
Rumah kayu dibangun sepuluh tahun lalu, ketika Merlin berhasil membawa kabur Phyllis ke dalam hutan paling jauh. Saat itu bulan purnama. Kematian kedua orang tua di malam yang indah.
Berhari-hari mereka lontang-lantung tidak jelas. Memakan apapun yang bisa dimakan dan pergi ke pinggir sungai mencari ikan serta air. Berbekal sihir dasar dan pertahanan diri yang diajarkan, mereka berhasil melewati hari-hari suram.
Pada suatu hari di kala itu, Merlin membawa adiknya untuk berlindung di salah satu pohon besar. Beralas dedaunan dan selimut dari bulu-bulu binatang yang Merlin bunuh, keduanya terlelap.
Tetapi hari itu sesuatu berbeda. Sosok yang hadir membangunkan Merlin yang asik tidur. Sosok pemuda berdiri di depan mereka. Yang mana Merlin langsung memberi tameng untuk Phyllis kecil. Sayangnya perisai itu menembus dengan mudah.
"Sihirmu masih lemah. Kasihan adikmu, dia tidak mendapat perlindungan yang cukup," ucap pemuda tersebut lalu menarik Merlin untuk bangun.
Setelahnya pemuda itu menggerakkan tangan dan membuat sebuah pelindung transparan tebal, mengelilingi tubuh Phyllis. Pelindung yang sangat aman, bahkan Merlin sendiri tidak bisa menyentuh Phyllis.
"Adikmu aku buat tertidur dalam waktu lama. Tidak akan ada yang bisa melukainya. Ayo kita ke tengah hutan," ajaknya. Merlin yang sadar diri tidak bisa menolak akhirnya mengikuti.
Pemuda penyihir yang tak tahu siapa namanya menghentikan jalannya. Cukup jauh dari sumber mata air. "Tiarap!" Dengan cepat Merlin tiarap. Bersamaan dengan itu, pepohonan tinggi di sekitar langsung tumbang.
"Ayo kita buat rumah untukmu dan adikmu."
Meski tidak tahu apa yang terjadi, Merlin tetap menurut. Selama beberapa minggu, keduanya menghabiskan waktu untuk membangun rumah kayu yang layak. Menggunakan sihir-sihir yang mempernudah pembangunan. Selama itu pula Phyllis masih terlelap manis di dalam perisai.
Tepat selama tiga bulan, rumah itu berhasil dibangun serta beberapa furnitur sederhana. Sosok penyihir misterius itu membawa tubuh Phyllis ke rumah baru dan meletakkan di ranjang yang dibuatnya.
Merlin dan dirinya keluar. Di teras keduanya saling berhadapan.
"Namaku Charlie, aku anak angkat keluarga Cayenne. Tugasku sekarang melindungi kalian. Merlin, biarkan aku masuk ke tubuhmu."
"Apa maksudmu masuk ke tubuhku?"
__ADS_1
Charlie tersenyum pahit. "Energiku sudah terkuras. Aku sudah berjanji akan melindungimu dan Phyllis. Tapi izinkan aku tinggal di sana. Akan aku bantu belajar sihir setelah ini," balas Charlie lemah.
Pemuda penyihir itu terduduk lemas di lantai kayu. Dirinya memang kuat, tapi karena melewati banyak hal membuat Charlie selemah ini. Merlin tak tega yang akhirnya menyetujui.
Sebuah cahaya putih terang menyinari teras tersebut. Dan setelah redupnya cahaya itu, tubuh Charlie menghilang. Sementara Merlin telah berubah menjadi kucing hitam. Merlin sendiri bingung dengan apa yang terjadi.
Di dalam diri Merlin ada sosok Charlie. Charlie terus membimbing Merlin, mengajarinya sihir. Dikarenakan Merlin saat itu masih kecil dan tubuhnya belum kuat untuk menerima dua jiwa serta kekuatan sihir kuat, maka Charlie memilih tubuh kucing hitam untuk mengistirahatkan diri.
Bentuk kucing hitam itu adalah penyamaran Charlie jaman menjadi penyihir dulu. Dalam artian mudah ketika Merlin berubah menjadi kucing, sebenarnya kendali kucing itu adalah Charlie. Tapi bukan berarti Merlin tidak bisa mengendalikan diri saat menjadi kucing.
Setelah kejadian itu, Merlin belajar sihir bersama Phyllis. Gadis itu tumbuh dengan baik. Sihir yang diajarkan Charlie juga turun ke Phyllis.
Dan sekian lama, akhirnya mereka tahu jika Charlie adalah utusan kedua orang tua. Sebelum Charlie sehebat ini, Charlie pernah menjadi anak angkat keluarga Phyllis, yaitu Cayenne. Charlie adalah penyihir buangan dari kerajaan yang dijual ke manusia untuk menjadi budak, dikarenakan Charlie adalah anak haram dari raja.
Keluarga Cayenne saat itu pergi ke pasar dan melihat perbudakan di sana. Dengan insting penyihir, ayah Cayenne segera menebus Charlie dan membawanya ke rumah. Charlie diajari banyak hal.
Setelah kehadiran anak pertama yaitu Merlin, Charlie memilih pergi untuk berkelana mencari ilmu baru. Tapi sebelum kepergiannya, Charlie berjanji ketika kembali dan semakin kuat nanti, dirinya akan melindungi keluarga Cayenne. Untuk berbalas budi tentunya.
Masih membutuhkan waktu yang lama untuk Charlie menemui Merlin. Hingga berakhir seperti saat ini. Phyllis sendiri sudah tahu kondisinya seperti apa dan tetap menganggap Charlie itu ada di sisinya.
"Cepat kembalikan taringku atau pasukan vampir datang kemari dan membunuh kalian!" teriak Louis di tengah kegiatan berkebun Phyllis.
Charlie menggeliat di lantai kayu teras karena terganggu dengan suara si vampir. Sementara Louis masih mengomel tidak jelas.
"Kalau mereka membunuh kami, sihirnya akan permanen dan kamu menjadi vampir taring lunak selamanya," jawab Phyllis santai sambil menggali tanah untuk bibit cabainya.
Louis menggeram dan menggoncang-goncangkan tubuh Phyllis dari belakang. Gadis itu hanya memasang wajah datar, seolah tidak terusik dengan perlakuan Louis padanya.
"Kamu mau apa? Aku akan berikan asal kembalikan taringku!"
__ADS_1
Kali ini Phyllis menoleh padanya. "Jangan gigit aku, kucing hitam, dan Merlin. Setelah itu pergi," jawab Phyllis lalu kembali melihat ke tanamannya.
"Hah? Apa bedanya kucing bodoh itu dan Merlin kakakmu?" Di saat Louis menyelesaikan pertanyaannya, Charlie langsung bangun dan loncat ke wajah Louis untuk menyakarnya. Tidak terima dikata kucing bodoh.
"AHH! Apa-apaan kucingmu ini?!" teriak Louis langsung mengangkat tubuh kucing Charlie. Terlihat Charlie menggeram kesal dan mengeong marah.
"Apa? Bicara apa? Hmm? Hehe, kucing bodoh." Charlie semakin marah dan menggeliat, mencakar tangan Louis, membuat pegangan Louis terlepas. Dengan cepat Charlie loncat ke bagian alat vital dan menancapkan cakar tajamnya di sana.
"AAAAAAAHHHHHH!!!"
Louis terjatuh, meringkuk kesakitan, ia hampir menangis karena terlalu perih.
Merasa sudah menyelesaikan balas dendamnya, Charlie kembali ke tempat semula dan melingkar di sana. Phyllis sendiri tidak peduli dan tetap melanjutkan berkebun. Bahkan meski Louis berteriak kencang. Toh, tidak ada tetangga yang mendengarnya.
Setelah itu Phyllis masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri. Charlie ikut masuk dan melingkar di depan pintu kamar mandi untuk melindungi Phyllis yang mandi.
Apa kabar dengan Louis? Pemuda vampir itu terduduk di tangga teras. Meratapi nasibnya yang sengsara. Mendapat pelecehan dari kucing hitam galak, tidak dipedulikan penyihir yang jelas lebih rendah dari posisi pangeran sepertinya. Apa ini karma karena kabur dari acara besar keluarga vampirnya?
Cukup lama ia merenung di depan. Phyllis sendiri sudah memakai jubah hitam panjang dan membawa keranjang kosong serta kepingan logam. Ia hendak pergi ke pasar untuk berbelanja. Tentunya meski bisa menanam atau mencari daging sendiri, masih ada beberapa barang yang tidak bisa ia dapatkan sendiri.
"Ke mana?" tanya Louis lalu bangkit dari duduknya.
Dari dalam rumah, terlihat sosok Merlin dengan jubah hitam yang membawa keranjang lain berisi bahan-bahan untuk meracik obat dan jamu.
"HAH! Kamu sekarang berani menampakkan diri setelah melukaiku!" teriak Louis. Merlin hanya mengangkat kedua bahu tak peduli dan mengikuti Phyllis.
"Kenapa tidak menjawab?! Aku ikut!" Louis bergegas mengikuti kedua penyihir itu. Dengan jubah hitam ala vampir eropa, ia menutup kepalanya menggunakan kerudung jubah. Kini ia tahu ke mana mereka pergi.
Meski di sana banyak manusia dengan darah segar, tapi Louis tak dapat berbuat apa-apa. Selain taringnya yang lunak, ia takut jika penyihir bersaudara ini semakin menindasnya.
__ADS_1
......* * * * *......