Penyihir Dan Pangeran Vampir

Penyihir Dan Pangeran Vampir
19 — Latihan


__ADS_3


Kembalinya Louis kali ini bertujuan untuk mengajari Phyllis dalam sihir. Maka dari itu Louis izin untuk pergi hingga setahun, artinya Louis menunda pernikahannya dengan Alice lagi. Sebenarnya satu tahun bukan waktu yang lama untuk seorang vampir. Tetapi untuk pihak vampir yang ingin segera menikah, setahun sama saja dengan seratus tahunnya vampir hidup.


Sudah pasti kastil Campbell mendapat kunjungan mendadak dari Alice. Gadis vampir itu tidak berhenti berteriak di lorong kastil, memaki para penjaga yang ada. Langkah cepatnya mendahului pelayan yang menunjukkan jalan.


"Ayah Drake!" teriak Alice di depan pintu ruang tahta yang terbuka lebar. Raut wajahnya penuh amarah. Kabar tentang perginya Louis kemarin membuat Alice naik pitam. Ia harus membatalkan agenda pedikurnya.


"Selamat datang, Alice," sapa Raja Drake, menyambut kedatangan gadis dari calon besannya.


Dengan emosi yang meletup-letup, Alice berjalan mendekat dan berteriak tak terkendali. Raja Drake hanya menatap sikap bocah Alice. Ia mengusir para selirnya untuk pergi karena Alice bisa saja mencelakai mereka.


"Kenapa ayah mengizinkan tunanganku pergi?! Menunda dan menunda! Aku ingin segera menikah!" protes Alice sambil berjalan ke sana-sini, menunjuk selir-selir yang berjejer dengan marah. Ia tidak suka kehadiran para selir ini karena menganggap mereka murahan.


Raja Drake hanya menghela napas. Sebenarnya dia sudah muak menghadapi Alice. Tetapi ini demi perjanjian yang pernah dibuatnya dulu dan memaksa Louis untuk menikahi Alice. Jika tidak bersikap baik pada vampir menyusahkan ini, kerajaan Campbell akan menghadapi masalah lebih besar daripada celoteh Alice.


Pria berusia lebih dari seribu tahun itu beranjak dari kursi tahtanya dan mendekati Alice. Tangannya menangkap bahu gadis itu dan mengajaknya pergi.


"Ayo kita makan. Pasti kamu belum makan," ucap Raja Drake mencoba menahan kekesalannya.


"Tidak! Aku hanya ingin Louis! Ke mana dia pergi?! Aku ingin menikahinya sesegera mungkin!" tolak Alice. Ia menepis tangan calon mertuanya dan menjauh. Benar-benar seperti anak kecil.


Bagaimana tidak, Alice baru berusia seratusan. Ia masih sangat muda dan labil. Bahkan belum melakukan upacara kedewasaan para vampir yang diselenggarakan pada usia lima ratus tahun. Upacara yang menandai bahwa vampir itu sudah dewasa.


Raja Drake tak kuasa mendengar jeritan Alice. Ia melenggang keluar dan meninggalkan gadis itu di ruang rajanya. Tidak peduli mau bagaimana kondisi ruangannya nanti. Kesehatan telinganya lebih berharga.


"Loh— ayah?! AYAAAAHH!!" jeritan Alice semakin menjadi. Alice mengikuti Raja Drake dan terus mengoceh di perjalanan. Raja Drake tak menjawab apapun.


...* * *...


Seminggu telah berlalu. Louve dan Merlin sudah bisa membuat sarapan yang lebih menghemat kantong untuk dua puluh satu vampir di rumah Cayenne. Louis dan Phyllis sendiri fokus pada latihannya.


Louis membawa sepuluh vampir golongan panas dan lainnya golongan dingin. Dengan kekebalan tubuh yang tinggi, mereka mampu mentolerir sihir berbahaya yang akan dilempar Phyllis.


Phyllis kembali melatih sihir pelindung dan penyerangnya di tahap menengah untuk memangkas waktu. Phyllis dan para vampir saling menyerang. Louis tidak kesulitan mengarahkan karena Phyllis sudah mulai terbiasa dan mengambil inisiatif sendiri.

__ADS_1


Latihan mereka bukan lagi mencoba-coba sihir baru. Hutan di sekitar menjadi medan pertempuran. Phyllis akan menjadi penyerang atau yang diserang.


"Kejar Phyllis!' perintah Louis saat Phyllis berlari sekitar sepuluh meter darinya. Dengan kecepatan vampir, lima vampir golongan panas mengejarnya.


Di tengah pengejaran, Phyllis membuat pelindung yang lebih kuat. Pelindung yang diajarkan Louis sebelumnya. Tak lupa ia menyerang dengan memanfaatkan pepohonan di sekitar. Ia menyihir dedaunan untuk menutupi penglihatan dan berlari sejauh mungkin.


Gadis mungil itu fokus pada latihannya. Beberapa serangan yang diberikan vampir mampu ia tangkis. Walau Phyllis cukup lihai, terkadang ia tak bisa menghindar dan harus mengalami luka. Tapi Louis tetap bersikap profesional dalam pelatihan. Ia memberi waktu sedikit untuk istirahat dan kembali melanjutkan latihan.


Para pengawal cukup kewalahan dengan sihir Phyllis. Sihir penyerang maupun pelindungnya cukup stabil. Jika dipikir, usia Phyllis masih sangatlah muda. Dengan kestabilan yang lumayan itu sebanding dengan hasil pelatihan militer junior mereka.


Di sisi lain, Merlin juga ikut dilatih. Louis memberikan tiga pengawalnya untuk melatih Merlin. Ia tidak bisa menekan lebih pada Louis karena energinya lebih sedikit dibanding Phyllis. Walau begitu Merlin sudah mengalami peningkatan yang bagus.


Pada sore ini, latihan usai. Phyllis kembali dengan babak belur dan muka kusutnya. Para vampir bawahan Louis masih bisa menangkapnya meski mereka mendapati beberapa luka di lengan dan kaki akibat tersandung.


"Tuan Muda, Nona Phyllis sangat lincah!" puji vampir yang mengikuti Phyllis. Louis tersenyum bangga dan menepuk-nepuk kepala Phyllis.


"Belum lincah, karena dia masih bisa tertangkap. Kalianlah yang lincah," ucap Louis membuat para pengawalnya tersipu. Tidak biasanya mereka mendapat pujian Louis.


Louis menatap kekasihnya yang cemberut, memberi tatapan mengejek. Phyllis mendengus. "Tunggu minggu depan, aku akan menangkap mereka satu per satu," balas Phyllis lalu berjalan masuk ke rumah.


Pangeran vampir itu hanya tertawa kecil dan mengajak yang lain masuk. Makan malam sudah disiapkan Louve. Mereka hanya perlu membersihkan diri sebelum menyantap makan malamnya.


Mereka menghemat cukup banyak keping emas. Sebotol susu bisa membuat 20 botol darah palsu. Tanaman herbal bisa didapat dengan mudah di samping rumah. Sementara darah ayam bisa beli di pasar dan Louve hanya perlu secawan kecil untuk membuat porsi sebanyak itu.


Setelah membersihkan diri, mereka mengenakan kemeja dan celana panjang. Uang penghematan makanan tadi dijadikan jatah membeli pakaian untuk para vampir. Setidaknya mereka punya pakaian ganti.


"Baiklah. Ayo kita makan malam di halaman," ajak Louis setelah semuanya siap. Mereka membawa makanan masing-masing ke halaman rumah. Beralas kain seadanya mereka membuat lingkaran. Di tengah ada api unggun yang sudah disiapkan pengawal Louis sebelumnya.


"Bukannya vampir takut api?" celetuk Louve. Louis menoleh dan tersenyum.


"Itu mitos," jawab Louis santai dan segera duduk di sebelah Phyllis.


Mereka berbincang sembari menikmati makan malam. Beberapa ada yang bercanda dan mengejek. Terlihat santai dan damai. Begitupun dengan Louis yang menyantap roti panggang buatannya. Roti yang dicelupkan ke darah ayam. Louis sangat menyukai menu itu sehingga Louve tidak menyiapkan makanan untuknya.


"Tuan Muda," panggil salah satu pengawal yang sudah meneguk habis darah palsu itu. "Hm?" respon Louis sambil mengunyah potongan terakhir roti panggangnya.

__ADS_1


"Mmm, saya penasaran. Melihat bagaimana sihir Nona Phyllis lumayan stabil.. apa Tuan Muda melatih Nona Phyllis sebelumnya?" tanya vampir itu, ada sedikit raut ketakutan di sorot matanya.


Louis mengangguk-angguk sambil menelan rotinya. Ia memegang tangan Phyllis yang sedang memegang sendok makannya. Walau begitu Phyllis tidak protes.


"Aku juga penasaran. Phyllis, bisa tunjukkan golongan sihirmu seperti apa pada kami?" tanya Louis, enggan melepas tangan Phyllis.


Gadis itu menghela napas berat. "Sebelumnya, bisakah kamu membiarkanku menghabiskan makan malamku?" ketus Phyllis. Louis langsung melepasnya dan membiarkan Phyllis menghabiskan sop ayam buatan Louve.


Selagi mereka kembali mengobrol, dari arah jalan depan tercium bau manusia serigala. Untuk kedua kalinya pengawal Louis bersiaga dan memberi perlindungan.


"Santai saja. Itu ayah dan ibunya Louve," perintah Louis. Para pengawalnya segera memberi jalan begitu kedua orang tua Louve tersenyum ramah kepada mereka.


"Paman dan Bibi Gill!" seru Merlin senang. Tiba-tiba Merlin berubah menjadi kucing hitam dan berlari ke arah Bibi Gill. Charlie menempel ke kaki Bibi Gill. Wanita itu segera menggendong Charlie yang manja dan rindu padanya.


Louve mengikuti Charlie dan memberikan tempat pada orang tuanya. Tak lupa memberikan camilan yang sudah ia buat sebelumnya.


"Sepertinya dugaanku benar," ucap Paman Gill sambil mengelus-elus kepala Phyllis lembut. Phyllis menatapnya bingung.


"Dugaan apa, paman?" tanya Phyllis sambil menyendok daging ayam di mangkuknya.


Paman Gill menatap sekitar yang penuh dengan vampir-vampir bawaan Louis. Ia tertawa singkat lalu menghela napas.


"Aku dapat laporan dari manusia serigala kalau mereka mencium bau vampir di sekitar selama minggu ini. Mereka mengira ada penyusup. Tapi aku menenangkan mereka dan berkata ini bau Louis. Ternyata memang ulah kalian, ya," jelas Paman Gill lalu menyantap risoles buatan Louve.


Ketiganya tersenyum dan sedikit malu. "Louve. Lain kali jangan lupa lapor ke ayah dulu," peringat Paman Gill disambut tawa kecil Bibi Gill. Tampaknya Louve belum memberitahu orang tuanya tentang ini.


"Tidak apa, lah. Aku juga sudah lama tidak mengunjungi kalian. Phyllis sayang, apa kamu makan teratur?" tanya Paman Gill. Phyllis mengangguk kecil dan menghabiskan makan malamnya.


Paman Gill lalu menoleh ke Louis. "Kira-kira ada yang bisa manusia serigala bantu?"


Louis diam sejenak untuk berpikir. Kemudian ia tersenyum dan mengangguk. "Iya. Siapkan manusia remaja yang butuh latihan dan bawa ke sini besok," jawab Louis tenang. Paman Gill termenung, tapi setelahnya ia bisa mengira maksud Louis.


"Kamu mau melatih manusia serigala juga?" Pertanyaan Paman Gill dijawab anggukan Louis.


"Apa ancaman yang akan datang mengusik manusia serigala juga?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Entah. Ada baiknya kita menyiapkan diri," jawab Louis santai sambil menarik mangkuk kosong milik Phyllis dan menaruhnya agak jauh. Ia lalu membawa Phyllis ke sisi yang bisa dilihat seluruh orang di sana.


...* * * * *...


__ADS_2