PERANG METAFISIK

PERANG METAFISIK
Kematian Laguna dan Alice


__ADS_3

Sore hari, Alice berkunjung ke rumah mertuanya, meskipun ia sebenarnya terpaksa kalau bukan karena Laguna yang mengajaknya untuk mampir dulu ke rumah ibunya itu, agar Rasta, kakak dari Raduma terbiasa berkomunikasi dengan neneknya dan adik-adik dari Laguna sebab keduanya memang memiliki sifat pendiam dan sulit diajak berkomunikasi. Baik Rasta dan Raduma lebih banyak tinggal di rumah Nenek Damanik, hanya sesekali saja keduanya berlibur ke rumah Samirah.


“Ibu kemana ? Kok cuma kalian berdua di rumah ?” tanya Laguna pada Tarma dan Gani.


“Gak tau kang, soalnya gak bilang, ini juga baru datang,“ jawab Gani. Anak Atmadja dari Samirah yang paling bontot, kedua pahanya menopang laptop dan matanya kembali menatap layar.


Sementara Tarma enggan menanggapi ia hanya rebahan di atas sofa sambil memejamkan mata, baru saja pulang dari tempat kerja.


Bertiga, Laguna, Alice dan Rasta masuk ke rumah bertipe 45 itu, bertegur sapa dengan Gani dan Tarma sembari menunggu Samirah dan Yuniar pulang. Rasta yang saat itu masih berusia 4 tahun hanya terdiam membisu, jika tak di tanya oleh Gani dan Tarma, ia takkan berbicara apapun. Sesekali Rasta malah ingin segera pulang, menarik-narik baju ibunya tanpa berkata, tidak betah dengan suasana rumah Samirah.


“Gani...motor masukin ke dalam jangan di luar begitu !” Teriak Samirah kesal sesampainya di teras rumah.


Ia masuk tergesa-gesa hendak memarahi Gani yang masih saja berkutat dengan laptopnya.


“Eh, Laguna, tos lami gun dongkapna ? ( Sudah lama gun datangnya ? )” Samirah kaget seusai membuka pintu jati, melihat Laguna ternyata mengunjungi rumahnya.


“Lumayan Bu, tadi jam lima an, Ibu habis dari mana ?”


“Ah enggak dari mana-mana, cuma belanja sama si Yuni,” jawab Samirah menoleh Yuniar yang masuk seusai membuka sepatu.


“Oh ada Alice juga ? Sama cucu nenek, aduh.“ Samirah merayu palsu pada bocah 4 tahun berpipi chubby.


“Ah sandiwara,“ bisik Alice dalam hatinya melirik Samirah yang berpura-pura ramah.


Sementara Yuniar dengan wajah masam langsung masuk ke kamar atas dengan menaiki anak tangga tanpa menyapa atau melirik ke arah Alice dan putranya.


“Sudah mondok aja semalem di sini ya.“ Samirah lagi-lagi merayu Rasta yang cemberut sedari tadi.


Mendengar itu, Rasta menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda tak mau.


“Rasta, kita mondok aja yah, cuma semalem doang, nanti bapak beliin tamiya.“ Laguna berusaha membujuk Rasta yang masih mencengkeram erat baju Alice.


Dengan iming-iming hadiah mainan tamiya yang sangat digandrungi oleh anak-anak kala itu, Rasta akhirnya luluh juga dan mau menginap untuk satu malam saja di rumah Samirah.


Sepakat, mereka bertiga menginap di rumah Samirah, Laguna masih dengan kepolosannya belum juga mengendus niat jahat ibu dan adik adiknya selama ini. Ia masih saja berpikir bahwa hubungan Alice dan Samirah baik-baik saja, Alice yang terpaksa menuruti perintah Laguna untuk menginap hanya bisa pasrah namun mata dan pendengarannya tetap siaga. Berdasarkan pengalamannya dulu, Yuniar dan ibunya sering kali melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan seperti suatu hari Alice menginap di rumah Samirah, ketika waktu makan tiba, Samirah menyodorkan seonggok daging matang dengan aroma yang lebih tajam.

__ADS_1


Untungnya Alice sangat teliti, daging matang dengan aroma yang mencurigakan itu tidak jadi ia makan karena rasa curiga yang begitu saja hinggap di benaknya.


“Uh, daging apa ini ? Kok aneh aromanya,“ gumam Alice menutup lubang hidungnya, tak biasa dengan bau yang asing.


Tanpa ba-bi-bu, ia membungkus daging tersebut ke dalam sebuah plastik tanpa diketahui mertuanya yang berjalan ke dapur, dapur yang tampak masih tradisional. Ia membungkusnya dengan maksud untuk menanyakannya nanti kepada kerabat dekat yang memang penjual daging, dekat lokasi rumah Alice.


Di sana, ia mengetahui bahwa ternyata apa yang ia bawa adalah daging **** hutan. Daging yang menurut agama yang Alice anut, tidak boleh di konsumsi, apalagi memang dicurigai dibumbui racun juga setelah daging tersebut coba diberikan pada seekor anjing dan anjing tersebut langsung jatuh sakit setelah muntah-muntah hebat.


Semenjak itu, Alice mulai berhati-hati ketika berada di rumah Samirah. Tapi malam itu ia lengah untuk pertama kalinya, lampu telah mati, jasad-jasad telah merebah di atas kasur tapi tidak untuk Samirah, matanya masih terjaga liar, sama-sama liar dengan isi otaknya, mencari celah untuk mendekati Alice hanya untuk mengambil sehelai rambut, awalnya ia bersusah payah sedari maghrib mencari foto ketika Laguna dan Alice menikah dulu namun entah mengapa foto tersebut tidak ia temukan.


Satu misi telah sukses dilaksanakan malam itu, Samirah mengunting rambut Alice yang terurai saat ia tidur tanpa diketahui, senyap dalam gelap sehelai rambut hitam berhasil Samirah kantungi. Ia berjalan dengan perlahan, mengendap-ngendap dan akhirnya kembali ke kamarnya.


Pagi hari, Laguna berangkat kerja sementara Alice dan Rasta masih di rumah Samirah, belum juga pulang karena menunggu siang. Dua langkah kaki terdengar beranjak berbarengan meninggalkan pintu masuk, Tarma dan Gani seperti biasa berangkat menuju tempat kerja sementara Samirah sibuk mencuci baju dan Yuni berkutat dengan semua peralatan dapur hendak memasak.


“Ngapain sih tuh orang ke sini, bikin habis stok makanan aja,“ gerutu Yuniar.


Satu kilo daging ayam ia bersihkan dengan air yang mengalir, setelah itu ia beralih menuju tempe dan sayur bayam yang menunggu untuk dibersihkan. Masih dengan hati yang dongkol memasak satu persatu bahan makanan pagi itu, tangannya cukup cekatan memasukkan potongan daging ayam segar yang ia beli di pasar subuh hari tadi. Sesekali ia memotong tempe dan menoleh pada kompor gas yang satu lagi, untuk memastikan sayur bayam tidak terlalu matang ia masak.


“Hmm aku punya ide,“ gumam Yuniar melihat potongan biting ( tusuk kayu yang biasa terselip diantara tempe ).


Tak lama setelah ia memasak bayam dan ayam goreng, kemudian ia mengambil nasi untuk digoreng bersama irisan daging serta potongan tempe yang disisipkan biting tajam. Semua posisi makanan ia atur sedemikian rupa di atas meja makan agar berjalan sesuai rencana.


“Yun...sudah mateng belum ? Mamah laper nih, lama banget masak gitu doang juga,” tanya Samirah dari dalam kamar mandi tempat mencuci baju yang memang bersebelahan dengan dapur.


“Sudah mah, ayo kita makan,“ sahut Yuni.


Samirah berhenti sejenak dari menggosok-gosok baju, ia mencuci tangan terlebih dahulu kemudian berjalan ke ruang tengah, meja makan sudah dipenuhi hidangan sederhana yang masih terasa hangat.


“Alice, makan dulu sebelum pulang ke Bandung timur.“ Ajak Samirah matanya menyapu seluruh ruangan, meski membenci Alice namun ia terkadang masih bisa bersikap normal.


“Iya Bu sebentar, Rasta saya pakaikan baju dulu.”


Alice masih berkutat dengan baju Rasta yang ia setrika seusai Rasta mandi sendiri di kamar mandi kedua. Meski terasa suhu udara masih dingin, mau tak mau Rasta harus menuruti perintah Alice yang sedikit mengancamnya.


Tidak akan pulang kalau tidak mandi !

__ADS_1


Itulah kalimat yang terlontar dari bibir Alice selepas Rasta bangun dari tidur dan merengek padanya untuk segera pulang. Lima menit berselang ia beranjak ke meja makan didapatinya satu mangkuk nasi goreng, sama halnya dengan mangkuk yang dibawa Samirah dan Yuniar, berisi nasi goreng.


Di hadapannya sayur bayam dan ayam goreng serta satu keranjang kerupuk warna putih. Alice tampak kurang tertarik dengan ayam goreng, ia lebih mengambil beberapa kerupuk dan sayur bayam beserta tempe. Sementara Samirah makan dengan lahap tanpa menunggu Alice, Yuniar yang sudah berlalu membawa mangkuknya sendiri meninggalkan meja makan, memilih makan di kamar atas.


“Aw, waduh ini apa ? Astaga !“ Alice terhenyak mendapati sebuah biting dalam tempe dan nasi goreng setelah beberapa kali melahap.


Beruntung biting yang tajam belum sempat merobek atau menusuk langit-langit mulutnya, gesekan yang mencurigakan ketika ia mengunyahnya membuat Alice tidak cepat-cepat menelan begitu saja.


“Bu liat ini apa ?“ kata Alice menyodorkan mangkuk miliknya yang berisi biting yang tersembunyi dalam tempe dan nasi, keningnya mengkerut raut wajahnya seketika masam. “ Maksudnya apa ini ? Yuniar mau mencelakai saya ?”


“Ada apa ?“ Samirah melihat mangkuk Alice yang masih utuh. “Oh, biting, mungkin si Yuniar lupa bersihin kali.”


“Gak mungkin Bu, ini biting sebanyak ini masa lupa ?“ Alice semakin curiga. “Yuniar...!”


Alice berteriak memanggil Yuniar, ia sudah tidak tahan dengan perlakuan keluarga Laguna, baginya kali ini sudah melebihi batas.


“Alice ! Kamu jangan mikir yang macam-macam !“ Timpal Samirah menggebrak meja makan dengan mata yang menyalak. Gelas berisi air minum jatuh ke lantai lalu pecah.


Suasana menjadi tegang.


Mendengar Alice berteriak dan Samirah yang menggebrak meja. Yuniar turun dari kamar atas menuju ruang tengah menghampiri Alice.


“Ada apa ini ?“ tanya Yuniar coba bersikap normal seolah ia tidak tahu menahu. “Gak usah teriak-teriak juga kali, malu sama tetangga.”


Mata saling memandang penuh amarah antara Alice dan Yuniar. Sementara Rasta yang kaget melihat neneknya menggebrak meja langsung masuk ke kamar karena takut.


“Udah deh, gak usah sandiwara lagi, saya udah muak dengan kelakuan kamu, ya ! Maksud kamu apa dengan menaruh biting di mangkuk saya ? Kamu mau bunuh saya ?,“ bentak Alice.


“Jaga mulut kamu, itukan bisa aja lupa, kamu kalau gak suka masakan di sini, pergi aja, makan sana di luar, pulang !“ balas Yuniar membentak tak kalah keras, berkilah dari tuduhan yang dilontarkan Alice.


“Udah sekarang kamu pulang aja Alice, daripada di sini kalian malah ribut,“ kata Samirah menyela percakapan keduanya.


Mendengar Jawaban Yuniar yang enggan mengakui serta mertuanya yang sama saja dengan anaknya, mengusir secara halus dirinya, Alice akhirnya lagi-lagi menahan amarahnya ia tidak bisa menumpahkan semua kekesalannya lebih dari itu, tak lama ia langsung menuju kamar, membereskan semua pakaian Rasta dan kemudian pergi tanpa pamit bersama Rasta yang belum sedikit pun sarapan.


Alice pergi dari rumah Samirah dengan mata yang berbinar-binar, menahan tangis yang ingin membuncah seketika itu. Langkah kakinya terburu-buru sementara Rasta hanya terdiam, termangu melihat ibunya berselisih dengan keluarga Laguna tadi.

__ADS_1


__ADS_2