Penyihir Dan Pangeran Vampir

Penyihir Dan Pangeran Vampir
17 — Memperkuat Diri


__ADS_3


"Aku pulang."


Louis mendekat dan segera memeluk Phyllis erat. Menumpahkan seluruh kerinduannya, membuat gadis itu sedikit sesak dan memukul-mukul pundaknya.


Dari dalam rumah, Merlin keluar dengan membawa tiga cangkir minuman dan hendak menyambut kehadiran Louis. Tapi ketika pandangannya mendapati rombongan sosok berjubah hitam itu, keseimbangan Merlin tergoncang dan membuat kedua tangannya melepas nampan itu.


Dengan reflek cepat, seorang vampir berpindah tempat dan menyelamatkan cangkir-cangkir itu. Tatapan tajamnya menyapa Merlin yang terbelak dengan kecepatan tersebut. Ia bahkan tidak melihat gerakan vampir itu. Yang ia lihat hanya vampir membawa nampan berisi cangkir-cangkir mahalnya.


"Hati-hati, kakak ipar," ucap vampir tersebut sambil tersenyum.


"Ah- Phy—" Tiba-tiba tubuh Merlin melemas dan akhirnya ia tumbang. Tapi seorang vampir lain segera menahan tubuhnya agar tidak terbentur lantai kayu.


Louis yang sejak tadi memeluk Phyllis lalu melepasnya. Memang belum puas, tapi melihat Merlin yang pingsan membuatnya tidak tega.


"Ayo masuk. Bawa Merlin ke kamar bawah," perintah Louis yang segera dituruti.


Tanpa menunggu Phyllis yang masih syok, Louis mengambil alih rumah. Para vampir itu masuk dan duduk di ruang tamu. Merlin sudah ditidurkan di kamar bawah. Sementara Louis membuatkan susu untuk para pengawalnya.


Walau tidak terbiasa minum susu, tapi pada akhirnya pengawal-pengawal itu menurut dan meminumnya hingga habis.


"Phyllis belum membeli darah ayam. Jadi kalian minum susu atau berburu sendiri di hutan," jelas Louis. Tentu tidak ada yang berani membantah.


Selagi Phyllis masih menata pikirannya yang ambyar, Louis menggantikan posisi Phyllis. Di mana ia membuat sarapan untuk dirinya dan para vampir. Dari berangkat tadi, mereka belum memakan apapun.


Pemandangan ini baru pertama kali dilihat para pengawalnya. Si pangeran vampir yang super judes dan galak sekarang sibuk memasak di dapur. Beberapa dari mereka saling pandang, lainnya hanya menatap tuan mudanya dengan bingung. Ragu apakah di depan sana sosok pangerannya atau bukan.


Sarapan dengan roti sourdough yang direndam darah bebek lalu dipanggang Louis. Tak lama roti itu sudah matang. Ia segera memberikannya pada dua puluh pengawal yang kelaparan. Lagi-lagi mereka menatap makanan yang diberikan Louis.


"Awal-awal memang aneh, tapi kalau terbiasa bakal enak, kok," ucap Louis sambil menggigit roti panggangnya.

__ADS_1


Mereka tidak bisa menolaknya dan hanya menurut. Tentu saja mereka langsung lari keluar untuk mencari tempat muntah. Louis sudah menebaknya dan hanya tersenyum sembari menikmati sarapan buatannya.


Phyllis meliriknya sinis. "Tega?" tanya Phyllis, pertanyaan mengarah ke sarapan yang dibuat Louis tadi untuk vampir pendatang baru.


"Ya. Mereka tidak akan terbiasa dengan sarapan sederhana seperti ini," jawab Louis santai, lalu menghabiskan rotinya hingga tak tersisa.


"Jelaskan tujuanmu ke sini membawa mereka itu apa."


"Oke, tenang. Biar mereka di sini dulu," Louis mencoba membuat Phyllis lebih rileks. Ia mengelus-elus kepala Phyllis lembut sambil sesekali mencium kepalanya. Gadis itu tak merespon, hanya diam sambil menyeruput teh buatan Merlin tadi.


Tidak selang lama, para pengawal itu kembali dengan wajah pucat. Mereka benar-benar stress dengan kondisi baru yang mereka hadapi. Louis menyeret Phyllis untuk menemui mereka yang ada di ruang tamu.


"1, 2, 3, 4.. 20. Lengkap sudah. Aku mau menjelaskan sesuatu. Sebelumnya perkenalkan. Ini Phyllis Cayenne, istriku," Louis menepuk-nepuk pundak Phyllis.


"Dia adalah penyihir. Usianya sudah enam belas tahun, tapi ilmunya lumayan. Saat ini dia sedang berlatih untuk mengasah sihirnya agar lebih kuat," lanjut Louis terus membanggakan Phyllis.


Di sisi lain, para pengawal melongo dan hanya diam seribu bahasa. Otak mereka tidak bisa memproses dengan cepat apa yang terjadi.


Louis terus mengoceh tentang kepribadian Phyllis dan apapun yang ia sukai dari gadis ini. Yang jelas tidak begitu penting, malah membuat pengawal-pengawalnya semakin pusing dengan penjelasan tak berujung ini.


"Louis! Lebih singkat lagi. Jangan banyak omong," potong Phyllis sudah tak tahan dengan setiap kata yang dilontarkan Louis. Vampir tampan itu diam, mengangguk tegas lalu menatap pengawalnya yang beberapa sudah puyeng.


"Dia sedang berlatih mantra berbahaya. Aku sebagai suami yang baik dan pengertian ingin membantunya. Tapi karena objek berlatih membutuhkan wadah kuat, maka aku membawa kalian ke sini untuk membantu kakak ipar kalian," jelas Louis.


Mak duarr!


Seketika itu juga seluruh pengawal pingsan karena lelah mengerti apa yang dikatakan Louis. Keputusan sepihak yang membebani mereka membuat para anak buah tidak kuasa menahannya.


"... Louis, kamu ini tidak berperasaan, ya..?" gumam Phyllis.


"Hmm? Apa salahnya?" tanya Louis sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


"Apa kamu mempertaruhkan nyawa mereka demi aku?" tanya Phyllis agak geram. Gadis itu mencengkeram kemeja Louis.


Pangeran vampir itu tertawa kecil lalu mengecup dahi Phyllis lembut. "Tidak. Mereka ini kuat, kok. Kurang lebih hampir sepertiku. Ada golongan dingin dan panas juga. Kamu dan Merlin bisa berlatih bersama," jelas Louis.


Yang semula kesal, amarah Phyllis meluntur perlahan. "Kenapa Merlin juga?"


Tangan Louis menggaruk rambut bagian belakang yang tidak gatal. Rasanya sulit mengucapkan kalimat yang sudah berada di ujung mulutnya.


"Aku ingin kalian lebih kuat dan bisa menghadapi hal kuat yang tidak terduga."


"Contohnya?" Phyllis kini berbalik menginterogasi.


"Banyak. Serangan dari luar tentunya. Percayalah. Kamu memerlukan itu untuk memperkuat diri juga." Seolah tak ingin membicarakan itu lebih, Louis lalu membenarkan posisi para pengawal yang pingsan. Mereka berjejeran di ruang tamu.


Phyllis tidak bisa menjawab apa-apa. Pada akhirnya dia pamit untuk naik ke lantai atas karena lelah. Disusul Louis setelah dirinya membenarkan tidur mereka.


Keduanya berada di kamar. Phyllis yang capek melempar tubuhnya begitu saja di ranjang. Kepalanya nyut-nyutan karena hari ini ada kejutan dari Louis yang membuat dirinya tergoncang.


Louis mendekat dan membantu Phyllis untuk melucuti jubah serta pernak-pernik yang memberatkan. Menyampirkan jubah itu ke kursi kayu terdekat, lalu menyusul gadis itu di atas ranjang. Keduanya saling berhadapan.


Tangan Louis perlahan bergerak mendekati tubuh Phyllis. Merangkulnya, lalu menarik Phyllis, membuat jarak mereka menciut. Dengan cepat ia mengangkat dagu dan mengecup bibir mungil Phyllis.


"Jangan marah, dong. Ini demi kamu, lho," ucap Louis tanpa melepas senyuman sedikitpun.


"Bukan marah. Aku kaget," jawab Phyllis menghela napas. Ia semakin merapatkan diri ke dada berlapis kemeja dan jas milik Louis. Tangan-tangan mungilnya memeluk tubuh Louis, dibalas dengan pelukan yang lebih erat.


"Tidak apa. Lama-lama kamu terbiasa. Percaya saja, mereka bukan seperti vampir-vampir kemarin. Karena mereka terpilih dan beberapanya adalah temanku."


Phyllis tidak menjawab dan hanya memejamkan mata. Tak lama akhirnya ia terlelap bersama Louis di sebelahnya.


...* * * * *...

__ADS_1


__ADS_2