Penyihir Dan Pangeran Vampir

Penyihir Dan Pangeran Vampir
26 — Pertemuan Pertama


__ADS_3


Seperti yang direncanakan si kembar Campbell. Kedua bocah berusia kurang dari dua ratus tahun itu mendahului langkah empat pengawal vampir, menyelinap di antara pepohonan, mendekap hidung dan mulut, dan berusaha menyamarkan aroma ras.


Berterima kasihlah kepada Louis yang mengajari Elyssa dan Calista untuk menghindar dari pelayan-pelayan tukang siksa— dulu yang selalu mencari mereka untuk melampiaskan amarah. Mereka masih menggeluti sihir ini yang semakin lama semakin berkembang, ditambah Raja Drake memberikan fasilitas bela diri demi melindungi diri dari ancaman keluarga vampir lain.


Keempat pengawal Raja Drake melengos meninggalkan titik si kembar bersembunyi. Dalam hal berkamuflase, Calista lebih hebat untuk bersatu dengan alam. Seolah tengah menggunakan seragam kamo dan mengecoh lawan kapan saja.


Perjalanan masih sangat jauh, tak bisa dikira. Mereka hanya mengandalkan insting dan feeling. Bahkan jikapun nanti mereka bertemu manusia serigala bringas dan tidak selamat, mereka hanya beranggapan kakaknya juga tewas dengan cara serupa.


Walau hanya anak dari selir, kapasitas kepala mereka lebih lebar dan menampung banyak cerita. Mereka tahu seluk-beluk sejarah vampir yang telah ditutupi lima puluh tahun lalu. Dan sekarang, Elyssa dan Calista memandang lekat om-om yang menaruh banyak kartu bergambar permata, jajaran kartu tarot kristal di atas meja.


"Aku tebak.. kalian sedang mencari sesuatu," tebak peramal sembari menarik kartu dan membukanya. Menunjukkan sebuah gambar penyihir tua membawa lentera, The Hermit.


Calista dan Elyssa saling pandang. "Kami belum memilih kartu," balas Elyssa, walau begitu dia tetap memberikan lima koin perak untuk membayar jasa meramal kemudian memalingkan pandangan. Menelaah setiap sisi pasar pagi dengan sorot mata vampir tajam. Menarik jubah untuk lebih menutup kepalanya.


"Tunggu!" seru peramal saat kedua anak itu hendak melangkah pergi. "Uangnya kurang?" tebak Calista melirik papan harga di samping meja, harganya benar lima perak.


"Bukan. Aku tahu di mana yang sedang kalian cari." Ucapan peramal berhasil membuat Elyssa tertawa remeh. Sudah jelas ini penipuan. Tangan Calista segera ditarik untuk menjauh dari meja peramal. Hanya modus tipu-tipu untuk menculik anak kecil.


Tapi kedua kalinya langkah mereka harus terhenti saat peramal itu menghadang. Jubah yang dikenakan ditarik dan memperjelas bagaimana bentukan 'penipu' itu. Masih terlihat muda—yang mereka kira sudah aki-aki. Iris kuning emasnya menyala, seketika Elyssa sadar dia adalah manusia serigala.


Perlahan Elyssa mundur dan mencoba menghalangi pandangan manusia serigala dari adik kembarnya. Seolah tahu ingin kabur, serigala jadi-jadian itu semakin merapatkan diri. Di pasar ini, manusia serigala mendominasi.

__ADS_1


"Orang cabul!" teriak Elyssa berhasil menarik atensi para pengunjung pasar. Dua vampir itu bergegas lari menjauh, diikuti manusia serigala yang tak ingin melepas mangsanya. Tidak banyak orang yang membantu Elyssa dan Calista, justru mereka hanya diam menonton karena kebanyakan dari mereka adalah ras serigala.


Gesitnya vampir tak bisa ditandingi. Tapi apa yang bisa dilakukan vampir muda seperti mereka?


Di pinggir desa, keduanya terpojok dan berhasil ditangkap. Bantuan manusia serigala lain datang, menyeret kedua vampir muda itu ke dalam hutan. Beruntungnya Elyssa dan Calista tidak terluka parah ketika pengejaran berlangsung. Kedua anak Campbell itu digiring lebih dalam, menuju sebuah kampung manusia serigala di balik rimbunnya pepohonan.


"Kami ke sini bukan untuk menyerang manusia serigala," ucap Calista ketika ditaruh di tengah lapang desa. Tidak ada yang menggubris. Mereka membiarkan dua vampir itu duduk berlutut, dijadikan objek tontonan sembari menunggu pimpinan manusia serigala.


Dari belakang kerumunan, seorang pria tinggi berjalan menelusup di antara puluhan warga ras serigala. Sorot kuning menyalanya menyusuri setiap lekuk wajah dua vampir muda itu. Langkahnya merapat, merendahkan pandangan untuk mengamati lebih lekat. Senyum mengembang, kemudian ia berbalik pada warganya.


"Aku kenal dua vampir ini. Ada bau mereka yang familiar. Silakan bubar." Walau ada yang kurang yakin, penasaran, atau cemas, mereka perlahan membubarkan diri dan kembali tenggelam dalam aktivitas harian.


"Terima kasih atas bantuanmu. Tapi kami tidak perlu kebaikan palsumu," ujar Elyssa setelah mereka berpencar. Pria itu melirik, kemudian tertawa renyah.


Tidak menaruh banyak harapan, dua vampir muda itu pasrah. Akankah mereka dibawa ke ruang pasung dan disiksa sampai titik darah penghabisan? Mereka tahu ras di depannya sangat membenci vampir. Apalagi kasus berapa tahun silam, pembantaian manusia serigala. Sudah jelas ini kesempatan mereka untuk melakukan pembalasan.


"Jangan tegang begitu. Aku tahu di mana Louis berada," lanjut pria itu yang terus memandu pengawalnya untuk membawa Elyssa dan Calista erat.


Mendengar nama Louis, keduanya terkejut. Jelas. Paman Gill sangat kenal dengan Louis. Aroma dua vampir ini ada bau-bau dari Louis. Walau tidak pekat, tapi darah dari Raja Drake mengalir di bawah kulit mereka. Aroma yang sama dengan yang dimiliki Louis.


Paman Gill membawa keduanya ke rumah Cayenne di tengah hutan. Hari ini manusia serigala remaja libur untuk istirahat. Waktu yang sangat tepat. Ditambah berkat hobi meramal Ocean, pemuda itu berhasil menemukan relasi Louis. Meski begitu, Paman Gill mulai cemas. Vampir yang punya hubungan darah dengan Louis sampai datang ke sini untuk mencarinya. Jika bukan hal penting, memangnya apalagi?


Langkah mereka berhenti di jalan setapak, beberapa pijakan lagi mereka sampai di dinding luar perisai Merlin. Paman Gill segera masuk, meninggalkan vampir dan manusia serigala di sana sebentar untuk menemui Merlin. Tidak lama, perisai itu melemah dan bisa dimasuki sisanya.

__ADS_1


Di dalam halaman rumah, Merlin menyambut mereka dengan ramah. Di belakangnya ada Louve yang membawa nampan berisi kukis hangat. Di rerumputan samping rumah sudah digelar kain panjang, di mana mereka sedang piknik kecil-kecilan untuk merayakan seminggu latihan.


Mengetahui ada pihak kerajaan datang, dua puluh pasukan khusus Louis langsung memberi hormat. Begitupun manusia serigala yang semula memegangi Calista dan Elyssa, mereka segera melepas genggaman di lengan dua vampir itu. Meninggalkan bekas yang lumayan terlihat.


"Selamat pagi, Nona Campbell," sapa mereka bersamaan. Dua anak itu mengangguk kecil sambil tersenyum.


"Di mana kakakku?" tanya Calista to the point. Waktunya tidak banyak lagi, tinggal seminggu waktu yang tersisa untuk membawa Louis kembali ke kastil dan menenangkan Alice.


Dari dalam rumah, Louis keluar menggunakan kemeja dan celana panjang biasa. Tidak ada wibawa-wibawanya. Bukan berbalut seragam pangeran atau jas penuh pangkat, tidak juga pakaian mewah. Hanya setelan biasa yang super sederhana.


Tidak ada raut terkejut di wajah Louis, sebaliknya, kedua adiknya bingung dengan Louis di depannya.


Langkah kecil lain mengikuti dari arah Louis berjalan sebelumnya. Phyllis keluar sambil membawa dua buah kelapa muda yang sudah dikupas dan siap disantap. Louve bergegas mendekat dan membantu Phyllis untuk membawanya.


Seketika itu juga, sebuah aroma asing namun lembut menyerbak dari dalam jubah Phyllis. Aroma itu menari-nari mengitari udara di sekitar Calista dan Elyssa saat Phyllis merapatkan diri dengan mereka. Netra tajam Calista merayap ke leher Phyllis yang tertutup surai cokelatnya. Walau tidak terlihat, tapi dia sudah bisa menebak.


Louis telah menandai Phyllis, dan gadis penyihir di depan inilah istri kakak tirinya. Arti lainnya, Phyllis adalah kakak ipar.


"Dia Phyllis Cayenne. Aku tidak perlu menjelaskannya panjang lebar karena otak kalian encer. Aku hanya ingin mengkonfirmasi, Phyllis adalah istriku," jelas Louis sambil mengelus kepala Phyllis lembut.


Tidak ada respon lebih selain kedua mata membulat kaget. Elyssa dan Calista, meski masih syok, keduanya dipaksa ikut piknik mini keluarga. Sekaligus acara ini bermaksud untuk menanyai pernikahan Louve dan Merlin.


...* * * * *...

__ADS_1


__ADS_2