
Setelah mendengar penjelasan lebar Louis, Louve dan Merlin semakin yakin. Mereka juga menceritakan keadaan ras manusia serigala di sini setelah pembakaran itu. Di mana Paman Gill tidak berhenti untuk memperkuat penjagaan. Ia selalu terjaga setiap malam. Bahkan pesta malam bulan purnama pun mulai ditiadakan karena ketakutan Paman Gill membuatnya tidak bisa menikmati pesta.
Paman Gill selalu berpikir jika vampir akan menyerang saat mereka bersenang-senang. Ketakutan itu terkadang membuat Paman Gill menjadi abusif. Selama itu juga Louve memilih menghabiskan waktu bersama Merlin karena takut dengan amukan ayahnya.
Trauma yang mendalam menggerogoti hati nurani Paman Gill. Banyak warga manusia serigala yang mulai lelah dengan tingkahnya. Bahkan ada yang sudah memasang kuda-kuda untuk menjatuhkan Paman Gill sebagai kepala wilayah.
"Nanti malam aku akan berbicara dengan ayah," ucap Louve setelah merasa lebih baik. Phyllis memberikan segelas air hangat padanya. Louve segera meminumnya hingga habis.
"Aku ikut sekalian menjelaskan apa yang terjadi," sambung Merlin.
Tetapi Louis segera melarangnya. "Undang ayah dan ibumu ke sini. Biar aku yang menjelaskan," perintah Louis. Meski tidak tahu apa yang akan dilakukannya, tapi pada akhirnya Louve menurut.
Selagi menunggu malam tiba, Louis mengajak Phyllis keluar dan melatih sihirnya lagi. Karena Phyllis sudah tahu asal mula kekuatan sihir dari mana, Phyllis tidak ragu jika Louis menjadi mentornya.
Merlin dan Louve sendiri tinggal di dalam rumah, menghabiskan waktu berdua di kamar sembari bertukar pikiran. Terkadang terdengar suara tawa dan argumen, tapi tak selang lama menjadi sunyi.
"Kenapa kamu tidak bisa menangkal sihir pelunakku?" tanya Phyllis sambil menyihir sebuah batu untuk menjadi lunak.
"Aku tidak sekuat itu, Phyllis. Ayo aku bantu belajar lagi," ajak Louis lalu mengangkat tangan kanannya.
Di atas telapak tangannya tercipta gumpalan api oren yang menyala. Terlihat mengerikan tapi tidak panas. Hanya seperti properti. Namun ketika diperhatikan, ada sebuah bola di tengah, di mana itu adalah sumber dari munculnya api tersebut.
Louis lalu memadamkannya dan menunjuk ke arah batu yang disihir Phyllis. Ia memusatkan energi ke sana dan tiba-tiba batu tersebut pecah berkeping-keping.
"Kekuatan magisku termasuk golongan panas. Di mana lebih kuat dalam penyerangan daripada pertahanan diri. Aku mempelajari serangan dari dalam karena kekuatanku adalah ilusi, membutuhkan kendali dari dalam," jelas Louis.
Phyllis mengangguk-angguk paham. Ia melihat ke arah batu yang tak berbentuk tadi, lalu mengambilnya. Tidak ada sihir darinya yang tersisa. Semua dipecah Louis hingga tak tersisa.
"Aku bisa menghapus sihir itu, tapi aku juga akan menghancurkan wadahnya," lanjut Louis sambil mengelus kepala Phyllis.
__ADS_1
"Kekuatan ilusimu itu hanya membuat orang lain berhalusinasi atau ada yang lain?" tanya Phyllis sambil kembali menyihir bebatuan menjadi lunak, disusul Louis yang menghancurkannya.
"Ada. Aku belum pernah mencobanya," jawab Louis santai. Tapi ia sedikit terganggu karena Phyllis tidak berhenti menyihir benda-benda di sekitar.
"Hm? Kenapa? Apa itu terlarang?"
Senyum Louis mulai menipis. "Tidak. Ini menyangkut ingatan seseorang," jawab Louis membuat Phyllis berhenti. Gadis itu menoleh ke Louis dengan dahi mengernyit.
"Untuk membuat ilusi, aku harus masuk ke sumber pikirannya. Yaitu otak. Aku bisa mengendalikannya dan membuat ingatan palsu, yang mana itu juga ilusi."
Mendengarnya, Phyllis hanya diam. Ia menatap kedua mata Louis. Sorot mata yang sulit dijelaskan. Tampak tatapan datar tetapi mengandung berbagai perasaan. Takjub, takut, dan khawatir.
Louis kembali tersenyum dan mengecup kening Phyllis pelan. "Aku belum pernah melakukannya. Dan aku tidak mau melakukannya juga kecuali keadaan mendesak."
Tidak ada jawaban dari Phyllis, tapi perlahan senyumnya mengembang. Gadis itu mengangguk paham dan kembali merapal mantra ke benda sekitar.
Seharian ini Phyllis menghabiskan waktunya untuk melatih refleks sihirnya lagi setelah beberapa bulan beristirahat. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Phyllis kembali lincah seperti sebelumnya. Berkat bantuan Louis yang gesit tentunya Phyllis bisa mengasah ulang kemampuannya.
Namun sesampainya di meja makan, kedua orang tua Louve itu terdiam saat melihat sosok yang tidak asing berjalan mendekati ruang makan sekaligus dapur.
Paman Gill segera berdiri dan menarik istri, anak, dan Phyllis. Tetapi Louve menahan tangan Paman Gill dan mengelus bahunya pelan.
"Tenang, ayah. Biar kami jelaskan apa yang terjadi," ucap Louve lembut. Phyllis segera mendekat ke Louis, sementara paman dan bibi diajak duduk lagi.
Meski masih was-was, tapi keduanya menurut setelah melihat respon Louve yang tenang akan kehadiran pangeran vampir itu. Louve menuangkan teh hangat kepada kedua orang tuanya. Merlin menyajikan ayam goreng yang baru matang ke atas meja.
Setelah semuanya siap, mereka lalu duduk di kursi masing-masing. Phyllis ada di samping Louis, sangat lengket walau wajah Phyllis terlihat datar dan tidak peduli. Tapi sikapnya yang selalu mengekor Louis membuat Merlin dan Louve gemas.
"Jadi.. ada apa sebenarnya?" tanya Paman Gill tak sabar. Bibi Gill memegang tangan suaminya dan menatapnya, meminta ia untuk bersabar lebih karena ini baru dimulai.
Pada akhirnya mereka menghabiskan makan malam bersama. Mengobrol basa-basi tentang kehidupan Phyllis dan Merlin selama tidak dijenguk Paman Gill. Seperti yang diketahui jika Paman Gill mulai mengalami gangguan karena stress dan ketakutannya, sehingga dia tidak memperhatikan sekitar.
__ADS_1
Malam itu Paman Gill baru menyadari jika dirinya sudah jauh dari keluarga Cayenne kecil ini. Rasa bersalah menyelimuti setiap kata yang ia lontarkan. Malu rasanya karena tidak menemani Phyllis di saat-saat terpuruk, tidak peduli dengan istrinya, berperilaku abusif kepada Louve, dan membuat Merlin harus bekerja lebih keras untuk melindungi adik tercintanya.
Perlahan perasaan berkecamuk di dalam hati mulai meluntur satu per satu, Paman Gill sudah bisa tersenyum. Setiap obrolan mulai dibawa santai dan tak lupa ia mengucapkan maaf sebagai penutup makan malam bersama ini.
Louis terlihat puas melihat kebersamaan kembali di meja makan. Rasa tenang dan tentram di depannya membuat ia juga merasakan nyaman. Sehingga Louis bisa leluasa untuk menceritakan apa yang terjadi.
Di mulai dari asal mula adanya penyihir dan manusia serigala, pertarungan di antara mereka, pembagian wilayah, dan berujung pada insiden yang membuat Paman Gill trauma.
"Vampir yang menyerang desa manusia serigala itu adalah vampir dari Keluarga Washington. Dia adalah tamu kami saat perjamuan yang dilaksanakan setiap lima puluh tahun sekali. Kami akan bergantian untuk mengadakan perjamuan, dan saat itu giliran Kerajaan Campbell yang menjadi tuan rumahnya."
"Kejadian pembantaian ini tidak sekali dilakukan Washington. Mereka selalu membuat kericuhan di setiap pesta perjamuan. Mungkin karena saat itu kami terlalu sibuk mengurusi banyak hal, kami kelewatan untuk mengawasi Washington."
Paman Gill tidak berkata apapun. Tapi dadanya sakit, mengingat kejadian lalu yang menewaskan keluarganya dan menyisakan para anak-anak manusia serigala. Memaksa mereka untuk tumbuh sendiri tanpa orang dewasa.
Cukup lama Paman Gill diam sambil menata hatinya yang kembali hancur karena memori kelam itu. Bibi Gill terus memeluknya erat hingga Paman Gill mulai berani melihat vampir di seberangnya.
Louis tersenyum ramah menyambut keberanian Paman Gill untuk menatap sosok yang selama ini dianggap musuh dan ancaman rasnya.
"Aku adalah Louis Campbell. Selama ini Campbell yang melindungi manusia serigala di sekitar dari vampir-vampir gila. Tanpa sepengetahuan kalian, kami terus membuat perlindungan. Selain untuk menghindari kesalah-pahaman lagi, kami juga tidak mau ada keributan di dalam hutan ini."
"Ya.. aku mengerti. Terima kasih sudah datang untuk meluruskan semuanya," ucap Paman Gill pelan.
"Terima kasih sudah mengerti," balas Louis lalu mengelus kepala Phyllis, memberikan tanda jika masalah ini sudah selesai. Gadis penyihir itu tersenyum kecil.
"Oh, lalu.. kenapa kamu masih hidup?" tanya Paman Gill tiba-tiba.
Kedua alis Louis terangkat, kaget. Ia juga baru sadar kalau belum menjelaskan apapun tentang cara dia melarikan diri.
"Yah.. jadi begini."
Malam itu, Louis menjadi sosok ibu yang mendongengkan cerita sebelum anak-anaknya tidur. Keluarga Gilbert dan Cayenne akhirnya tidur di sana bersama.
__ADS_1
...* * * * *...