
Sejarah kematian Laguna dan alice.
Mati.
Seseorang berteriak sangat kencang melihat seonggok jasad tergeletak tak bernyawa di subuh hari saat suhu udara masih terasa sangat dingin munusuk tulang. Wanita tersebut mengulang-ulang kata mati, ada orang mati. Seketika pintu pintu terbuka, lampu lampu menyala dan para langkah kaki terburu buru memburu asal suara yang mengundang tanya..
Orang-orang berkerumun di sekeliling jasad Tobias, memandangnya penuh iba sekaligus tanya yang belum terjawab, karena apa ia mati ? Polisi datang bersama ambulance tiga puluh menit kemudian, mengangkat serta membawanya ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut oleh dokter forensik.
Kabar tentang ditemukannya jasad pria yang tewas tadi malam tersebar dari mulut ke mulut, termasuk ke telinga Siska saat ia hendak berangkat kerja, gerbang dibuka, sepeda motor keluar dari sarangnya, dua orang saling berbicara menunggu tangan lihai penjual bubur selesai menyiapkan pesanan yang setiap pagi memang sering kali mangkal di depan rumah Siska.
“Eh, malam ada yang tewas ya ?” tanya seorang pria gemuk sambil duduk santai sementara dua matanya membaca koran.
“Iya, itu di dekat pos ronda ditemukannya juga, subuh, pas orang-orang mau ke masjid,“ balas pria berjaket abu, berdiri mengantri sabar.
“Tewas kenapa katanya ?”
“Kurang tahu ya Pak, kayaknya sih serangan jantung ?“ katanya berspekulasi.
“Ah masa ? Denger-denger masih muda, kan ?”
“Iya sih, tapi memang enggak ditemukan tanda-tanda penganiayaan Pak, Cuma ada yang aneh kalau menurut saya mah.”
“Aneh apanya ?“
“Cctv Pak Arlan malamnya terbakar.“
“Pak Arlan pegawai bank itu ?“
“Iya itu.”
“Ah itu mah mungkin kebetulan aja, apa hubungannya sama cctv terbakar ?”
“Ya siapa tahu saja ada sangkut pautnya gitu.”
Perbincangan keduanya menarik perhatian Siska, ia sempat menoleh hendak bertanya namun jarum jam di tangannya menunjukkan pukul 07.00 pas. waktu sudah mepet untuk berangkat kerja. Motor matic melenggang mulus menyusuri jalanan aspal yang berkelok kelok. 478 meter dari rumah, barulah ia menemui jalan raya besar, ruko-ruko berjejer dan suasana yang sudah ramai tak seperti jalanan di sekitar rumahnya, sepi.
__ADS_1
Pagi itu, ia memacu motor dengan kecepatan tinggi, terkadang para wanita memang lebih 'gila' dari pada laki-laki dalam mengendarai kendaraan di jalan raya. Seperti memiliki 9 nyawa, penuh nafsu menyelinap di antara celah-celah logam (mobil) yang berjalan sama cepat. Tanpa hambatan yang berarti Siska sampai di kantor tepat pukul 08.00, sebelum akhirnya ia mengetahui sebuah kabar yang mengejutkan.
“Tobi enggak masuk san ?“ tanya Siska pada Susan, teman satu kantor yang mejanya berdekatan dengan meja Tobias.
“Kamu belum baca pesan gue tadi pagi ?” jawab Susan matanya berbinar, parau.
Melihat Susan yang seperti menahan tangis, Siska mulai curiga, mencium gelagat tak biasa, hatinya mulai bersyahwat sangka, jangan-jangan ?
“Ada apa san ? Jangan buat aku takut...” desak Siska lirih berujung tangis.
Dua tangannya mencengkeram kuat bahu Susan sementara Susan tertunduk lalu memalingkan wajahnya kesamping seraya menutup mulutnya yang bergetar.
Siska mulai gelisah, sangat gelisah karena sahabatnya masih juga enggan bersuara, lebih tepatnya tak sanggup bersuara karena rasa sedih yang terlalu tinggi, hanya menangis terus sedari tadi.
“Tobi wafat Sis, saya turut berbelasungkawa, ibunya baru saja memberi tahu pada kepala shift,“ kata Sendi tiba-tiba menaruh telapak tangannya di pundak Siska. Pria berkacamata bulat yang sebenarnya diam-diam menaruh hati pada Siska.
“Apa ?“ Siska seketika menangis sejadi jadinya. Badannya termundur, menabrak rak lemari berisi dokumen dokumen perusahaan lalu terduduk lemas.
Para pegawai yang baru saja datang segera menghampiri, mencoba menenangkan Siska yang mengkhawatirkan. Sebagian tidak tahu menahu, sebagian lagi memang sudah mengetahui berita kematian Tobi. Siska yang mentalnya tidak terlalu kuat pada akhirnya pingsan dan dibawa ke ruang istirahat ditemani Susan dan Sendi.
"Iya Pak siap, kalau gitu kita gotong dulu Siska ke mobil saya."
Maka keduanya dibantu oleh beberapa karyawan lain menggotong tubuh lemas Siska ke mobil sedan hitam yang terparkir di pelataran perusahaan. Tubuhnya diletakkan di kursi belakang dan pedal gas ditekan untuk membawanya pulang ke rumahnya.
Sementara di rumah Tobi, orang-orang banyak berkerumun, Pak rt, Bu Santy dan termasuk Raduma yang terlihat sangat terpukul dengan kematian Tobi, bagaimana tidak ? Setelah kematian beruntun keluarganya, kini ia juga harus kehilangan teman satu-satunya yang ia percayai. Stress ! Itu yang ia alami, ia sudah muak dengan semua ini, tak tahan dengan kesedihan yang selalu datang menghampiri. Raduma yang semula bijaksana berubah menjadi sangat agresif dan berpikiran liar, apalagi setelah ia mengetahui sebuah fakta yang mencengangkan.
Fakta yang mengubah jalan hidupnya, fakta yang memantik api dendam kesumat dalam hatinya. Fakta tentang Kematian Laguna dan Alice, ayah dan ibunya di masa lalu, subuh hari ketika ia terbangun dari tidur yang singkat. Raduma memutuskan untuk kembali menggunakan kemampuan bola matanya dengan melihat ke masa lalu, menelusuri sejarah kematian kedua orang tuanya.
Ucapan kakek tua memang sedikit banyak mengganggu pikirannya, instingnya berkata bahwa memang ada yang tidak beres dengan kematian Ayah dan Ibu. Sesaat setelah menarik napas panjang, visualisasi tentang awal mula bagaimana Ayah dan Ibunya berurusan dengan bangsa jin mulai terlihat.
Kisah dimulai 21 tahun yang lalu, ketika Laguna masih bekerja disebuah perusahaan karet sebagai kepala bagian. Saat itu, perusahaannya sedang dalam masa keemasan tidak seperti sekarang ini, bangkrut dan banyak pegawai di PHK. Laguna memiliki 3 saudara kandung, dua laki-laki dan satu perempuan. Walaupun sebenarnya ada selentingan kabar yang beredar di kalangan internal keluarga bahwa Laguna bukanlah anak dari Atmadja, Ayah dari Laguna (kakek dari Raduma).
Satu dari adiknya yang bernama Yuniar, perempuan yang saat itu berusia 28 tahun sedang dalam masa sulit, seusai dicerai oleh suaminya sendiri karena sifatnya yang sangat buruk, lidahnya tajam, jauh dari agama.
Suatu hari, ia kebingungan luar biasa untuk menghidupi dua anaknya sehari-hari, mantan suaminya enggan memenuhi kedua anaknya, hilang tanpa kabar, lari dari tanggung jawab. alhasil ia berniat untuk meminta bantuan materi dari Laguna, setiap kali ia meminta, Laguna selalu memberi. Namun bantuan itu justru membuatnya semakin terlena dan selalu bergantung pada Laguna, sementara Laguna sendiri mempunyai keluarga yang harus dinafkahi.
__ADS_1
Konflik muncul di antara Yuniar dan Alice , selaku istri Laguna, Alice yang merasa risih dan terusik dengan sikap Yuniar dan adik adiknya yang berlebihan dan hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri.
“Maaf ya teh Yuni, saya dan Laguna kan sudah punya anak dua, jadi saya mohon tidak setiap bulan meminta uang, karena kami juga punya kebutuhan yang harus terpenuhi,” ungkap Alice sebisa mungkin berbicara santun karena bagaimanapun Yuniar adalah adik dari suaminya.
“Gak usah pelit Alice, kamu mau pegang gaji Laguna seorang diri ? Kamu mau Laguna cuma nurut sama kamu aja ? Begitu ? Heh, jangan lupa ya, saya ini adiknya !” Bentak Yuniar menuding Alice yang tidak-tidak, memutar balikkan fakta. Yang sebenarnya justru Yuniar dan adik-adiknya lah yang ingin menguras habis uang Laguna, memanfaatkannya seperti sapi perah.
Karena mereka tahu bahwa Laguna bukanlah kakak kandung asli melainkan anak dari istri pertama Atmadja yang entah bagaimana mereka bisa berpisah dan tidak diketahui keberadaannya. Satu kabar mengatakan bahwa ibu dari Laguna sudah wafat sementara kabar lain mengatakan bahwa ibu asli Laguna masih ada dan berada di bandung tengah.
Istri Atmadja terus menghasut Yuniar dan dua adiknya untuk terus menguras uang Laguna. Sementara Laguna tidak tahu sedikit pun bahwa ibunya yang sekarang bukanlah ibu asli. Dari sejak remaja, Laguna selalu diperlakukan tidak adil seperti menimba air di sumur dilakukan oleh Laguna sendiri sementara ketiga adiknya berleha-leha, perbedaan tingkat pendidikan terakhir, Laguna hanya diperbolehkan sampai sekolah menengah atas padahal kesempatan untuk melanjutkan pendidikan saat terbuka bagi Laguna, sementara dua adiknya yang laki-laki harus masuk perguruan tinggi dan masih banyak lagi perbedaan perlakuan yang ia terima secara bertahun-tahun. Namun perlakuan itu tidak membuat Laguna curiga, ia berpikir bahwa anak pertama memang harus lebih berkorban dan menderita dari adik-adiknya.
Hingga hubungan Laguna dan Alice sempat memanas karena percekcokan tentang renggangnya keluarga Alice dan keluarga Laguna. Malam sebelum percekcokan itu terjadi, Yuniar beserta ibunya pergi ke selatan kota Bandung, menemui seorang laki-laki setengah abad yang dikenal sebagai pak putih.
“Gini pak, anak saya tuh punya istri, namanya Alice. Ieu awewe teh kurang ajar, teu daek nurut ka kahayang abdi nu jadi mitohana ( ini wanita tuh kurang ajar, gak mau nurut sama keinginan saya selaku mertuanya ),“ keluh Samirah, istri Atmadja. “Ya...saya ingin bapak bisa uruslah ini anak, biar tunduk atau kalau bisa supaya cerai saja sama anak saya, Laguna.”
“Hmm, begitu bu, ya gak masalah buat saya, cuma ada syaratnya,“ jawab dukun itu seraya mengetuk-ngetuk keramik lantai dengan satu jari sebagai sebuah kebiasaan. Rambutnya sudah putih, barangkali itulah sebabnya ia disebut Bapak putih. Badannya sedikit bungkuk dan kepalanya yang sering kali condong ke sebelah kiri seperti orang yang mengalami penyakit stroke atau penyakit syaraf.
“Apa syaratnya Pak ?“ Yuniar mendahului ibunya yang hendak bertanya.
“Syaratnya gampang, cuma butuh fotonya atau kuku si Alice itu, atau rambut juga bisa, yang penting harus bagian dari tubuh Alice.”
Baik Samirah dan Yuniar saling menoleh mendengar Jawaban Pak tua dukun tersebut, syarat yang mudah pikir mereka berdua. Siasat dan rencana picik timbul tenggelam dalam benak Samirah, kebenciannya terhadap Alice memang sudah ada sejak Laguna dan Alice menikah dulu.
Awalnya, pernikahan itu hanyalah politik untuk mengincar harta warisan orang tua Alice berupa tanah namun ternyata situasi begitu cepat berubah. Warisan tanah 400 hektar itu diwakafkan oleh nenek Damanik kepada salah seorang tokoh agama untuk dibuat pesantren, sesuai permintaan suaminya yang ditulis di secarik kertas ketika diberondong peluru dari atas bukit saat tugas negara, begitu turun dari helikopter oleh pemberontak masa itu.
Rencana busuk yang berantakan, membuat Samirah kalang kabut, sejak hari itu ia membenci Alice dan anak anaknya. Baginya tak ada alasan lagi untuk bermanis-manis di hadapan Alice, bahkan beberapa kali ia menyarankan Laguna untuk menikah lagi.
“Kalau foto Laguna ada ?”
“Ada Pak, sebentar saya ambil dulu di tas,“ jawab Samirah tangan kirinya merogoh tas kulit di sampingnya mengambil sebuah foto Laguna dan menyerahkannya pada Pak putih.
“Saya terima, berarti tinggal foto Alice ya,“ tagih Pak putih.
“Iya Pak, kalau gitu kira-kira hari Sabtu lah kami kesini lagi Pak bawa barang yang dimaksud.“ Samirah pamit seraya memberi sebuah amplop putih berisi uang, tidak ingin berlama-lama.
“Iya, saya tunggu, kalau gak sabtu juga gak apa-apa, santai saja.“
__ADS_1
Samirah bangkit dari tempat duduknya diikuti Yuniar yang membuntuti bagai keledai, kedua mata Pak putih masih terus memperhatikan punggung kedua wanita itu melangkah pulang dan berlalu hilang di balik pintu.