Penyihir Dan Pangeran Vampir

Penyihir Dan Pangeran Vampir
21 — Pelatihan Hari Pertama


__ADS_3


Dengan berbekal saran dari Louis, Phyllis menaruh sihir di hidungnya untuk mempertajam penciuman. Sihir ini bertahan sekitar sepuluh menit. Itu artinya Phyllis harus bergerak cepat untuk menemukan vampir-vampir itu.


Tapi tak disangka, ketika penciumannya setara dengan serigala, aroma bangsa darah berada di mana-mana. Aroma manusia serigala juga bercampur di sana. Bau itu sangat tajam, menyengat, dan membuat kepalanya sakit. Phyllis tidak pernah membayangkan baunya seperti ini.


"Berarti mereka sudah terbiasa dengan bau setajam ini. Aku jadi pusing—" gumam Phyllis sambil berjalan pelan mengikuti arah bau vampir yang paling kuat. Aromanya menyeruak ke dalam hidung hingga tembus ke ubun-ubun, membuat kepala semakin pusing.


Ia akhirnya duduk di bawah pohon, bersandar di sana sambil mencoba mengendalikan diri. Rasanya hampir kehilangan kesadaran. Sungguh, Phyllis tidak kuat dengan ketajaman ini. Ini lebih menyakitkan daripada bau kaus kaki basah atau makanan basi.


Dengan tubuh yang semakin melemah, Phyllis membatalkan sihirnya dan perlahan penciumannya kembali normal. Dia bisa bernapas lega. Tetapi ini artinya menggunakan sihir tersebut tidak cocok untuk latihan ini.


Gadis itu termenung di bawah sana. Telinganya mendengar langkah-langkah kaki para serigala. Tubuh mereka yang besar melewati Phyllis yang tengah duduk menyandar pohon. Serigala itu berhenti di depan Phyllis, menatapnya sinis, lalu berjalan mengikuti arah aroma vampir lain.


Sombong. Mereka enggan membantu Phyllis karena menganggap kemampuan mereka lebih hebat. Si penyihir kecil itu hanya diam melihat tubuh serigala yang perlahan menjauh.


Phyllis kembali termenung. Kepalanya menengadah, menatap langit biru. Cuacanya sangat cerah. Hanya ada beberapa awan putih membentuk titik-titik kecil. Ini masih pagi dan Phyllis harus segera menyelesaikan latihan paginya sampai pukul dua belas siang.


Cukup lama ia berdiam di sana. Di sisi lain, serigala sudah ada yang menemukan para vampir walau mereka harus kejar-kejaran. Phyllis bisa melihat pengejaran itu karena mereka berada di sekitar.


Sayang sekali vampir itu tidak diperbolehkan menggunakan kekuatan magisnya. Kalau saja Louis mengizinkan, serigala itu yang akan dibekukan.


Phyllis tersenyum kecil lalu berdiri dari duduknya. Ia mengarahkan tangan ke arah vampir dan melempar sihir pengikat. Sihir itu berhasil menembus pelindung vampir dan membuatnya tersungkur. Ia menggeliat di tanah dan berhasil menggunakan sihir penghapus.


Tetapi serigala muda itu sudah lebih dulu menahan dan menggigit kerah kemejanya. Ia menyeretnya, melewati Phyllis yang hanya diam memandanginya. Serigala tersebut melirik sekilas dan menggeram, seolah tidak terima dengan bantuan Phyllis.


"N-nona Phyllis— bukankah aku ditaklukan Nona Phyllis?" tanya vampir itu saat melewati Phyllis.


"Tidak, ikutlah dengannya," jawab Phyllis sambil berlalu berjalan berlawanan arah.


Gadis itu kembali masuk lebih dalam. Di tengah perjalanan, ia menggunakan mantra untuk memperkuat indera penglihatan dan pendengar. Tak lupa ia memberi sedikit kecepatan dalam langkahnya. Vampir memiliki kelebihan untuk bergerak lebih gesit. Bahkan manusia serigala tadi tidak bisa menangkapnya jika Phyllis tidak turun tangan.


Setidaknya selama sepuluh menit ke depan, Phyllis bisa mengandalkan diri sendiri untuk mencari keberadaan para vampir.

__ADS_1


...* * *...


Hari pertama telah usai. Sampai latihan babak 2 di hari ini, Phyllis berhasil membawa setidaknya 4 vampir. Beberapa manusia serigala berhasil menyerahkan beberapa juga. Di siang tadi, untuk vampir yang tertangkap tidak diperbolehkan ikut latihan kedua dan harus mendapat hukuman dari Louis karena terlalu lemah.


Vampir-vampir itu membersihkan tubuh sebelum makan malam. Para remaja serigala sudah kembali ke desa setelah Louis membubarkannya. Mereka enggan ikut makan malam yang sudah disiapkan Louve.


"Aku merasa.. mereka sedikit angkuh," ucap Merlin saat melihat adiknya yang hanya membaca buku mantra di perpustakaan. Sudah sejam lamanya Phyllis tidak keluar dari sana dan berkutat dengan tumpukan buku sihir menengah itu.


"Angkuh? Seangkuh aku tidak?" tanya Louis mengejek. Merlin baru sadar jika pangeran vampir itu sejak tadi menamani Phyllis di sini. Pantas saja para vampir di luar terlihat bebas dan bercanda.


Merlin menatap Louis yang berada di samping rak sambil membaca buku perang. Dahinya mengernyit, lalu mendekati Louis.


"Kamu memang angkuh. Tapi aku penasaran, untuk apa kamu membaca buku itu?" tanya Merlin sambil menunjuk buku perang. Phyllis yang sejak tadi fokus pada bukunya akhirnya beralih dan ikut melihat Louis.


"Meski aku sudah pintar dengan taktik perang, tapi aku masih mau belajar hal baru. Apa aku masih bisa kamu anggap angkuh, kakak ipar?"


Jawaban Louis cukup membuat Merlin kesal. Ia akhirnya memilih untuk meletakkan roti dan susu hangat di meja Phyllis. Gadis itu melewatkan makan malam bersama dan Louis sama sekali tidak mengajaknya keluar.


Setelah itu Merlin pergi meninggalkan mereka berdua dan membantu Louve untuk menyiapkan tempat tidur para vampir. Kandang vampir sebelumnya sudah dibongkar, sementara waktu mereka akan tidur di ruang tamu dan kamar bawah.


"Mungkin. Apa kamu takut?" Louis menutup bukunya dan mendekati Phyllis. Menaruh buku itu di meja dan menatap kekasihnya lekat.


Phyllis hanya diam. Tapi raut wajahnya terlihat bimbang. Banyak pertanyaan yang mengitari otaknya, tapi tak ada satupun yang terucap. Ragu apakah pertanyaannya wajar ia tanyakan, tapi di sisi lain Phyllis penasaran.


Tanpa sadar wajahnya yang datar berubah menjadi serius. Sorot matanya mengatakan segalanya. Louis hanya tersenyum. Walau ia tidak mencoba untuk masuk ke dalam pikiran Phyllis, tapi dirinya tahu gadis mungilnya memikirkan banyak hal, terutama tentang latihannya tadi.


Sejak Louis menyudahi latihan hari ini, Phyllis tampak bingung sehingga membuatnya kelihatan murung. Selama itu juga Louis tidak mau bertanya dan memilih menunggu Phyllis mengatakan semua. Ia sangat tahu gadis penyihirnya paling tidak suka ditekan.


"Aku mau tanya banyak hal." Pada akhirnya Phyllis mengatakan itu.


Tangan Louis bergerak mengelus kepala Phyllis lembut. "Boleh. Tapi makanlah dulu," balas Louis sambil menyodorkan piring roti dan segelas susu yang dibawakan Merlin tadi.


Phyllis hanya menurut. Lagipula perutnya sudah kosong sejak siang. Phyllis hanya makan potongan roti sourdough untuk makan siang. Karena otak yang terus berpikir, Phyllis sampai harus mengenyahkan keinginan untuk makannya.

__ADS_1


Selagi menunggu Phyllis makan, Louis kembali mengambil buku perang dan membukanya. "Boleh aku menebak? Kalau benar, kamu harus memberiku jatah," tawar Louis. Sudah jelas respon Phyllis seperti apa, yaitu marah dan merengut. Walau begitu Louis tidak peduli.


"Tebakan pertama. Aku mengamatimu sejak membawa vampir kedua. Raut wajahmu menegang ketika melihat serigala membawa dua vampir lain. Dan aku tebak.. kamu ada masalah di dalam hutan dengan mereka," jawab Louis sambil menatap Phyllis.


Meski tidak menjawab, tapi Phyllis memberikan gelagat berbeda.


"Oke. Tebakan kedua, kamu penasaran perang apa yang akan terjadi, kan?"


Lagi-lagi Phyllis tidak menjawab. Ia hanya melanjutkan makan sesegera mungkin dan menenggak susunya hingga habis. Kemudian Phyllis menatap Louis datar.


"Ada benar dan salah, tebakanmu juga kurang. Jadi penawaranmu gagal," ucap Phyllis lalu beranjak dari kursinya. Ia mengambil piring dan gelas, kemudian berjalan ke arah pintu perpustakaan yang tertutup.


Dengan cepat Louis menghalanginya. "Oh. Jadi kamu diam-diam menyetujui, ya. Bagus, deh."


Perlahan vampir itu mendekat dan mendorong Phyllis berjalan mundur. Hingga gadis itu terhimpit di antara Louis dan meja belajarnya. "Aku tidak bilang semua tebakanku harus benar, kok. Jadi.. mana jatahku?" goda Louis sembari mengambil piring dan gelas lalu meletakkannya di meja.


Phyllis hanya diam menatapnya. Ia tidak menolak. Melihat respon datar itu cukup membuat Louis senang, tapi di sisi lain dia jadi waspada. Tidak biasanya Phyllis membiarkan Louis berbuat senekat ini.


"Kamu merencanakan apa?" tanya Louis sambil memegang kedua bahu Phyllis.


"Kamu mau jatahmu tidak?" balas Phyllis ketus.


*Phyllis, kamu tahu kalau kamu pasrah seperti ini artinya ada yang salah," jelas Louis menggoncang-goncangkan bahu Phyllis. Gadis itu hanya memasang wajah datarnya.


"Sudahlah. Tanyakan padaku apa yang kamu mau tahu," lanjut Louis lalu melepas Phyllis dan kembali duduk di kursi dekat pintu perpustakaan.


Phyllis diam menatapnya, lalu kembali membawa gelas dan piring untuk diantar keluar. Louis yang tidak mendapat respon baik langsung menahannya lagi di depan pintu. Penyihir kecil tersebut mulai menatapnya tajam, begitu juga Louis.


"Kenapa kamu menghindar? Kamu tidak mau menanyakan lagi?" Louis terlihat mulai cemas. Pasalnya Phyllis akan selalu meninggalkannya saat tidak mau menceritakan masalahnya. . Phyllis selalu memendam apa yang dia pikirkan dan membuat Louis kebingungan.


"Minggir!" perintah Phyllis sambil bergerak mencari celah untuk melewati Louis.


"Tidak! Kamu mau menutupinya dariku? Kamu tidak mau terbuka denganku?!" tanya Louis sambil berusaha menutupi pintu perpustakaan. Dia akhirnya mengunci pintu itu dan memasukkan kunci ke dalam saku celana.

__ADS_1


Menggeram kesal, Phyllis lalu berseru, "TIDAKKAH KAMU LIHAT PIRING DAN GELAS INI KOTOR?! BIARKAN AKU MENCUCINYA DULU! "


...* * * * *...


__ADS_2