Penyihir Dan Pangeran Vampir

Penyihir Dan Pangeran Vampir
12 — Sudah Habis


__ADS_3


Sudah habis? Benar, tak tersisa. Kumpulan vampir bakar itu sudah menjadi abu. Seonggok dagingpun tak ada di tengah halaman. Mereka yakin pasti telah membakar para makhluk hina itu.


Malam itu mereka membiarkan api melahap seluruh vampir dan meninggalkannya setelah memastikan mereka mulai menggosong. Dan di pagi hari, api itu mengubah daging serta tulang menjadi abu. Dengan telaten Bibi Gill dan Louve membersihkannya.


Ini semua karena bulan purnama. Supermoon yang memicu datangnya hari ini. Pembakaran massal para vampir, Phyllis yang dihisap darahnya dan ditandai sebagai milik pangeran vampir.


Supermoon membuat ras serigala kesulitan menangani para remaja yang mengamuk. Paman Gill sulit menenangkan Louve yang membesar. Berkat turunan raja serigala alpha, Louve memiliki kekuatan sebanding dengan manusia serigala dewasa.


Kericuhan itu hanya usai setelah hilangnya bulan purnama. Tentunya Paman Gill tidak bisa langsung pergi ke rumah Phyllis karena harus membereskan keributan ini.


Saat waktu rehatnya, Paman Gill baru teringat jika makhluk yang terpengaruh atas kehadiran supermoon bukan hanya manusia serigala. Tetapi vampir kerajaan juga mengalaminya. Memang akan terbilang terlambat. Secepat apapun Paman Gill berlari, ia tahu jika Phyllis akan menghadapi kengerian vampir itu.


Sesuai dengan dugaan, Phyllis sudah dinikmati Louis. Dengan emosi tak terkendali, Paman Gill memutuskan sesuatu yang justru mengancam wilayahnya. Ia kalap dalam amarahnya. Menenggelamkan diri dengan belenggu masalah besar.


Di sisi lain hatinya, ia merasa tidak berguna atas kegagalannya menjaga anak Cayenne. Ia telah melanggar janjinya pada keluarga Cayenne. Bagaimana bisa ia melakukan hal menjijikkan dan mengecewakan seperti ini?


Usainya pembakaran itu, manusia serigala yang selama ini berjaga segera pamit pergi. Begitu juga Keluarga Gilbert. Mereka sangat terpukul atas kejadian ini. Banyak hal yang harus mereka lakukan setelahnya. Yaitu memperkuat ketahanan dan mencari alasan untuk menjawab jika pihak kerajaan vampir datang.


Yang jelas mereka sudah membawa abu-abu itu ke dalam kendi untuk diserahkan pada kerajaan vampir.


Phyllis memandang kepergian mereka. Setelah di sekitarnya tidak ada makhluk lain, Phyllis merapal mantra untuk memperkuat pelindung rumahnya. Ia segera masuk ke rumah, diikutin Charlie yang lesu.

__ADS_1


Gadis mungil itu mengunci seluruh pintu dan jendela, meringkuk di atas ranjang, dan menangis. Charlie tak bisa berbuat apa-apa. Kucing hitam itu hanya melingkar di sebelah kaki Phyllis, menemani tangisannya yang semakin membuat telinganya sakit.


Isaknya tidak berhenti selama berjam-jam. Raungan sedih, kesal, dan kecewa. Ketiganya bercampur aduk, membuat Phyllis memukul-mukul ranjang.


"AAAAHHHH!" teriak Phyllis frustrasi. Rasa nyeri di lehernya masih terasa dan semakin kuat seiring dirinya menangis. Phyllis tidak tahan. Ia tahu tanda itu tidak akan hilang dengan cepat. Tapi saat meraba leher dan mendapati bekas taring itu membuat Phyllis teringat kejadian malam itu.


Hari-hari murung Phyllis tidak kunjung membaik. Gadis itu masih tidak bisa melupakan insiden kecelakaannya. Setiap melakukan hal yang pernah ia kerjakan saat ada Louis membuat Phyllis sedih lagi.


Kehadiran Charlie maupun Merlin tidak bisa menyembuhkan rasa sakit Phyllis. Entah apa yang terjadi, keduanya hanya menebak jika Phyllis sudah jatuh hati seperti Louis padanya. Inikah yang dinamakan gagal move on?


Setiap malam bulan purnama, Phyllis selalu memandang bulan tersebut. Ada secercah harapan di kedua bola mata birunya. Walau waktu sudah berlalu hingga setengah tahun, Phyllis belum bisa melupakan sosok Louis yang menemaninya dulu.


Selama ini Louve sering mengunjungi rumah Cayenne. Paman dan Bibi Gill jarang datang karena sibuk untuk berjaga-jaga. Meski sudah berlalu cukup lama, tapi pihak keluarga kerjaaan vampir tidak pernah datang. Sedikitpun bau vampir tidak ada di wilayah manusia serigala.


Waktu berlalu hingga di tahun berikutnya. Tepatnya setahun setelah kejadian, Phyllis sudah lebih baik. Tidak uring-uringan dan menjalani hidupnya seperti semula. Tetapi bekas gigitan itu tidak pernah hilang. Entah apa yang terjadi, Phyllis sendiri mulai tidak peduli.


Selagi Merlin ke pasar, Phyllis mempersiapkan diri untuk berkebun. Ia membawa peralatan kebunnya dari gudang dan keluar rumah. Di sebelah rumah berjejer tanaman yang ia tanam beberapa bulan ini untuk mengalihkan perhatiannya pada Louis.


Phyllis sering pergi ke hutan untuk mencari bibit baru sekaligus berburu. Di usianya enam belas tahunnya ini, Phyllis sudah diperbolehkan Merlin untuk pergi sendirian. Walau begitu Merlin tetap membekalinya pelindung.


Ketika sampai di samping rumah, di sana ia bisa melihat dengan jelas sebuah kandang yang digunakan untuk menampung vampir-vampir itu. Phyllis tersenyum pahit, lalu berpaling dan mulai menyirami tanamannya.


"Senyuman macam apa itu?"

__ADS_1


Suara yang sangat dikenali Phyllis terdengar dari arah kandang vampir. Ia menoleh dengan cepat. Dan ketika melihatnya, kedua mata Phyllis seolah ingin loncat karena saking kagetnya.


Jantungnya berdebar kencang. Sosok yang dirindukan selama setahun ini, sekarang dia berdiri di depan pintu kandang. Di dalam kandang ada beberapa vampir yang dulunya adalah pengawal Louis. Tetapi mereka hanya diam dan terlihat murung.


Phyllis segera mengucek matanya untuk memastikan pemandangan di depannya nyata atau halu. Setelah ia mengerjapkan mata berkali-kali, Phyllis menyadari beberapa pengawal itu mulai memudar dan menghilang. Begitupun dengan sosok Louis di sana.


Gadis itu diam memandangi kandang vampir yang kosong. Tidak ada siapapun di sana. Perlahan Phyllis tersenyum miris. Kedua netra birunya mulai berkaca, menjatuhkan bulir air mata. Sepertinya rasa rindu yang ia pendam semakin parah dan membuatnya berhalusinasi.


Tak ada keinginan untuk berkebun lagi, Phyllis hanya menyiram para tanamannya dan segera masuk ke rumah. Ia membawa peralatan berkebunnya lagi, menyimpannya dengan baik di gudang sebelum akhirnya naik ke lantai atas untuk menenangkan diri.


Sekali lagi Phyllis menenggelamkan wajahnya ke bantal. Ia menangis di sana. Padahal dia sudah mencoba untuk melupakan kejadian itu. Tapi rasanya sia-sia. Hatinya tidak mau berbohong.


"AAAAHH!!" teriakan Phyllis meredam berkat bantal-bantalnya yang kembali basah.


Tangisnya tidak kunjung berhenti. Bahkan hingga Phyllis tertidur karena lelah menangis, Phyllis masih menggumamkan nama Louis. Sesekali ia merengek dan menggenggam bantal lain, berharap itu adalah tangan Louis.


Seseorang masuk ke dalam kamar dan melihat Phyllis. Ia tersenyum kecut lalu membenarkan posisi tidur gadis mungil itu. Bantal-bantal yang basah ditaruh di lantai, di mana akan dicuci ulang seperti biasanya. Tangannya menarik selimut, menutupi Phyllis yang sudah terlelap.


Samar-samar, Phyllis menyebut lagi nama Louis. Namun kali ini tidurnya tidak senyenyak kemarin. Kedua matanya perlahan terbuka walau masih terasa perih karena lelah menangis.


"Sudah.. pulang?" tanya Phyllis lirih. Senyumnya terukir kecil di bibirnya, lalu berpaling ke arah lain.


"Sudah," ucap pemuda tersebut sambil mengelus rambut Phyllis yang lebih panjang dari setahun lalu.

__ADS_1


"Aku terlalu rindu sampai halu kamu di sini," gumam Phyllis kembali memejamkan matanya.


...* * * * *...


__ADS_2