
Ada perasaan yang aneh. Ada yang tidak beres. Sepertinya sesuatu yang berbeda tengah terjadi.
Kedua mata Phyllis membelak, terbuka lebar ketika menyadari hal janggal terjadi sebelumnya. Ia terbangun dan duduk dari tidurnya. Pandangannya dengan cepat beralih ke arah pintu kamar.
"Sudah bangun?" tanya pemuda bersurai platinum itu. Rambut panjang hingga sepinggang itu menutupi sebagian wajah tampannya. Namun disela-sela helaiannya, sorot mata merahnya tampak mengamati dengan seksama respon Phyllis.
Phyllis tak berkata apapun. Sekali lagi ia mengucek kedua matanya, mengerjapkannya berkali-kali. Menepuk pipi dan mencubitnya, berharap ini nyata. Tapi di sisi lain dirinya juga ingin ini adalah mimpi. Karena mentalnya belum siap menghadapi hal baru yang mengejutkan.
Seorang vampir yang selama ini dirindukan Phyllis telah datang. Louis, berdiri sembari mengganjal pintu kamar lalu menguncinya. Langkahnya mendekat ke Phyllis yang kebingungan di atas ranjang.
"Kamu merindukanku, kan?" tanya Louis lalu duduk di bibir ranjang. Tatapan sendu dan senyum tipis. Phyllis tidak tahan melihatnya.
Perlahan gadis itu kembali menangis ketika mengingat betapa hancurnya ia selama setahun ini. Phyllis mendekat dan memeluk Louis. Ini nyata, dia tidak tembus ketika disentuh. Phyllis bisa merasakan kehangatan itu lagi. Ia bisa merasakan kedua tangan Louis yang mendekapnya erat.
Di tengah tangisnya, Louis merenggangkan pelukan dan menarik tengkuk Phyllis. Ia kembali merengut bibir mungil itu. Menghisapnya. Kali ini Phyllis membalasnya.
Rasa rindu yang sudah lama bersarang di hati mulai meledak. Tak bisa ditahan lagi. Keduanya segera berbaring di atas sana, menanggalkan apapun yang menghalangi, dan membiarkan diri menikmati euforia yang didambakan.
Ketika keduanya sedang menjalin cinta di atas ranjang, dua sosok lain tengah berdiri di depan rumah kayu itu. Mereka hanya diam di sana menatap lantai atas. Senyumnya tampak pahit dan saling berpandangan.
Merlin dan Louve. Pasangan itu berbalik badan dan meninggalkan rumah itu. Tak lupa Merlin membuat sebuah pelindung yang sangat kuat. Pada ujungnya memaksa Merlin berubah menjadi kucing hitam lagi.
Louve segera membawanya menjauh, pergi ke sumber mata air. Di pinggir sungai, sungai yang pernah Charlie datangi untuk mencari Merlin dan Phyllis.
"Charlie. Aku ingin berbicara dengan Merlin," ucap Louve sesampainya di pinggir sungai.
Charlie turun dari gendongan Louve dan berubah menjadi Merlin. Gadis manusia serigala itu tahu batasan Merlin tidak seburuk tahun lalu lagi. Sebenarnya selama ini Merlin juga melatih sihirnya dan mengendalikan energi yang ia gunakan agar tidak cepat lelah.
Hanya saja Charlie masih terbawa khawatir jikalau Merlin pingsan di tempat karena kelelahan.
Merlin mendekat ke Louve, lalu duduk di sebelahnya. Mereka menduduki sebuah batu besar di pinggir sungai dangkal itu. Air jernih mengalir santai. Suara yang menenangkan jiwa. Keduanya menikmati suasana pagi itu.
__ADS_1
Senyum Louve tak memudar sejak Merlin berubah menjadi manusia lagi. Tangan Merlin merangkul pinggang kecilnya. Jarak di antara mereka semakin merapat.
"Linlin, kamu sudah yakin?" tanya Louve.
Merlin menoleh dan tersenyum. Ekspresi yang tenang perlahan membuat hati Louve semakin jinak.
"Yakin. Tinggal bilang ke Paman Gill dan Bibi Gill," jawab Merlin. Louve hanya menatapnya, kemudian menyenderkan kepala di bahu Merlin.
"Pada akhirnya Louis menemui Phyllis, ya. Aku tidak menyangka dia masih berani," ucap Louve lalu memejamkan matanya.
"Kita tinggal mencari penjelasan yang tepat kepada mereka. Kita sudah menutupinya selama setahun ini." Louve hanya mengangguk, mengiyakan ajakan Merlin.
Setahun yang lalu ketika pembakaran vampir. Memang benar mereka membakar para vampir-vampir itu, tetapi ada satu yang lolos. Tentu saja itu Louis.
Seorang vampir—apalagi vampir kerajaan—memiliki kekuatan magis yang tinggi. Louis salah satunya. Ia memiliki kekuatan menciptakan ilusi. Di mata mereka, Louis terbakar bersamaan dengan vampir pengawal. Tapi sesungguhnya Louis sudah membuat ilusi sejak ia berada di dapur bersama Phyllis.
Saat itu Louis tinggal di kamar dan membuat bayangan dirinya. Dengan jarak jauh, Louis mengendalikan bayangannya. Ketika para manusia serigala kembali, mereka menyeret tubuh tak nyata Louis dan membakarnya.
Selagi mereka ricuh di bawah, Louve berlari ke atas untuk mengambil Charlie. Di dalam kamar itulah Louis memberitahu semuanya kepada Louve, Charlie, dan Merlin. Keempatnya bekerjasama.
Pada saat itu Louis akan kembali ke kerajaan vampir dan menghadiri pertunangan. Tetapi ia akan menemui Phyllis setelah semuanya selesai. Selama itu pula, Louis memberi tantangan pada Merlin untuk memperkuat sihirnya. Karena kembalinya ia menemui Phyllis kemungkinan akan memicu banyak masalah.
Salah satunya bentrokan dengan ras manusia serigala karena Merlin menerima vampir di kehidupannya. Mau bagaimanapun, sebagai kakak yang mendukung adiknya, Merlin tidak akan mencegah perasaan Phyllis. Ia tidak mau membuat adiknya jauh dari rasa cinta. Walau pada akhirnya nanti hubungan dengan manusia serigala renggang, tapi Merlin hanya ingin membuat adiknya senang.
Merlin dan Louve sendiri juga sudah mengikat janji untuk terus bersama. Meski nanti keluarga Gilbert tidak ingin berurusan dengan Cayenne, tapi Louve akan tetap di samping Merlin dan menjadi pendamping hidupnya.
...* * *...
Lenguhan puas menyudahi kegiatan di atas kasur putih. Decitan ranjang tak lagi terdengar. Kini hanya suara napas memburu menjadi latar suara ciuman mesra mereka. Olahraga paginya telah usai. Louis berbaring di sebelah Phyllis, lalu merangkul gadis itu.
Keduanya berpelukan erat. Louis tak berhenti mencium kening Phyllis. Senyumnya terus terukir di bibirnya.
"Aku mencintaimu," bisik Louis. Phyllis hanya diam dan menenggelamkan wajahnya di dada Louis. Vampir itu tertawa kecil melihat tingkah Phyllis yang malu-malu.
__ADS_1
Cukup lama mereka menikmati suasana santai ini, hingga Phyllis memecah selimut keheningan. Perlahan gadis itu melepas pelukan dan bangkit dari tidurnya. Ia duduk menyandar pada ranjang.
"Louis. Bagaimana pertunanganmu?" tanya Phyllis tanpa menatap Louis. Louis tersenyum pahit, lalu ikut bangkit dan duduk di sebelah Phyllis.
"Lancar. Setahun lalu aku bertunangan dengan Alice."
Jawaban menohok itu membuat Phyllis terkejut. Hatinya nyut-nyutan, nyeri. Rasanya sesak di dada. Tubuhnya merinding dari bawah sampai ke ujung kepala karena perasaan sedihnya.
Louis mendekat. Tangannya merangkul pinggang Phyllis, tetapi gadis itu menolak dan berpaling. Vampir itu tidak berbuat lebih dan membiarkan Phyllis memanjakan emosinya.
"Lalu?" tanya Phyllis ingin tahu kelanjutannya meski hatinya meronta.
"Aku hanya bertunangan, bukan menikah," jelas Louis membuat Phyllis akhirnya menoleh padanya.
Dari raut Phyllis dapat ditebak gadis itu kebingungan. "Apa maksudnya?"
"Aku bilang aku memang bertunangan. Tapi aku tidak setuju dengan pernikahan. Hubungan kami menggantung. Ayahku selalu membujukku untuk segera menikah dan duduk di tahta raja, tapi aku tidak bisa," jawab Louis sambil membenarkan posisi duduk untuk menghadap Phyllis.
"Kenapa tidak bisa?" tanya Phyllis lagi.
Tangan Louis bergerak ke arah leher Phyllis, tepatnya di tanda yang ia berikan setahun lalu. "Karena aku sudah menandaimu. Gigitan menandai umumnya digunakan hanya untuk pasangan. Dan aku menganggap kita memang sudah menjadi pasangan sejak perjanjian partnee dulu," jawab Louis sembari mengelus pipi Phyllis lembut.
Phyllis diam untuk beberapa saat, mencerna penjelasan Louis yang tidak masuk akal baginya. Kemudian menghela napas berat.
"Tapi.. perjanjian kita dulu hanya sebatas pasangan untuk percobaan ini, lho," ujar Phyllis mencoba mengelaknya.
Louis tersenyum, lalu menggeleng pelan. "Phyllis sayang. Apa kamu belum tahu hubungan vampir dan penyihir itu seperti apa?"
"Memangnya ada?"
"Ada. Aku juga baru tahu setelah belajar selama setahun ini. Ayo pakai pakaianmu. Kita bicara di bawah sambil minum susu," ajak Louis lalu beranjak dari ranjang. Ia membantu Phyllis untuk berdiri dan menggunakan pakaian.
Dengan penuh kasih sayang, Louis mengenakan kemeja putih milik Phyllis ke tubuh kecil itu. Merapikan rambut cokelat yang mulai panjang, baru setelahnya Louis membenarkan celananya. Menuruni anak tangga bersama Phyllis dan terus membimbingnya agar tidak jatuh. Karena Louis sadar jika kegiatan tadi cukup menguras energi Phyllis.
__ADS_1
Sampainya di dapur, Louis segera menyiapkan sarapan dan susu hangat untuk Phyllis dan dirinya.
...* * * * *...