
Hari-hari pelatihan terus berlanjut. Untuk sihir tingkat rendah, Phyllis dan Louis bisa melewatinya. Dengan kepercayaan dan merasa saling membutuhkan membuat keduanya tidak kesulitan untuk mencapai sihir tingkat menengah. Dengan Charlie yang mengawasi serta membimbing Phyllis.
Melihat keseharian seperti ini mengingatkan Charlie pada masa sebelum kejadian sepuluh tahun lalu. Di mana saat pertama kali dirinya melihat bayi Merlin lahir. Paras tampan nan bersih Merlin sangat khas. Ia telah jatuh cinta pada Merlin.
Demi menutupi perasaan cintanya, Charlie memilih pergi berkelana. Kedua orang tua Cayenne membiarkan Charlie pergi. Tapi diam-diam, Charlie ternyata sering pulang. Dengan bantuan burung gagaknya, Charlie sering menemui Merlin yang saat itu sering berlatih sendirian di dalam hutan. Wujud kucing hitam Charlie-lah yang menemani Merlin sejak kecil.
"Charlie! Kamu datang lagi! Di mana gagakmu?" seru Merlin yang duduk di atas pohon. Kucing hitam itu hanya diam di bawah pohon, menunggu Merlin turun.
Bocah berusia enam tahun itu perlahan turun dan mendekati kucing kesayangannya. Merlin sudah sangat hapal dengan bahasa tubuh kucing. Ia duduk memangku Charlie selagi burung gagak yang membawa Charlie terbang memutar di atas pohon.
"Aku ingin bertanya banyak kepadamu. Apa dia partnermu?" tanya Merlin sambil menunjuk burung gagak yang kini bertengger di ranting pohon. Charlie hanya mengedipkan kedua matanya pelan sebagai jawaban iya.
Keduanya selalu bersama. Charlie membantu Merlin untuk belajar. Tanpa sepengetahuan orang lain, Charlie dan Merlin akhirnya membuat perjanjian pasangan sihir. Di mana Merlin bisa praktik sihir dengan Charlie.
Kegiatan ini berlangsung lama, hingga kedua orang tua Cayenne mengetahui kehadiran Charlie dan memaksanya untuk menghapus perjanjian itu. Walau begitu, orang tua Cayenne tetap menerima Charlie sebagai anak angkat. Hanya saja ingatan Merlin saat itu terpaksa dihapus. Setelahnya Charlie benar-benar pergi berkelana dan jauh entah ke mana.
Gagak hitam itu bernama Aleen, dia adalah teman Charlie. Keduanya sudah kenal sebelum Charlie dibuang dari keluarga kerajaan. Aleen adalah penyihir dan mempelajari ramalan di sebuah istana negara lain. Namun Aleen tidak menemani Charlie dalam perjalanannya karena Aleen punya tugas sendiri di kerajaan. Tetapi mereka sering menyempatkan waktu untuk reuni.
Hingga ketika Merlin berusia sepuluh tahun, Phyllis lahir. Charlie menyempatkan diri untuk datang ke rumah. Ia menghindari Merlin dan melihat Phyllis. Sama seperti Merlin waktu kecil, memiliki kecantikan yang khas serta wajah mungil yang imut. Dengan begini Charlie tidak perlu risau, Merlin sudah ada teman bermain dan Charlie bisa melanjutkan perjalanannya dengan damai.
Meski begitu, Charlie tetap menyayangi Merlin. Tidak memiliknya tidak masalah, menjaga tubuh Merlin sudah lebih dari cukup untuk kebahagiaannya.
__ADS_1
Ketika waktu semakin bergulir dan Charlie tahu Merlin memiliki perasaan pada Louve, Charlie hanya bisa mendukungnya dan membantu Merlin untuk lebih dekat dengan Louve. Ia tahu Louve juga mempunyai perasaan yang sama. Memang menyakitkan, tapi Charlie menganggap ini adalah balas budinya atas kebaikan keluarga Cayenne selama ini.
"Berhasil!" Seruan Phyllis memecah pikirannya yang berkelana. Charlie lalu membuka lembar halaman selanjutnya dengan tangan kucing miliknya. Phyllis membaca itu dan mulai mempraktikannya kembali dengan Louis.
Sihir menengah yang dengan mudah dipelajari Phyllis. Kecerdasan gadis ini tidak kalah menakjubkan dengan Merlin waktu kecil. Charlie dapat melihat kesamaan di antara mereka. Sama-sama lugu dan pintar.
Sambil mengamati keduanya, Charlie sesekali melihat ke arah Louve yang terus memandangi dirinya. Ia tahu yang di mata Louve adalah Merlin, bukan kucing hitam Charlie.
Latihan hari ini usai di malam hari. Louis dibawa masuk ke rumah. Semenjak menjadi partner, Louis selalu tidur di dalam bersama. Keluarga Gilbert tidak seketat sebelumnya dan mulai percaya jika Louis tidak berbahaya seperti bayangan mereka.
"Phyllis, bagaimana tanggapanmu tentang aku sebagai partnermu hari ini?" tanya Louis sambil meminum susu hangat buatan Bibi Gill di atas meja.
Phyllis meliriknya sinis. "Apa kamu tidak lelah menanyakan pertanyaan yang sama setiap malam?" ketus Phyllis lalu melahap potongan buah apel.
Gadis tersebut menghela napas. "Biasa aja."
Jawaban yang sama selama tiga puluh hari berturut-turut. Benar. Apa yang diharapkan Louis. Walau begitu Louis tetap bersemangat dan selalu mendekati Phyllis.
Charlie yang sejak tadi mengamati keduanya segera naik ke meja dan melingkar di sebelah Phyllis. Ia mendesis untuk mengusir Louis, tetapi vampir itu tidak menggubrisnya. Ah, menyebalkan.
Phyllis mengelus kepala Charlie lalu menggendongnya. Meletakkan Charlie di atas kepala Phyllis, membiarkan kucing hitam itu tidur di kepalanya. Perlakuan aneh ini sudah biasa dipandang Louis. Ini artinya Phyllis ingin Louis diam berbicara karena nanti akan mengganggu Charlie yang tidur di kepala.
Keluarga Gilbert sudah pulang ke desa manusia serigala. Paman Gill tidak tinggal di sini lagi, tetapi mereka masih tetap menjaga daerah sekitar rumah Phyllis.
__ADS_1
Setelah menghabiskan makan malamnya, Phyllis segera pergi ke lantai atas. Diikuti Louis dari belakang. Mereka pergi ke kamar Phyllis. Charlie naik ke ranjang dan duduk di atas selimut yang hangat.
Di saat seperti inilah Louis bisa melihat betapa kecil dan mungilnya badan Phyllis. Gadis itu melepas jubah hitam besar yang selalu ia pakai setiap hari. Hanya ketika tidur dan mandi saja ia melepasnya. Terkadang Phyllis membawanya tidur karena malas.
Banyak aksesoris yang ada di jubahnya. Salah satunya jimat di bagian punggung, kerudung bagian luar, kedua lengan, dan belakang leher. Jimat itu dibuat kedua orang tua Cayenne dan diperkuat Charlie. Benda kecil seperti permata tersebut dapat menangkal beberapa sihir jahat kuat. Kucing Charlie juga menggunakan kalung dengan permata.
Setelah menanggalkan jubah berat itu, hanya tersisa kemeja putih dan celana pendek. Memperlihatkan pendeknya Phyllis. Hal ini adalah pemandangan menggemaskan yang selalu dinanti Louis di atas ranjang.
Penyihir perempuan berusia 15 tahun tidur bersama vampir berusia 250 tahun. Jika dulu ada hukum ped*filia, sepertinya Louis akan dijebloskan ke sel tahanan.
"Selamat malam, Phyllis," ucap Louis setelah Phyllis membungkus dirinya dengan selimut. Tidak ada jawaban seperti biasanya. Louis sudah terbiasa dengan respon cuek tersebut. Lalu ia pun ikut memejamkan mata di sebelah Phyllis.
Detik berjalan menjadi menit. Menit terus melaju menjadi jam. Waktu berlangsung cepat namun terasa sangat lambat. Sejak terlelapnya Phyllis dalam mimpi, Louis sulit untuk tidur. Mungkin karena dirinya vampir. Tapi rasa gelisah menggelitiknya ketika berusaha untuk menyusul Phyllis.
Louis terus memandangi paras manis Phyllis di sampingnya. Perlahan tangannya bergerak mengelus pipi lembut itu. Gadis itu tak merespon. Ketika tertidur, Louis bisa mengamati setiap jengkal wajah polos Phyllis. Sangat berbeda saat penyihir ini bangun. Bagaimana bisa sosok lugu ini menjadi gadis super ketus dan irit bicara?
Senyum Louis mengembang. Ia mulai merapatkan tubuhnya ke Phyllis selagi Charlie tidur di kaki. Dengan penuh hati-hati, Louis melingkarkan tangannya ke tubuh Phyllis dan memeluknya. Tidak ada penolakan. Jelas, Phyllis sudah sangat jauh terlelap.
Di posisi seperti ini Louis bisa mencium aroma manis dalam tubuh Phyllis. Seperti butter cookies yang gurih dan manis. Parfum apa yang dipakainya? Tidak, ini bukan parfum. Ini berasal dari dalam Phyllis, tepatnya aliran darah dari ujung kepala hingga pangkal kaki.
Hidung vampir yang bisa mencium aroma seseorang berdasarkan darah. Mendapati harum ini membuat Louis semakin nyaman. Setiap malam ia bisa leluasa menikmatinya. Sayangnya Louis tidak bisa menghisap darah Phyllis. Bayangan tentang perjanjian dulu dan ingatan rasa darah gadis ini membuat Louis semakin gemas. Itu adalah rasa yang belum pernah ia cicipi. Unik dan menjadi darah favoritnya.
...* * * *...
__ADS_1