PERANG METAFISIK

PERANG METAFISIK
Ngimpleng (meraga sukma)


__ADS_3

Melacak


Satu minggu sudah Raduma hidup sendirian di rumah warisan Nenek Damanik, hanya pekeng yang menemaninya setiap saat, kucing betina yang baru saja melahirkan empat ekor anak.


Dua ekor mewarisi warna ibunya sementara dua lagi berwarna hitam dan putih dengan corak abu-abu, sepertinya pekeng memang bercinta dengan lebih dari satu pria, tidak, maksudnya pejantan.


Akhir pekan ia lebih sering bermain dengan pekeng dan empat ekor anak kucing yang masih kecil-kecil, pagi hari sekali ia berangkat ke pasar tradisional untuk membeli tahu, tempe, kangkung dan bubuk ikan pindang untuk jatah pekeng dan anaknya yang kini semakin menambah beban hidupnya.


Tidak banyak yang ia bisa masak selain tahu, tempe goreng dan tumis kangkung sementara selain itu ia tidak bisa, alhasil dari senin sampai senin kembali lebih sering ia makan dengan menu yang sama, terkadang ia bosan dan jenuh dengan menu yang itu-itu saja.


Ia mulai teringat Visa mapa, wanita yang dulu ia sukai, mulai membayangkan bagaimana jika ia punya pendamping hidup atau istri, mungkin menu akan lebih bervariasi. Namun apa daya sampai saat ini ia belum bisa untuk menemuinya.


“Meng, meng, pekeng...makan nih bagi-bagi sama anakmu.“ Panggilnya pada kucing kesayangan yang sedang berkumpul di teras rumah, dua anaknya sedang menyusu sementara dua lagi sedang bermain sekaligus merusak tanaman.


Karena hidup berdampingan dengan Raduma sudah sangat lama, pekeng langsung menyaut dan menghampiri Raduma diikuti anak-anaknya, sangat jinak dan pintar.


Dengan wajah melas dan lucu pekeng mengelus-ngeluskan kepalanya pada lengan Raduma sebagai tanda terimakasih. Pekeng sudah menganggap Raduma sebagai majikannya, itu terlihat dari seringnya pekeng memijat-mijat perut atau punggung Raduma ketika bersantai di teras, kata orang, jika kucing memijat-mijat pemiliknya maka itu tanda ia sudah merasa nyaman dengan manusia yang memeliharanya dan menganggapnya sebagai majikan, walaupun faktanya terasa pekenglah yang terasa seperti majikan karena harus rutin menyiapkan dan memberinya makan.


“Nah gitu dong ! Punya kucing tuh kasih makan jangan dibiarkan mencuri,“ celetuk Ibu warung istri seorang polisi khusus untuk memburu *** yang lewat seusai dari minimarket.


Matanya melotot, dua sudut bibirnya ia tarik ke bawah tanda kesal. Ia berlalu dengan memutar kedua bola matanya meninggalkan Raduma yang masih termangu mendengar perkataan ibu warung.


“Kenapa lagi ini, haduh.“


“Gara-gara ente cing,“ keluh Raduma seraya menjitak lembut kepala pekeng yang memasang wajah polos tak bersalah.


“Meong...” Pekeng bersuara manja padahal ia adalah pencuri ulung.


Meski terkadang sakit hati dengan perlakuan dan perkataan tetangganya, ia coba untuk tidak berlama-lama bersedih dan menyimpannya di dalam hati.


Selama satu minggu ia sering berlatih untuk menguasai energi, semakin mahir dalam menerawang, Rontgen, bahkan melihat ke masa lalu. Ia juga melakukan kreativitas dengan membentuk energi menjadi berbagai senjata tak terlihat.

__ADS_1


Siang, hari minggu saat itu, Tobi datang lagi menghampirinya yang sedang membuat karya seni dari kayu vinus, kegiatan baru untuk menambah pendapatannya. Semua karya seni seperti kotak pulpen dari bongkahan kayu vinus dengan ukiran tubuh naga dengan kepala bunga mawar, gantungan kunci dari batuan mulia yang diukir sedemikian rupa dan lain-lainnya ia jual secara online di media sosial.


“Rad, si pekeng curi ikan lagi kayaknya," kata Tobi seraya duduk tidak jauh di tempat Raduma mengukir bongkahan kayu.


“Emang kenapa ?“ tanya Raduma cuek tanpa menoleh.


“Tadi...ibu-ibu, biasalah sedang bergosip ngomongin ente di warung. Pekeng katanya curi ikan lele lagi di warung.”


“Ane udah tahu, orang tadi pagi yang punya warung marah-marah.“


“Oh gitu ?"


“Si ibu sehat ?" tanya Raduma teringat kondisi ibu dari Tobias seiring ia berhenti dari mengukir kayu dan membereskan semua peralatan, mesin ukir mini, resin, amplas dan cat.


“Masih suka mengeluh sakit perut dan pusing Rad, bingung gua juga harus cari obat apalagi.“


Jawaban itu memang sudah diperkirakan Raduma sebab penyakit Lya bukanlah penyakit medis. Obat medis hanya akan merusak organ tubuh lainnya jika dikonsumsi terus menerus.


“Yang bener ? Ini serius Rad ?“ bisik Tobi tak menyangka seraya menelan ludahnya.


“Serius, tadinya ane mau ceritain ini tapi ragu-ragu."


“Ente tahu dari mana Rad ? terus apa yang ngeganggu ibu ? siapa yang ngirim ?" Gestur Tobi sedikit cemas dan tak tahu harus berbuat apa.


“Saat malem itu juga ane udah tahu ada makhluk halus yang menancap di lambung ibu ente, kayaknya ini tingkat tinggi Tob, karena si kumbang tanduk hitamnya itu tuh sulit untuk dilihat sebenernya, bahkan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan metafisik (menerawang/meraga Sukma). “


“Siapa dalangnya Rad ? Ente bisa lacak enggak ?" Desak Tobi seolah-olah berniat untuk memberi pelajaran pada orang yang mengganggu ibunya.


“Belum sempat ane lacak Tob, tapi kalau mau sekarang kita coba aja.“


“Ya ayo, tunggu apa lagi.“ Tobi benar-benar penasaran.

__ADS_1


“Ente masuk aja dulu, jangan diluar nanti orang curiga pas ane menerawang."


Keduanya masuk, seperti biasa mereka duduk di atas kursi, namun kondisi ruang tamu tampaknya sedikit ada perubahan dari yang biasanya. Televisi dan radio sekarang berada di sana, Raduma sengaja memindahkan keduanya karena ia pikir tak ada juga orang yang akan bertamu selain si Tobi.


Volume radio tampak dikecilkan dan televisi 21 inchi dimatikan. Raduma menghela napas panjang sebanyak tiga kali dan memejamkan matanya berniat melakukan proses ngimpleng ( terawang ) untuk menangkap makhluk astral tersebut serta mencari tahu siapa dalang dibalik penyakit non medis ibu dari Tobias.


Hanya dengan mengingat wajah ibu dari Tobias, ia dengan mudah melihat Lya dari jarak jauh. Padahal saat itu ibu dari Tobias sedang mengajar di salah satu sekolah dasar.


“Dua puluh lima dibagi tiga sama dengan ?" kata Lya di depan white board sambil menunjuk soal nomor tiga dalam penglihatan Raduma.


Semakin menajamkan konsentrasi, Raduma coba menangkap kumbang tanduk dalam lambung Lya namun dengan cepat siluman kumbang tanduk hitam itu menyadari bahwa ada manusia yang mengincarnya dan langsung melarikan diri dengan gesit secepat kilat.


Kecepatan makhluk halus memang berbeda dengan manusia, dalam beberapa menit sesosok makhluk astral bisa melesat hingga sejauh 5 kilometer, semakin tinggi tingkatan keilmuannya semakin cepat pula makhluk tersebut bergerak.


Namun karena Raduma adalah manusia, makhluk yang lebih mulia dari makhluk lain tak terkecuali makhluk jin. Dalam kondisi ngimpleng ia juga bisa bergerak sangat cepat mengikuti kemana makhluk astral itu bergerak ditambah kondisi Raduma saat ini sangat berbeda dengan satu minggu lebih sebelumnya yang dimana ia sama sekali tidak tahu apa-apa.


Kini ia lihai dalam menggunakan kemampuan metafisik dan energinya pun sangat besar untuk seukuran pemuda 27 tahun.


“Wuih, cepat sekali ini makhluk terkutuk,“ gumam Raduma masih dalam kondisi ngimpleng dengan mata terpejam namun kesadarannya tetap terjaga.


Tobias hanya menyimak saja, sesekali ia bertanya dan Raduma pun bisa mendengar perkataan Tobi meski ruhnya sedang berkelana.


“Agak sulit, licin susah untuk ditangkap Tob,“ keluh Raduma seraya membuka mata kembali dari kondisi ngimpleng.


“Terus gimana ? gua harus tahu siapa yang kirim makhluk itu Rad ?“ kata Tobi kecewa.


“Tenang tob, masih ada cara lain," jawab Raduma berusaha menenangkan Tobi.


Ia kembali menarik napas panjang dan meniatkan dalam hatinya untuk melakukan teknik melihat ke masa lalu. Hampir sama seperti melacak Lya, namun bedanya visualisasi yang tampak dalam penglihatan Raduma bisa berubah sesuai waktu yang dituju dan yang diniatkannya.


Gambaran tentang asal mula bagaimana ibu dari Tobias bisa dihinggapi makhluk astral yang bersekutu dengan manusia mulai terlihat. Kisah Berawal sekitar tiga tahun lalu, saat Lya menerima undangan reuni angkatan 90 sekolah menengah pertama yang letaknya di tengah kota.

__ADS_1


__ADS_2