah mendekati sekitarnya. Merlin sudah membuat ilusi di sekitar untuk menakuti mereka.
Mengenai warga yang tidak pernah pulang bukanlah perbuatan Merlin. Di dalam hutan sangat banyak binatang buas. Terkadang Merlin mendapati tubuh manusia yang sudah terkoyak atau hanya kerangka tulang saja. Meski begitu Merlin tetap menguburnya dengan layak.
Perjalanan yang sangat jauh untuk keluar dari hutan membuat Louis lelah. Untunglah Merlin menyiapkan kendi tanah liat untuk menyimpan minum. Merlin menunjukkannya pada Louis yang sejak tadi mengeluh haus.
"Aku cuma minum darah! Sejak semalam aku kelaparan dan kalian menyiksaku. Apa begini sifat penyihir yang sesungguhnya?" tanya Louis ketus.
Merlin kembali memasukkan kendinya ke dalam jubah dan teru berjalan bersama Phyllis.
Mendapati respon super cuek itu, Louis semakin tak suka. "Pantas manusia benci penyihir," gumam Louis yang sengaja dikeraskan agar mereka mendengarnya.
Seketika langkah kedua penyihir itu berhenti. Mereka menatap Louis tajam. Sekilas sorot sedih terlihat di kedua bola matanya. Louis terdiam dan memalingkan wajahnya.
"Apa vampir penghisap darah manusia lebih pantas dicintai?" tanya Merlin dengan suara lebih berat. Itu adalah suara Charlie. Untuk kesekian kalinya Louis dibuat terkejut. Tapi vampir itu tak merespon lebih.
Setelahnya Merlin mengajak Phyllis berjalan lebih cepat, meninggalkan Louis. Masa bodoh dengan nasib Louis nantinya. Diterkam macan atau digigit ular racun, mereka tidak peduli. Akan lebih baik vampir itu mati di sini dan tinggal menguburnya.
Louis tahu sifat kakak-beradik itu cuek, tapi kali ini berbeda. Entah kenapa ada perasaan bersalah di benaknya. Meski Louis bukanlah vampir yang berperasaan, tapi ia merasa ada perkataan yang salah. Sayangnya ia tidak tahu di mana letak kesalahannya. Selama hidupnya beratus-ratus tahun ini, Louis tahu manusia sangat membenci penyihir.
Banyak kasus penyihir berbaur dengan manusia dan menyalahgunakan sihir. Menurut bangsa vampir, menjadi bunglon di antara para mangsa sangat licik. Mereka berpikir menjadi penghisap darah lebih bermartabat dan terhormat daripada penyihir penipu.
__ADS_1
Louis terus mengikuti mereka. Mau ke mana lagi kalau tidak dengan Cayenne bersaudara ini? Louis tidak tahu wilayah di sini. Hutan ini hanya satu di antara ratusan hutan di sekitar wilayah kerajaannya. Dan untuk kembali ke kerajaan adalah jalan bunuh diri.
Perjalanan mereka sampai ke bibir hutan. Di sekitar sana ada beberapa manusia yang memungut kayu.
"Selamat pagi, Phyllis dan Merlin. Ah, ada temannya juga, ya," sapa seorang pria tua yang menggendong kayu-kayu di pundaknya.
"Selamat pagi, Paman Gill. Dan dia Louis. Kami bertemu di sungai saat memancing," jawab Merlin ramah.
Paman Gill mengangguk-angguk kecil sambil menatap Louis. Tetapi seketika wajah ramahnya berubah menjadi dingin saat mengamati paras Louis. Dengan langkah tegas, Paman Gill mendekatinya.
"Merlin. Kamu yakin ini temanmu?" tanya Paman Gill dengan nada berat. Terlihat raut penuh emosi tersorot di netranya. Aroma kental yang keluar dari balik jubah Louis dapat terendus dengan mudah.
Bau pemangsa darah. Paman Gill menoleh ke Merlin dan Phyllis. Ia tak dapat berbuat lebih karena di sekitar sini banyak manusia biasa.
Merlin segera merapatkan tubuhnya. "Paman Gill. Taringnya sudah dilunakkan Phyllis. Tenangkan dirimu," ucap Merlin lalu menarik dagu Louis untuk menatap matanya. Louis hanya diam karena dirinya takut. Siapa Paman Gill ini?!
"Untung saja. Hati-hati di dalam hutan. Ulatnya sangat banyak."
"Terima kasih, Paman Gill. Kami pergi dulu."
Ketiganya lalu pergi melewati jembatan kayu penghubung hutan dan wilayah penduduk. Semula jalan ini tidak terpisah. Tetapi karena tragedi puluhan tahun lalu saat para binatang buas memangsa manusia secara membabi-buta, akhirnya penduduk sekitar memutuskan untuk membuat aliran sungai yang mengelilingi hutan.
Walau cara itu tidak begitu efektif, tapi beberapa hewan akhirnya tidak mau menyebrang. Tapi dikarenakan manusia masih membutuhkan kayu bakar, akhirnya membangun beberapa jembatan kayu di setiap wilayah. Serta menerapkan peraturan untuk tidak mencari kayu lebih dalam lagi demi keamanan.
"Hei, dia tadi siapa?" bisik Louis ke Merlin. Merlin tak menjawab dan terus berjalan.
Tidak jauh dari tempat mereka berada, terlihat sebuah pasar yang cukup ramai. Dengan terik matahari yang hampir di atas kepala membuat Louis gelisah. Pada akhirnya ia mampir ke sebuah kedai. Berbekal sekeping logam, Louis membeli susu hangat sambil menunggu kedua Cayenne belanja.
__ADS_1
Sementara itu Phyllis berbelanja bahan-bahan yang ia inginkan. Merlin berkeliling untuk menjual hasil panennya di salah satu gerobak obat.
"Nak Merlin. Apa kamu bawa bahannya?" tanya penjual itu. Merlin menunjukkan keranjangnya dan memberikan beberapa untuk diperiksa.
Kedua mata wanita tua itu sangat jeli. Mengamati barang yang dibawa Merlin dan tersenyum puas.
"Aku selalu menunggu hasil panenmu. Aku beli semuanya. Di mana Phyllis kecilku? Aku ingin melihatnya." Penjual itu mengambil barang milik Merlin dan menukarnya dengan kepingan perak. Tak lupa ia menaruh dua buah roti sourdough.
"Makanlah. Kalian pasti lelah setelah perjalanan jauh."
"Terima kasih, Bibi Gill. Phyllis pasti senang. Sekarang dia sedang beli susu dan bahan makan lain," jawab Merlin santai.
Tak lama Phyllis datang membawa keranjang yang penuh dengan bahan makan. Bibi Gill mengelus kepala Phyllis lembut dan penuh sayang. Matanya tersirat perasaan rindu. Sudah lama Phyllis tidak menemuinya.
"Phyllis sayang, bibi dan paman akan main ke tempatmu nanti sore. Aku rindu. Kamu makan cukup, kan?" Bibi Gill memegangi kedua pipi Phyllis dan memutar tubuh gadis itu, memeriksa apa ada yang kurang. Tapi sepertinya Phyllis tumbuh sehat.
"Mmm, bibi. Bisakah nanti siang kita bertemu di tempat biasa? Tadi kami bertemu Paman Gill. Ada sesuatu yang terjadi," bisik Merlin. Bibi Gill langsung menatap tajam Merlin.
Tanpa menjawabnya, Merlin sudah tahu jawaban Bibi Gill. Sesuatu yang sangat penting. Setelah itu keduanya berpamitan saat pembeli mendatangi gerobak Bibi Gill.
Mereka mendatangi Louis yang bete di kedai dan mengajaknya pulang.
"Lama banget," ucap Louis sudah hampir pingsan karena bosan. Ia juga lemah karena aroma darah mengganggu indera penciumannya, membuat susu yang ia tenggak tadi tak berguna. Perutnya semakin kelaparan.
"Aku beli susu lagi. Sementara kamu minum susu," balas Phyllis. Louis tak merespon dan mengikuti mereka melewati jembatan.
Di pinggir hutan, jumlah manusia mencari kayu sudah mulai berkurang. Ada yang pulang atau lanjut masuk ke dalam hutan. Hanya ada Paman Gill dan beberapa temannya yang duduk santai di bawah pohon sambil mengamati ketiganya masuk hutan.
__ADS_1
...* * * * *...