
𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬, 𝘗𝘩𝘺? 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘪𝘩𝘪𝘳 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘱𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳𝘪. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩, 𝘭𝘩𝘰~ 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘳𝘢 𝘥𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘭𝘢𝘮𝘢, 𝘢𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘱𝘶𝘴𝘢𝘯.
𝘚𝘪𝘯𝘪 𝘪𝘣𝘶 𝘢𝘫𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢, 𝘺𝘢. 𝘗𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶𝘪 𝘵𝘢𝘩𝘢𝘱-𝘵𝘢𝘩𝘢𝘱 𝘪𝘯𝘪. 𝘚𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘱𝘶𝘴𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘣𝘫𝘦𝘬. 𝘉𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘪𝘩𝘪𝘳 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘳𝘵𝘯𝘦𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳...
𝘗𝘩𝘺?
𝘗𝘩𝘺𝘭𝘭𝘪𝘴 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢?
𝘗𝘩𝘺—
"Phyllis!"
Suara keras itu menggoncang Phyllis, membuat gadis itu terbangun dari tidurnya. Di depannya sudah ada Merlin dan Louve yang panik karena sejak tadi Phyllis tidak bangun. Padahal ini sudah mau siang, bukan hal biasa Phyllis telat bangun.
"Apa yang terjadi, Phy?! Kamu habis makan racun pingsan?!" seru Merlin khawatir. Louve segera memberi air putih pada Phyllis.
Gadis itu meminumnya pelan sambil mengumpulkan nyawanya yang bertebaran. Kepalanya terasa sangat pusing setelah duduk di atas ranjang. Tidurnya kurang nyenyak, apalagi memimpikan ibunya yang sudah tiada.
"Phy? Kamu baik-baik aja, kan?" Merlin kembali memastikan. Phyllis hanya mengangguk, kemudian berdiri. Tetapi tubuhnya tidak bisa bohong. Jalannya yang sempoyongan sangat jelas menandakan Phyllis di kondisi buruk.
Dengan cepat Merlin keluar untuk memberitahu Paman Gill. Pria itu langsung lari ke dalam untuk memeriksa Phyllis. Ia membawa temannya yang seorang tabib dari ras manusia serigala. Tidak ada yang salah, hanya saja Phyllis kelelahan dan butuh istirahat.
"Untuk latihan hari ini ditunda dulu, ya," ucap Merlin dijawab anggukan Paman Gill dan Louve.
"Aku.. aku ga mau," tolak Phyllis saat Paman Gill hendak keluar dari kamar. Paman Gill lalu mendekat dan merangkulnya.
"Phyllis sayang, kondisimu seperti ini. Istirahat yang cukup, oke?"
__ADS_1
Walau ingin menolak, tapi Phyllis tidak bisa berbuat apa-apa. Semua tidak setuju dengannya. Suaranya kalah dan Phyllis hanya bisa berbaring di atas ranjang, ditemani lilin aromaterapi untuk membuatnya rileks.
Louve membawakan sarapan yang cukup dan susu hangat. Menyuapi si adik kecil hingga makanannya habis.
Sementara Merlin dan Paman Gill menemui para vampir yang selesai sarapan. Louis terlihat khawatir karena Phyllis tidak terlihat.
"Hari ini uji coba ditunda karena kondisi Phyllis kurang baik," jelas Paman Gill. Para vampir terlihat kecewa dan lemas. Tapi di sisi lain mereka bisa melanjutkan tidurnya. Ada beberapa yang akhirnya terlelap di sudut kandang, ada yang ngobrol dan bercanda.
Paman Gill lalu pergi mendekati teman-temannya. Louve datang untuk memberikan sarapan pada mereka. Hari ini Louve memasak sekaligus tanda terima kasih sudah menjaga anak Cayenne.
Louis memandang Merlin yang masih berdiri di dekat kandang, pemuda itu sedang memperhatikan gerak-gerik Louve yang lembut. Tangan si vampir melambai, memecah atensi Merlin.
"Ada apa?" tanya Merlin datar lalu mendekat.
"Adikmu kenapa?" Pertanyaan yang mudah ditebak. Apalagi melihat tingkah Louis kemarin, Merlin jadi sedikit khawatir. Ia ragu jika vampir ini tidak akan melewati batas antara vampir dan penyihir. Benaknya terus meronta, berteriak Louis akan melakukan itu.
"Bukan urusan vampir. Kamu juga tidak akan paham," ketusnya lalu memalingkan muka ke arah Louve berada.
Louis yang sejak tadi hanya mengamati mereka sedikit iri. Ia mencibir lalu melengos ke arah rumah. Berharap Phyllis akan datang dengan wajah datar dan berbicara pedas padanya. Rindu rasanya. Entah Louis paham atau tidak, tetapi ia butuh melihat Phyllis sekarang. Andai dia masih di istana, dia pasti bisa memerintah siapapun untuk membawakan Phyllis ke hadapannya.
...* * *...
Keluarga Gilbert dan Merlin duduk santai di ruang tamu. Mereka mengobrol setelah aktivitas siang. Dengan segelas teh hangat, mereka bisa beristirahat. Memang tidak ada kegiatan seperti kemarin, tapi rasa lelah tetap ada. Mungkin karena mengatur para vampir agar lebih sehat, para vampir harus berolahraga.
Mereka jadi teringat Paman Orlan yang menjadi mentor olahraga vampir. Dengan pelatihan luar biasa kerasnya, para vampir itu bahkan tidak diberi kesempatan untuk berbicara. Ketiganya tertawa renyah karena mengingat beberapa vampir terkulai lemas di tengah halaman.
"Oh, ya. Merlin, apa yang terjadi dengan Phyllis?" tanya Paman Gill.
Yang semula terlihat santai, raut Merlin berubah mendingin. Hanya ada senyum pahit di wajahnya.
__ADS_1
"Phyllis kelelahan. Kemarin dia berulang-ulang menggunakan energi sihirnya dan mungkin sudah sampai batas untuk beberapa hari. Yang penting Phyllis istirahat dengan cukup."
"Maaf kalau paman terkesan lancang, tapi kenapa kemarin kamu berubah menjadi Charlie? Apa sihir pembatalan ini sulit?" tanya Paman Gill sedikit menurunkan nada bicaranya. Takut-takut jika Phyllis mendengar dari lantai atas.
Merlin menggelengkan kepala pelan. Senyumnya mulai memudar. Ia diam untuk waktu yang lama. Kemudian menghela napas berat dan menatap ketiga manusia serigala di depannya.
"Paman, bibi, Veve. Sejujurnya aku sendiri tidak tahu Phyllis bisa mempelajari atau tidak. Karena sihir ini cukup rumit. Aku menjadi kucing karena Charlie memaksaku untuk berubah."
Jawaban Merlin membuat ketiganya terkejut. Mereka mendekat ke Merlin, meminta penjelasan lebih.
"Sihir pelunak termasuk sihir yang berbahaya. Benda atau makhluk apapun akan lunak setelahnya. Sekeras apapun batu akan menjadi lunak, sekuat apapun tulang manusia akan menjadi lunak. Sihir ini tidak pandang bulu. Dan untuk mempelajari sihir pembatalannya agak sulit. Hanya Charlie yang bisa di sini," jawab Merlin sambil melirik ke arah tangga rumah. Ia melihat sebuah bayangan berdiri di sana. Adiknya sedang mendengarkan.
Paman Gill yang semakin khawatir langsung memegang kedua bahunya. Ia menatap Merlin lekat. "Kenapa kamu ajarkan Phyllis sihir itu, Merlin sayang?"
Bibi Gill semakin pusing. Ia tidak bisa menahan diri dan akhirnya terkulai lemas di kursi. Louve menenangkan ibunya.
"Phyllis sendiri yang mempelajarinya. Dia suka membaca buku mantra dan otodidak bisa menggunakannya. Tapi.. tapi kita bisa membantu Phyllis untuk belajar itu," ucap Merlin mencoba menenangkan.
Walau begitu, keluarga Gilbert itu sulit percaya. Memang benar Phyllis terbilang penyihir muda yang cerdas. Di usianya 15 tahun ini, Phyllis sudah mempelajari hampir 7 buku mantra. Itu adalah pencapaian normal untuk penyihir berusia 20an.
"Bagaimana caranya?" Paman Gill masih memegangi bahu Merlin, khawatir. Ia takut jika para vampir akan membalaskan dendam karena pangeran mereka dibuat seperti ini.
Paman Gill salah satu saksi mata bagaimana bengisnya vampir kerajaan. Mereka akan menyiksa siapapun yang mengusik anggota keluarga. Tidak peduli dari ras mana sekalipun sesama vampir, mereka tidak akan membiarkan orang itu hidup damai.
Jika Phyllis tidak segera mengembalikan kondisi Louis yang seorang pangeran vampir, ia tidak yakin bisa terus melindunginya. Apalagi ini melibatkan ras manusia serigalanya.
"Paman.. biar aku menjelaskannya. Kamu tenanglah dulu," ucap Merlin sambil menurunkan tangan Paman Gill.
Mereka kembali duduk di posisi masing-masing. Lalu Merlin memanggil Phyllis yang sejak tadi menguping. Gadis mungil itu mendekat, duduk di sebelah Paman Gill. Paman Gill memeluknya cemas.
__ADS_1
...* * * * *...