Penyihir Dan Pangeran Vampir

Penyihir Dan Pangeran Vampir
08 — Partner Sihir


__ADS_3


Merlin telah kembali dari ruang perpustakaan. Ia membawa buku dan duduk di kursinya.


"Para penyihir biasanya punya partner untuk melatih sihirnya. Entah manusia atau binatang. Biasanya partner mereka adalah manusia yang memiliki ketahanan tubuh lebih untuk mengurangi efek samping sihir-sihir itu," jelas Merlin.


Di paha Merlin ada sebuah buku tebal kusam. Sampul bersimbol tanda X besar, ukiran latin bertulis penghapusan. Buku segala mantra penghapusan. Merlin membukanya dan mencari halaman berisi mantra penghapus general.


"Sebelum mempelajari penghapusan sihir pelunak, Phyllis harus belajar mantra dasar. Untuk mencapai penghapusan sihir berbahaya, Phyllis harus belajar dari yang paling mudah dan aman. Ini bertahap hingga ke sihir tertinggi. Setelah mempelajari sihir penghapusan dasar, Phyllis baru bisa belajar ke sihir penghapusan yang lebih spesifik."


Ketiga manusia serigala itu diam, terpukau. Walau begitu dalam benak mereka menjadi semakin was-was. Phyllis sendiri tak merespon lebih. Dirinya membaca buku itu. Dan saat kemarin berlatih, sebenarnya Phyllis menggunakan sihir general tersebut.


"Untuk belajar ini pasti memerlukan trial & error banyak, menghabiskan waktu yang tidak sedikit karena tahapannya terlalu lama. Selama ini juga, banyak hal yang akan terjadi. Salah satunya kegagalan dan kecacatan. Biasanya para penyihir akan menyudahinya karena tidak tega dengan partnernya."


Paman Gill lalu mengangkat tangannya, menyela. "Artinya.. sihir yang akan dipelajari Phyllis ini tidak seratus persen berhasil dipelajari dan kemungkinan besar membuat para vampir itu cacat?" Pertanyaan itu dijawab anggukan mantap Merlin.


Ketiga ras serigala itu tercengang. Merlin menatap Bibi Gill lekat. "Tapi aku punya racikan ramuan untuk menangkal kecacatan itu, mereka harus meminumnya setiap hari. Bibi Gill, aku perlu bantuanmu."


Bibi Gill yang semula putus asa mulai kembali berharap. Dirinya setuju dan Merlin memberikan resep untuk ramuan tersebut. Memang tidak sulit, tapi bahan-bahannya cukup mahal dan rumit. Walau begitu, Bibi Gill mempunyai semua bahannya.


Merlin juga memberikan resep pemulihan untuk Phyllis agar tidak drop seperti hari ini. "Di rumah ada beberapa bahan. Kalau bibi mau, bibi bisa coba membuat satu ramuan," ucap Merlin. Bibi Gill bergegas pergi ke dapur dan mengambil bahan-bahan ramuan, lalu mulai meraciknya bersama Louve.


Setelah itu Merlin meminta Paman Gill untuk mengurangi manusia serigala yang berjaga karena ia akan memperkuat pelindung di rumah. Kemungkinan besar para vampir tidak akan menembusnya.


Tetapi setelah Merlin mengerahkan seluruh energinya ke pelindung ini, Merlin berubah menjadi kucing hitam. Yang mana untuk beberapa waktu ke depan, Charlie yang menggantikan Merlin.


Malam itu sesuai dengan perintah Merlin untuk mengurangi penjagaan, para manusia serigala banyak yang dipulangkan. Hal ini menghindari pelacakan vampir nantinya. Karena vampir akan mencari bau rasnya. Dan sangat berisiko jika bau vampir tercampur dengan bau manusia serigala, apalagi lebih dominan daripada vampir.


...* * *...


Setelah berhari-hari, akhirnya Bibi Gill berhasil membuat dua botol kecil ramuan. Meski ada banyak bahan, tetapi ramuan ini ternyata sulit diracik karena ada takaran khusus. Di mana setiap kekurangan atau kelebihan takaran akan mempengaruhi hasilnya.


Dua botol ramuan itu adalah ramuan penangkal dan pemulihan. Di mana artinya hanya akan ada satu vampir yang menjadi objek percobaan hari ini.


Sarapan dan susu sudah dibagikan kepada para vampir seperti hari sebelumnya. Karena kesehatan kelinci percobaan sangat berpengaruh.


Bibi Gill memberikan botol itu pada Phyllis. Gadis itu menerima dan menatapnya lekat. Meski kurang yakin, tapi ia tetap menenggaknya hingga habis. Setelah meminum ramuan, Phyllis segera pergi ke kandang vampir. Di belakangnya ada Louve yang menggendong Charlie. Paman dan bibi Gill mengamati dari teras selagi Paman Orlan menjaga Phyllis.


"Selamat pagi," sapa basa-basi Phyllis, dijawab dengan balasan ramah para vampir.

__ADS_1


Di antara vampir-vampir itu, Louis terlihat bersemangat ketika Phyllis datang. Hari-hari kemarin gadis ini tidak pernah muncul di hadapannya. Uring-uringan dari pagi hingga malam tiba, seolah seperti pasien kurang dosis obat.


Phyllis menjelaskan kondisi yang terjadi. Banyak vampir yang tidak terima, ada pula yang pasrah. Yang pada akhirnya banyak yang bungkam ketika Phyllis menawarkan ramuan.


"Aku tahu kalian pasti tidak akan mau. Maka dari itu aku memutuskan untuk memilih satu vampir menjadi partnerku dan yang lain hanya perlu menunggu hingga sihir ini berhasil," tegasnya.


Beberapa vampir saling berpandang. "Bukannya itu berarti kita hanya mengorbankan satu vampir saja?" tanya salah satu vampir. Phyllis menjawabnya dengan anggukan.


Wajah-wajah murung mereka perlahan membaik. Dengan senyum dan tatapan tajam, mereka saling menuding jari. "Ah! Kalau gitu kamu saja. Kan kamu pengawal peringkat paling bawah, kan?"


"Hah? Apa maksudmu? Apa kamu mau aku menjadi cacat?!"


"Kehilangan pengawal peringkat rendah tidak berpengaruh dengan keselamatan pangeran. Ini lebih baik daripada tidak sama sekali!"


"Aku tidak mau!"


"Kamu mau menolak? Memangnya kamu seberharga apa daripada pangeran kita?!"


Bukannya berdiskusi, para vampir justru saling mendorong. Dengan membawa peringkat pengawal dan menyerahkan yang paling rendah sebagai kelinci percobaan. Beralasan keselamatan pangeran, mereka tega menginjak yang lemah.


Louis yang sejak tadi diam lalu mendekat ke bibir kandang. Ia menatap Phyllis.


Para vampir itu mulai diam lagi dan menatap Phyllis. Para pengawal peringkat tinggi berharap Phyllis memilih yang terlemah, sementara yang diinjak tidak mau menjadi partnernya.


"Aku menghindari yang lemah. Efek samping sihir-sihir itu berbeda. Untuk menguranginya, aku perlu yang punya ketahanan tubuh kuat. Ditambah dengan ramuan penangkal, kemungkinan cacat akan sangat kecil," jelas Phyllis.


Vampir dengan peringkat rendah menghela napas lega. Sementara yang lain mulai gemetar dan menunjuk beberapa pengawal tertinggi.


Pecundang. Tidak ada harapan bagi Phyllis karena mereka tidak ada yang bersukarela. Karena syarat pertama untuk menjadi kelinci percobaan adalah sukarela. Hal ini untuk menghindari ketegangan dan penolakan sihir yang baru dipelajari.


Kericuhan kembali terjadi. Para manusia serigala mulai mendekat, tetapi Phyllis menahan mereka dan menyuruhnya mundur. Ia tidak tahu mau sampai kapan mereka saling menjatuhkan.


Di sisi lain, pangeran vampir yang sejak tadi diam mulai kesal. Ia lelah dengan pengecut di sekitarnya. Mereka selalu menyebut nama kerajaan vampir dan rasnya demi menghalalkan segala cara picik. Tidak peduli dengan yang lemah dan mementingkan diri sendiri. Omong kosong mereka membuat Louis geli.


Ia tidak tahan berlama-lama dengan para vampir gila ini. Setiap malam di kandang, mereka menjadi penjilat. Menyebut nama-nama mereka, berharap Louis mengingatnya dan memberikan penghargaan atas kerelaan mereka untuk membawanya kembali.


Mengingat malam-malam di kandang membuat Louis bergidik. Ia tersenyum pahit. Memorinya terlempar pada keluarga kerajaan yang memaksa Louis menikah dengan bangsawan vampir lain. Tidak ada yang peduli dengan perasaannya dan menekan dirinya untuk menuruti segala peraturan, mentang-mentang Louis adalah anak pertama dan penerus.


Ia sudah lelah. Daripada terus seperti ini, lebih baik dirinya saja yang menjadi kelinci percobaan. Toh kalau memang ini gagal dan membuatnya cacat, ini tidak rugi baginya. Memang dari awal dia tidak menginginkan kelahirannya sebagai ras darah.

__ADS_1


Louis lalu mengangkat tangannya dan menatap Phyllis lekat. "Aku bersedia menjadi partnermu."


Semua hening, lalu mulai bertanya-tanya.


"Aku ini pangeran vampir. Tentunya ketahanan dan kekuatanku lebih daripada pecundang-pecundang ini," jelas Louis lantang.


Phyllis menatap matanya, dibalas sorot tegas Louis. Tidak ada keraguan di matanya. "Oke. Paman Orlan, tolong keluarkan dia."


Paman Orlan segera membuka pintu dan mengeluarkan Louis dari sana. Para pengawal vampir mulai ribut, tetapi Paman Orlan berhasil membungkamnya dengan bentakan.


Louis menoleh ke arah kandang vampir, menatap para anak buahnya di sana. "Kalian bilang mengabdi pada kerajaan, tapi masalah begini saja ogah-ogahan. Jangan harap disebut pahlawan setelah aku kembali nanti," ujar Louis lalu pergi mengikuti Phyllis yang berada di tengah halaman.


Charlie yang sejak tadi berada di gendongan Louve segera turun dan mendekati mereka. Paman dan Bibi Gill ikut mendekat dengan membawa buku tebal, sebuah cawan kecil, dan pisau.


Perlahan kucing hitam itu berubah menjadi Merlin yang masih lemas. Phyllis dan Louis saling berhadapan. Di samping mereka ada keluarga Gilbert dan Merlin.


"Kita akan melakukan perjanjian pasangan. Aku senang kamu memutuskan satu partner, Phy," ujar Merlin disusul senyum kecil Phyllis.


Louis yang tidak mengerti apa-apa hanya menurut. Bibi Gill membuka halaman tengah buku tersebut. Lembaran itu bersih, tidak ada coretan apapun. Lalu di sampingnya ada Louve yang membawa cawan.


Merlin meraih tangan kanan Phyllis dan Louis. "Untuk melakukan perianjian ini, kalian harus mencampurkan darah kalian di cawan dan bergantian untuk meminumnya."


Setelah itu Paman Gill menyayat tangan mereka. Meski Louis seorang vampir, tapi dia bukan mayat hidup dan masih punya aliran darah. Darah yang mengalir segera ditadah Louve. Tetesan darah mereka bercampur di dalam cawan. Kemudian Merlin mengucapkan beberapa mantra sebelum keduanya meminum darah campuran itu.


Darah itu habis di tegukan terakhir Louis. Ia sedikitnya dapat merasakan darah Phyllis. Sangat, sangat manis dan gurih. Senyum Louis merekah, ia menikmatinya.


Di halaman buku yang dipegang Bibi Gill perlahan muncul nama mereka. Phyllis Cayenne dan Louis Campbell. Lembar halaman itu menyala dengan terang, lalu nama mereka kembali hilang.


"Perjanjian pasangan sudah selesai. Nama kalian akan terukir di sini selamanya. Kalian bisa melakukan perjanjian penghapusan pasangan setelah percobaan sihir ini selesai. Jadi tidak perlu khawatir," jelas Merlin kemudian berubah menjadi kucing hitam.


Mereka lalu meninggalkan Phyllis dan Louis, kembali ke teras rumah untuk mengamati. Kemudian Phyllis memberikan botol ramuan penangkal.


"Kenapa aku merasa perjanjian ini seperti perjanjian pernikahan, ya?" gumam Louis. Phyllis hanya diam, lalu menoleh ke arah lain. Terlihat dari samping, kedua pipinya sedikit merona.


"Konsep perjanjian pernikahan penyihir bukan seperti itu," ketus Phyllis. Louis terkekeh. "Oh, ya? Oke, aku anggap kita pakai konsep pernikahan vampir."


Tanpa ragu, Louis lalu meminumnya. Rasanya pahit, sangat kuat. Walau Louis mengerti rasa pahit karena meminum bermacam-macam darah, tapi ini sangat berbeda dan asing.


Setelah mulai beradaptasi dengan rasa aneh di lidahnya, Louis sudah siap. Mereka lalu mengulang uji coba seperti yang diarahkan Merlin sebelumnya.

__ADS_1


...* * * * *...


__ADS_2