Penyihir Dan Pangeran Vampir

Penyihir Dan Pangeran Vampir
24 — Indera Penciuman


__ADS_3


Selama dua babak latihan di hari itu, pertarungan sengit antara Ocean dan Phyllis terlihat di makan siang dan penutupan. Di istirahat siang, Ocean terlihat kesal karena belum membawa satupun vampir. Sementara Phyllis sudah membawa dua vampir yang ia kejar di pagi hari.


Ocean sempat protes pada Louis tetapi Louis tidak bisa membuat keputusan karena yang membawa kedua vampir itu adalah Phyllis. Ia tidak peduli apa yang terjadi di dalam hutan, yang jelas Louis hanya menerima hasilnya di halaman rumah.


Sampai seharian ini Ocean tidak menemukan vampir karena uring-uringan sepanjang waktu. Setelah penutupan, Ocean buru-buru pergi, mendahului teman-temannya. Mereka sudah menebak jika mood Ocean sedang tidak bagus. Ocean dikenal jelas oleh mereka dengan sebutan serigala moody.


Di ruang makan ketika para vampir mandi, Phyllis dan Louis menghabiskan makan malamnya. Merlin sedang mengantar Louve pulang, tampaknya Merlin akan segera melamar Louve. Mengingat semakin hari hubungan mereka semakin rekat dan keluarga Gill menyukainya.


"Bisakah aku menebak lagi?" tanya Louis, penasaran dengan apa yang terjadi di dalam hutan. Phyllis mengangguk sembari menggigit roti panggang baconnya. Senyum mengembang, Louis melipat kedua tangan di depan dada.


"Berebut dua vampir dengan Ocean," tebaknya. Tidak spesifik, Phyllis mengernyit bersama lirikan mata sinisnya, meremehkan jawaban Louis.


"Kurang tepat," balas Phyllis.


"Lalu.. apa?" Louis beranjak dari kursi, mendekat ke belakang Phyllis dan merendahkan tubuh untuk merangkul badan mungil di kekasihnya. Mencium aroma manis darah Phyllis di tengkuk, mengecupnya pelan. Phyllis merinding dan melempar tamparan pelan di pipi Louis.


Louis mengaduh pelan lalu mengecup pipi Phyllis sebelum menarik diri untuk duduk di kursi sebelah Phyllis. Netra merahnya memandang pujaan hati, tersenyum gemas saat Phyllis mencoba bersikap tak acuh.


"Sebenarnya aku memang mengikutinya karena indera penciumanku tidak setajam serigala dan dia marah," jelas Phyllis sambil menghabiskan rotinya. Kepala Louis mengangguk-angguk paham.


Phyllis segera merapikan piring dan mencucinya. Selagi menunggu Phyllis, Louis pergi menemui pasukan vampirnya dan memberi arahan untuk istirahat. Ada dari mereka yang sedang menunggu kepulangan Merlin, sisanya bersiap untuk mempersiapkan tempat tidur.


Seusai beres-beres, Phyllis naik ke lantai atas dan masuk ke kamar. Ia menanggalkan jubahnya, merapikan sedikit penampilannya. Memandangi pantulan diri di permukaan cermin, senyumnya menipis. Walau tak ingin tinggi hati, tapi ia mengakui dirinya cukup cantik. Seolah melihat sosok ibu pada wajahnya dan baru menyadari jika parasnya mirip dengan ibu Cayenne.

__ADS_1


Tidak heran, vampir setampan Louis jatuh cinta padanya—meski sebenarnya Louis tertarik pada aroma darah Phyllis.


"Sudah selesai mengagumi kecantikanmu?" Louis masuk dari jendela kamar yang terbuka. Phyllis meringis, memalingkan pandangan, dan kembali pada kasur empuk. Diikuti Louis setelah menutup jendela rapat-rapat.


Pasangan itu mengeram di atas pulau kapuk tersebut, saling mengadu kehangatan tubuh, mendekap satu sama lain. Cuaca malam ini terasa lebih dingin. Angin apa yang menerpa kumpulan embun untuk menyelimuti kediaman Cayenne.


Para vampir sudah masuk ke rumah beserta Merlin yang baru pulang. Mereka mengunci setiap pintu dan menutup ventilasi, tahu jika suhu sekitar cukup rendah. Beruntung bagi Merlin yang membawa oleh-oleh selimut rajut Bibi Gill sebagai hadiah karena menjaga Louve.


"Louis. Bisakah kamu mengajariku soal indera penciuman?" tanya Phyllis di sela pelukannya.


"Tentu. Sihir dulu hidungmu," balas Louis merenggangkan pelukan.


Tampak ragu, Phyllis menggeleng kecil. "Kita coba pelan-pelan," ajak Louis dijawab anggukan Phyllis. Selintas rasa takut masih mengelilingi hati, tapi Phyllis berusaha memantapkan diri.


Hidung manusia biasa dengan kemampuan penciuman standar perlahan mulai menajam seiring detik berdentang. Aroma darah menyeruak ke dalam hidung, terasa menusuk sampai ke ubun-ubun. Kedua tangan yang semula mendekap Louis langsung menutupi hidungnya, berusaha untuk menghalangi bau yang terus terhirup.


Walau awalnya menyakitkan, tetapi dengan bantuan Louis, Phyllis bisa menyaring aroma tajam pada darah Louis. Pelukannya mengerat, Phyllis menyerbu aroma Louis ketika pangeran itu semakin menguarkan wangi harum tubuhnya. Tidak setajam vampir lain. Baunya agak manis, strong tapi tidak menyakiti.


"Cium pelan-pelan," perintah Louis diikuti Phyllis.


Setiap sudut kamar berbau aroma Louis, menembus ke sela-sela pintu dan berhasil mencapai sedikit lantai bawah. Vampir-vampir yang masih terjaga dan mampu mencium aromanya hanya diam, menahan diri.


Aroma vampir kerajaan adalah aroma dan darah terbaik. Hanya pasangan mereka yang bisa mencicipi betapa nikmatnya tetesan cairan merah kental yang mengalir di seluruh tubuh. Vampir-vampir terpilih dengan torehan nama sepasang insan di buku catatan pernikahan, hanya mereka yang bisa merasakannya.


Detik terus berjalan, menit enggan menghentikan lajunya. Phyllis perlahan terlelap dalam kenyamanan aroma Louis di bekapan.

__ADS_1


...* * *...


Alice Washington, masih berada di kerajaan Campbell sambil terus mengamuk tidak jelas. Surai hitam rapinya mulai tak beraturan. Teriakan tak henti mencuat dari bibir ranumnya. Raja Drake mengais informasi untuk menghubungi pihak Washington, tapi mereka bersikap tuli. Tidak peduli apa yang dilakukan Alice, hanya menutup mata dan telinga.


Makan malam kali ini tidak berjalan baik. Meja makan panjang dengan jajaran puluhan kursi kosong. Sebagian kecil di antaranya diduduki anak-anak Raja Drake lain dari selir pertamanya.


Elyssa Campbell dan Calista Campbell. Kedua bocah kembar dengan akhlak minus itu terkekeh ketika ayah mereka pusing mendengar kalimat-kalimat kasar Alice yang terlontar dari ruangan sebelah. Vampir Washington itu tidak berhenti berteriak sejak empat jam lalu.


"Gila, ya. Kak Louis wajib dihukum, nih," kompor panas Elyssa menyulut sindiran Calista yang lain. Telinga lancip mereka bergerak, mendengar langkah mendekat dari pintu ruang makan. Kepala mereka menoleh bersamaan dengan pintu terbuka.


Beberapa pengawal mengikat kedua tangan Alice dan membawanya duduk di seberang kembar Campbell. Alice menggerutu tak karuan, mengomel dengan perlakuan mereka yang menurutnya kasar.


"Alice Washington, bukankah kita sudah setuju ditunda setahun lagi?" tanya Raja Drake membuka suara. Tangannya memijat pelipis, rasanya cekat-cekut dan ngilu.


"Aku tahu, tapi aku tidak tahan dan berniat mempersingkat waktunya," jawab Alice disusul cekikikan dua kembar. Alice menoleh dengan sorot tajam di bola mata merahnya, berusaha membungkam mulut mereka yang hendak mengutarakan pendapat tak diinginkan.


"Gatel pengen dinikahin, tuh. Garuk?" bisik Calista. Elyssa mengangguk, kemudian saling tertawa kecil bak bocah TK merencanakan niat jahilnya.


Meski tidak terdengar jelas, Alice paham mereka sedang menertawakan apa. Tapi bukan dua kembar yang menjadi pusat atensinya. Hanya Raja Drake.


"Bisa panggil Louis untuk pulang minggu ini? Kalau aku bisa menghabiskan minggu ini dengannya, aku akan pulang ke kerajaanku dan menunggu tahun depan," tawar Alice penuh harap.


Sebenarnya syarat mudah bagi Raja Drake. Hanya saja, apa Louis mau? Raja Drake sulit untuk memaksa anak kesayangannya. Seumur hidupnya dia tidak berani membuat Louis melakukan hal yang tidak disukai kecuali pernikahan bersama Alice Washington. Itupun Raja Drake tidak rela jika anaknya harus dijodohkan. Demi apapun, Raja Drake lebih suka pilihan Louis sendiri. Andai bukan karena perjanjian, Raja Drake tak akan menerima tawaran aliansi ini.


Alice tak sabar dengan pikiran lemot Raja Drake, ia beranjak dari kursi. Tanpa sopan dan tata krama yang dipunya, Alice kembali tantrum. Keluar dari ruang makan dengan amarah menggebu, mengamuk dan menghajar pengawal lemah di sekitar.

__ADS_1


...* * * * *...


__ADS_2