Penyihir Dan Pangeran Vampir

Penyihir Dan Pangeran Vampir
06 — Uji Coba


__ADS_3


Malam telah tiba. Para vampir diawasi ketat, hutan di sekitar dijaga banyak serigala gagah nan besar. Mereka tahu malam hari adalah waktu aktifnya para vampir. Tetapi karena Phyllis sudah memberi sihir pelunak pada mereka, mereka tidak bisa menyerang. Walaupun setiap vampir memiliki kekuatan magis sendiri, tapi perlindungan Merlin sudah cukup kuat untuk menahan mereka.


Bibi Gill dan Louve sudah kembali ke desa karena besok hari masih harus bekerja. Merlin mengantar mereka sampai ke jembatan masuk hutan. Bukan masalah meremehkan kekuatan manusia serigala, tetapi Merlin merasa berterima kasih karena keluarga Gilbert terus menolongnya.


"Hati-hati, Bibi Gill, Veve," ucap Merlin sambil melambaikan tangan. Louve tersenyum lebar dan mengangguk, lalu mengikuti Bibi Gill dengan riang.


Setelahnya Merlin kembali masuk dan pulang ke rumah. Paman Gill sudah menunggu dan mengantarnya masuk. Malam ini Paman Gill akan menginap untuk mengawasi Louis. Padahal Louis sendiri tidak akan melakukan apapun karena dirinya juga ingin taringnya kembali.


Sejak sore, Phyllis duduk di kursi perpustakaan dan tak beranjak dari sana. Bahkan Merlin harus membawa makan malamnya ke meja belajar.


"Louis, kembalilah ke kandang," perintah Paman Gill. Louis yang sejak tadi menemani Phyllis langsung berdiri.


"Apa? Aku bergabung dengan mereka? Aku tidak mau!" tolak Louis tegas.


Paman Gill menghela napas. "Kamu pikir kamu siapa di sini? Apa kamu jijik berkumpul dengan bangsamu sendiri?" sindir Paman Gill sambil mendekat. Ia menarik kerah Louis dan memaksanya keluar.


Malam ini Louis dipaksa tidur di kandang vampir buatan manusia serigala. Walau mereka makhluk yang beraktivitas di malam hari, tapi mereka harus beristirahat karena esok paginya akan digunakan Phyllis untuk uji coba.


...* * *...


Keesokan hari, para manusia serigala yang berjaga malam mulai berganti shift dengan yang lain. Paman Gill sendiri tidur di rumah Cayenne karena kelelahan. Merlin sendiri pergi ke pasar untuk membeli susu sekaligus menjemput Louve.


Phyllis sudah siap dan berjalan mendekati kandang vampir. Dengan cuaca yang tidak begitu terik, tetapi para penghisap darah itu tetap menggunakan jubah. Hal ini tidak mengganggu sihir Phyllis selagi para vampir tidak menutupi taringnya.


"Ayo siapa yang bersedia, silakan angkat tangan." Salah satu paman manusia serigala lain, Paman Orlan, tengah memerintah para vampir. Tetapi tidak ada vampir yang mau angkat tangan.


"Hei! Kalian dengar tidak?!" teriaknya kesal karena tidak ada yang merespon. Phyllis langsung menarik Paman Orlan untuk mundur.


"Paman Orlan duduk saja. Biar aku yang bicara," ucap Phyllis lembut. Ia memandang Paman Orlan yang kemudian pria itu mundur untuk mengawasi vampir yang akan keluar dari kandang.

__ADS_1


Phyllis lebih mendekat ke bibir kandang sambil memperhatikan para vampir yang enggan bertatap muka dengannya. Perkara harga diri, mereka menolak menjadi kelinci percobaan meski taring mereka sudah dilunakkan.


"Maafkan aku yang menaruh kalian di posisi sulit begini. Aku hanya ingin melindungi diri. Bukankah kita semua akan melakukan apapun untuk keselamatan diri? Vampir yang punya kekuatan magis pasti akan melakukan hal sama, kan."


Kedua tangan yang masih memeluk buku tebal nan besar itu semakin erat. "Aku hanya ingin menyelesaikan ini dengan cepat dan kalian bisa pulang ke kerajaan. Tapi untuk percobaan pertama, aku ingin melakukannya kepada sukarelawan yang benar-benar bersedia agar mantra percobaannya berhasil."


Setelah itu para vampir saling berpandangan. Mereka berpikir cukup lama. Phyllis sendiri masih berdiri di pinggir kandang, menunggu vampir yang bersedia untuk diuji. Louis yang sejak tadi diam akhirnya mendekat.


"Aku mau coba."


Setelah Louis maju, Paman Orlan langsung mengeluarkannya dari kandang. Vampir muda itu duduk berhadapan dengan Phyllis di tengah halaman rumah.


Beberapa serigala mendekat. Bersiaga jika sihir Phyllis berhasil, maka vampir itu bisa menggigitnya.


"Tenang saja, paman. Mantra tidak akan berhasil semudah itu. Jadi kalian bisa lebih rileks," jelas Phyllis sambil mencari halaman mantra yang ia pelajari.


Hari ini Phyllis banyak berbicara. Suaranya terdengar lembut. Sebelumnya Phyllis suka menutup mulut karena malas menghabiskan energi untuk berbicara. Lagipula selama ini Phyllis hidup dengan Merlin yang lebih sering berubah menjadi kucing hitam. Komunikasi mereka tidak banyak selain dari kontak mata.


Perubahan itu membuat Louis tertarik. Ia menyadari jika gadis di depannya cukup manis dan imut. Wajahnya tampak lugu ketika menyimak baris demi baris tulisan tangan di lembar-lembar buku sihir. Itu menggemaskan.


"Perlihatkan gigimu," perintah Phyllis. Vampir itu langsung membuka mulutnya. Phyllis mendekat dan mengamati gigi runcing itu. Mengerikan, terlihat seram meskipun saat ditekan terasa empuk.


Gadis itu terbilang pendek. Sehingga posisi duduk Louis sangat tepat untuk diperiksa Phyllis. Ini lucu bagi Louis. Si mungil di depannya sangat imut dan mini. Seperti kerdil di dalam buku dongeng.


"Kamu senyum karena apa?" Tiba-tiba Paman Orlan mendekat saat Louis tersenyum menyeringai. Pria manusia serigala itu menarik Phyllis menjauh dari hadapan Louis.


Tatapannya begitu tajam, sangat keji. Bahkan vampir sekelas Louis bergidik ngeri. Paman Gill sendiri tidak sebengis ini. Ada apa dengan Paman Orlan ini?


"Kamu berpikir jahat pada Phyllis kan?" introgasi Paman Orlan. Dengan cepat Louis menyangkal. Faktanya dia hanya membayangkan betapa kecilnya tubuh Phyllis di balik jubah tebal hitam itu.


Ketika suasana memanas, Merlin dan Louve datang membawa beberapa gelas susu untuk sarapan para vampir. Louve membagikan gelas-gelas susu itu pada mereka yang kelaparan. Tak lupa memberikan roti isi darah ayam goreng. Setidaknya mereka ada asupan darah meski lewat makanan.

__ADS_1


"Kenapa bukan darah ayam langsung saja?" tanya salah satu vampir sambil mengunyah sandwich dengan gigi lain yang normal.


"Sangat boros," jawab Merlin santai lalu membawa Louve masuk setelah menyelesaikan tugasnya.


Louis memandang gelas susu itu, lalu meminumnya. Tak lupa ia memakan sedikit demi sedikit roti isi buatan Louve. Tidak ada rasa selain rasa darah goreng. Setidaknya ia sudah mengisi perut dengan makanan aslinya walau dengan cara berbeda.


Phyllis kembali mendekati Louis. Kali ini ia meminta Paman Orlan untuk berjaga agak jauh. Ia menunggu kelinci percobaannya selesai sarapan.


"Mau?" tawar Louis. Sesungguhnya dia tidak suka dengan roti gandum ini atau akan muntah-muntah lebih banyak lagi. Dikarenakan tidak suka buang makanan, Phyllis menerima dan melahapnya.


"Enak?" tanya Louis basa-basi. Gadis itu tak menjawab. Louis baru sadar Phyllis memang tidak suka membicarakan hal sepele selain bersama kakaknya. Lagian Merlin juga bukan tipe orang yang berbicara banyak. Sepertinya kakak-beradik ini sangat mirip.


Vampir itu menghela napas dan menghabiskan darah ayam gorengnya. Tak lupa menenggak sisa susu sebelum melanjutkan uji coba bersama Phyllis.


Penyihir kecil itu kembali berdiri, bersiap kembali untuk merapal mantra. Tongkat sihirnya terayun dan menyentak ke depan bersamaan dengan usainya ia mengucap mantra, tapi tidak ada hal apapun yang terjadi.


Hal itu berulang beberapa kali. Bahkan ketika Phyllis memusatkan energinya ke ujung telunjuk yang menempel di tongkat sihir, mantra itu tetap tidak berfungsi. Pada akhirnya Louis dimasukkan ke kandang dan bergantian dengan vampir lain.


Phyllis melalukan hal sama. Hasilnya juga tidak berbeda. Justru malah membuat mental para vampir itu semakin loyo karena putus asa akan nasibnya beberapa ratus tahun ke depan, yang mana akan dikenal dengan sekelompok vampir bertaring lunak.


Melihat hal itu terus terjadi, Merlin tidak tahan dan turun dari teras. Ia mendekati Phyllis lalu mengambil bukunya.


"Bukan begitu cara belajar sihir pembatalan ini, sini biar ku ajari dulu."


Merlin menarik tongkat sihir dari balik jubahnya lalu menunjuk tongkat ke arah gigi vampir. Namun saat memusatkan energinya, tiba-tiba Merlin dipenuhi asap. Dan perlahan ia menyusut, berubah menjadi kucing hitam.


Tampaknya Merlin tidak bisa menggunakan sihir ini untuk beberapa waktu ke depan. Karena ada beberapa sihir pembatalan memang membutuhkan kekuatan sihir yang lebih. Tidak semuanya, tapi salah satunya pembatalan sihir pelunak.


Charlie yang tahu kondisi ini hanya bisa memberitahu Merlin dari dalam. Ia hanya diam dan melingkah di sebelah kaki Phyllis, menemani gadis itu berlatih.


Kucing hitam jejadian itu juga memikirkan bagaimana cara melatih sihir ini. Karena sihir ini agak sulit dilakukan dan harus melewati beberapa tahap. Pasalnya setiap tahap membutuhkan waktu yang tidak sedikit.

__ADS_1


Tentu para vampir dan manusia serigala tidak bisa menunggu lebih lama. Siapa yang mau terpaksa menahan diri dan berlama-lama untuk bekerjasama dengan musuh bebuyutan? Ah, rasanya Charlie ingin tidur saja karena lelah berpikir.


...* * * * *...


__ADS_2