Penyihir Dan Pangeran Vampir

Penyihir Dan Pangeran Vampir
01 — Kamu Siapa?


__ADS_3


Sang Fajar perlahan menyingsing, menjatuhkan candra dan membiarkannya tidur kembali. Kini pagi telah tiba, bukan lagi sinar purnama bekerja. Biarkan mentari mengiringi aktivitas makhluk siang hari.


Aroma semerbak bumbu ayam goreng berlarian di setiap sudut ruangan. Bersamaan dengan sinar surya menyelinap di balik tirai. Perlahan rasa panas menjalar ke seluruh tubuh dan membangunkan empu tubuh dingin di atas ranjang.


Teriakan dari kamar tidur menjadi alarm baru. Kini ayam jantan tak perlu repot berkokok untuk memberi tanda pagi menjelang.


Derap langkah terdengar cepat menyusuri lantai kayu di gubuk kecil penyihir. Mengikuti bau yang terlintas hingga sampai di dapur dan mendapati sosok mungil tengah memasak bersama kucing hitam.


"Selamat pagi," sapa Phyllis sambil membalikkan ayam gorengnya. Merlin mengeong kecil ke arah vampir asing lalu kembali melingkar di kursi kayu.


"Selamat pagi matamu! Kembalikan gigiku seperti semula!" teriak Sang Vampir sambil melangkah mendekat. Phyllis melirik singkat lalu meniriskan masakannya.


"Apa vampir tidak diajari tata krama?" sindir gadis penyihir tersebut lalu meletakkan piring berisi beberapa buah ayam goreng tulang lunak yang sudah direncanakan semalam. Merlin bergegas bangun dan mendekati piring di atas meja makan.


Dengan santai Phyllis menyiapkan tiga piring, menaruh potongan ayam di setiap piring. Tak lupa dengan cocolan yang sudah ia buat sebelumnya.


Tubuh kucing Merlin sekejap berubah menjadi manusia normal. Senyumnya merekah, aroma sedap dari ayam goreng menyeruak ke dalam hidung. Terlihat nikmat dengan taburan sedikit taburan lada hitam.


"Selamat makan!" seru Merlin lalu melahap ayam tersebut. Phyllis duduk di kursinya dan ikut memakan masakannya.


Kedua kakak-beradik itu saling padang dan tersenyum, seolah tahu apa yang dipikirkan. "Enak!"


Di sisi euforia mereka, ada sosok yang kesal. Sang Vampir hanya diam menatap dua penyihir di depannya. Bahkan sejak kedatangannya seolah tidak dianggap—meski Phyllis sudah menyiapkan piring untuknya.


"Merlin, sisa ayamnya bisa kamu makan," ucap Phyllis sambil menunjuk piring milik vampir. Ah, memang sebenarnya penyihir tidak harus berbaik hati pada vampir, ya.


"HEI! Aku ada di depan sini! Bukannya itu punyaku?!" teriak Si Vampir yang langsung menarik piring miliknya, menyembunyikan di balik tubuh.


Merlin menghela napas, lalu menaikkan kedua bahunya. "Ayolah, emangnya kamu bisa makan?" ledek Merlin, membuat Tuan Vampir kita semakin menjadi emosinya.


Walau tidak bisa, tetapi rasa lapar di perut memaksa vampir untuk menyantap ayam goreng itu. Di lidah tak ada rasa apapun selain pedas dari cocolan. Memang seharusnya vampir begitu. Bangsa vampir hanya bisa menikmati enak dan tidaknya darah.

__ADS_1


Memakan daging ayam untuk pertama kali. Merasakan hambar di mulut dan mengunyah, itu terasa tidak nyaman. Tapi siapa tahu ini bisa mengisi cacing-cacing lapar.


"Hng— hoeeeekkk..."


Makan selain darah adalah kesalahan besar. Perut vampir ini tidak bisa menerimanya. Kita bisa mendengar suara protes dari makhluk di dalam ususnya. Demo menolak dan ingin darah.


Vampir itu meletakkan piring dengan ayam yang cukup banyak. Menatap mata datar Phyllis dengan sorot tajam.


"Berikan aku darah!"


"Nggak," jawab gadis tersebut singkat, lalu pandangannya beralih pada piring milik vampir. Ia menariknya dan memberikan itu pada Merlin.


"Makan lagi."


Merlin mengernyitkan dahi. Ia menunjuk ke bekas muntahan vampir. "Kamu ga lihat itu apa? Kamu masih mood makan?! Phy!"


"Ya, masih. Kalau tidak mau, aku aja yang makan," lanjut Phyllis. Menarik kembali ayam goreng dan meletakkan di atas piringnya. Cuek, seolah kejadian jorok itu bukan hal yang mengganggu selera makannya.


Setelah itu Merlin berubah menjadi kucing dan berjalan keluar dapur. Rutinitas harian setelah sarapan adalah menikmati pagi hari di teras rumah kayunya.


Phyllis sendiri masih asik dengan ayamnya. Vampir itu duduk di seberang Phyllis dan menatap gadis penyihir. Tak ada respon lebih selain raut datar atau senyum tipis Phyllis. Gadis ini sangat minim ekspresi.


"Namamu Phy?" tanya vampir. Setelah diingat, mereka belum sempat berkenalan. Tentu saja belum, pertemuan pertama mereka sangat menyeramkan dan hampir membunuh salah satunya.


"Phyllis Cayenne," jawab Phyllis santai. Gigi-giginya masih bekerja untuk menghancurkan setiap gigitan daging ayam. "Kamu?"


Vampir itu diam sejenak. Lalu memasang wajah angkuh serta senyum lebar. "Oh, kamu mau kenalan sama aku, ya? Sepenasaran itu?"


"Nggak." Kedua kalinya Phyllis menjawab singkat dan mengesalkan. Ia tahu jawaban seperti ini membuat orang lain sebal. Tapi apa pedulinya Phyllis?


"Namaku Louis. Panggil aku Tuan Louis."


"Louis."

__ADS_1


"Pakai tuan!" teriak Louis semakin marah. Jika saja taringnya tidak lunak, ia akan menghisap habis darah Phyllis hingga tersisa tulang berbungkus kulit. Mengingat aroma Phyllis cukup membuatnya tergiur, agak berbeda dari Merlin atau manusia lain.


"Hm," jawab Phyllis malas. Ia telah menyelesaikan makannya dan membereskan peralatan makan. Diikuti Louis di belakang yang tak henti bercicit protes.


Phyllis tidak merasa terganggu. Dirinya sering mengalami ini saat Merlin tak suka dengan menu sarapan.


Setelah mencuci seluruh alat yang digunakan, Phyllis segera keluar. Dan lagi-lagi Louis mengikuti.


Sinar matahari tidak begitu terik. Rumah kayu di tengah rimbun hutan tertutup oleh pepohonan menjulang tinggi. Meski mentari tak leluasa masuk karena banyaknya dedaunan, tapi tempat tinggal mereka tidak begitu gelap. Kendati demikian hawa dingin terus menyelimuti hari-hari mereka dan mengharuskan penyihir ini menggunakan jubah untuk beraktivitas.


Merlin yang sudah menunggu lantas mengikuti Phyllis ke area depan rumah. Sebuah kebun kecil ditanami beberapa jenis sayur. Hal ini mempermudah Phyllis untuk memasak. Selain berburu binatang di tengah hutan, Phyllis sering kali membawa bibit tanaman dan menanamnya untuk stok makanan.


Phyllis mendekat ke arah sumur buatan Merlin dan menimba air, kemudian menjadikannya siraman pagi untuk para tanamannya. Jalan setapak berbatu itu membelah tengah halaman depan, Merlin dengan santai berjalan di tengah. Seolah sedang catwalk—sesungguhnya Merlin memang menjadi 𝘤𝘢𝘵 dan sedang 𝘸𝘢𝘭𝘬.


"Keseharian kalian seperti ini?" tanya Louis yang tak dapat jawaban dari Phyllis. Sudah sangat jelas Phyllis tak akan menjawab pertanyaan yang jelas jawabannya.


Bukan hal lumrah bagi Louis. Seorang vampir dengan keseharian ongkang-ongkang kaki serta membunyikan lonceng untuk dilayani. Kehidupan pangeran vampir berbanding terbalik dengan gadis penyihir kecil yang hidup bersama seekor kucing jadi-jadian.


"Ngomong-ngomong, kapan kamu balikin taringku lagi?"


Phyllis yang semula menyiram tanaman akhirnya berhenti. Respon tak biasa Phyllis membuat Louis menaruh harapan. Gadis itu menoleh dan menatapnya. Tatapan yang sangat biasa, datar seolah tak memiliki tujuan hidup.


"Emangnya aku berniat buat balikin?"


".. hehe, jangan bercanda," lanjut Louis lalu mendekat, menggoncangkan kedua bahu Phyllis.


"Ini bukan leluconku. Selera komedi vampir payah, ya," sindir Phyllis yang dijawab dengan tatapan tajam.


"HEI! Aku ini pangeran vampir! Sebentar lagi jadi raja dari Vampir Campbell! Apa jadinya seorang calon raja bertaring lunak?!"


Santainya Phyllis menepis tangan Louis dan kembali melanjutkan tugas paginya. "Aku tidak peduli."


...* * * * *...

__ADS_1


__ADS_2