PERANG METAFISIK

PERANG METAFISIK
Rencana - untuk sebuah kemenangan butuh persiapan.


__ADS_3

Rencana - untuk sebuah kemenangan butuh persiapan.


Selepas makan bersama di penghujung sore tadi, Raduma, Kaganga dan Hamim banyak berbincang tentang hal-hal ringan. Seperti darimana Kaganga bisa mempunyai finansial yang begitu kuat, sejarah rumah yang kini ia tempati sampai mengobrol tentang biaya yang harus digelontorkan untuk merawat hewan-hewan yang sebenarnya tidak bisa dipelihara sembarang orang dan harus melewati prosedur ketat yang berlaku di negara ini.


Ketiganya berkumpul di bangku taman yang diterangi lampu-lampu antik, mungkin dipesan dari luar negeri. Sesekali Hamim keluar masuk rumah untuk menyiapkan daging kalkun yang hendak dipanggang nanti pukul sepuluh malam.


“Mim, ada kopi ?” tanya Raduma.


Sudah lama ia tidak mengkonsumsi kopi semenjak menderita penyakit maag padahal dari remaja hingga ia lulus sekolah menengah atas, Raduma adalah seorang pria penggila kopi. Saat teman-teman di sekolahnya menyandingkan kopi dengan rokok, Raduma lebih memilih menyandingkan kopi dengan singkong kukus. Agak kurang keren tapi itulah Raduma, punya karakter sendiri dan bukan orang yang bisa didikte oleh orang lain meski teman-temannya mengejeknya.


“Ada, kalau mau bisa ambil di ruangan sebelah dapur, atau nanti biar kubuatkan saja. Khawatir tidak bisa pakai mesin kopi,” kata Hamim.


“Gak usah, V60 juga punya, kan ?”


“Oh suka pakai V60 ?”


“Iya, bisanya cuma itu, yang lain gak sanggup beli.”


“Hmm ya ya.” Hamim tersenyum, mengerti bahwa memang harga mesin kopi sangat mahal untuk ukuran seorang Raduma yang miskin dan berpenghasilan pas-pasan. “Kalau gitu langsung saja ke ruangan sebelah dapur. Ada di lemari yang menghadap ke barat. Oh iya kopinya apa ? Robusta atau arabika ?”


“Arabika, emang kenapa gitu ?”


“Gak, kalau robusta aku lupa kayaknya sudah habis, untungnya suka arabika, kopinya ada di paling atas lemari.”


“Oke terimakasih.”


Raduma berjalan memasuki rumah, melewati beberapa kamar lalu belok ke arah selatan menuju dapur yang luas lagi bersih dan sangat modern. Berbeda jauh dengan dapur di rumahnya yang berantakan, kompor cuma satu yang menyala. Di tambah lagi hanya diterangi lampu kuning yang temaram menambah kesan membosankan dan tentu saja menyeramkan.


Sampai di dapur ia kemudian melihat kamar di sebelahnya. Dari pintu yang sedikit terbuka, sudah bisa dipastikan kamar tersebut ruangan khusus untuk membuat kopi. Ada dua kursi dari kayu dengan banyak ukiran Jepara, interiornya dibuat gaya klasik. Beberapa mesin kopi terlihat mewah, aroma kopi masih tercium dari gelas yang menyisakan sedikit kopi, sepertinya itu bekas Hamim.


Beberapa saat Raduma mengedarkan pandangannya ke beberapa arah terutama pada lemari yang ada di empat penjuru. Semuanya tinggi dan besar, hampir menyentuh langit-langit rumah. Sesuai perkataan Hamim, ia langsung mendekat ke arah lemari yang menghadap ke arah barat. Dibukanya lemari berwarna cokelat itu, alat seduh kopi terlihat masih terbungkus rapih.


“Kayaknya jarang digunakan.” Batin Raduma. “Mubazir, kalau nganggur begini, lebih baik berikan saja padaku.”


Dua detik berikutnya, matanya melirik ke laci lemari paling atas, kopi arabika sudah menunggu untuk diambil. Tidak sampai lima menit, kopi sudah jadi. Meski agak-agak lupa karena sudah terlalu lama Raduma tidak pakai V6 tapi akhirnya jadi juga dengan waktu 2 menit 19 detik.


Raduma kembali lagi ke luar rumah dengan membawa secangkir kopi di tangan kanannya sementara Kaganga ia terlihat serius melihat layar smartphone, entah apa yang ia lakukan. Sedangkan Hamim sudah hampir selesai menyiapkan bumbu dan daging kalkun di atas alat panggang.


“Bisa ?” Hamim menoleh.


“Bisalah," jawab Raduma tersenyum.


“Syukurlah.”


Daging kalkun sudah Hamim lumuri dengan bumbu yang kaya akan rempah-rempah. Raduma sendiri tidak yakin daging sebesar itu akan habis oleh tubuh tiga orang saja. Selesai menaruh daging di atas panggangan, kini tangan Hamim cekatan meraih bawang-bawang, terasi, cabai dan sebagainya untuk dijadikan sambal.


“Kenapa gak beli saja yang sudah jadi sambalnya ?” tanya Raduma.


“Kita biasa bikin sendiri, rasanya berbeda saja.”


“Rumah sebesar ini harusnya tidak cuma dua orang saja.” Saran Raduma sambil meminum sedikit demi sedikit segelas kopi. “Ngomong-ngomong kau sedang apa paman ? Dari tadi matamu tak lepas dari layar smartphone.”


“Ah tidak, ini hanya urusan bisnis,” jawab Kaganga lalu memindahkan arah pembicaraan. “Sejujurnya aku juga ingin rumah ini ramai tapi apa boleh buat, jalan hidupku sudah seperti ini. Aku juga berharap kau mau tinggal di sini dan melupakan ambisimu untuk membunuh para dukun. Hamim juga sudah kusarankan untuk menikah tahun depan, aku tidak mau ia terus hidup dalam kesendirian seperti ku.”


“Oh ya ? Itu bagus.” Raduma menoleh pada Hamim yang sedang memanggang daging kalkun.


“Tapi aku akan tetap memperhatikan dan membantu segala keperluanmu Ayah.” Hamim menyela.


“Terserah kau saja.” Kaganga tidak bisa melarang Hamim untuk tetap berbakti padanya.


“Siapa yang tidak ingin tinggal di rumah sebesar ini paman tapi aku minta maaf, karena rasanya berat meninggalkan Bandung dan rumah sederhana itu. Ada banyak kenangan yang menjadi nutrisi bagi jiwaku yang terasa sepi.”


“Aku mengerti Raduma, kau pasti akan menjawab demikian. Itu sebabnya aku berencana untuk mewariskan semua kekayaan ku pada kalian berdua.”

__ADS_1


Raduma dan Hamim terkejut mendengar itu. Jangankan Raduma, Hamim pun ikut terkejut dan memindahkan pandangan dari daging kalkun karena sebelumnya tidak pernah mendengar kaganga membicarakan soal warisan.


“Jangan Ayah, aku tidak perlu mendapat warisan. Aku hanya anak yang kau pungut puluhan tahun yang lalu, kau beri aku tempat bernaung saja aku sudah sangat bersyukur.” Cepat-cepat Hamim menolak dengan suara sedih. Bukan untuk dikasihani tapi memang ia terharu dengan kebaikan Kaganga yang mengangkatnya sebagai anak, mengambilnya dari jalanan. “Kurasa Raduma lebih berhak untuk itu, aku sangat mendukung jika Raduma yang mewarisi semua yang kau miliki karena ia memiliki ikatan keluarga asli.”


“Tidak Hamim, jangan bicara seperti itu, meski aku memiliki ikatan keluarga dengan paman tapi aku hanya orang yang baru saja datang. Selama ini kau lah yang telah berjasa membantu segala keperluan paman Kaganga. Aku merasa malu jika aku mendapatkannya,” ujar Raduma.


Mendengar kedua pemuda di hadapannya saling menolak rencana pembagian warisan olehnya. Kaganga hanya tersenyum teduh.


“Untuk yang satu ini, aku tidak meminta persetujuan kalian berdua. Anggap saja ini perintah. Kalian tidak boleh menolaknya.” Tegasnya.


“Tapi—“ keluh Raduma dan Hamim bersamaan.


“Sudah, jangan tapi-tapi.”


“Untuk kau Raduma, kau bisa tetap tinggal di Bandung, di rumah itu tapi kau juga tetap bisa memiliki separuh kekayaanku. Kau juga butuh pekerjaan yang lebih baik bukan ? Aku tahu pekerjaanmu saat ini di tempat pencucian mobil,” lanjutnya lagi.


“Tapi aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat dengan kekayaanmu sebanyak itu."


“Kau jangan khawatir, aku yang akan membimbingmu dalam memimpin salah satu usaha yang kuberikan padamu. Kalau pun ajalku sudah dekat, Hamim akan membantumu.” Kaganga menoleh ke arah Hamim, lalu Hamim pun mengangguk.


Mendengar itu, Raduma tak membalas lagi perkataan Kaganga, apa boleh buat, ia tidak bisa menolak. Di satu sisi ia juga merasa tidak enak pada Kaganga dan Hamim yang lebih dulu bersama pamannya itu, Bahkan mungkin jasanya jauh lebih banyak ketimbang dirinya yang baru saja hadir diantara mereka.


Namun tiba-tiba Raduma berkata lagi,


“Itu pun jika aku masih hidup paman, setelah malam ini. Mungkin akan datang pertarungan yang lebih merepotkan. Yang mungkin saja mengancam nyawa ku.”


“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi Raduma,” balas Kaganga tanpa menoleh.


Ketiganya pun kembali terdiam.


Tak terasa daging kalkun akhirnya matang, hingga ketiganya lekas menyantap daging kalkun panggang dengan baluran bumbu rempah-rempah yang menggoda.


“Ayo makan, sekarang kita santap dulu, lupakan sejenak masalah kita,” ujar Kaganga.


Burung hantu mematung di ujung atas atap rumah Kaganga. Sesekali bersuara mungkin hendak menyapa ketiga manusia itu agar menoleh padanya. Seolah-olah memberi pesan.


Hey manusia, lihatlah aku yang bersanding dengan rembulan ini, mematung tanpa diketahui, terbang berselimut sunyi.


Malam merangkak semakin tinggi, begitu pula dengan suhu udara. Namun pembicaraan kembali menjadi serius.


“Lalu apa rencanamu Raduma ?” tanya Kaganga selesai menyantap satu paha kalkun berukuran besar.


“Entahlah, biasanya aku memang merencanakan segala sesuatunya dengan matang. Namun kali ini aku tidak punya rencana sama sekali, mungkin karena lawannya lebih dari satu. Dan mungkin aku akan biarkan mereka menyerang lebih dulu, lalu akan aku pikirkan lagi langkah selanjutnya.”


“Itu juga bagus, cukup nekad.” Kaganga mengangkat kedua halis. “Tapi aku rencana yang mungkin bisa kau pakai.”


“Apa itu ?”


“Dengar Raduma, kebetulan sekali kau menginginkan motor trail, itu akan menunjang rencana ini.”


“Motor trail ?” Raduma heran.


Sementara Hamim hanya menyimak saja perbincangan Raduma dan ayahnya.


“Ya, motor trail, pertama kau harus bisa terlepas dari kejaran impleng mereka terlebih dahulu.”


“Itu mustahil, mereka bertiga pasti bisa melihat ku posisiku dimana.”


“Tidak juga, itu bisa saja terjadi.”


“Caranya ?”


“Dengan terus bergerak.”

__ADS_1


“Maksudnya bagaimana ?”


“Kemampuan impleng setiap manusia berbeda-beda, tergantung kondisi fisik dan bakatnya masing-masing. Ada yang mampu melakukan impleng hingga ratusan, ribuan bahkan puluhan ribu kilometer.”


“Maksudmu aku harus terus bergerak dari satu kota ke kota lain ?”


“Benar, anak dari Gumuruh lemah dalam melakukan impleng, durasinya tidak terlalu bagus. Perkiraan ku ia hanya bisa melakukan impleng pada dunia nyata tidak lebih dari 1500 kilometer. Sedangkan Sastra jauh lebih kuat dan mungkin juga dengan wanita yang satu lagi. Tapi berkurang satu orang lawan bertarung itu lebih baik.”


“Apa itu cukup membantu ? aku tidak begitu yakin.”


“Dengar Raduma, alam semesta merekam semua peristiwa, saat manusia coba melihat satu objek yang jauh dari penglihatannya. Terpisah jarak dan waktu. Maka ia butuh visualisasi atau gambaran yang direkam alam semesta itu. Sementara alam membutuhkan waktu 6 jam agar visualisasi itu bisa terlihat jernih oleh mata batin manusia dengan catatan manusia yang menjadi target impleng itu pasif atau hanya bergerak di bawah angka 2000 kilometer. Lebih dari itu tentu akan menambah waktu bagi alam semesta untuk membuat gambarannya semakin jernih. Ini tidak berlaku jika kita melakukan impleng pada makhluk lain (kaum astral) atau memasuki dimensi lain. Tentu saja itu juga ditentukan juga oleh kemampuan impleng manusia itu sendiri. Semakin sering kau berpindah-pindah maka di bawah waktu 8 jam. Dan aku ingin perjalananmu berhenti di sebuah gunung di kota Aceh.”


“Mungkin sebabnya pula aku kesulitan untuk melacak Visa Mapa ?” Batin Raduma.


“Aku mengerti,” ujar Raduma. “Tapi aku benar-benar tidak menguasai peta lokasi kota-kota yang akan kutuju nanti.”


“Tenang saja, anak buah Ayah tersebar di berbagai kota. Ayah akan menginstruksikan mereka untuk membantumu dalam semua hal teknis seperti tempat tinggal dan lainnya,” ujar Hamim menambahi.


“Benar.” Kaganga mengiyakan.


“Baiklah.”


“Saat mereka tidak bisa melihat dan melacakmu, saat itulah kesempatanmu untuk melancarkan serangan. Meski risiko mereka bisa mengetahui posisi itu selalu ada. Tapi tidak ada pilihan, ini perjudian,” ungkapnya. “Kau harus bisa memastikan satu serangan itu mampu membuat mereka tewas.”


Raduma terdiam memikirkan cara bagaimana agar membunuh mereka dalam satu serangan, bagaimana bisa ?


“Tapi aku juga sudah menyiapkan rencana B, jika rencana awal tak berjalan mulus.” ujar Kaganga.


“Rencana B ?”


“Ya, kau harus menguasai perisai rudal.”


“Apalagi itu ?”


“Itu jurus pertahanan paling kuat yang pernah ada, aku yang membuatnya saat usia ku berada di usia keemasan (40 tahun).”


“Bagaimana caranya ?” tanya Raduma masih sangat awam dengan apa yang dikatakan Kaganga.


“Cara kerjanya sama seperti perisai rudal dalam dunia militer, kau pernah melihatnya ? Beberapa negara sekarang mempunyai, adapun cara menguasainya adalah dengan berlatih. Nanti aku yang akan mengajarimu lebih detailnya. Itu sebabnya mungkin kau harus menunda keberangkatanmu, aku berharap dalam waktu dua hari kedepan kau bisa menguasainya.”


“Ya, aku pernah melihatnya.”


“Dan tidak sampai di situ, rencana terakhir adalah ada di sebuah gunung di Aceh yang kusebut tadi.”


“Gunung ?” Raduma menoleh. “Kau sangat terukur paman, luar biasa. Pantas saja Negara mengawasi gerak-gerikmu."


Kaganga sedikit tertawa.


"Tapi apa pembicaraan ini tidak disadap oleh pemerintah ?"


"Tidak, saat aku melakukan pembicaraan yang sensitif dan sangat rahasia, aku akan tutup alat sadap yang mereka (pemerintah) simpan di dekat rumah ini. atau aku halangi dengan gelombang energi yang kutanam di logam yang terdapat di berbagai sudut rumah. Itu akan merusak atau membuat mereka tidak bisa mendengar apa-apa selain suara semut layaknya pada radio yang rusak. Termasuk di smartphoneku, aku sengaja seolah-olah tidak tahu apa yang mereka lakukan."


"Baiklah akan kucoba, aku mengikuti saja arahan paman.”


“Ya, gunung. Motor trail yang kau mau itu agar kau tetap bisa menggunakannya saat menuju gunung tersebut.”


Ketiganya berhenti berbincang dan segera masuk ke dalam rumah saat malam benar-benar gelap gulita, bulan tak menampakkan diri seiring burung hantu yang beranjak pergi. Tertutup awan hitam yang sepertinya membawa air hujan.


Dingin.


Bantu penulis dengan like dan komentar ya.


Berikan vote poin lebih bagus tapi itu tidak ada pemaksaan.

__ADS_1


__ADS_2