
Bapak putih dan penggempur sukma.
Bapak putih masih bisa tertidur lelap malam itu dan bangun dalam keadaan bernyawa padahal ia tahu, kini dua pendampingnya sudah binasa. Ia bisa melihat bawahan Ratu Urayaning yang berhasil melarikan diri lalu mendatanginya untuk memberi kabar kematian Ratu Urayaning dan Dama Langsa.
“Kau yang bernama Rudi karsa ?” ujar bawahan Ratu. Wujudnya kuntilanak dengan rantai yang mengikat satu tangannya, wajahnya pucat tanpa ekspresi, rambutnya berwarna abu-abu.
Melihatnya datang tiba-tiba dari lantai dua. Bapak putih termundur beberapa langkah, waspada kalau-kalau makhluk yang ia lihat kali ini kiriman dari musuh-musuhnya yang lain.
“Jawab aku !” Bentak bawahan Ratu.
Bapak putih hanya mengangguk saja. Mungkin ia masih trauma setelah didatangi dua makhluk cukup tangguh lagi beringas tadi malam.
Saat bawahan Ratu tahu yang ia temui adalah orang yang dicari maka berkatalah ia,
"Ratu Urayaning telah binasa, begitu pula dengan Dama Langsa. Namun sang Ratu masih sempat menyuruh ku untuk menyampaikan sebuah pesan.”
“Pesan apa ?” tanya Bapak putih ragu.
“Pergilah ke sebuah makam keramat di antara dua gunung tidak jauh dari sini, bawalah beberapa orang manusia, dengan begitu Prabu Tutugan akan membantu mu.”
Setelah mengucapkan pesan tersebut kuntilanak tersebut menghilang tanpa diketahui kemana perginya.
Pesan tersebut membuat Bapak putih sedikit merenung, apakah ia harus menurutinya atau tidak ? Akan tetapi baginya jika ingin terus mendapat penghasilan dari menerima pasien, mau tidak mau ia harus menurutinya. Cukup logis karena ia hanya bisa melihat tapi tidak punya energi untuk bertarung jika tidak berpartner dengan khodam.
Dalam mengobati pasien tentulah ia harus punya energi dan partner untuk bertarung dengan jin-jin dalam tubuh pasien yang terkadang menantangnya untuk duel.
Setelah siang hari tiba akhirnya ia memutuskan untuk pergi mencari makam tersebut di hari itu juga. Bapak putih sama sekali tidak tahu hakikat dari pesan tersebut, ia hanya mengira bahwa Ratu Urayaning peduli padanya padahal pesan tersebut adalah pesan untuk menyesatkan umat manusia dengan mengkultuskan penghuni kubur. Dengan datangnya Bapak putih ke sana dengan membawa beberapa manusia, nantinya agar kelak makam tersebut dikeramatkan secara turun temurun.
Padahal tidak ada satupun penghuni kubur yang dapat memberi sesuatu pada manusia yang masih hidup walaupun makam tersebut makam orang shaleh.
Ini hanya permainan bisnis atau bagi-bagi proyek pasukan iblis untuk menyesatkan manusia. Dengan digiringnya Bapak putih ke Prabu Tutugan, makhluk astral yang menghuni gunung Burangrang itu agar Bapak putih tetap menjadi penyesat manusia.
“Pak itu ada pasien,” ujar istrinya. Sudah tua, lebih tua lima tahun dari Rudi Karsa atau biasa disebut Bapak putih. Istrinya tidak tahu apa-apa, tidak pernah menyadari semua tindak tanduk suaminya bahkan untuk sekedar bertanya, apa yang selama ini kamu lakukan ? Darimana Bapak belajar ilmu perdukunan ? Yang terpenting suaminya memberi nafkah sudah cukup baginya.
“Suruh balik lagi aja, Bapak gak akan terima pasien dulu.”
“Loh, emang kenapa ?” istrinya kembali mengambil gelas yang sudah habis di hadapan Bapak putih. “Biasanya Bapak semangat ?”
“Gak usah banyak tanya, Bapak gak bisa jelasin,” tutupnya.
“Iya Pak, Ibu ngerti.” Istrinya berlalu menuju dapur membawa gelas di atas nampan.
Istrinya menghampiri kembali pasien yang sedang menunggu di halaman rumah, menanti kepastian Bapak putih.
"Mohon maaf Bu, katanya Bapak sekarang mau libur dulu dari praktek. Mungkin ga sampai seminggu," ujarnya.
"Oh..gitu ?" Pasien tampak sedikit kecewa. "Baik Bu, kalo gitu saya pamit pulang.".
"Iya."
Istrinya masih menatap punggung pasien Bapak putih, mengantar kepergian pasien Rudi Karsa yang berjalan keluar rumah dan menghilang setelah mobil yang dikendarai pasien melewati belokan.
“Ruwet, bener-bener ruwet, kok bisa-bisanya kalah,” gerutunya. “Kalo aku berhenti buka praktek pengobatan, otomatis ga bakal dapet pemasukan lagi, hadeh kacau. Emang harus kesana kayaknya. Tapi dimana lokasinya ? Lokasi makam di antara dua gunung cuman di sana, dekat gunung burangrang dan gunung tangkuban perahu."
“Bu...” Panggilnya.
Istrinya kemudian menghampiri dengan tangan sudah berlumur busa detergen, sepertinya sedang mencuci pakaian.
“Apa lagi Pak ?”
“Anak dari adik kamu itu udah dapet kerjaan belum ?” Bapak putih mengambil sebatang rokok tanpa filter. Dinyalakan lalu dihisapnya pelan-pelan.
“Belum kayaknya Pak. Ada apa gitu ?”
“Kalo mau ajak aja dia ikut Bapak ritual ke makam keramat,” jelasnya. ”Biar dapet kerja.”
Rayu Bapak putih untuk mengajak anak dari adik Istrinya yang sudah berusia 30 tahun namun belum dapat pekerjaan kembali.
Padahal, sama sekali tidak ada hubungannya antara ritual di makam tertentu dengan dapat pekerjaan. Semua itu hanya tipu daya setan.
“Mau gak, ya ? Dia kan gak suka pergi ke tempat-tempat gitu Pak,” jawab Istrinya ragu. “Bapak aja yang ajak, kalo Ibu kan, nanti bingung jelasinnya gimana.”
“Ya udah Bapak aja yang ke sana nanti sore.”
"Mm." Istrinya kembali menuju kamar mandi.
Bapak putih melanjutkan aktivitasnya yang menyebalkan, merokok !
Siangnya ia tidak banyak melakukan aktivitas. Biasanya ia sibuk menerima pasien dengan melancarkan sedikit aksi mesumnya. Kali ini justru seperti kehilangan sesuatu, banyak berdiam diri dan sesekali memberi makan burung Kacer di halaman rumah.
“Tumben Pak, kok sepi, lagi gak nerima pasien ?” tanya Ridwan Dany.
“Iya Pak, duh. Lagi ada urusan penting saya.”
“Hmm...kalo gitu ayo kita ke masjid dulu aja bentar lagi adzan,” ajaknya.
"Mm..duluan aja Pak RT, anu, mm....ini tanggung hehe.” Tanpa malu ia menolak ajakan Bapak RT. Padahal orang-orang pun sudah terlihat berjalan menuju masjid.
Ridwan Dany, Ketua RT yang sebenarnya kurang nyaman dengan praktek pengobatan Bapak putih di lingkungannya. Ridwan Dany dikenal sebagai pria yang baik hati dan rajin sekali beribadah sekaligus dibekali pemahaman agama yang baik. Dengan berhentinya Bapak putih dari praktek pengobatannya, walau hanya sesaat. Tentu saja itu cukup membuat hatinya merasa senang.
Beliau tahu betul apa yang dilakukan Bapak putih selama ini hanyalah praktek perdukunan meskipun dalam melakukan aksinya tidak berpakaian layaknya para dukun pada umumnya, berbaju hitam-hitam dengan ciri khasnya berkalung tengkorak serta membakar kemenyan.
Andai Ridwan Dany tahu bahwa Bapak putih juga melakukan tindakan mesum dalam melancarkan aksinya. Niscaya ia akan mengusirnya dari tempat itu.
Selepas adzan dzuhur berkumandang, Bapak putih segera masuk ke dalam rumah karena khawatir diajak oleh para tetangganya yang masih menuju masjid. Menunggu 20 menit di dalam rumah sambil mengamati dari celah tirai jendela. Memastikan situasi sudah sepi dari lalu lalang para jemaah. Barulah ia keluar dari rumah setelah yakin tidak akan berpapasan dengan tetangga.
Melalui tiga tikungan jalan pandangan Bapak putih tertuju pada pangkalan ojek yang terlihat sepi.
“Ceng, sepi muatan ?” tanya Bapak putih.
“Muhun Pak, meuni sepi pisan. Pami sanes ku kapaksa mah matak hoream ngojeg na ge. (Iya Pak, sepi sekali. Kalau bukan karena terpaksa, bikin males ngojeknya juga)”
“Hmm gitu.”
Bapak putih lantas duduk di atas tembok setinggi satu meter berlapis keramik yang biasa dipakai untuk bersantai para tukang ojek.
Tahu Bapak putih coba menemaninya untuk menunggu muatan atau penumpang. Nceng begitu biasa ia dipanggil, kemudian menyalakan televisi yang dipasang di pangkalan ojek tersebut. Meski televisinya cukup kecil tapi cukuplah sebagai hiburan bagi para tukang ojek.
“Dah gini aja Ceng, daripada situ diem di sini, bosen nunggu penumpang, mending ikut saya yuk,” ujar Bapak putih sambil selonjoran.
“Kemana ?” Nceng menoleh berhenti dari menatap layar televisi.
“Ziarah kubur,” jawab Bapak putih mengelabui Nceng dari esensi tujuannya ke makam keramat. Para dukun memang seringkali menyamarkan tujuannya untuk mengkultuskan penghuni kubur atau meminta-minta pada penghuni kubur dengan dalih ziarah kubur.
Itu karena ziarah kubur memang diperbolehkan sebagai pengingat kematian justru yang sangat dilarang adalah mengkultuskan, melakukan ritual-ritual tertentu yang dicontohkan Nabi dan meminta-minta pada penghuni kubur.
“Hmm...” Nceng tampak berpikir, baginya apa untungnya jika ikut dengan Bapak putih. Tentu setiap apa yang ia lakukan harus menghasilkan uang. Jika tidak, ia tidak bisa menafkahi keluarga kecilnya. “Aya duitan teu Pak ? Kalo gak, mending saya di sini cari duit. (Menghasilkan uang gak Pak ? Kalo gak, mending saya di sini cari duit.”
“Ya adalah...konon katanya itu makam keramat, banyak yang pengen punya kerja datang ke sana, yang pengen usahanya laris datang ke sana,” hasut Bapak putih. “Belum lagi pasti saya kasih uanglah buat ganti penghasilan kamu hari ini. 80 ribu cukuplah yah buat keluarga di rumah daripada ngojek, paling dapet berapa, ada 60 ribu sehari ?”
“Ada sih, tapi sekarang-sekarang mah jadi sepi, dapet 60 tuh udah Alhamdulillah, sekarang mah paling 45. Coba cukup buat apa duit 45 ribu, huft,” keluh Nceng.
“Jadi, mau ikut gak ?”
“Hmm.”
“Amm..mm amm mm, banyak mikir ah!”
“Oke kalo gitu Pak, saya ikut,” jawab Nceng setelah digebrak oleh Bapak putih. “Kapan kita berangkat ?”
“Nanti sore.”
Bapak putih lalu berdiri dan meninggalkan Nceng sendirian di pangkalan ojek, tujuannya sudah berhasil. Kini ia mengincar dua orang lagi untuk ia ajak ke makam di antara dua gunung.
“Ceng, kalo gitu saya ke Supri dulu oke, siapa tau dia juga mau saya ajak ke makam keramat,” terangnya.
“Oke.” Nceng membuat lingkaran kecil dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.
Bapak putih kembali melenggang di atas aspal hitam yang sudah terdapat beberapa lubang karena sering disiram oleh penduduk setempat saat panas terik. Ia mencari mangsa sekurang-kurangnya dua orang lagi.
Sampai di ujung jalan terdapat sebuah lahan subur dengan banyak ditanami pohon singkong, di sudutnya ada sebuah saung. Di saung tersebutlah seorang pria gemuk yang bekerja sebagai petugas sampah komplek sedang beristirahat.
__ADS_1
“Rud, mau kemana ?” tanya Supri duduk di dalam saung.
“Mau ke sini lah.” Bapak putih lalu berjalan di jalan setapak untuk sampai ke saung yang posisinya memang di sudut. Jika malam hari, itu saung akan sedikit lebih horor karena tidak terdapat lampu penerangan.
“Ada apa Rud ? Tumben.” Supri melepas sepatu boot serta sarung tangannya.
“Gini, langsung aja. Situ mau gak ikut sama saya ke makam keramat ?”
“Wiih makam keramat, boleh juga.” Respon Supri tampaknya berbeda dengan Nceng, ia orang yang suka dengan hal-hal tahayul, perdukunan dan jauh dari agama. Ia bahkan pernah mencuri barang-barang milik warga saat ia bekerja mengambil kantung-kantung sampah. “Nya daek atuh, hayu Jeung dewek mah. (Ya mau lah, ayo dengan saya mah) Makam siapa ? Para sunan, presiden atau tokoh agama ?”
“Good, kalo gitu nanti sore kita berangkat. Bukan para sunan atau tokoh agama, ini makan konon makam dari salah satu satria sunda jaman kerajaan galuh.” Bapak putih hendak berjalan kembali. Baru dua langkah berjalan ia berhenti dan menoleh. “Kalo si Dudung ada gak ya jam segini ?”
“Oh emang berapa orang yang ikut Rud ?”
“Empat orang Pri,” jawabnya. “Rencana situ, si Nceng, si Dudung dan sodara saya.”
“Oh...kirain cuma saya doang.” Supri mengangguk. “Kalo Si Dudung mah jam segini lagi kerja Rud, paling sore adanya.”
“Sore, ya ? Hmm...” Bapak putih memegang dagunya. “Kalo sore...waduh...bakalan gak mau dia kayaknya. Capek pulang kerja langsung diajak pergi mah.”
“Si Jacky aja Rud,” usul Supri.
“Jacky tukang sablon itu ?”
“Iya, nanti biar saya aja yang ajak dia.” Supri lalu merebahkan tubuhnya di atas tikar di dalam saung. “Situ pulang aja, pokoknya beres.”
“Oke, nanti sore jangan lupa.”
“Iya.”
Rudy Karsa atau Bapak putih pun lalu pulang setelah diyakinkan Supri bahwa orang ketiga pasti ikut ke makam keramat di antara dua gunung.
Panas terik di siang itu nyatanya tak berlangsung lama. Dua jam setelah itu sebelum memasuki waktu ashar, langit tiba-tiba mendung. Perubahan cuaca secara drastis cukup membuat heran warga sekitar, hujan turun saat gumpalan awan hitam tepat menggelayut di langit kota Bandung.
Deras.
Hujan turun sangat deras, Bapak putih masih di luar rumah mengisi kekosongan waktu dengan berbincang dengan tukang servis jam di pinggiran toko.
“Mending ente berhenti Rud dari praktek pengobatan,” ujar Mang Oleh. Kawan lama Rudi Karsa sejak masih bekerja sebagai buruh pabrik. Semenjak keduanya dikeluarkan oleh perusahaan karena mabuk saat bekerja, Mang Oleh buka usaha servis jam sedangkan Rudi malah jadi dukun mesum.
“Kalau saya berhenti, nanti anak istri saya kasih makan apa Leh ?” keluh Bapak putih. “Ada ada aja situ mah."
“Ya cari usaha lain kek, dunia ini luas Rud, masa ente masih diem...aja di titik itu,” balas Mang Oleh. “Setidaknya ente cari usaha yang halal. Jangan jadi dukun, dosa gede loh.”
Tanpa menoleh, Mang Oleh masih saja sibuk memperbaiki jam pelanggan. Obeng kecil dan kacamata pembesar ia gunakan saat bekerja.
“Halah, emangnya gampang bikin usaha, susah Leh.”
Sambil terus menghisap rokok Bapak putih enggan menerima masukan Mang Oleh, sahabatnya. Satu kaki ia simpan di dengkulnya setengah bersandar sambil memandangi lalu lalang kendaraan dijalan raya, sesekali memandangi bolong-bolong wanita zaman modern yang memakai celana ketat sehingga menimbulkan kesan sexy, jika tak ada bokong wanita yang bisa ia lihat, ia hanya memandangi butiran hujan yang turun sangat deras. Menikmati kopi dan rokok menjadi kesukaan Rudi Karsa saat turun hujan.
“Susah karena ente belum coba !” tegas Mang Oleh. “Bukan apa-apa, gimana kalo umur ente gak lama lagi ? Ente belum sempet tobat, bisa berabe di akhirat Rud. Ente gak takut ?”
“Ah itu mah gimana nanti aja Leh, yang kita pikirin saat ini, bukan nanti. Yang penting sekarang dapet uang, bisa makan, bisa ngopi dan sedia rokok. Besok mah gimana nanti. Simple Leh, simple. Hidup mah dibawa simple sajah...”
Bapak putih benar-benar susah menerima nasehat hatinya sudah gelap karena terlalu lama berkubang di lumpur kemaksiatan yang semakin lama semakin dalam.
“Huft, susah emang ngomong ma ente.”
Mang Oleh geleng-geleng kepala.
“Mau rokok ?” sodor Rudi Karsa.
“Ogah.”
Mang Oleh terus melanjutkan pekerjaannya sementara Rudi Karsa duduk-duduk santai di sampingnya. Menunggu hujan reda yang tidak akan reda dalam waktu dekat.
Ratusan kali semburan asap putih keluar dari mulutnya, nyatanya tak membuat Bapak putih merasa kenyang. Batang demi batang ia ambil dari dalam kotak kecil, sudah merugikan manusia dengan perbuatan kotornya sebagai dukun ia pun mengganggu manusia dengan asap rokok yang ia hasilkan.
Spontan saja para pelanggan Mang Oleh tidak mau berlama-lama menunggu karena di sampingnya Rudi Karsa terus saja merokok, dasar si muka tebal !
“Rud, kalo ente terus di sini sambil ngerokok, bisa-bisa jadi sepi,” tegur Mang Oleh.
“Ngusir ?” Bapak putih menoleh sinis.
Kali ini Mang Oleh benar-benar tak bisa bertoleransi. Sorot matanya memancarkan kekecewaan dan rasa benci yang cukup beralasan. Bapak putih bisa menangkap itu, demi menjaga persahabatan akhirnya ia mengangkat bokong dari kursi kayu yang ia duduki sedari tadi, pulang. Ia beranjak pulang.
"Pulang, dulu Leh,” ujarnya tanpa menatap mata Mang Oleh.
“Mm.”
Sepanjang emperan toko ia lirik kanan dan kiri melihat-lihat barang yang di jajakan pedagang. Ada kiranya lima belas langkah ia berjalan, tepat saat ia berbelok menuju jalan gang yang tidak begitu ramai dilalui oleh orang-orang. Satu telapak tangan mendarat di pundaknya dalam waktu sangat singkat.
Satu teknik penggempur sukma mengenai Bapak putih begitu telapak seorang pria yang mengikutinya dari belakang mengenai pundaknya, seketika dirinya hilang kesadaran.
Sebuah teknik seperti hipnotis namun dengan efek yang lebih kuat yakni apabila korbannya terkena teknik tersebut, ia tidak akan bisa sadar diri meski di sentuh oleh orang lain dengan keras. Ia baru akan sadar dua jam setelah kejadian.
“Ikuti aku,” ujar pria tersebut yang ternyata adalah Raduma. Ia sudah mengincar Rudi Karsa dari kejauhan, menanti saat yang tepat untuk melancarkan jurus atau teknik yang berbahaya hasil kreativitasnya.
Raduma cukup berani dengan melakukan pembunuhan secara langsung tanpa harus melakukan impleng atau hanya dengan meraga sukma.
Rudi Karsa atau Bapak putih pun mengikutinya tanpa menunjukkan kejanggalan ekspresi, tanpa memejamkan mata ia berjalan layaknya orang yang normal. Hingga keduanya jalan berdampingan di jalan yang sepi. Rumah-rumah di sampingnya pun bukan rumah-rumah yang memiliki cctv.
“Kuperintahkan kau kembali ke jalan raya yang penuh dengan laju kendaraan. Tabrakan dirimu hingga tewas,” bisik Raduma tanpa menoleh.
“Ya...” jawab Bapak putih.
Maka ia pun membalikkan badannya dan berjalan kembali menuju jalan raya tadi untuk melaksanakan satu perintah, bunuh diri.
Langkah demi langkah Bapak putih berjalan, ia semakin dekat dengan ajal yang siap menjemputnya. Hujan sudah sedikit berkurang dan hanya menyisakan gerimis yang mengundang duka.
BRUKK ! TIDID...!
Suara klakson otomatis berbunyi begitu tubuh Rudi Karsa ditabrak truk berisi pasir, mobil-mobil berhenti demi menghindari tabrakan beruntun, para pengguna motor menepi dan semua mata tertuju pada jasad Rudi Karsa yang terpental hingga ke bahu jalan. Suara teriak bersahutan, histeris dari para penjual makanan yang umumnya seorang wanita, refleks menutup mata-mata mereka dari melihat kondisi Rudi Karsa yang mengenaskan.
Misi telah terlaksanakan.
Bapak putih tewas tanpa sempat melaksanakan hajatnya untuk mendatangi makam di antara dua gunung, serangan Raduma telah mencegatnya dari tindakan musyrik yang akan dia lakukan.
Raduma duduk di atas bangku tepat di sebuah kios yang tampaknya sedang tutup, temboknya penuh coretan dari anak-anak nakal yang sering keluyuran tengah malam.
Raduma kembali terdiam saat misi ketiganya sukses dilaksanakan. Menepi dari hujan yang tanpa permisi kembali menaikan intensitasnya.
Namun kini dengan disertai petir, apakah langit marah dengan tindakan Raduma ? Atau justru langit bergembira dengan matinya salah satu manusia yang merusak di muka bumi ?
“Aku tak akan berhenti,” gumam Raduma. “Sampai kucabut semua akarnya hingga tanah itu bersih dari tanaman pengganggu.”
Mang Oleh berhenti dari memeriksa jam tangan. Sontak ia memburu seseorang yang sudah dikerumuni banyak insan manusia. Sedari tadi memang firasatnya sudah tidak enak tentang Rudi Karsa, ketika melihat wajahnya seakan-akan ia tidak melihat sedikit pun cahaya yang memancar dari wajahnya alias wajah padam dan pucat.
Polisi lalu lintas yang sedang mengatur arus kendaraan pun terpaksa harus bekerja ekstra untuk mengatur lalu lintas kendaraan yang semakin macet.
“Pak maaf jangan terlalu dekat,” cegah polisi pada Mang Oleh yang berhasil menyelinap dan berdiri paling depan hendak mendekati jasad sahabatnya.
“Itu teman saya Pak polisi...” ujar Mang Oleh haru. "Karunya teuing...anjeun Rudi Karsa. Nyatanya maut lebih dulu menjemput nyawamu. Mudah-mudahan engkau sempat bertaubat. Jika tidak, semoga Allah mengampunimu." Batin Mang Oleh.
“Iya tapi kondisi tubuhnya sudah mengenaskan, biar nanti langsung dibawa oleh petugas ambulance saja. Jangan ada yang nyentuh.”
Kondisi tubuh Rudi Karsa pasca tertabrak truk memang tidak layak dilihat, untuk dijelaskan dengan rangkaian kata-kata pun rasanya masih juga tidak layak.
“Kayaknya dia bunuh diri.” Salah seorang di antara kerumunan warga berkomentar. Disambut anggukan tak pasti yang masih menyisakan tanya di relung hati, bukankah orang ini tadi tampak begitu relaks ? Tak ada tampak raut muka penuh beban dan masalah, mengapa bisa bunuh diri ? Mungkin hanya kebetulan saja tertabrak, itulah pikiran yang melintas di benak para pedagang yang sempat dilewati Bapak putih.
Sementara hujan masih saja deras, derasnya air membasuh darah Bapak putih yang berceceran di jalan raya. Tidak lama mobil ambulance datang lalu dengan sigap petugas memindahkan jasad Bapak putih ke dalam mobil dan warga pun membubarkan diri.
Raduma pulang tanpa diketahui sedikit pun perbuatannya oleh ratusan retina yang ada disekitar tempat kejadian perkara saat itu. Lolos dari mata kamera, hanya Tuhan yang tahu perbuatannya.
*****
Sinar di wajah Lya Rustika masih tampak meredup, kesedihan di hatinya belum bisa terobati oleh puluhan kata penghibur diri dari kerabat dekat, tetangga bahkan dua anaknya sendiri. Kematian Tobias tidak pernah diinginkan olehnya, kalau boleh memilih, lebih baik dia sendiri saja yang mati lebih dulu. Umurnya sudah tua, penuh dosa lagipula anak-anaknya sudah tumbuh dewasa, bisa menjaga dirinya masing-masing, pikirnya.
Tapi takdir tidak bisa dipungkiri, ketetapan Tuhan tidak bisa diintrupsi. Pahit memang, laksana kopi hitam tanpa gula.
“Udah dong Bu, jangan melamun terus...” pinta Toni menekuk kedua lututnya.
__ADS_1
“Terus Ibu harus bagaimana ?” lirih Lya masih dengan ekspresi wajah datar. “Apa Ibu harus tersenyum atau tertawa terbahak-bahak saat wanita tua beranak tiga ini tahu salah satu anak kesayangan mati ?”
Toni tertunduk, ia tahu memang percuma untuk meminta Ibu agar tidak bersedih hati. Tapi setidaknya, ia ikhtiar dahulu berjaga-jaga agar Ibunya tidak terbawa yang tidak-tidak. Khawatir jika rasa sedih yang terus diingat dan dipelihara puncaknya malah ingin bunuh diri, itulah ditakutkan Toni.
Ia bahkan tidak tidur semalaman untuk menemani Ibunya sekaligus mengawasi karena orang yang dalam keadaan kacau tidak bisa berpikir jernih, bukan tidak mungkin melakukan hal-hal yang melampaui batas.
“Ssst.” Robby memberi isyarat dengan melambaikan tangan di belakang kursi yang diduduki Lya Rustika.
Melihat adiknya memberi isyarat, Toni langsung mengerti bahwa Robby ingin berbicara dengannya diluar rumah.
“Bu, Ibu boleh melamun, ibu juga boleh bersedih hati, itu normal sebagai manusia. Karena memang Tuhan tidak akan menyiksa hambanya karena air mata tapi lisan mereka,” ujar Toni satu telapak tangannya ia letakkan di lutut Ibunya. “Tapi Toni mohon...Toni mohon, ibu makan, Toni dan Robby Cuma minta itu. Ibu sayang kan sama Toni dan Robby ?”
Mendengar itu Lya akhirnya melihat wajah Toni perlahan namun dan berkata,
“Ibu lebih sayang kalian daripada dunia dan seisinya.”
“Toni tau itu.”
Keduanya saling menatap saling menyambung hati dan menguatkan hubungan batin Ibu dan anak di antara keduanya.
“Jadi Ibu makan, ya,” kata Toni memastikan.
Anggukan lembut Lya Rustika sudah cukup bagi Toni untuk menenangkan hatinya. Ia mulai berdiri dan melangkah mengikuti langkah kaki adiknya yang berjalan lebih dulu.
Keduanya duduk di kursi halaman rumah, Robby meletakkan smartphone di atas meja yang memisahkan kursi keduanya.
“Kak, apa rencana Kaka setelah ini,” tanya Robby sambil menatap awan di langit yang bergerak lambat. Bandung timur ternyata sudah tampak matahari sore itu, meski tidak lama lagi akan tenggelam di ufuk barat, berganti tugas dengan sang bulan.
“Kayaknya emang harus ada yang tinggal di sini buat temenin Ibu,” jawabnya dengan jari telunjuk dan jari tengah menempel di dagunya. “Kalo gak Kakak, ya kamu Rob, Kakak sih bisa aja ajak Shinta tinggal di sini. Terserah mau siapa yang tinggal di sini ?”
Toni melihat wajah adiknya lekat-lekat, menanti jawaban Robby, apakah ia akan tinggal di sini beserta istrinya atau akhirnya dia yang harus tinggal di rumah ibunya sendiri, di Bandung timur.
“Hmm...kalo gitu biar Robby aja Kak yang tinggal di sini, lagian Kakak kan gak bisa tinggalin kerja di Jakarta, pasti repot nanti. Kalo Robby kan bisa minta untuk dimutasi ke Bandung dari perusahaan.” Robby menghembuskan napas. “Masalah Carla, biar nanti dibicarain.”
Meski tahu istrinya yang bernama Carla kurang suka tinggal satu atap dengan mertua, Robby tetap memutuskan untuk tinggal di rumah Ibunya dan berusaha untuk memaksa istrinya agar mau tinggal bersama.
“Ya udah berarti fix ya, nanti besok kamu atur-atur aja supaya senin udah tinggal di sini.”
“Iya Kak.”
Beberapa burung pipit tampak turun di pelataran rumah Lya Rustika, memunguti sesuatu lalu terbang kembali. Tak lama datang lagi dan memunguti sesuatu, tingkahnya membuat kedua pria muda itu tersenyum.
Jarang-jarang burung pipit masih bertebaran di luar sangkar, seharusnya mereka sudah kembali ke sangkarnya masing-masing.
Lima menit Robby dan Toni terdiam tanpa bercakap-cakap. Sampai akhirnya satu tangannya kembali mengambil smartphone di atas meja. Benda pipih itu kembali ia sentuh dengan ujung jari, hanya untuk melihat media sosial.
Ibu jarinya naik turun melihat-lihat postingan temannya dan beberapa berita ter-update.
Telah terjadi kecelakaan di wilayah Bandung selatan, sebuah truk dengan kecepatan tinggi menabrak seorang pria tua. Korban tewas mengenaskan di tempat, kecelakaan ini sempat membuat arus kendaraan macet parah, terlebih ini musim penghujan. Beberapa wilayah di Bandung selatan sering tertimpa banjir. Berdasarkan penuturan warga setempat, pria yang bernama Rudi Karsa tersebut seperti sengaja menabrakkan dirinya pada sebuah truk yang melintas. Namun saat dikonfirmasi pada keluarga korban, korban diketahui tidak sedang mengalami stress berlebihan atau masalah pelik.
Caption yang tertulis di salah satu foto jasad Bapak putih yang di upload oleh akun salah satu radio milik pemerintah.
“Astagfirullah...” Robby menutup matanya sesaat, tidak kuasa untuk melihat kondisi tubuh pria dalam foto yang sudah tidak enak dipandang.
“Kenapa Robb ?” Toni menoleh.
“Ini Kak, ada orang yang tertabrak truk. Tapi katanya sih kayak sengaja menabrakkan diri.”
"Oh...bunuh diri gitu ?” tanya Toni. “Kasian... dimana itu ?”
“Wallahu a' lam, di Bandung selatan.”
“Mungkin depresi sehingga membuatnya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri.”
Spekulasi Toni sambil membetulkan posisi duduk. “Makanya Kakak khawatir, harus ada yang ngawasi Ibu. Ajak ngobrol Ibu, jangan sampe banyak melamun, nanti kalo depresi gimana coba ? Takut kayak gitu, nauzubillah."
“Iya Kak, betul.” Setuju Robby. “Kalo gitu Robby mau siap-siap berangkat ke Bekasi nanti malam.”
“Mm.”
Sementara pagi hari tadi,
Siska menjerit saat membuka pintu kamar ayahnya karena berulang kali ia panggil tidak ada balasan. Padahal biasanya subuh hari ayahnya itu sudah mandi, bersiap untuk berangkat kerja.
“Ya Tuhan...Papah...” jerit Siska dua telapak tangannya refleks menutup mulutnya. Kaki seketika lemas, jantung berdebar dan sempoyongan, lalu duduk di lantai karena saking lemasnya. Dua detik berikutnya pingsan.
“Ada apa Sis ?” tanya Vania menghampiri adiknya secara terburu-buru. Ia lihat dari jarak 5 meter adiknya sudah tergeletak di depan pintu kamar ayahnya yang sudah terbuka. Vania belum mengetahui bahwa ayahnya sudah tewas bersimbah darah.
“Astaghfirullah...Siska.” Vania mengguncang tubuh Siska dan saat wajah menoleh ke dalam kamar. “Papah...”
Mulutnya seketika bergetar, air matanya tiba-tiba keluar. Ia bingung harus bagaimana, satu adiknya tergeletak tak sadarkan diri sementara ayahnya sudah tewas dengan kedua tangan bersimbah darah.
“Tolong... tolong...!” teriak Vania sekeras mungkin. Ruang rumahnya yang tidak banyak ditaruh perabotan membuat teriakan Vania menjadi terdengar lebih keras karena menggema.
Tidak sampai dua menit, salah satu tetangganya datang menghampiri padahal baru saja mau berangkat kerja.
“Ya ampun, Vania kenapa ini ?” tanya Kartika setelah berlari dari pintu masuk, seorang janda yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil. “Inna lillahi wa Inna ilaihi raji’un...” Kartika terkejut saat dua retinanya melihat Pria paruh baya yang 11 tahun telah menjadi tetangganya, tewas dengan sebab belum diketahui.
Vania segera meraih smartphone di saku celananya, mencari nomor kontak Pak RT. Karena situasinya yang begitu mengagetkan ditambah Vania yang menangis histeris. Tubuh dan tangan Kartika cukup gemetaran, itu terlihat ketika ia memegang smartphone.
“Hallo Pak RT ? Tolong cepet ke sini. Pak Raga tewas bersimbah darah di kamarnya,” ujarnya dengan bibir bergetar.
“Inna lillahi wa Inna ilaihi raji’un, iya ya Bu Kartika saya ke sana,” jawab Pak RT tak kalah kaget, baru kali ini di lingkungannya ditemukan mayat bersimbah darah.
Suara motor produksi Jepang mulai terdengar memasuki pelataran rumah Raga. Bapak RT mencabut kunci sepeda motor, diikuti oleh para tetangganya yang lain termasuk Hansip perumahan.
Rumah Raga mulai ramai dengan kehadiran orang-orang yang penasaran dengan apa yang terjadi di dalam.
“Bu Kartika ini gimana ceritanya ?”
Pertanyaan yang sudah pasti dilontarkan pertama kali oleh Bapak RT setempat.
“Gak tahu Pak, saya juga kaget. Tiba-tiba Vania berteriak keras, awalnya saya denger Siska yang teriak, terus disusul Vania. Pas saya dateng ke sini. Siska udah pingsan kayaknya sementara Pak Raga udah tewas, seperti yang Pak RT liat,” ungkap Kartika.
“Penyebabnya apa ?”
Kartika menggelengkan kepala tanda tidak tahu sementara Vania masih terlihat syok. Tubuh Siska dibawa ke sofa yang berada di ruang tengah oleh para tetangga.
“Ya udah, sekarang kita lapor polisi dulu aja.” Sigap Pak RT. “Bu Kartika tolong bawa dulu Vania ke rumah. Kalo di sini pasti akan syok terus.”
“Iya Pak.”
Kartika langsung merangkul Vania yang bersandar lemas di dinding. Mengajak Vania untuk ke rumahnya, meski awalnya sudah karena meracau, meronta-ronta dan pikirannya belum stabil. Namun akhirnya berhasil dibujuk juga.
“Udah yang sabar...yang sabar.” Peluk Kartika diperjalanan menuju rumahnya yang tepat di samping rumah Raga. Vania tidak membalas bahkan mungkin tidak mendengar nasehat Kartika karena konsentrasinya hanya tertuju pada apa yang terjadi dengan ayahnya.
Tidak lama, mungkin 15 menit kemudian datang para penyidik kepolisian beserta ambulance untuk membawa jenazah Raga.
Garis polisi dibentangkan di lokasi, semua sudut kamar diperiksa, kalimat yang ditulis Raduma pun di foto. Wartawan dan reporter salah satu stasiun televisi ikut meliput kasus ditemukannya jasad Raga yang berlumuran darah, berita kematiannya cepat menyebar ke masyarakat karena sebelum polisi datang warga sudah ramai berdatangan dan meng-upload TKP, termasuk kalimat yang tertera di dinding dengan darah Raga. Yang tentu saja menarik perhatian banyak orang, sekaligus menjadi perbincangan di media sosial.
“Hallo Megan, hallo anda bisa dengar suara saya ?” ujar Chany presenter berita wajahnya masih serius menatap kamera yang menyala, menyiarkan secara langsung laporan berita.
“Ya Chany,” jawab Megan satu tangannya memegang mikrofon dengan logo milik stasiun televisi.
“Bagaimana tanggapan kepolisian tentang ditemukannya jenazah seorang pria di dalam kamar itu ?” tanya Chany. “Apa sebenarnya penyebab kematiannya ?”
“Ya Chany, sejauh ini kami belum mendapatkan penjelasan resmi dari pihak kepolisian. Karena kepolisian sendiri baru menyelidiki kasus ini, namun berdasarkan penuturan warga yang sempat kami mintai keterangan, bahwa kemungkinan ini adalah kasus pembunuhan. Spekulasi tersebut diperkuat dengan adanya luka di kedua tangan korban termasuk leher, begitu Chany.”
“Baik, singkat saja yang terakhir, sudah bisa mendapatkan penjelasan belum maksud dari tulisan yang tertera di dinding kamar korban, Megan ?”
“Sejauh ini Chany, lagi-lagi kami belum bisa mendapatkan informasi lebih lanjut tentang maksud atau makna dari pesan yang tertulis di dinding kamar korban karena pihak kepolisian pun masih enggan berkomentar, cenderung untuk menutup rapat-rapat dulu begitu. Namun karena berita tentang pesan yang ditulis kemungkinan besar oleh pelaku ini sudah viral di media sosial. Kepolisian tampak berhati-hati agar tidak terburu-buru membuat statement. Begitu Chany, dari Megan Kusumaningrum, Bandung utara melaporkan.”
"Ya, terimakasih Megan," balas presenter. "Pemirsa, sekian breaking news TVnine, nantikan kabar selanjutnya dan sampai jumpa."
Breaking news usai dan berganti iklan-iklan dari produk makan cepat saji.
Raduma yang saat pagi hari menjelang siang itu masih di rumah sempat menonton laporan langsung reporter televisi tersebut. Tidak banyak berkomentar hanya menyimak saja sambil menyantap bubur ayam yang ia beli di pertigaan jalan komplek.
“Biarlah dunia tahu, bahwa dukun memang harus dibinasakan,” katanya lantas ia melanjutkan kembali makannya.
Raduma, boleh jadi inilah satu-satunya kesalahan yang ia buat dalam melaksanakan misi balas dendamnya. Tak pernah terpikir olehnya bahwa keputusan untuk membuat pesan terbuka tersebut justru akan mengundang para serigala yang haus akan pertarungan.
__ADS_1
Bantu penulis dengan memberikan komentar dan vote/tip ya.