Penyihir Dan Pangeran Vampir

Penyihir Dan Pangeran Vampir
23 — Konflik Tengah Hutan


__ADS_3


Hari pelatihan selanjutnya. Metode latihan masih sama seperti hari kemarin. Di mana para vampir masih diburu oleh bangsa serigala dan Phyllis. Tetapi untuk kali ini, jangkauan pelarian mereka lebih diperluas sehingga manusia serigala tidak melulu berada di sekitar sana untuk mengikuti bau vampir.


Di pagi itu. Phyllis dan yang lainnya berolahraga singkat untuk pemanasan. Sarapan dan pemeriksaan kesehatan oleh Merlin sudah dilakukan. Mereka terlihat sehat dan siap untuk menghadapi latihan keras hari ini.


Para vampir lari masuk setelah mendengar aba-aba dari Louis. Phyllis dengan teliti mengamati arah ke mana vampir-vampir itu pergi. Kemudian para manusia serigala dan Phyllis segera menyusul setelah sepuluh detik berjalan. Phyllis berlari mengikuti arah serigala yang berlari cepat. Ia tahu serigala memiliki indera penglihatan lebih tajam, ia bisa mengandalkannya yang kebetulan searah dengan arah vampir berlari sebelumnya.


Walau tertinggal cukup jauh, tapi Phyllis masih tetap mengejarnya. Dia enggan menggunakan sihir penajam penciuman karena hidungnya akan sakit dan membuatnya pusing. Selain itu menggunakan sihir untuk mempercepat langkahnya saat ini hanya akan membuang-buang energi. Ia berencana menggunakan saat sudah mengetahui lokasi tepat untuk mengejar vampir yang terlihat.


Kaki-kakinya mulai lelah. Phyllis melihat sekitar. Sangat sepi. Serigala yang ia kejar sudah tidak terlihat. Sepertinya serigala itu sengaja berlari cepat untuk menghindarinya. Tetapi Phyllis tetap berlari meski kedua kakinya sudah mulai sakit. Di sisi lain, ia merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Melihat sekitar yang sunyi, sebenarnya ini tempat yang cocok untuk bersembunyi, kan? Toh, ini sudah cukup jauh dari tempat start.


Tetapi saat dalam larinya, suara geraman menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke sekitar dan mendapati serigala yang dikejarnya bersembunyi di balik pohon besar. Sosok berbulu itu keluar dari persembunyian dengan wajah gaharnya.


Gigi-gigi tajam nan besar itu terlihat, seolah hendak menerkam Phyllis yang terus membuntutinya. Gadis itu berjalan mundur ketika moncong serigala itu mengendus tubuhnya. Sesaat kemudian ia berubah menjadi seorang pemuda dengan tampang penuh amarah.


"Bisakah kamu berhenti mengikutiku?!" teriak pemuda serigala itu sambil menarik kerah jubah Phyllis. Phyllis hanya diam sambil menatapnya.


"Kamu mau mengikutiku karena tidak tahu arah mana yang kamu tuju, kan?! Aku tahu niatmu dari kemarin waktu menangkap vampir buruanku!" lanjutnya lalu mendorong Phyllis ke tanah.


Phyllis tersungkur, tetapi ia tetap berusaha berdiri saat remaja serigala itu terus mengoceh. Ia baru ingat ternyata serigala yang dibantunya kemarin itu dia. Jika diperhatikan, sosok ini tidak asing.

__ADS_1


"Hah! Kenapa kamu lihat aku seperti ini? Kamu suka aku, ya? Mana mau aku sama penyihir lemah!" Pemuda itu tidak berhenti mengomel. Dan sekarang dia malah ge-er, mengira Phyllis terpesona dengan parasnya.


Rambut biru gelap dengan mata kuning terang. Hidung mancung serta rahang yang sedikit lebar. Sifatnya tampak familiar, apalagi cara bicaranya yang tinggi. Kulit berwarna sawo matang, wajahnya tidak setampan Louis tetapi masih pantas dianggap menarik. Dilihat-lihat, ini mirip seperti sosok Paman Orlan. Ah, anak Paman Orlan?


"Bisakah kamu diam?" potong Phyllis ketika menyadari ini adalah anak Paman Orlan, yaitu Ocean. Ternyata Phyllis sedang menghadapi anak termuda Paman Orlan yang terkenal sifat rebelnya. Merepotkan sekali.


"Kamu berani memberiku perintah?! Hei! Kalau bukan karena Paman Gill, aku tidak ak—"


"BISA DIAM TIDAK?!" seru Phyllis marah dan berhasil membungkam mulut Ocean. Pemuda itu terkejut, vampir-vampir yang sedang menyamar ikut kaget dan menampakkan diri.


Di saat itu juga Phyllis menggunakan kesempatan untuk mengikat para vampir yang muncul. Setidaknya ada dua vampir yang berhasil ditangkap Phyllis dengan memancing, sisanya sudah kabur lebih dahulu.


Phyllis tersenyum puas. Menaruh keduanya untuk menyender ke pohon dan duduk bersama. Kedua vampir itu pasrah. Selain karena ditangkap dengan cara konyol, mereka juga berserah diri untuk dihukum Louis setelah diserahkan nanti. Kuping mereka sudah siap mendengar ceramah Louis sampai sore mendatang.


"Nona Phyllis, apa ini rencana licikmu untuk menangkap kami? Cara seperti ini tidak akan berguna saat perang, lho," ucap salah satu vampir.


"Dan kalian mudah terkecoh dengan taktik tidak berguna ini," balas Phyllis membuat keduanya terdiam. Mereka saling pandang dan menghela napas. Tidak ada kesempatan untuk membela diri di depan Louis lagi.


"Lagipula cara ini bisa memprovokasi lawan untuk bertindak gegabah. Melihat lawan berseteru dengan sekutunya, mereka jadi berpikir ada kesempatan untuk mengalahkannya karena ada peretakan hubungan dari dalam," lanjut Phyllis.


Phyllis lalu menoleh ke arah Ocean dengan senyum tipis di bibir mungilnya. "Aku tidak mau berpikir buruk tentangmu. Tapi karena kamu sudah menganggapku lawan, mau tidak mau aku mengikuti caramu. Aku tebak..," Phyllis menggantungkan kalimatnya.

__ADS_1


Kedua netranya menatap Ocean yang terkejut. Pemuda itu tampak khawatir. Was-was terlihat di sorot mata kuning emasnya. Lalu Phyllis melanjutkan, "kamu sengaja berhenti di sini karena bau vampir sudah habis di tempat ini. Sadar karena aku mengikutimu, kamu berusaha mengusirku dan berniat untuk mencari vampir yang bersembunyi di sini sendirian."


Ocean tersenyum tipis dan berusaha menutupi kegugupannya. "Kamu sok tahu. Lagian.. penyihir lemah sepertimu mana bisa mencium bau vampir? Memangnya setajam apa penciumanmu?" ledek Ocean merendahkan.


"Tempat ini terbilang sepi. Para serigala berpencar dan hanya kamu yang ke sini dengan mengikuti baunya," jawab Phyllis santai.


"Bisa saja aku menyesatkanmu di sini. Aku tidak sebodoh itu, nona kecil," tegas Ocean mencoba menjatuhkan opini Phyllis.


Phyllis diam sejenak. Ocean terlihat senang dan beranggapan Phyllis tidak bisa menjawabnya lagi. Tetapi pikirannya terlalu dangkal, ia terlalu meremehkan Phyllis yang sudah sering berlatih bersama para vampir.


"Kamu ini suka membuang-buang energi untuk mengecoh penyihir lemah sepertiku, ya? Kamu sangat yakin dengan kekuatan selemah ini aku akan mengikutimu sampai sejauh ini?" tanya Phyllis.


"Jelas. Supaya kamu tidak bisa kembali lagi!" jawab Ocean lantang.


"Sepertinya kamu terlalu menganggapku beban, ya. Sebelum mengejar tadi, aku juga memperhatikan ke arah mana para vampir pergi. Aku ambil arah terdekat dari aku berdiri dan kebetulan kamu juga ke sini. Dengan adanya serigala sepertimu di depanku, aku bisa memanfaatkanmu," jelas Phyllis.


Phyllis lalu berdiri dan membantu kedua vampir itu berdiri. Ia mengajak keduanya kembali ke tempat Louis berada, meninggalkan Ocean tanpa tangkapan.


"Hei! Aku sudah membawamu ke sini! Bukankah itu hasil buruanku juga?! Atau setidaknya bagi aku satu!" teriak Ocean sambil mengikuti Phyllis yang berjalan.


Gadis itu menoleh dan tersenyum. "Memangnya sejak kapan kita sepakat bekerjasama?" balas Phyllis lalu melengos ke depan. Kedua vampir itu hanya mengikuti sambil menahan tawa. Mereka bisa melihat betapa marahnya Ocean di belakang sana karena buruannya direbut Phyllis.

__ADS_1


...* * * * *...


__ADS_2