
Kejadian malam itu menyadarkan Paman Gill. Setelah kepulangannya dari kediaman Cayenne, Paman Gill segera mengumpulkan para manusia serigala di wilayahnya. Ia memberitahu semua yang terjadi.
Paman Gill mulai menerima kematian orang tuanya dulu. Benar adanya hidup dikendalikan rasa dendam itu tidak enak. Setelah mendapat pencerahan, Paman Gill berjalan lebih baik. Beruntung manusia serigala di wilayah yang ia pimpin cukup kooperatif dan lebih berpikir terbuka.
Selama setahun ini mereka juga merasa tidak nyaman. Tapi selama ini juga tidak ada vampir yang datang di daerah mereka kecuali Louis dan kawanannya. Sepertinya yang dikatakan Louis itu benar.
Selagi menyebarkan sejarah yang ada, Paman Gill juga meminta seseorang untuk mencari sejarah lain dari manusia serigala agar lebih tahu seluk-beluk rasnya sendiri. Hal ini juga membantu manusia serigala remaja lebih mawas diri.
Louis beberapa kali kembali ke kastil untuk laporan dan mengurus berkas-berkas. Ayahnya ingin segera menikahkan Louis dan Alice, tapi dia tidak bisa memaksa kehendak anak tercintanya. Apalagi permintaan Louis yang semakin nyeleneh. Yaitu meminta pengawal dengan ketahanan diri yang tinggi untuk ikut bersama Louis.
Walau hubungan Louis dan raja vampir saat ini kurang akrab, tapi ayahnya sangat tahu anaknya mencintai seseorang. Bahkan ia melihat daftar pernikahan, yang mana nama Louis sudah tertulis di sana. Walau raja belum bertemu Phyllis, tapi raja menganggap Phyllis memang anak yang baik.
"Louie, ayolah. Cepat menikah dengan Alice atau bawa istrimu ke sini," bujuk raja vampir, Raja Drake. Louis melengos saat ayahnya merengek untuk kesekian kalinya di atas kursi singgasana.
Bak bayi minta susu, Raja Drake bahkan tidak segan mengeluh berulang demi dituruti maunya. Para selir yang sejak tadi berada di sekitar hanya bisa mengelusnya penuh sayang, berharap rajanya diam dan tidak bersikap bocah lagi. Sudah menjadi kebiasaan Raja Drake akan seperti ini jika di depan Louis.
Louis yang hendak izin untuk pergi lagi hanya menghela napas. Kedua bola matanya memutar bosan. Sementara jejeran pengawal yang ia inginkan sudah berdiri di belakangnya.
"Louie. Ayo, bawa istrimu itu. Aku tahu kamu sangat mencintainya, kan. Bawa dia ke ayah. Aku ingin tahu vampir seperti apa yang membuat pangeran judesku ini jatuh cinta," ucap Raja Drake lalu memeluk salah satu selir dan mengecupnya.
"Tidak. Aku pergi dulu," balas Louis lalu berpaling. Ia berbalik badan dan segera meninggalkan ruangan raja.
__ADS_1
Raja Drake merengut melihat punggung anaknya yang tenggelam di antara para pengawal peringkat atas di kerajaan. "Ih. Sebel, deh. Kalian lihat tidak bayiku yang nakal itu jadi semakin kejam padaku?" tanya Raja Drake kepada para selirnya.
"Iya, kami lihat, Rajaku sayang~ tapi dia sekarang sudah dewasa, lho. Wajar, kan?" balas salah satu selir sembari mengelus lengan raja pelan, seolah menggoda dengan suara desah di telinga lancip raja.
"Dewasa?" tanya Raja Drake sambil menoleh ke arah selir itu. Si selir tersenyum manja sambil mengangguk pelan, tak lupa tatapan nakalnya terus ia tunjukkan demi merangsang rajanya.
"Heh! Dia baru 250 tahun! Dewasa darimana?! Matamu buta, ya?! Kamu mewajarkan bayiku begitu?!" teriak Raja Drake tak terima. Di matanya, Louis hanyalah bocah yang kemarin baru masuk TK dan suka menangis demi permen. Bisa-bisanya selir ini menyebut Louis dewasa?
Tidak terima dengan pendapat salah satu selir, Raja Drake langsung mendorong selir itu ke lantai dan menendangnya hingga tersungkur menjauh dari kursi tahtanya. Raja menatapnya bengis, sangat terasa sorot mata jijiknya.
"Jaga omonganmu! Aku tidak suka omong kosongmu!" seru Raja Drake kemudian mengarahkan tangan terbukanya ke selir, lalu mengepalkan tangannya.
Seketika seluruh tulang tubuh selir itu patah dan memaksa tubuhnya membulat seperti bola. Suara teriakan dan rintihan dari selir tidak digubrisnya. Pastinya vampir perempuan itu kesakitan bukan main.
"Aku tidak suka pendapat yang berbeda dariku! Ambil bola itu!" perintah Raja Drake pada selir lainnya. Dengan cepat mereka berebutan untuk mengambil vampir yang sudah tersiksa itu kepada raja.
Di lantai tinggallah tubuh yang sudah tidak berbentuk itu di genangan darah. Raja Drake tampak tidak suka lalu menendangnya begitu saja.
"Ck. Aku bete! Aku mau selir nomer 27 dan 99 ke kamar!" teriak Raja Drake lalu bangkit dari kursinya. Ia berjalan keluar dan pergi ke kamar tidurnya, diikuti dua selir yang ditunjuk. Tentunya apa lagi kalau bukan bersenang-senang untuk menghilangkan kekesalannya.
Di tempat lain, tepatnya tempat Louis berada. Ia dan dua puluh pengawal pilihan tengah berdiri di depan gerbang kastil. Penjaga segera membukakan gerbang dan membiarkan dirinya keluar, membawa para pengawal kelas atas.
"Aku ada kunjungan di luar. Entah aku akan pulang kapan. Tolong jaga kastil dengan baik," perintah Louis dijawab anggukan dari penjaga.
__ADS_1
Dalam perjalanan, Louis hanya diam. Bahkan ia berjalan ke arah hutan, di mana itu wilayah manusia serigala. Walau para pengawal sudah dididik dan tahu sejarah asli, tapi mereka cukup was-was jika manusia serigala masih mempunyai dendam dan ingin membalasnya.
Tapi setelah berjalan jauh, mereka tidak mencium bau manusia serigala di sana. Sedikitnya tapi aromanya samar, tercampur dengan buah-buahan yang saat itu baru tumbuh.
"Maaf jika saya lancang. Tuan Muda.. kita sebenarnya mau ke mana?" tanya salah satu pengawal sambil menundukkan kepala.
"Menemui istriku," jawab Louis singkat. Jawaban itu mengejutkan pengawalnya.
Pasalnya ini adalah wilayah manusia serigala. Sementara istrinya ada di wilayah ini. Bagaimana bisa? Vampir macam apa yang bisa berbaur dengan manusia serigala?
Berbagai macam spekulasi mengiang di kepala mereka. Louis sengaja tidak menjelaskan secara rinci. Ia hanya ingin menunjukkan Phyllis yang dinilai sebagai istri sah Louis di dunia vampir. Masa bodoh dengan penyihir atau vampir. Jika itu Phyllis, Louis tidak peduli apapun rasnya.
Langkah mereka tak berhenti. Hingga akhirnya dari mereka berdiri, mereka bisa melihat sebuah rumah kayu di tengah hutan. Dengan pekarangan luas dan tanaman rapi di sekitarnya. Tak lupa ada sumur untuk mengairi tanaman.
Di luar rumah itu ada sosok mungil yang tengah berkebun. Louis tersenyum melihatnya. Namun para pengawalnya semakin dibuat bingung saat mereka tidak mencium aroma vampir dari rumah itu. Memang ada sedikit, tapi itu bau dari gigitan Louis di leher Phyllis.
"Ayo. Kalian harus ramah atau aku bunuh yang tidak menurut," perintah Louis tidak bisa ditolak. Mereka hanya mengangguk dan mengikuti Louis yang masuk ke halaman rumah.
Phyllis menyadari akan kehadiran Louis. Gadis itu menoleh dan mendapati sosok yang ia rindukan sudah datang. Tapi pandangannya segera beralih ke kumpulan vampir di belakang Louis.
"Eh—"
Terlihat wajah pucat gadis itu. Phyllis tampak takut, ia bahkan menjatuhkan peralatan kebunnya.
__ADS_1
"Selamat pagi, Istri Tuan Muda Louis!"
...* * * * *...