
Keturunan Raja terakhir Tarumanagara.
Corolla hitam keluaran terbaru itu membawa Raduma menuju tempat di sebelah utara Cirebon. Perbatasan kerajaan Sunda dengan kerajaan Jawa di masa lalu. Setelah berbincang dan menghabiskan waktu beberapa jam di dalam mobil, Raduma dan pria utusan orang misterius itu sampai juga di sebuah rumah berukuran besar dengan pelataran luas dan pagar yang tinggi pula.
Orang-orang yang lewat di sekitar rumah tidak akan bisa melihat pekarangan rumah itu, apalagi melihat pintunya. Semuanya serba tertutup, beberapa hewan peliharaan terlihat di sebelah kanan pekarangan dengan kandang yang besar, menyesuaikan dengan ukuran hewan yang berada di dalamnya. Ada burung merak, harimau benggala dan rusa. Begitu kaki Raduma keluar dari mobil, yang pertama ia lihat adalah hewan-hewan tersebut. Raduma memang suka harimau tapi melihatnya secara lebih dekat ternyata membuatnya agak takut juga hingga bergidik.
“Raduma, ayo masuk," ajak pria utusan yang diketahui bernama Hamim, saat melihat Raduma memandang harimau yang tengah membuka mulutnya.
“Oh iya.”
Segera Raduma mengikuti langkah kaki Hamim yang berjalan menuju pintu. Suara derit pintu dibuka terdengar lebih jelas di gendang telinga karena ruangan utama yang begitu besar itu entah kenapa hanya di isi oleh sedikit perabotan. Hanya ada shofa, meja, lampu hias yang harganya mungkin bisa ratusan juta dan lukisan tua yang sudah melegenda di masyarakat Indonesia, pemandangan gunung dan pesawahan.
Raduma mengucapkan salam namun tidak ada jawaban, Hanya Hamim sendiri yang menjawabnya lalu ia membawa Raduma menuju ruangan bawah tanah, lokasinya tepat di bawah tangga. Tidak terlihat, siapapun tidak akan menyadari bahwa di sudut itu ada sebuah jalan atau anak tangga menurun ke sebuah ruangan bawah tanah.
“Jika ia tidak menjawab salam, itu tandanya ia sedang di bawah,” ujar Hamim setelah membuka pintu di dalam lemari yang hanya bisa dibuka oleh energi.
“Apa ini semacam tempat persembunyian ? Keren juga, ada pintu di dalam lemari, aku sempat tidak menyangka.” Raduma penasaran sambil keduanya menuruni anak tangga. “Pintunya—“
“Kau benar, pintu bawah tanah ini hanya bisa dibuka oleh energi dan akan tertutup secara otomatis pula. Jadi orang biasa mustahil untuk membukanya,” terang Hamim. “Ini bukan tempat persembunyian, hanya tempat untuk menyimpan persenjataan.”
Perlahan Raduma menuruni anak tangga yang semula terlihat gelap namun tak berselang lama terlihat satu pintu lagi.
“Kalian tidak berencana untuk menculikku, kan ?” Raduma agak sedikit waspada.
Hamim tertawa mendengarnya.
“Yang benar saja, tidak ada untungnya kami menculikmu.”
“Masuklah.” Terdengar suara dari pria tua sebelum Hamim mengetuk pintu.
“Baik, Ayah,” saut Hamim.
Pintu dibuka perlahan, seketika terlihatlah seorang pria tua di dalam ruangan yang sudah terang oleh lampu. Di setiap dinding terdapat berbagai senjata, dari yang agak jadul sampai yang terbaru. Pria tua dengan tubuh tinggi, masih tegap, tampan dan sedikit berjanggut itu melepas senyum saat melihat pemuda 27 tahun yang ia tunggu itu akhirnya masuk.
“Wow...kuharap kalian bukan sindikat perdagangan senjata ilegal,” celetuk Raduma.
Baik Hamim dan pria tua yang tersenyum mengganggap lucu apa yang dikatakan oleh Raduma.
“Akhirnya kau datang, aku senang dan kau pasti akan bertanya siapa aku ?” ujar pria tua memulai percakapan.
Raduma dipersilahkan untuk duduk di hadapan pria tua sementara Hamim berada di samping kiri Raduma dan kanan ayahnya, hanya menyimak.
“Kau benar Pak tua, aku bersedia datang karena satu hal. Yaitu kau sebut kau adalah keluargaku dan aku menagih bukti ucapanmu.”
“Pertama aku mengapreasiasi keberanianmu untuk bersedia hadir walaupun sebenarnya itu bisa saja membahayakan keselamatan dirimu sendiri.” Pria tua itu mengambil secangkir teh yang disediakan Hamim tak lama setelah ia mulai berbicara. “Kedua, aku adalah keluargamu yang tersisa. Buktinya ada pada kalung yang terdapat kain hitam persegi yang kau lihat di leher ku ini.”
Mimik wajah pria tua menjadi sangat serius. Begitu pula Raduma, saat melihat wajah pria tua di hadapannya berubah drastis, ia pun menyimak dengan seksama.
“Kalung itu ?” Gestur Raduma tak percaya. “Jangan bercanda.”
“Kau pasti tidak akan percaya begitu saja, tapi sebaiknya kau lihat dahulu isinya.” Pria tua perlahan melepas kalung zaman dahulu mirip kalung para pendekar di masa lalu, kain hitam berbentuk persegi berukuran mungkin tidak lebih dari 8 centimeter. “Kau buka sendiri.”
Raduma membuka telapak tangan kanannya untuk menerima kalung dari pria tua. Tiba-tiba ia merasakan energi sangat kuat yang menyelubungi kain hitam persegi tersebut.
“Ini—“
“Ya...” Pria tua mengangguk. “Itu energi.”
Dengan sedikit gugup Raduma membuka kain hitam itu perlahan. Energi berwarna kuning terlihat menyelubungi kain hitam yang ia pegang, rasanya hangat. Dan tersingkaplah sebuah kertas yang sudah sangat lapuk, cukup besar dengan kondisi sudah dilipat-lipat dengan rapih, warnanya kuning dengan tinta berwarna hitam.
“Apa ini ?” Raduma masih belum mengerti ketika melihat deretan nama-nama yang tersusun rapih dari atas sampai bawah.
“Perhatikan baik-baik.”
Raduma menarik kembali pandangannya menuju nama paling bawah dan tertulis dua nama.
Kaganga bin Raksa Atmadja.
Laguna bin Raksa Atmadja
“Ini nama Ayah.” Raduma tertegun. “Tapi mengapa nama depan Kakek berbeda ?”
“Inilah rahasia yang akhirnya harus kau ketahui Raduma.”
Raduma menoleh.
“Katakan apa yang kau tahu Pak tua.”
Pak tua terdiam sesaat, dua detik berikutnya ia kembali berkata,
“Ayahmu sebenarnya bukan anak kandung dari Samirah dan Yuda Atmadja."
Raduma terkejut saat Pak tua memberitahu fakta bahwa Laguna bukanlah anak Samirah dan Yuda Atmadja.
“Laguna adalah anak dari seorang pria yang pernah bekerja sebagai tentara nasional Indonesia.”
“Tapi—, bagaimana ia bisa meninggalkan Ayah begitu saja ?”
“Dia tidak meninggalkannya, tapi dia wafat ketika Laguna baru saja lahir, lalu datanglah Yuda Atmadja menikahi Ibu dari Laguna.”
“Pantas saja Samirah begitu jahat terhadap Ayah dan ibu. Rupanya karena Ayah bukan anak kandungnya.”
“Benar.”
“Lalu siapa orang ini ?” tanya Raduma menunjuk nama Kaganga tepat di atas nama ayahnya.
“Dan itulah Aku.”
Raduma terperangah mendengar jawaban pria tua yang ternyata dia adalah Kakak kandung dari Laguna, Ayah dari Raduma. Dengan kata lain Raduma adalah keponakan Kaganga satu-satunya. Dengan Manahan rasa haru, kedua matanya berbinar. Ia merasa sangat terharu, ketika mengetahui bahwa ternyata benar ia masih memiliki keluarga.
__ADS_1
“Tapi kenapa paman tidak hidup bersama dengan Ayah ?” katanya pelan.
“Jika kau sedikit canggung memanggilku paman, tidak apa-apa panggil saja aku Pak tua, seperti biasa, lagipula aku juga sudah tua,” tutur Kaganga melihat gestur Raduma yang sedikit canggung. “Ceritanya panjang Raduma, tapi aku akan jelaskan secara singkat saja.”
“Katakanlah.”
“Dulu Manik Dewi, Ibuku atau nenekmu yang asli hidup bersama dengan Yuda Atmadja. Namun tak berselang lama Yuda terpincut pesona wanita lain.”
“Samirah ?” potong Raduma.
“Ya, lalu Manik dewi mengetahuinya. Maka keretakan rumah tangga mereka tak bisa dihindarkan lagi, mereka berdua bercerai, akan tetapi hak asuh Laguna dan aku sendiri jatuh pada Yuda Atmadja yang kebetulan memang saat itu sedang dalam kondisi mapan. Sedangkan Ibu (Manik Dewi) hidup seorang diri, miskin dan tak berdaya. Yuda juga melarang kami untuk bertemu Ibu, Kami berdua dibesarkan oleh Yuda Atmadja hingga ketika Aku berumur 15 tahun Laguna berumur 10 tahun, aku terbawa arus sungai Citarum saat kami berenang di sana.”
“Lalu bagaimana kau bisa selamat ?”
“Aku selamat mungkin karena memang belum saatnya saja aku mati. Lalu aku dianggap telah mati oleh Yuda dan Samirah termasuk oleh para tetangga, akhirnya aku memutuskan untuk tidak kembali, Yuda sangat terpukul karena pada dasarnya Yuda bukanlah pria jahat, ia mencintai Manik dan anak-anaknya. Hanya saja ia diguna-guna oleh Samirah. Sejak hari itu Yuda menjadi sering sakit-sakitan, bagi Samirah mungkin itu yang ia mau karena bisa meraih semua harta benda Yuda Atmadja. Namun seiring berjalannya waktu dan sikapnya yang sering menghambur-hamburkan uang. Samirah pun kembali jatuh miskin hingga Laguna sudah menjadi pemuda dan akhirnya menjadi tulang punggung keluarga Samirah sekaligus sapi perahnya.”
Mendengar itu Raduma mengepalkan tangannya ia memang masih menaruh rasa benci pada nenek tirinya itu.
“Kau masih mau mendengarnya ?”
“Lanjutkan saja.”
“Lalu aku bekerja keras untuk mencari uang seorang diri sejak aku kecil, hingga ketika umurku beranjak 17 tahun kekuatan bangkit dalam tubuhku ini. Sama seperti yang terjadi padamu. Sejak itu aku terus mengasahnya hingga menjaga kuat lalu aku mencari keberadaan Ibu dengan kekuatan ini.”
“Kau bisa menemukannya ?”
“Ya, aku bisa menemukannya walaupun setelah aku berumur 19 tahun.”
“Sebenarnya apa yang terjadi padaku ? Dan kekuatan ini mengapa tiba-tiba muncul ? Kau mungkin tahu sesuatu.” Raduma merasa heran.
“Itu karena kau dan aku adalah keturunan seorang raja terakhir dari kerajaan Tarumanagara, sejarah hanya mengetahui raja terakhir Tarumanagara adalah Linggawarman dan digantikan oleh menantunya Tarusbawa tapi sebenarnya masih ada satu lagi Raja yang tidak sempat memimpin kerajaan di masa itu dan raja tersebut tertulis di kertas itu. Lihatlah nama paling atas.”
Refleks Raduma membaca kembali apa yang tertulis di kertas yang ia pegang, dari nama yang paling bawah Laguna bin Raksa Atmadja hingga menuju beberapa nama yang berada di paling atas setelah melewati ribuan nama. Orang jaman dulu apalagi para pendekar biasanya memiliki sebuah kalung yang berupa kain hitam persegi yang membungkus sebuah kertas. Berbeda dengan kalung para pendekar yang biasanya berisi rajah jimat, kalung yang dipegang Raduma berisi kertas yang tertulis jalur nasab.
Prabu sudra kancana bin Sangga Sagara
Sangga Sagara bin Prabu Halimun Kerta.
Prabu Halimun Kerta bin Askataring Durga.
Askataring Durga bin Prabu Hurung.
“Prabu Hurung ?” kata Raduma pelan dengan satu halis terangkat, ia merasa memang tidak pernah mendengar nama Prabu Hurung. Dan di buku-buku sejarah yang selama ini ia baca sejak di bangku sekolah pun pasti tidak akan ada nama Prabu Hurung.
“Ya, Prabu Hurung adalah Raja Tarumanagara yang dilupakan catatan sejarah yang dibuat manusia. Dialah nenek moyang kita, dan orang pertama yang aku ketahui yang ditakdirkan memiliki kekuatan diluar nalar. Energinya luar biasa, dia dinyatakan hilang di suatu tempat sebelum ia kembali ke Istana Tarumanagara sore harinya. Ia hanya menjabat sebagai Raja setengah hari, pelantikannya belum sempat diumumkan ke khalayak ramai, itu mengapa namanya tidak tercatat di prasasti -prasasti. Bahkan Rakyat Tarumanagara pun tidak sempat mengetahui bahwa beliau sudah menjadi Raja.”
Raduma hanya tertegun mendengar penjelasan Kaganga. Ia mungkin merasa syok dan sedikit tidak percaya, seperti dongeng namun kertas yang berada ditangannya memang menjadi bukti bahwa apa yang dikatakan Kaganga memang benar adanya.
“Sesuai namanya, Hurung yang artinya menyala. Bagi orang yang mampu melihat yang tak kasat mata maka akan bisa melihat tubuh prabu Hurung sangat menyala tatkala ia bertempur di medan perang. Itu karena energinya yang luar biasa dan bukan dari bantuan khodam maupun olah napas, orang-orang seperti dia hanya ada 120 tahun sekali sejauh yang aku analisa. Oleh sebab itu pula, tidak semua keturunannya memiliki kekuatan seperti dia.”
“Aku mengerti sekarang, itu berarti aku dan kau adalah orang ditakdirkan memiliki kekuatan ini setelah generasi-generasi sebelumnya.” Kesimpulan Raduma. “Tapi jarak antara kau dan aku mungkin belum sampai 100 tahun lebih. Berapa usiamu sekarang ?”
“Kertas ini berarti sudah ribuan tahun ?” tanya Raduma yang baru menyadari bahwa kertasnya mungkin sudah sangat tua.
“Tidak, kertas itu hanya berasal di jaman Raden Argatria atau ayah dari Raksa Atmadja, dia juga memiliki energi di atas rata-rata, orang pertama yang membuat kalung itu adalah Prabu Hurung ketika Askataring Durga lahir, ia sengaja membuatnya agar anak cucunya kelak tahu siapa nenek moyangnya, begitu Askataring Durga memiliki keturunan maka ia juha menulis nasabnya di kertas kalung yang seperti itu. Begitu seterusnya hingga ke Raksa Atmadja, kakekmu juga menulisnya. Setiap keturunan Prabu Hurung tidak akan pernah memberitahu siapa pun tentang nasabnya itu. Termasuk Raksa Atmadja dan aku sendiri. Bahkan Ayahmu juga tahu bahwa ia keturunan Prabu Hurung namun ia mungkin tidak sempat memberitahu kedua anaknya dimana kalung kain hitam itu disimpan. Dan kurasa dia juga tidak begitu memperdulikan karena hanya aku dari keturunan Raksa Atmadja yang ditakdirkan memiliki kekuatan.”
“Bagaimana jika diantara keturunan Prabu Hurung tidak ada yang mau menulis ? Niscaya jalur nasab di kertas ini juga tidak akan sampai padaku, padamu dan pada Kakek juga.”
“Kau benar, tapi kurasa menulisnya adalah memang kewajiban, atau kesepakatan yang dibuat bahwa setiap keturunan harus membuat kalung itu dan menulis nasabnya di kertas dalam kalung itu, semacam wasiat yang terus diulang-ulang. Untungnya memang semua keturunannya membuatnya secara turun temurun.”
“Jika kau mau juga, kau bisa melihat ke masa lalu melalui jalur nasab itu namun setelah melakukan itu kau akan kehabisan tenaga hingga pingsan 1 minggu lebih.”
“Darimana kau tahu ?”
“Karena aku pernah melakukannya untuk memastikan. Dan aku yakin semua keturunan prabu hurung yang ditakdirkan memiliki kekuatan akan melakukan hal sama untuk memastikan. Setelah aku melakukannya aku pingsan seminggu lebih.”
“Apa ? Astaga... sampai seperti itu efeknya ?”
“Itu karena jaraknya yang ribuan tahun tapi kusarankan lebih baik kau tidak melakukannya. Karena kau kini dalam masalah besar.” Tatap Kaganga.
“Apa maksudmu ?”
“Bukankah kau telah membantai para dukun ?”
“Darimana kau tahu ?” Lagi-lagi Raduma dibuat heran mengapa pria tua atau orang yang masih memiliki ikatan darah itu bisa tahu.
“Maksudmu aku tidak bisa melihat wajahmu karena topeng ghaib itu ?” tanya Kaganga. “Lagipula kasus mu itu sudah ramai di televisi.”
“Ya, bagaimana kau bisa—“”
“Itu karena aku pernah melihat jurus itu sebelumnya.”
“Mustahil, mustahil ada orang yang bisa menembus topeng ghaibku, hanya aku yang menciptakan jurus itu.” Tepis Raduma.
“Kau bukan satu-satunya orang memiliki kekuatan di Nusantara yang luas ini Raduma. Dulu ada orang-orang yang seperti kita.”
“Apa ? Dimana ?”
“Di Aceh. Aku menemukannya di kota Aceh dahulu sekali, kira-kira tahun 99. Tapi saat itu beliau sudah berusia 123 tahun. Kau bayangkan saja setua apa beliau, dan beliau pun mempunyai jurus topeng ghaib sepertimu. Tentu saja aku banyak belajar bagaimana mengahadapi jurus seperti itu saat aku tahu suatu saat nanti ada orang yang memiliki jurus yang mampu membuat wajahnya tidak terlihat oleh mata lahiriah orang lain.”
“Sulit dipercaya, tapi jika ucapanmu benar, mungkin masih banyak orang-orang kuat di luar sana.”
“Kau benar.”
“Lalu apa yang akan kau lakukan setelah tahu apa yang sudah kuperbuat selama ini ?”
Raduma menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Aku hanya ingin kau berhenti dari ambisimu untuk membantai para dukun Raduma.” Tatap Kaganga dengan mata sayu, seolah merasa prihatin dengan langkah Raduma yang berjalan di jalan yang gelap gulita.
__ADS_1
“Maafkan aku, meski kau adalah keluargaku tapi aku tidak akan berhenti.” Raduma memalingkan wajah.
Kaganga terdiam sesaat, begitu pula Hamim menelan ludah dan menundukkan kepala.
Suasana berubah.
“Mengapa kau harus tenggelamkan dirimu sendiri pada kubangan yang hanya akan menyajikan mara bahaya dan dosa yang tak seharusnya kau tanggung Nak ?” Kaganga berdiri dari kursinya lantas melangkah menuju dinding yang dipenuhi senjata berupa karambit, katana, bayonet dan belati.
“Aku punya cara pandang sendiri, lagipula mereka pantas dibunuh atas semua kerusakan yang mereka perbuat di muka bumi. Kau pasti tahu bagaimana para dukun itu menyesatkan banyak manusia. Merekalah parasit yang memang harus dibantai, seharusnya kau tidak perlu melarangku.”
Raduma tampak kecewa namun ia bisa mengatur kadar emosinya karena bagaimanapun Kaganga adalah orang yang lebih tua darinya dan tentunya keluarganya sendiri.
“Kau benar Raduma, aku setuju dengan hal itu. Tapi... yang berhak mengeksekusi mereka adalah pemerintah, bukan kita.” Kaganga coba menyadarkan Raduma. “Kau masih punya waktu untuk berbalik arah (berhenti dari membantai dukun).”
Raduma menghela napas lalu berkata,
“Aku sudah mantap melangkah. Biar kutanggung semuanya.”
Kaganga menggeleng, ia merasa gagal menyadarkan keponakannya itu.
“Ya sudahlah, kau memang mirip ayahmu, sekali membuat pilihan maka tidak akan pernah mencabutnya. Tapi kuharap kau tidak ceroboh seperti ayahmu.” Kaganga akhirnya menyerah. “Setelah kau keluar dari rumah ini, aku ingin kau lebih berhati-hati karena mereka sudah mulai mengincarmu.”
“Tidak perlu khawatir kepolisian tidak akan sanggup melacakku.”
“Bukan, bukan kepolisian Raduma.” Hamim akhirnya ikut bicara setelah dari tadi ia hanya duduk menyimak perbincangan Raduma dengan Ayah angkatnya.
“Siapa mereka yang kalian maksud ?”
Kaganga mulai duduk kembali dan meminum kembali teh yang mulai terasa dingin.
“Mereka adalah shadow satellite.”
“Shadow satellite ? Siapa mereka ?”
“Shadow satellite adalah tim kecil yang dibentuk Badan Intelijen Negara di masa orde baru. Kepala BIN saat itu merekrut orang-orang seperti kita untuk membantu kinerja mereka dalam mencari informasi sekaligus menyelesaikan masalah-masalah yang tidak bisa mereka (BIN) tangani,” beber Kaganga.
“Darimana kau tahu ?”
“Karena Ayah adalah mantan anggota shadow satellite,” sela Hamim.
Raduma memundurkan kepalanya ke belakang dan membetulkan posisi duduknya hingga sempurna.
“Aku mulai mengerti tapi tidak masalah, aku akan hadapi sekuat apapun mereka.”
“Aku tidak meragukan kemampuanmu Raduma namun kau juga harus berhati-hati dan jangan lengah. Karena bagaimanapun hakikatnya kau hanyalah manusia biasa yang tentu saja punya kelemahan. Dengar Raduma, salah satu diantara anggota shadow satellite saat ini adalah mantan rekanku, namanya Sastra Kuning, dia kuat, ia orang yang fokus, berkomitmen. Sekali ia mengincar sesuatu maka ia akan terus mengejarnya sampai dapat. Dia juga orang yang keras, tidak jarang ia menghalalkan segala cara termasuk membunuh demi meraih tujuannya.”
“Terima kasih kau sudah memperingatkanku serta memberitahuku soal mereka. Percayalah, aku bisa mengatasinya. Pria seperti apa yang membuatmu begitu takut ?” Raduma meraih cangkir berisi air teh di hadapannya.
“Kau salah, aku sama sekali tidak takut padanya. Namun aku hanya merasa perlu memberitahumu agar kau bisa merangcang strategi untuk mengahadapi mereka,” sanggah Kaganga.
“Aku ingin tahu bagaimana kau bisa masuk shadow satellite ?” tanya Raduma penasaran.
“Ceritanya panjang, kisah itu dimulai 54 tahun yang lalu, dahulu saat usiaku 20 tahun aku banyak mengamati perkembangan dunia luar, seperti yang kita ketahui, perang dunia telah berlangsung dua kali, selama perang dingin, timur dan barat saling menebar pengaruhnya pada negara-negara lain. Perang ogaden terjadi, perang Vietnam dan hingga meletusnya perang Afghanistan. Semua itu membawaku pada satu kesimpulan, bahwa kekacauan dunia ini, intinya hanya tentang perselisihan timur dan barat yang dibumbui motiv bagaimana menjadi negara kuat dari segala sektor dan tentu saja karena ideologi. Aku pun menempuh jalan yang hampir sama denganmu atau bahkan lebih ekstrim.”
“Apa itu ?”
“Aku memutuskan untuk mencoba menghancurkan dua poros, Rusia dan sekutunya di timur dan Amerika dan sekutunya di barat. Karena aku menilai dua poros inilah yang akan terus merongrong perdamaian dunia. Maka tahun 77 aku melakukan serangan gila seorang diri.”
“Serangan gila ?”
“Inisiden blackout 77,” Sela Hamim. “Kau pernah membaca peristiwa itu ?”
“Tidak, aku tidak tahu.”
“Itu adalah Insiden yang terjadi tahun 1977, dimana aku melakukan serangan metafisik dan tenaga dalam tingkat tinggi. Aku berdiri di sebuah gunung di Jawa barat dengan membentangkan kedua tangan lalu memusatkan pikiran untuk merusak sumber listrik kota New York, serangan itu pun berhasil dengan hampir menguras seluruh energi di tubuhku. Insiden paling memalukan bagi pemerintah Amerika serikat kala itu membuat manusia dalam satu malam menjadi lebih liar daripada binatang, lebih nista dari kotoran hewan. 16 ribu toko dijarah, seribu bangunan dibakar, ribuan wanita dilaporkan mengalami pelecehan seksual,” jelas Kaganga. “Kota New york dilanda bencana yang tidak pernah dibayangkan oleh penduduk kota itu sebelumnya. Kota dengan lima sub divisi itu mengalami kelumpuhan listrik yang membuat seluruh penjuru kota berada dalam kegelapan total selama 24 jam. Blackout memicu manusia merasa bebas sebebas-bebasnya untuk melakukan semua yang mereka inginkan, termasuk tindakan melanggar hukum. Alhasil kerugian materil diestimasi mencapai 300 juta dollar.”
“Lalu apa yang terjadi setelah itu ?”
“Seranganku itu tidak dapat diketahui sedikit pun baik oleh pemerintah dan kepolisian Amerika hingga tak disangka-sangka seseorang mengetahuinya sebelum aku berencana untuk melakukan serangan kedua di tahun berikutnya pada kota Moskow, Rusia. Roma di tahun selanjutnya, begitu seterusnya.”
Raduma menggeleng kepala tanda merasa sangat takjub pada apa yang telah dilakukan Kaganga di masa lalu. Itu hal yang paling gila yang pernah ia dengar dan boleh jadi orang biasa tidak akan pernah mempercayainya.
“Siapa orang yang mengetahuinya ?” tanya Raduma.
“Sastra Kuning.”
“Hah ? Rekanmu di shadow satellite itu ?” Raduma kaget.
“Ya, saat itu aku belum tergabung dengan shadow satellite, dia berhasil mengetahui bahwa akulah dalang dari insiden blackout itu, di saat yang sama pula seseorang di CIA sepertinya mengetahui bahwa itu bukanlah kecelakaan atau kerusakan pembangkit listrik biasa melainkan sabotase yang kulakukan. Akhirnya CIA mengirim surat dan perwakilan resmi pada BIN untuk meminta bantuan untuk menangkapku. Tapi CIA tidak bisa begitu saja masuk ke Indonesia, akhirnya Sastra Kuninglah yang bertugas untuk menangkapku ditambah ia juga memang sudah tahu dan sangat berhasrat untuk memburuku, Sastra Kuning sudah menjadi anggota shadow satellite berserta salah seorang pria bernama Gumuruh. Sastra Kuning berhasil menemukanku dan kami sempat bertarung hingga hampir mati. Aku ditangkap oleh beberapa anggota Badan intelijen negara hingga aku membuat kesepakatan dengan mereka. Kepala BIN saat itu memintaku untuk bekerja sama dengannya, sekaligus menjadi anggota shadow satellite. Karena kurasa aku dan dia memiliki satu misi yang sama yaitu menjaga keamanan negara maka aku pun menyetujuinya.” Kaganga dengan perlahan menjelaskan perjalanannya dahulu. “Aku dan rekan lainnya melakukan banyak misi, termasuk menggagal campur tangan intelijen asing pada tahun 98. Sampai suatu saat aku memutuskan untuk keluar karena perbedaan jenis kekuatan diantara aku, sastra dan Gumuruh.”
“Perbedaan jenis kekuatan ?”
“Ya, perbedaan jenis kekuatan. Raduma, tenaga dalam itu terbagi menjadi tiga jenis. Pertama olah napas, kedua kebatinan dan ketiga adalah orang-orang seperti kita. Yang murni sejak dari lahir tenaga dalam itu muncul dan terus meningkat tanpa terkontaminasi khodam dan lainnya. Sementara Satra Kuning dan Gumuruh adalah dua orang yang berasal dari salah satu dari ketiga jenis itu, Sastra Kuning berasal dari kebatinan sedangkan Gumuruh berasal dari olah napas walau pada akhirnya ia bersekutu juga dengan para jin. Aku tidak bisa menerima itu, dan memutuskan untuk keluar.”
“Aku mengerti sekarang.”
“Mesti keluar dari shadow satellite namun ayahku tidak bisa bergerak leluasa karena gerakannya di awasi. Ayah dianggap aset negara yang unik, oleh sebab ia tidak bisa membantumu dalam masalah yang kau hadapi.” Hamim menambahkan.
“Hamim benar, aku tidak bisa membantumu Raduma, kuharap kau bisa tetap hidup,” ujar Kaganga.
“Tunggu dulu, kau bilang kebatinan ? Apa itu ?” tanya Raduma.
“Kebatinan adalah salah satu cara untuk membangkitkan tenaga dalam melalui kerjasama dengan para jin. Mereka yang beraliran seperti ini biasanya melalui cara bertapa, atau melakukan suatu ritual tertentu yang tentu saja bertentangan dengan ajaran agama. Ada pula yang dengan bacaan-bacaan tertentu yang dibaca diulang-ulang hingga khodam yang memang terikat dengan bacaan itu hadir dihadapannya,” jawab Kaganga.
“Mungkin sama seperti Raga,” gumam Raduma dalam hati.
Raduma terus menyimak semua perkataan Kaganga, semua perkataan Kaganga telah membuka sebuah rahasia yang hanya boleh diketahui oleh sedikit orang.
Bantu penulis dengan like dan komentar ya
__ADS_1