Penyihir Dan Pangeran Vampir

Penyihir Dan Pangeran Vampir
11 — Maaf


__ADS_3


Pukul dua malam. Louis menuntaskan hal yang ia butuhkan. Pangeran vampir itu memeluk tubuh kecil Phyllis. Charlie sudah diletakkan di sisi lain ranjang. Sebelum Louis menyerang Phyllis, ia sudah membuat Charlie tak sadarkan diri. Karena Charlie ataupun Merlin akan mengganggu kegiatannya.


Dalam diamnya memeluk Phyllis, Louis merasa bersalah. Beberapa kali kata maaf terucap di bibirnya. Tapi Phyllis yang saat itu pingsan tidak bisa menjawab. Yang pasti Phyllis akan membencinya. Ia tidak siap, tapi dia ingin melakukan ini.


Ini semua karena supermoon yang terjadi. Pada bulan-bulan purnama biasanya, vampir tidak akan terpengaruh. Tetapi saat supermoon seperti inilah vampir akan gila darah dan melakukan segala cara untuk mendapatkan darah, memuaskan diri mereka dalam segala aspek.


Tetapi fenomena seperti ini hanya terjadi pada keluarga kerajaan vampir. Maka dari itu kerajaan vampir harus punya pengawal dengan kemampuan khusus untuk mengendalikan keluarga kerajaan yang menggila.


Selain nafsu mereka yang meninggi, supermoon bisa memperkuat kekuatan mereka dan menghilangkan penyakit apapun yang ada di dalam tubuh vampir. Dari itu sihir pelunak Phyllis hilang pada Louis dan membuatnya kembali seperti semula.


"Phyllis, maafkan aku," gumam Louis pelan sembari mengeratkan pelukan pada tubuh mungil tanpa busana itu. Louis sendiri hanya menggunakan celana panjang dengan dada tel*njang bebas. Wajah Phyllis menempel di dada bidangnya.


Selagi kalap dalam penyesalan, tiba-tiba tangan Phyllis yang berada di pinggangnya bergerak. Penyihir itu sudah bangun dari tidurnya. Tidak ada kata yang terucap meski Phyllis siuman.


Louis tahu Phyllis hanya akan diam. Dirinya juga terus mengucapkan maaf. Tangan gadis itu mengepal, penuh emosi dan memukul pinggang Louis kencang. Rasanya sakit, tapi Louis tak menahan tangannya. Ia membiarkan Phyllis memukulinya.


"Maafkan aku, Phyllis," ucap Louis lirih. Phyllis kembali menangis dan mengerang. Rasa nyeri di lehernya masih terasa. Kini di sana sudah ada bekas gigitan dalam.


Pukulan Phyllis sudah berhenti. Gadis itu hanya menangis di dalam genggamannya. Isaknya membuat hati Louis semakin tersayat. Ia tidak tahan dan meraih dagu Phyllis. Keduanya saling bertatapan, lalu Louis segera mencium bibirnya untuk menghentikan tangis Phyllis.


Ciuman itu tidak berlangsung lama karena Phyllis menolak. Louis bisa merasakan netra biru itu menyuguhkan perasaan benci. Tidak apa, memang seharusnya Louis mendapatkan ini. Kali ini dirinya keterlaluan. Phyllis tidak bersalah.


"Maaf. Aku tidak bisa menahannya. Kamu bisa membunuhku sekarang kalau kamu mau." Louis lalu melepas pelukannya dan duduk di samping tubuh Phyllis yang berbaring. Gadis itu menatapnya sinis dan berbalik, memunggunginya.


"Kenapa aku?" Suara Phyllis terdengar serak karena menahan tangisnya. Gemetar, Phyllis kembali mengulangi pertanyaannya.

__ADS_1


"Kenapa aku?"


Louis diam untuk beberapa saat. Wajahnya sendu, lalu berpaling ke arah jendela kamar. Senyum pahitnya terukir indah bersamaan dengan redupnya sinar bulan purnama.


"Karena aku menyukaimu," jawab Louis lirih. Entah sejak kapan perasaan suka ini muncul. Yang jelas setelah kesehariannya bersama Phyllis, rasa ini perlahan lahir. Jika kata pepatah, cinta lahir karena terbiasa.


Pangeran vampir ini tahu perasaannya salah. Mencintai ras yang berbeda, apalagi seorang penyihir. Tapi yang namanya hati tidak bisa berbohong. Dia ya dia. Louis baru kali ini merasakan apa itu rasa suka dan sayang. Bukan sakadar sebagai teman, tetapi memang perasaan suka secara romantis.


"Phyllis. Kamu tidak perlu membalasnya. Lagipula kita tidak akan bisa bersama," ucap Louis disusul tawa kakunya.


Phyllis tak menjawab dan langsung beranjak dari ranjang. Ia segera mengenakan pakaian yang ditanggalkan Louis beberapa jam lalu. Menggunakan kemeja dan celana pendek, lalu pergi keluar kamar. Dengan memegangi lehernya, ia sempoyongan menuruni tangga.


Louis mengikuti dari belakang tapi tidak berani menyentuhnya. Dia hanya menjaga dari jauh selagi Phyllis meminum air putih. Gadis itu duduk di kursi dapur dan menatap kosong gelasnya.


"Phyllis?" panggil Louis ragu. Tetapi ia tetap duduk di kursi seberang Phyllis.


Pemuda itu menghela napas, mencoba menenangkan diri. "Berjanjilah tidak marah dulu setelah tahu jawabannya," ucap Louis sambil memandang Phyllis takut.


Kali ini Phyllis meliriknya, tapi sorotnya menajam. "Apa menurutmu aku sekarang belum marah?" ketus Phyllis kembali membuang muka ke arah meja. Louis hanya melirik ke bawah, sudah jelas marah.


"Oke, ada beberapa gigitan vampir. Membunuh, menghisap, atau menandai. Menghisap dan menandai itu hampir mirip. Hanya saja kalau dengan gigitan menghisap, tanda itu akan segera hilang beberapa hari. Tetapi untuk gigitan menandai, semua vampir akan tahu kalau kamu milik vampir itu. Biasanya gigitan ini digunakan untuk pasangan saja."


"Apa aku menanyakan itu? Aku hanya tanya kamu pakai gigitan mana?" tanya Phyllis tegas. Gadis itu tidak bisa menutupi kekesalan dan amarahnya. Dari kedua matanya saja sudah bisa menebak suasana hatinya tidak baik.


Rasanya mau bicara apapun akan terdengar salah bagi Phyllis. Louis tersenyum takut dan kembali menghela napas.


"Aku menggigitmu dengan gigitan menandai."

__ADS_1


Phyllis menghela napas pasrah, seolah sudah tahu jawabannya. Kepalanya menggeleng pelan. "Ada cara untuk menghapus tanda itu?"


"Ada."


Phyllis menoleh, kali ini menatap Louis penuh harap. Tapi yang ditatap justru memasang raut sedih. "Salah satunya harus mati."


"PHYLLIS!!"


Teriakan itu terdengar dari pintu masuk. Pintu berhasil didobrak. Paman Gill dan Paman Orlan berdiri di ambang pintu. Keduanya lari ke dalam. Paman Gill membawa Phyllis menjauh, sementara Paman Orlan memukul Louis keras hingga vampir itu terlempar ke lantai.


Paman Orlan tidak tahan dan membawa pangeran vampir itu keluar. Di halaman rumah, ia dipukuli habis-habisan. Sementara Paman Gill memeriksa tubuh Phyllis. Ia melihat bekas gigitan baru di leher Phyllis.


"Phyllis sayang..," lirih Paman Gill. Sudah tidak ada rasa kaget. Ini lebih dari sekadar syok. Rasa sedih dan kecewa menjalar di seluruh tubuhnya ketika istrinya berteriak dari arah pintu. Bibi Gill lari mendekat, sementara Louve naik ke lantai atas untuk mencari Charlie.


"Phyllis sayangku!! Kamu sudah di— VAMPIR SIALAN! Suamiku!!" Amarah Bibi Gill menggebu-gebu.


Paman Gill beranjak dan berlari keluar. Ia memanggil para manusia serigala lain. Mereka mengeluarkan vampir-vampir yang terlelap di kandang. Mengumpulkan mereka di tengah halaman bersama Louis yang babak belur.


"BUNUH MEREKA SEMUA!" perintah Paman Gill dengan emosi tak terkendali. Dirinya ingin menangis karena gagal melindungi Phyllis.


Berbondong-bondong, para manusia serigala itu berdatangan dan membawa obor yang sudah menyala. Para vampir itu berteriak minta ampun, mereka minta maaf karena tidak tahu apa-apa. Memohon untuk dilepaskan.


Phyllis segera berlari ke teras, diikuti Bibi Gill dan Louve yang menggendong Charlie. Di sana, mereka menyaksikan penyiksaan terakhir para vampir itu. Dengan minyak yang diguyur ke seluruh tubuh, manusia-manusia serigala itu melempar obor menyala ke lingkaran vampir.


Si jago merah mulai membesar, membakar setiap jengkal kulit berlumur minyak diiringi rintihan sakit dan minta tolong. Api melalap seluruh tubuh vampir-vampir itu. Di sekitarnya, para manusia serigala menatapnya dengan bengis. Sudah tidak ada harapan untuk hidup lagi.


...* * * * *...

__ADS_1


__ADS_2