Penyihir Dan Pangeran Vampir

Penyihir Dan Pangeran Vampir
05 — Vampir Percobaan


__ADS_3


"APA?!"


Seruan itu sudah bisa ditebak seluruh vampir dan manusia serigala di sana. Paman Gill tak dapat berkata-kata. Ia tersipuh di lantai, memegang jubah Phyllis, syok. Begitu juga dengan Louis. Walau ini kesempatan untuk menjauh dari kerajaan, tetapi dengan kondisi taring lunak sangat tidak etis untuk pangeran sepertinya.


"Phyllis kecilku.. tidak biakah kamu mempelajarinya?" tanya Paman Gill lalu kembali bangkit. Ia memegang kedua bahu Phyllis dan menatapnya lekat, penuh harapan.


"Aku bisa. Tapi perlu waktu lama," jawab Phyllis, tapi tampak di raut wajahnya sedikit ragu.


"Berapa lama?" Paman Gill lalu menoleh ke Merlin, untuk meminta kepastian. Pasalnya saat melihat ekspresi Phyllis, harapannya sedikit luntur.


Merlin sendiri mengangkat bahu sebagai jawaban, tidak tahu. Benar, itu semua tergantung Phyllis.


"Tapi, aku rasa ada sihir untuk pengeras. Tapi Phyllis membutuhkan matra penghapusan atau pembatalan sihir pelunak. Mantra-mantra ini sangat berbeda. Untuk sihir pengeras sendiri bisa mempengaruhi kondisi taring Louis nantinya. Bahkan bisa sangat jauh berbeda dari sebelumnya," lanjut Merlin.


Tidak ada harapan, tidak ada jalan lain selain menunggu Phyllis mempelajarinya. Tentunya saat belajar, Phyllis memerlukan eksperimen. Pastinya akan melewati trial and error, di mana Phyllis membutuhkan sesuatu untuk praktik.


Dengan cepat Paman Gill berubah menjadi serigala besar dan mengaung. Memberi perintah. Yang mana seluruh manusia serigala itu langsung mengepung para vampir di halaman depan.


Suara derap langkah cepat dan jumlah banyak terdengar jelas dari dalam hutan. Para manusia serigala lainnya sudah datang. Dengan tampang gahar dan seram, mereka ikut mengepung para vampir dan rumah Phyllis.


"P-paman Gill— apa yang kamu lakukan?!" seru Merlin cemas.


Paman Gill kembali berubah lalu mendekati Phyllis. Ia membimbing gadis mungil itu menuruni tangga teras dan menemui para vampir yang terkepung. Merlin yang khawatir mengikutinya. Sementara Louis dikelilingi serigala-serigala.


"Perhatian! Kita sudah dengar bagaimana kondisi sekarang. Pangeran vampir sudah disihir oleh Phyllis-ku tersayang. Untuk mengembalikannya, dia harus mempelajari sihir yang entah kapan berhasil ia pelajari."


Pria itu menatap para makhluk di sekitarnya dengan tatapan tegas. Tidak ada yang menyela.


"Kalian para bangsa darah ingin membawa pangeran kalian kembali dan kami ingin keselamatan penyihir kami. Tetapi dengan kondisi seperti ini, hal itu tidak akan bisa terjadi. Dengan begitu, kita harus bekerja sama. Aku tahu ini sangat tidak bisa diterima, tapi ini demi keinginan bersama."


"Maka dari itu.. mulai sekarang para manusia serigala akan berada di sekitar sini untuk melindungi penyihir dan para vampir menjadi kelinci percobaan Phyllis!"

__ADS_1


Mendengar itu, para vampir berteriak tidak terima. Mereka protes. Tetapi para manusia serigala dengan jumlah yang lebih banyak membuat mereka ciut. Walau begitu, raut mereka tidak senang.


"Aku tahu kalian tidak akan mau. Tapi lihatlah kondisi saat ini. Korban dari sihir Phyllis adalah vampir. Dia perlu mencoba sihir-sihirnya dengan vampir lain. Kami para manusia serigala tidak akan mencelakai kalian selama kalian tidak menyentuh Phyllis dan Merlin kami!"


Walau masih tidak terima, tapi para vampir tidak bisa berbuat apapun. Mereka hanya patuh dan duduk di halaman rumah selagi para manusia serigala mempersiapkan pengamanan di sekitar.


Jumlah manusia serigala sangat banyak. Mereka bisa bergantian untuk menjaga dan beraktivitas. Sangat beruntung bagi Phyllis karena mengenal Paman Gill yang ternyata seorang kepala kelompok manusia serigala di sini.


Bibi Gill dan anak perempuannya mendatangi rumah kayu itu setelah mendengar kabar dari ibu-ibu lain. Di mana Bibi Gill bergegas membawa Phyllis masuk untuk diperiksa keadaannya. Tak lupa ia membawa obat-obatan untuk berjaga-jaga.


Louve, anak perempuan keluarga Gilbert mendekati Merlin yang sedang mengawasi para vampir. Gadis itu tampak gugup. Meski sudah kenal lama, tapi rasa canggung masih sulit ia hempaskan ketika menemui Merlin.


Paman Gill yang tahu anaknya ingin berbicara dengan Merlin lantas pamit untuk minggir, dengan alasan mengawasi kelompok vampir lebih dekat.


"Mmm, Linlin," panggil Louve pelan. Merlin menoleh dan tersenyum ramah.


"Ada apa, Veve?"


Louve terdiam. Kedua pipinya merona saat Merlin memanggil nama kecilnya. Veve dan Linlin adalah panggilan sayang keduanya saat masih kecil. Walau sudah biasa dipanggil Veve, tapi Merlin jarang sekali memanggil namanya. Hanya di saat-saat tertentu saja.


"A-apa.. apa semua baik-baik saja?"


"Tentu. Paman Gill selalu hebat seperti biasanya," jawab Merlin bangga. Ia kemudian mengelus kepala Louve, membuat manusia serigala betina itu sangat malu dan panik.


"Kamu tenang saja. Paman-paman lain ikut melindungi, kok. Veve selalu khawatir, ya," ucap Merlin terus mengusap rambut cokelat Louve.


Tak lama ia menurunkan tangan karena melihat Louve tak berkutik. Merlin sudah bisa mengira gadis itu tersipu. Padahal manusia serigala, tapi sifatnya malu-malu seperti kucing. Merlin tertawa kecil melihat tingkah Louve.


Kemudian Merlin menyuruh Louve untuk masuk selagi dirinya kembali berurusan dengan para vampir.


Para paman manusia serigala sudah membuat gubuk kecil sebagai kandang para vampir dari terik matahari. Meski mereka musuh bebuyutan, tapi demi Phyllis, mereka akan sedikit berbaik hati. Walau para vampir itu mengomel karena kondisi tempat yang kurang layak. Sangat berbeda dari kastil vampir.


"Paman, Phyllis bisa mulai praktik besok pagi. Untuk hari ini dia akan membaca buku dulu. Untuk makanan vampir, aku akan memberikan susu kepada mereka," jelas Merlin setelah mendekat ke Paman Gill.

__ADS_1


Vampir-vampir yang mendengarnya tidak terima. Banyak yang demo ingin minum darah. Tapi sekali lagi, geraman serigala membuat nyali mereka ciut. Mau tidak mau mereka harus menenggak gelas susu setiap hari.


"Oh ya, Merlin. Kamu jangan repot-repot menyiapkan makanan untuk paman-paman lain. Kamu fokus mengajari Phyllis saja."


"Tidak, Paman Gill. Kami sudah sangat merepotkan—"


"Merlin, tidak apa. Santai saja. Kami memang harus melindungi siapapun di wilayah kami," potong Paman Gill sambil menepuk-nepuk pundak Merlin.


Penyihir muda itu tersenyum, tersipu. "Kalau begitu.. waktu kami memasak nanti, jangan menolak, ya," sambung Merlin dijawab anggukan mantap dan tawa keras dari para manusia serigala.


Keduanya lantas masuk ke rumah setelah menyelesaikan persiapan di kadang vampir. Mereka menghampiri perpustakaan mini. Phyllis tengah membaca mantra-mantra di sana. Ada banyak yang harus ia pelajari sebelum sampai ke tahap pembatalan.


Louis yang duduk di seberang Phyllis hanya diam memandangi gadis kecil itu. Bibi Gill telah mengawasinya terlalu lama, sementara Louve sibuk di dapur untuk membuat makan malam. Saat datang tadi, Bibi Gill juga membawa bahan masakan untuk beberapa hari ke depan.


"Sayang, bisakah kamu mengawasi pangeran vampir ini? Mataku sedikit lelah. Mungkin aku sudah terlalu tua," ucap Bibi Gill sambil memegang pipinya cemas. Paman Gill mengecup pelan keningnya dan tersenyum.


"Beristirahatlah, biar aku yang menjaganya." Bibi Gill mengangguk dan menghampiri Louve di dapur.


Sementara itu Merlin berubah menjadi kucing karena sudah terlalu lama memakai tubuh manusianya. Kini giliran Charlie. Paman Gill duduk di sebelah Louis, diikuti Charlie yang berada di pangkuannya. Tangan pria tua itu mengelus bulu-bulu lembutnya, membuat Charlie mendengkur nyaman.


Keduanya memandangi Phyllis yang fokus dengan setiap kata di buku mantra dan tongkatnya. Mengayunkan dengan perlahan. Ada beberapa sihir yang memerlukan gerakan khusus, ada pula yang hanya perlu mengucapkan mantra.


"Hei, pangeran vampir," panggil Paman Gill. Vampir itu menoleh kaku.


"Kenapa kamu datang ke rumah Cayenne ini?" lanjut Paman Gill dengan tatapan intimidasi. Mengingat seorang vampir tiba-tiba menerobos masuk ke rumah penyihir kecil membuatnya emosi. Apalagi vampir adalah musuh bangsanya.


Louis mengelus lehernya, bingung dan takut. "Aku kabur dari acara pertunangan dengan vampir bangsawan lain. Aku tidak suka dengannya dan lari. Aku tidak tahu mau pergi ke mana, yang jelas aku ingin jauh dari wilayah kerajaan dulu," jawab Louis ragu.


Paman Gill mendengus. "Apa kamu tahu setelah wilayah vampir adalah wilayah manusia serigala?" tanya Paman Gill memastikan, sekaligus menguji seberapa jauh pengetahuan pangeran vampir ini. Tentu vampir memiliki usia yang sangat jauh darinya dan semua bangsa vampir sudah tahu tentang pembagian wilayah, apalagi seorang anggota keluarga kerajaan.


Kepala Louis mengangguk kecil. "Aku tahu. Wilayah vampir berada di tengah-tengah wilayah manusia serigala. Aku juga tahu perjanjian vampir dan manusia serigala. Manusia serigala mengepung kami untuk memberi sekat agar tidak terlalu dekat dengan wilayah manusia."


Jawaban Louis sangat diharapkan Paman Gill. Dengan begitu dirinya tidak perlu menjelaskan lebih. Itu artinya Louis sudah mengetahui risiko yang akan ia terima.

__ADS_1


Ini adalah keberuntungan besar baginya karena memilih datang ke rumah Phyllis. Jika kemarin Louis lontang-lantung di tengah wilayah manusia serigala, mau sehebat apapun dia sebagai vampir, dia akan mati di tengah hutan karena dihajar para kawanan manusia serigala.


...* * * * *...


__ADS_2