
Waktu terus bergulir. Hingga tidak terasa malam sudah usai. Mentari menyingsing, pagi telah tiba. Kini saatnya kembali beraktivitas. Louis baru bisa tidur setelah sejam menghirup aroma Phyllis yang nikmat. Tentu saja di pagi ini Louis mendapat pukulan setelah Phyllis berhasil melepaskan diri dari pelukannya.
Charlie sendiri sangat marah dan mencakar tangan Louis. Walau babak belur, Louis tetap bangun. Paman Gill yang baru datang hanya melihatnya prihatin. Phyllis membohonginya agar Paman Gill tidak menambah pukulan di tubuh membiru Louis.
Ramuan yang sudah disiapkan Bibi Gill segera diminum keduanya. Hari ini Louve dan Bibi Gill tidak datang karena ada acara di desa manusia serigala. Beberapa manusia serigala juga ikut pulang untuk mempersiapkan acara besar itu. Di rumah Phyllis hanya ada Paman Orlan dan Paman Gill saja. Toh, para vampir tidak bisa berbuat apa-apa meski penjagaannya berkurang.
"Apa yang terjadi?" tanya Louis kepada Phyllis yang tidak merespon lebih saat mereka mulai pulang. Phyllis yang sedang membaca buku di dalam hanya menghela napas.
"Nanti malam bulan purnama. Manusia serigala punya acara sendiri saat begini," jawab Phyllis sambil membolak-balik lembar halaman.
Louis yang mendengarnya hanya diam, mengelus belakang lehernya dan berpaling ke arah kandang vampir. Di sana para pengawalnya memandang dirinya, penuh harapan. Lalu Louis mendekat ke mereka. Mereka menanyakan tentang percobaan dan tidak sabar untuk segera keluar dari kandang.
Tak lama Phyllis berjalan ke tengah halaman. Louis segera menyusul dan pelatihan hari ini kembali dimulai. Sama seperti hari sebelumnya. Mereka memulai dengan sihir kutukan tingkat sedang, lalu Phyllis menggunakan sihir penghapus. Ia terus mengulang sihir berbeda dengan tingkatan yang sama, lalu menghapusnya lagi.
Hal ini memicu refleks dan kekuatan sihir Phyllis. Dari sisi Louis sendiri, ia harus melakukan dua respon saat sihir Phyllis dilempar ke arahnya. Yaitu menerima dan menolak dengan cepat. Dengan menguji dua respon ini, Phyllis bisa melatih refleks kekuatan sihirnya untuk masuk ke tubuh orang yang menolaknya.
Jam berlatih hari ini dikurangi. Pada sore hari, Phyllis menyudahinya dan segera masuk ke dalam. Merlin memberikan gelas-gelas susu pada para vampir lagi. Sore ini Paman Gill dan Paman Orlan pamit pulang. Sudah tidak ada lagi manusia serigala di sekitar.
Paman Gill meninggalkan peluit yang dikalungkan di leher Phyllis. Di mana suara peluit itu bisa memanggil manusia serigala untuk datang membantu.
Walau ini kesempatan emas untuk para vampir di kandang, tapi mereka tetap tidak bisa berbuat apapun. Mengingat kekuatan sihir Phyllis, bisa-bisa mereka berubah menjadi adonan roti yang lunak sepenuhnya.
Di dalam rumah, Merlin sudah tidur dan berubah menjadi Charlie. Entah kenapa malam ini dirinya ingin tidur lebih lama. Charlie tidur di atas kepala Phyllis yang sedang belajar. Sementara Louis berada di kursi seberang sambil memandangi Phyllis.
__ADS_1
"Phyllis. Manusia serigala bisa berubah saat bulan purnama?" tanya Louis.
"Memangnya mau berubah seperti apa lagi?" Phyllis balik bertanya membuat Louis diam, lalu mendengus sebal.
"Lebih kuat lagi misalnya?" tebak Louis lalu menyenderkan punggungnya di kursi. Phyllis hanya bergumam dan mengiyakan.
"Ohh, jadi setiap malam bulan purnama, kekuatan mereka bertambah, ya?"
Charlie yang sejak tadi tidur mulai terusik. Ia bangun dan turun, lalu berubah menjadi Merlin. Merlin sangat tahu adiknya tidak ingin menjelaskan lebih. Jadi mau tidak mau Merlin menggantikannya.
"Akhirnya," ucap Louis puas seolah mendapat harta karun. Sebenarnya dia ingin bertanya lebih soal manusia serigala dan bulan purnama, tetapi Phyllis sendiri tidak menaruh perhatian pada pertanyaannya. Kembalinya Merlin membuat Louis mempunyai harapan.
Merlin mengambil salah satu buku yang terselip di rak paling atas. Buku kuno berdebu, jarang sekali dibuka karena selama ini Phyllis hanya membaca buku-buku mantra. Buku berisi bacaan kaum manusia serigala.
"Fase ini sebenarnya sangat mempengaruhi para manusia serigala muda. Di mana pada saat ini, mereka harus bisa mengendalikan diri. Dengan bertambahnya kekuatan, wadah dalam diri mereka dipaksa untuk lebih besar. Makanya terkadang di malam ini mereka berubah menjadi serigala dan mengamuk. Tugas para tetua adalah menahannya."
"Malam ini adalah supermoon, jadi mereka membuat acara lebih besar dari bulan purnama biasanya. Kekuatan yang bertambah juga lebih ganas."
Penjelasan terakhir Merlin menutup perbincangan mereka. Merlin kembali meletakkan buku di rak. Ia membuat sebuah pelindung lebih kuat untuk rumahnya. Biasanya pada malam seperti ini, Paman Gill selalu memperingatkan untuk memperkuat perisai di rumah dari para manusia serigala. Tapi karena ada vampir di rumah, mereka takut ketika terjadi sesuatu tidak bisa masuk untuk menolong.
Walau begitu Merlin tetap memperkuat sedikit dan tetap bisa diterobos dengan beberapa cara mudah. "Ayo tidur," ajak Merlin lalu berubah menjadi kucing hitam dan segera naik ke pangkuan Phyllis.
Phyllis menutup bukunya dan membawa Charlie pergi, diikuti Louis. Mereka masuk ke kamar dan bersiap untuk tidur. Tetapi Louis sendiri masih terjaga. Ia duduk di sebelah Phyllis.
"Aku berjaga di sini. Siapa tahu ada manusia serigala tidak terkendali datang," jelas Louis lalu beranjak dari ranjang, berjalan ke arah jendela yang terbuka. Phyllis tidak menanggapi dan kembali memejamkan mata.
__ADS_1
...* * *...
Suara menggeram terdengar di belakang tubuh mungil itu. Seekor kucing hitam terkulai lemas di samping ranjang. Kini hanya ada sosok tinggi besar berdiri di jendela kamar. Gadis itu masih menjelajah mimpi indahnya.
Perlahan sosok itu berjalan mendekat dan naik ke atas ranjang. Tepatnya ia kini berada di atas tubuh Phyllis yang tidur. Di sana ia dapat mencium aroma manis yang selalu disukai. Semerbak harum nikmat itu semakin kuat saat hidungnya mendekat.
Louis tengah menikmati aroma yang keluar dari tubuh Phyllis. Netra merahnya menyala. Senyum seringai menambah kengerian di wajahnya. Menunjukkan gigi taring yang mengkilap.
Jemari Louis menyibakkan rambut cokelat Phyllis dari leher. Ia bisa melihat betapa mulusnya kulit bagian bawah wajah Phyllis. Tak ada luka atau tanda lahir. Putih bersih seperti bayi.
"Phyllis, maafkan aku."
Penuh hati-hati, Louis mendekat ke leher Phyllis lalu menancapkan taringnya yang tiba-tiba menguat dan kembali seperti semula. Giginya meninggalkan luka di leher Phyllis. Bersamaan dengan keluarnya darah dari balik kulit, wangi darah Phyllis menyeruak dan menggugah gairah Louis.
Nafsu Louis semakin tinggi dan menghisapnya kuat. Hal ini membuat Phyllis tersadar. Gadis itu terkejut bukan main ketika pangeran vampir yang selama ini bersamanya sudah menggigitnya.
"Lou.. is..," panggil Phyllis lirih. Ia tidak bisa mengucapkan mantra apapun karena rasa sakit di leher hampir membunuhnya. Sakit yang tidak bisa dijelaskan.
Louis menghentikan hisapannya dan menatap Phyllis. Gadis itu memandangnya nanar. Kedua mata biru itu berkaca, menangis karena rasa nyeri yang tak bisa ia tahan.
"Maafkan aku.. aku membutuhkannya," jelas Louis lalu merengut bibir kecil Phyllis, menciumnya. Dan beralih ke leher, kembali menghisapnya. Tak memberikan kesempatan apapun pada Phyllis.
Gadis itu hanya pasrah di bawahnya. Tidak berbuat apa-apa selain menangis karena sakit.
...* * * * *...
__ADS_1