
Pesan misterius.
Suara adzan subuh dari sebuah masjid kecil dekat penginapan memecah keheningan. Beberapa orang dari rombongan RT 6 yang beragama muslim bangun untuk menunaikan kewajiban mereka. Sebagian lagi melanjutkan tidur, sampai pukul 8 pagi mereka harus bersiap-siap untuk pulang kembali ke Bandung timur.
“Rencananya kita pulang jam berapa ?” tanya Raduma kepada Sula seusai menunaikan ibadah.
“Jam 8, siap-siap aja beresin barang bawaan,” jawab Sula dengan isyarat.
“Mm...”
“Kang Raduma masih betah di sini ?” Sulu bertanya.
“Gak Sul, pengen cepet-cepet pulang.”
“Sama dong.” Sulu tampak cemberut.
“Loh kenapa ? Kemaren saya liat kamu kayaknya happy banget, sekarang kok pengen cepet pulang ?” Raduma heran.
“Iya sih, seru di sini tapi kalau mau B.A.B repot, kloset yang duduk saya gak suka,” jelasnya.
“Oh...hehe, iya juga sih. Saya juga kurang suka kloset duduk. Kayak gak puas gitu, ya ?”
Sulu yang bertubuh gemuk itu mengangguk. Ia memang tidak pernah suka dengan kloset duduk, buang hajat sambil duduk itu bukan budaya masyarakat Indonesia, baginya.
Sewaktu menginap di rumah almarhum Tobias pun ia lebih baik pulang dulu ke rumah saat tahu kloset di rumah Tobias bukan kloset jongkok. Padahal saat itu, ia sudah tidak kuat lagi menahan amunisi kuning dalam ususnya.
“Padahal ikut aja ke wc masjid Sul kalau gak mau kloset duduk mah.”
“Gak mau ah, kalau di wc masjid saya liat kuncinya agak rusak. Jadi gak tenang ditambah lagi suka digedor-gedor karena jamaah lain pun mau pakai.”
Raduma kembali tersenyum mendengar penjelasan Sulu memang benar berdasarkan pengalamannya juga. Menggunakan kamar mandi atau WC masjid tidak bisa agak lama mesti gesit karena biasanya ada orang lain yang ingin pakai juga.
Raduma berbincang santai dengan Sula dan Sulu hingga waktu untuk pulang tiba. Orang-orang sudah berkemas dan menjinjing barang bawaan masing-masing untuk ditaruh kembali ke bus yang membawa mereka untuk berekreasi.
“Pir lanjut, go to home !" Komando Pak RT.
Beliau duduk di samping supir bus. AC mulai dinyalakan, musik mulai didendangkan. Lagi-lagi Ibu-ibu bernyanyi. Sula dan Sulu si kembar gemuk sudah mulai mengambil cemilan di kantungnya sementara Raduma melihat-lihat akun media sosial di smartphonenya sampai sebuah pesan misterius masuk.
“Bus yang kau tumpangi akan mengisi bahan bakar 30 kilometer dari tempat dimana kau baca pesan ini. Saat itu, turunlah dari bus, dia akan menjemputmu. Sedan Corolla hitam.”
Raduma mengerutkan dahinya.
Tentu saja Raduma akan merasa curiga pada pesan misterius yang tiba-tiba memintanya untuk mengikutinya. Raduma pikir mungkin itu adalah pesan seseorang dari keluarga korban yang coba menangkapnya.
“Siapa ini ?” Batinnya bertanya-tanya. “Apa mungkin dari orang yang memiliki keterkaitan dengan para dukun yang kubunuh ?”
“Tidak tidak, mustahil mereka tahu aku yang membunuh para dukun itu. Topeng ghaibku membuat siapa saja tidak akan mampu untuk melacakku,” lanjutnya.
Pesan misterius itu ia abaikan begitu saja, Raduma coba melihat reaksi selanjutnya dari si pengirim pesan. 15 menit terlewati, tidak ada pesan masuk hingga ketika sudah 30 menit berjalan, pesan tersebut masuk kembali dengan kalimat yang sama.
“Siapa kau ?” ketik Raduma akhirnya menjawab pesan tersebut.
“Keluargamu yang tersisa.”
Pesan jawaban dari orang misterius itu membuat Raduma tersentak. Bagaimana mungkin ada keluargaku yang tersisa padahal semuanya telah mati.
Rasa penasarannya muncul begitu kuat begitu menerima jawaban tak terduga itu. Ia seperti menemukan sebuah oase di gurun yang sangat gersang. Semangat untuk hidup kembali muncul jika memang ia masih punya keluarga.
Hal itu membuat Raduma kembali membalas pesan tersebut.
“Apa yang bisa membuatku percaya ? Aku bisa saja mengabaikan pesan ini.”
“Kau akan tahu setelah kau melihat sesuatu yang akan membuatmu percaya. Ini sangat penting, kuharap kau memikirkannya baik-baik.”
Raduma terdiam cukup lama, ia coba mencerna apa yang baru saja terjadi. Sebuah pesan misterius masuk lalu mengaku sebagai keluarga yang tersisa. Keputusan apa yang harus ia ambil ? Menurutinya tentu ada risiko yang menyertainya. Bisa benar bisa juga tipuan. Namun mengabaikannya juga mungkin malah hanya akan membuat rasa penasarannya tidak pernah terjawab.
Raduma bangkit dari kursi lalu coba menghampiri supir bus di depan.
“Pak apa dalam perjalanan nanti berencana untuk mengisi bahan bakar?” tanya Raduma.
“Iya Kang, ada apa gitu ? Paling 45 menitan lah sampai di sebuah SPBU.”
“Ah nggak, cuma tanya doang. Paling nanti mau ke WC dulu.”
__ADS_1
“Oh...”
Ia kembali ke kursi belakang, ternyata benar apa yang dikatakan oleh si pengirim pesan. Bahwa bus yang ia tumpangi akan mengisi bahan bakar. Setelah berpikir beberapa menit, menimang langkah apa yang harus ia tempuh dan meyakinkan diri akhirnya ia membalas pesan tersebut kembali.
“Baiklah, aku akan menemuimu.”
“Sedan corolla hitam.” Hanya tiga kata, pesan balasan yang masuk ke smartphone Raduma.
Raduma pun mulai mengambil tas merah tua yang ia taruh di kursi paling belakang. Bersiap untuk meninggalkan bus ketika bus itu berhenti di sebuah SPBU.
“Ada apa Kang ?” tanya Lya Rustika yang melihat Raduma seperti bersiap untuk turun.
“Mungkin saya gak akan pulang bareng ke Bandung, saya mau ke rumah temen dulu. Ada tawaran bisnis yang menjanjikan.” Raduma berbohong.
“Hmm... hati-hati atuh, nanti pulangnya gimana ? Ada uang untuk ongkos pulangnya ?” Lya sedikit cemas.
“Kontak saya aja Kang kalau kehabisan uang yah.” Robby menawarkan bantuan setelah mendengar percakapan Raduma dan Ibunya.
Raduma melempar senyum dari hati pada keduanya.
“Makasih Bu, kang. Iya nanti mungkin saya kasih kabar kalau perlu bantuan.”
Raduma pun terus melihat keluar jendela, menanti kapan bus akan berhenti. Setelah berlalu 45 menit, benar saja bus memasuki sebuah SPBU. Ia berdiri dan menggendong tas di punggungnya saat supir itu memasuki antrean mobil. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, mencari mobil sedan corolla hitam seperti yang dikatakan oleh si pengirim pesan.
Mobil sedan itu pun ternyata memang ada, kacanya tampak gelap sehingga tak terlihat orang yang berada di dalamnya.
“Mau kemana Rad ?” tanya Pak RT. Sontak para tetangga yang lain mengarahkan pandangannya pada Raduma yang sudah bersiap untuk turun.
“Saya mau turun di sini aja Pak, mau ke rumah temen dulu. Jadi gak akan pulang bareng ke Bandung.”
“Emang punya temen orang Jawa ?” Pak RT heran. Meragukan Raduma yang memang hanya mempunyai sedikit teman.
“Punyalah, temen kerja saya di cuci mobil, sebagiannya orang Jawa. Lagian kita sudah janjian.”
“Ya udah hati-hati atuh, sing lancar dugi ka mulih deui ka Bandung (semoga lancar sampai pulang lagi ke Bandung).”
Raduma mengangguk. Pintu dibuka dan kaki kirinya menyentuh tanah dan berjalanlah ia mendekati mobil sedan corolla hitam.
Seketika kaca mobil terbuka perlahan dan terlihatlah seorang pria berumur 39 tahun. Tubuhnya kekar, matanya sayu, memakai kaus hitam panjang yang ketat. Rambutnya sangat rapih, memakai minyak rambut, seperti anak dari orang kaya.
“Kau pasti yang bernama Raduma,” ujar pria tersebut dengan senyuman ramah. “Masuklah, aku tidak bermaksud jahat. Lagipula, jika aku berniat jahat kau bisa membunuhku dengan mudah dengan tenaga dalammu.”
“Darimana kau tahu ?” Raduma kaget, orang yang berada di depan matanya mengetahui bahwa ia mempunyai tenaga dalam dan ilmu metafisik.
“Oleh karena itu, sebaiknya kau segera masuk. Pembicaraan ini sensitif.”
“Ba—baiklah.”
Raduma masuk ke mobil, ia duduk di depan, di samping pria yang dari kesan pertama, sepertinya orang baik.
“Kemana kita akan pergi ?” tanya Raduma lagi.
“Ke orang yang menyuruhku untuk menemuimu. Kau akan tahu sendiri nanti.”
“Jadi kau bukan orang yang kumaksud ? Siapa dia yang ingin bertemu dengan ku?”
“Bukan, aku hanya seorang anak lusuh, ojek payung yang dia temukan saat turun hujan sangat deras 30 tahun yang lalu.”
“Siapa sebenarnya orang ini ?” gumam Raduma.
Pria tersebut tersenyum kembali.
“Kau pasti penasaran.”
"Tak kusangka orang yang telah banyak membuat kehebohan itu ternyata seorang pria muda sepertimu."
"Kau tahu yang kulakukan ?" Raduma meraih sebuah permen karet yang ia dapat dari Sulu tadi pagi sekaligus dengan mengunyahnya membuat Raduma menjadi lebih rileks.
"Tentu saja, kini kau incaran para polisi. Dengan kata lain sekarang aku sedang membawa orang yang paling dicari pihak kepolisian 4 bulan terakhir." Candanya.
Raduma tertawa mendengarnya.
"Kenapa kau tak katakan siapa orang yang ingin menemuiku ini ?"
__ADS_1
"Karena dia sendiri yang ingin memberi tahunya. Aku tidak berani melanggar perintah." Pria itu menoleh ke arah wajah Raduma sambil menyetir.
kemampuan mengendarai mobilnya sangat mengesankan. Ia menancap pedal gas dan melewati banyak mobil di hadapannya tanpa sedikit pun takut bertabrakan. Orang seperti ini tentu saja bukan orang biasa, pikir Raduma.
"Jadi begitu." Raduma memegang dagunya tampak berpikir.
"Sepertinya kau juga harus membeli sebuah kendaraan. Kau mau apa ?"
"Maksudnya ?"
"Maksudku kau mau kendaraan jenis apa ?"
"Kendaraan ? darimana aku punya uang untuk membeli kendaraan."
"Tentu saja kami yang akan membelikannya."
"Tidak usah," tolak Raduma.
"Kau akan memerlukannya Raduma, percayalah. Lagipula tak perlu sungkan, dia orang yang sangat kaya. Dia bisa membelikan mu 2 mobil Alphard jika kau mau."
"Apa ?" Raduma melongo. "Kau serius ?"
"Apa aku terlihat sedang bercanda ?" Pria tersebut terkekeh. "Kau tinggal sebut saja."
"Hmm baiklah." Raduma berpikir beberapa saat. "Aku ingin sebuah motor trail."
"Segera kau miliki."
Raduma menoleh namun tak berkata lagi.
Pria tersebut lalu mengemudikan mobil sedan corolla hitamnya keluar dari SPBU. Memasuki jalan besar dan bergerak ke arah barat. Keduanya pergi untuk menemui seseorang yang masih belum terungkap identitasnya.
*****
Di lain tempat, Barbara Luel tampak berdiri di sebuah tempat dekat gedung DPR RI. Sebuah tugas lain harus ia jalankan siang menuju sore itu. Ribuan orang dari kalangan mahasiswa dan buruh bergabung jadi satu untuk memprotes kebijakan pemerintah yang dianggap kontroversial.
Dengan kacamata yang teduh, rambut yang diikat, celana jeans dan sepatu boot cokelat Barbara Luel mengamati ribuan yang berjejal penuh amarah itu dengan sebuah teropong.
Sebuah alat komunikasi terselip di lubang telinganya. Menanti informasi dari salah seorang intel yang ditugaskan oleh Kepala BIN untuk menyampaikan siapa-siapa yang menjadi provokator dalam unjuk rasa.
"Elang timur, arah jam 2 pria bertubuh kurus, berkulit putih dan memakai topi hitam bertuliskan nitro." Suara yang terdengar di telinga Luel.
"Diterima," jawab Barbara Luel sambil meraih teropong yang ia gantungkan di lehernya.
"Kuniatkan, untuk memasuki alam bawah sadar orang ini." Batin Barbara Luel ketika menatap tajam salah satu pria yang dianggap sebagai provokator.
Tiba-tiba terlihat energi berwarna kuning terang keluar dari tubuh Barbara Luel dan melesat ke arah pria yang ia tatap dengan tajam. Maka tak lama kemudian sikap pria tersebut berubah drastis, gaya bicaranya berubah dan kalimat-kalimat yang ia lontarkan kini tidak lagi mengandung provokasi. Secara halus Barbara Luel ternyata mempengaruhi alam bawah sadar pria tersebut. Kini ucapannya di setir oleh Barbara Luel.
Kericuhan pun mulai mereda meski tak lama kemudian situasi memanas kembali. Wajar sekali sebenarnya, karena jumlah orang yang hadir sangat banyak menjadikan situasi begitu dinamis.
akhirnya Barbara Luel terpaksa harus membuat dinding ghaib untuk membuat para demonstran tidak bisa merangsek ke dalam gerbang masuk DPR RI.
"Dinding ghaib ini hanya berjalan dua jam. Pastikan kepolisian harus membubarkan mereka sebelum dindingnya memudar," ujar Barbara Luel melalui alat komunikasi. "Jangan menunggu pukul 18.00, lakukan sesuatu setidaknya untuk menjauhkan mereka dari pagar. Beberapa diantara mereka berencana melakukan aksi anarkis. Water Cannon bisa jadi pilihan yang bisa diambil."
"Baik."
Sang intel lalu bergerak untuk keluar dari kerumunan para demonstran untuk menyampaikan perintah dari Barbara Luel ke pihak kepolisian.
"Pak Kapolri, sebaiknya anda perintah petugas di lapangan untuk menghalau para demonstran agar tidak berada di depan gerbang DPR RI lebih dari dua jam. Gerakan water cannon sebagai langkah pertama. Dimulai dari detik ini, Barbara Luel sudah menjalankan tugasnya," bisik intel tersebut.
"Baiklah, aku akan perintah untuk menyemprotkan water cannon," jawab Kapolri.
Tak berselang lama water cannon terlihat disemprotkan ke arah para demonstran. Berpacu dengan waktu agar para demi tidak bertahan di depan gerbang masuk DPR RI lebih dari dua jam seperti yang dikatakan Barbara Luel.
Para demonstran terlihat kocar-kacir saat water cannon disemprotkan petugas kepolisian di lapangan. Sementara dinding ghaib masih terlihat kukuh, tak ada satupun yang bisa mendekat dan memanjat gerbang meski sebelum water cannon disemprotkan.
Teknik yang dapat menguras tenaga dalam penggunanya. Dinding yang bukan hanya menghalau makhluk hidup namun juga dapat mempengaruhi mental yang coba menyentuhnya. Salah satu teknik yang mungkin membuat nama Barbara Luel diminati oleh shadow satellite sehingga ia direkrut pada tahun tahun pertengahan 2005.
Seandainya teknik tersebut tidak mempunyai batas waktu. Mungkin teknik tersebut akan menjadi teknik pertahanan terbaik yang dimiliki oleh seorang Barbara Luel, wanita blesteran Indonesia-prancis. Dalam usianya yang terbilang matang, ia sudah sangat pengalaman dalam menggunakan kemampuan metafisik dan tenaga dalam sehingga boleh jadi akan menjadi lawan yang seimbang bagi Raduma.
Bantu penulis dengan like dan komentar, ya.
Mau sedekah vote juga boleh, penulis sangat berterima kasih.
__ADS_1