PERANG METAFISIK

PERANG METAFISIK
Raduma


__ADS_3

Hari Rabu 17 November 2030, pagi itu samar-samar suara presenter berita dari salah satu stasiun televisi swasta, mengatakan telah terjadi kerusuhan antar supporter saat pertandingan liga Champions Eropa antara Liverpool dan Ajax Amsterdam telah membangunkan Raduma dari tidur panjangnya.


Rupanya, sebelum ia beranjak tidur ia lupa mematikan televisi. Perlahan ia membukakan mata, menghirup udara dan jari jemarinya merayap mencari smartphone kesayangan yang menyelinap di antara tumpukan bantal.


Ruang kamar yang berukuran kecil itu masih terlihat sedikit gelap hanya lampu dapur lima watt yang dibiarkan menyala.


“Tuk tuk tuk.“ Suara pintu diketuk oleh seorang wanita tua, samar-samar ia lihat dari celah pintu yang sedikit terbuka. Wanita tua dengan bola mata sedikit berwarna biru, berkonde dan berkulit putih yang ternyata adalah neneknya sendiri.


“Raduma... cepat bangun sudah siang," teriak Nenek tujuh puluh tiga tahun yang merupakan istri dari seorang letnan berwibawa dari satuan angkatan darat.


“Iya, Nek, siap don’t worry, tinggal loncat mandi.“ Canda Raduma.


Langsung berdiri saat nyawanya baru masuk 70 persen membuatnya sedikit terhuyung-huyung, satu dua kali ujung kakinya membentur tumpukan kertas gambar yang berada di lantai dan kaleng biskuit cokelat yang sebenarnya berisi dodol Garut.


“Beli penyedap rasa dua ribu sana ke warung."


“Nanti Nek belum juga mandi, masih bau asem,“ jawab Raduma seraya membuka kaos partai tertentu, pemberian orang partai ketika tahun pemilu kemarin.


Walaupun sebenarnya Raduma adalah pengikut kaum golput sejati, baginya, politik itu kotor, penuh kepalsuan dan sandiwara, politik pemilu hanyalah tentang seni bagaimana meraih simpati kaum miskin dengan iming-iming janji, kebenciannya terhadap pesta-pesta demokrasi sama seperti kebenciannya tatkala ia sedang mandi lalu sekolompok kecil kecoa bergerilya dari lubang pembuangan air menuju hawa panas kedua kaki atau ketika ia sangat ingin buang air besar di tengah perjalanan hingga akhirnya ia menemukan sebuah toilet umum namun apa daya gayungnya retak dan berlubang.


Gemericik air terdengar dari keran karatan yang dibungkus kain putih untuk menyaring air artetis yang tak sejernih air ledeng, pertanda Raduma mulai mengisi ember bekas cat tembok setinggi enam puluh centimeter, ada kiranya dua lima menit Raduma di kamar mandi, waktu yang sebenarnya cukup lama namun hal itu cukup logis mengingat dengan rangkaian yang harus ia jalani salah satunya seperti, gosok gigi !


Semenjak ia pergi ke dokter gigi tujuh hari yang lalu untuk membersihkan plak, waktu menggosok gigi menjadi lebih lama dari biasanya, itu karena selama ini Raduma telah salah dalam menggosok gigi, ia hanya sepintas saja ketika menyikat giginya dan dokter kini memberitahunya cara menggosok gigi yang baik dan benar, lima belas kali menyikat untuk dua gigi dengan hanya satu arah dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas jika gigi bagian bawah yang disikat terlebih dahulu, itulah petuah dokter cantik baik hati dan tidak sombong yang selalu ia ingat. Gosok gigi baginya kini menjadi lebih penting ketimbang merindukan si dia yang pernah mengisi relung hati.


Rasa sakit yang luar biasa dari plak yang menumpuk dan gusi yang infeksi karena bakteri plak membuatnya trauma hingga mengambil pelajaran agar tidak lupa untuk selalu menggosok gigi minimal pagi dan malam hari.


Belum lagi karena hawa dingin di pagi hari khas daerah timur kota Bandung membuatnya lebih rutin BAB (buang air besar) selepas bangun tidur, entah mengapa disebut air besar padahal semua orang tahu bahwa tinja bukanlah air !


BAB di pagi hari menjadi seperti sebuah kebiasaan ditambah malamnya ia tergoda oleh seksinya bakso urat pertigaan jalan Ujungberung dicampur saos pedas yang berwarna jingga-jingga manja.


Padahal, Raduma adalah pemuda yang menderita penyakit maag akut semenjak lima tahun terakhir, mungkin karena pola makan yang salah serta stress yang terlalu tinggi karena menganggur serta cibiran para tetangga tak berpendidikan yang sering ia dengar.


Semenjak menderita maag ia harus berhenti makan lewat jam tujuh malam dan memang seharusnya setiap manusia berhenti makan di malam hari kecuali benar-benar merasa lapar jika memang ingin hidup sehat.


Seusai mandi dan membeli penyedap rasa untuk nenek, Raduma menyempatkan diri untuk melakukan peregangan otot bukan tanpa alasan dua tahun yang lalu ia mengalami sebuah kecelakaan saat menyeberang jalan yang membuat tulang panggulnya sedikit bergeser meski ia kini masih bisa berjalan namun kecelakaan tersebut membuat ototnya menjadi lebih sering kaku hingga harus sering melakukan stretching di pagi dan malam hari.


Waktu menunjukkan pukul 07.30 saat itu, sementara pukul sembilan ia harus berangkat mencari kerja.


Raduma sendiri hanyalah seorang pemuda dengan tinggi badan 168 cm, rambutnya sedikit berwarna merah alami dan hidungnya yang tidak terlalu mancung tidak pula pesek tapi kata orang dia pemuda yang tidak tampan, tapi setidaknya ada dua orang yang menilainya tampan yaitu ibu dan neneknya.


Ia adalah orang yang berkarakter pendiam dan lebih banyak berteman dengan kucing kampung berwarna oranye terang yang ia beri nama pekeng asal kata dari viking, bukan tanpa alasan, meski berkelamin betina pekeng dikenal di lingkungan komplek Raduma karena kecerdikannya dalam mencuri ikan di warung tetangga serta ketangguhannya dalam berburu tikus bahkan burung pipit, pemburu sejati untuk ukuran predator tanggung.


Raduma hanya lulusan smk terpencil dari jurusan yang tidak banyak disukai, karena skill yang rendah, tinggi badan yang kurang, penyakit yang sering kambuh dan komunikasi yang kurang baik membuatnya kesulitan dalam mencari kerja yang cukup bagus ( menurutnya ), terakhir ia bekerja sebagai pelukis boneka kayu dengan gaji lumayan namun karirnya terhenti ketika ia mendapati ternyata bosnya terlibat faham radikal dan diciduk tim densus anti teror.


Ia pun kini lebih sering mencari kerja dengan gaji kecil bagi kebanyakan orang seperti menjadi cleaning servis, penjaga booth makanan atau bahkan menjadi operator cuci mobil dengan jam kerja yang sudah seperti kerja rodi.


Tepat pukul sembilan pagi saat sinar matahari sedikit meninggi Raduma berdiri di depan sebuah warung kopi menunggu calon majikan yang menawarkannya pekerjaan sebagai barista kopi.


Lowongan kerja yang ia dapat dari jejaring media sosial setelah tahun-tahun ke belakang para pencari kerja lebih sering menaruh harapannya pada surat kabar yang biasa mencantumkan lowongan kerja setiap hari sabtu, kini setelah teknologi lebih maju para pencari kerja dan pemilik usaha lebih sering mencantumkan lowongan kerja mereka di media sosial itu karena lebih efektif dan tanpa biaya, tak seperti di koran atau surat kabar yang harus membayar hingga ratusan ribu hanya untuk mendapatkan karyawan yang sesuai.


“Saya sudah di depan warung kopi Pak," ketik Raduma pada layar handphone seharga dua juta pemberian almarhum kakaknya.


“Ya, tunggu saya meluncur ke TKP.“ Pesan balasan yang masuk satu menit berikutnya dari pemilik usaha yang diketahui bernama Willy.

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian suara motor terdengar masuk pelataran parkir warung kopi sementara Raduma masih berdiri ia tidak langsung masuk karena merasa kere alias tak punya uang lebih untuk sekedar memesan secangkir kopi yang harganya jelas tak seperti kopi di pinggir jalan. Khawatir pula Willy tak datang alias PHP (pemberi harapan palsu).


Willy mengunci motornya dan membuka helm full face yang ia gunakan, ia pria empat puluh tahun dengan badan cukup berisi mungkin karena senang dan banyak duit, berkacamata dan bergaya rambut cepak ABRI.


“Sudah lama nunggu ?“ Basa-basi Willy.


“Enggak, cuma sepuluh menit."


Walaupun dalam hati Raduma, ia merasa sedikit kesal juga karena Willy tak datang tepat waktu dari waktu telah disepakati.


Sementara ia sedari tadi berdiri tak jelas tanpa tempat duduk layaknya orang mau maling helm sehingga kasir cantik warung kopi pun tak memindahkan matanya dari Raduma sejak ia datang.


Dua cangkir kopi late akhirnya willy pesan pada waiter warung kopi, segera seorang barista mengambil biji-biji kopi dan memasukkannya pada mesin grinder lalu mesin kopi yang harganya bisa puluhan juta itu mulai bekerja, tak lama datanglah dua cangkir kopi late.


“Silahkan,“ kata Waiter.


“Makasih Mas,“ jawab Willy singkat.


Willy memulai pembicaraan dengan menanyakan identitas Raduma secara lengkap, ia juga meminta cv yang di bawa Raduma dalam tasnya untuk dipelajari walaupun Raduma sudah mencium gelagat-gelagat negatif dari gestur tubuh dan mimik wajah bahwa Willy tak akan menerimanya mungkin karena penampilan dan tampangnya yang dianggap kurang good looking, menurut perasangka Raduma.


“Hmm...belum pernah punya pengalaman di barista ya ?"


“Belum Pak.“


“Ya sebenarnya saya cari yang minimal yah sedikit lebih tahu tentang dunia barista dan kopi."


Mendengar itu Raduma yang memiliki kemampuan menganalisa semakin yakin bahwa dirinya tak akan diterima.


Inkonsistensi Willy menjadi salah satu tandanya, ketika di iklan lowongan kerja yang dicantumkan di media sosial, non pengalaman pun bisa melamar namun ternyata perkataan Willy di dunia nyata tak sejalan dengan apa yang ia tulis di media sosial.


Hampir tiga puluh menit interview, menanyakan ini dan itu, menjelaskan tentang usaha, gaji dan sistemnya. Willy memutuskan untuk mempertimbangkan CV milik Raduma.


"Ya mungkin itu saja, ada pertanyaan ?"


“Enggak ada pak,“ balas Raduma seolah sudah tahu hasil akhirnya.


“Kalau tidak ada, ini saya pertimbangkan dulu nanti jika diterima saya telepon."


“Iya pak saya mengerti."


“Terimakasih ya sudah datang."


Tanpa basa basi Raduma bangkit dengan senyum tipisnya untuk menghargai willy berbarengan dengan Willy yang juga bangkit dari kursi empuk warna abu abu. Bagaimana pun Raduma orang yang pandai menyimpan kekecewaan dan tidak enakan pada orang lain.


Raduma dan Willy berjabat tangan tanda interview singkat selesai, selepas keluar dari kafe kekecewaan pada akhirnya tak bisa ia sembunyikan. Wajahnya terlihat murung dan sejenak duduk melamun di pinggir jalan samping penjual bubur ayam, berdasarkan pengalamannya jika hasil interview diberi tahukan lewat telepon maka rata-rata tidak akan diterima.


Kesedihannya semakin bertambah usai merogoh saku dari celana jeans yang ia pakai hanya terdapat uang lima ribu dan dua ribu dua lembar di saat yang sama perutnya keroncongan, ia tak sempat sarapan tadi pagi sedangkan untuk sekedar membeli roti di warung kecil seharga dua ribu rupiah pun tak cukup, uangnya hanya cukup untuk ongkos naik bus dan angkutan kota.


Namun akhirnya ia memutuskan untuk membeli roti dan tidak naik bus alias jalan kaki menuju rumah meski jaraknya dua belas kilometer lebih sementara sisanya untuk membeli air mineral.


Sepanjang jalan ia banyak merenung sambil berjalan, ia terus berpikir mengapa kesulitan selalu menimpanya tapi tak pernah ia temukan jawaban.


Tiga meter sebelum ia sampai dirumahnya yang bertipe 21, ia melihat kerumunan ibu-ibu di warung tetangga tatapannya seakan meludah di wajah Raduma yang lusuh dan berdebu.

__ADS_1


“Ngegosip lagi ni orong-orong (sejenis kadal kecil dengan tubuh licin)," celoteh Raduma dalam hatinya, ia terus saja berjalan seolah olah tak menyadari lima orang ibu-ibu yang sedang bergosip di bangku warung.


“Membosankan !" celetuk salah seorang ibu ke arah Raduma yang perawakannya gendut, halisnya tebal seperti halis kartun Sinchan di televisi, yang diketahui bernama ibu Ina.


“Pemalasan, ga bosan gitu diem di rumah ?" lanjut Bu Ina menyindir tanpa melihat Raduma.


Raduma paham betul maksud ibu Ina dan memang itu bukan hal yang pertama kali ia alami, Bu Ina kerap kali menyindir Raduma dan keluarganya bahkan saat kedua orang tuanya masih hidup tiga tahun lalu.


Tidak banyak yang bisa ia lakukan selain diam dan bersabar atas gangguan para tetangganya yang sudah seperti paparazi, yang selalu mencari celah keluarga Raduma untuk diperbincangkan, rasanya ia memang sudah seperti selebritis.


Suara gerbang yang berat karena lupa diberi pelumas terdengar seiring langkah kaki Raduma masuk ke halaman mini rumahnya.


“Duma, dapat enggak ? “ tanya neneknya, Damanik.


“Yah...gitulah nek seperti biasa."


Tanpa bertanya lagi Nenek Damanik tahu maksud ucapan Raduma, sering kali Raduma menceritakan jika hasil interview diberitahukan lewat telepon maka persentase kegagalannya lebih besar.


Seolah mengerti perasaan cucunya, nenek Damanik memberinya makanan yang baru saja beliau buat, lotek.


“Ini makan lotek, enak baru dibikin masih seger."


“Kebetulan nih, laper, cape abis jalan kaki."


“Jalan kaki lagi ? “ tanya Nenek Damanik dengan mengkerutkan kening tanda kesal.


Sejak tiga tahun lalu Raduma menghabiskan hari-harinya hanya bersama kakak dan neneknya, namun dua tahun terakhir ia hanya tinggal berdua bersama nenek Damanik, selama itu terkadang hal-hal ganjil terjadi di rumahnya, meneror mereka berdua seperti batu penghalang pintu di pinggir lorong tempat penyimpanan sepeda yang terdengar bergerak kesana kemari di malam hari.


Hal itu terdengar mustahil jika sekedar dilakukan oleh hewan karena ukuran batunya yang cukup besar, tikus mana yang bisa menggerakkan batu sebesar itu, pikir Raduma dan Neneknya.


Hal-hal aneh terus terjadi dan muncul setiap hari rabu dan minggu, seperti hal aneh lainnya, suara kaki yang menginjak atap rumah terdengar sangat keras lagi berat seperti kaki monster yang menginjak genting-genting rumah tapi anehnya, setiap kali di cek tidak ada siapa pun bahkan genting-gentingnya tak terlihat ada kerusakan.


Awalnya Raduma merasa ketakutan dengan serangkaian hal-hal horor yang ia alami namun untungnya nenek Damanik seorang wanita yang pemberani sering kali beliau langsung mendatangi lokasi dimana hal aneh itu terjadi, seperti ketika dalam suatu malam Raduma dan neneknya tidur di kamar depan tiba-tba terdengar seseorang mengetuk pintu, ketika pindah ke kamar belakang maka ketukan muncul lagi di pintu belakang begitu sebaliknya, namun tanpa pikir panjang lagi seketika nenek Damanik membuka pintu seolah menantang makhluk tak kasat mata itu.


Seiring berjalannya waktu Raduma dan neneknya menjadi terbiasa dengan hal-hal mistis tersebut dan lambat laun hal-hal aneh menghilang dengan sendirinya seolah menciut melihat respon nenek Damanik dan cucunya.


Tepat tiga bulan kedepan Raduma berusia 27 tahun, umur yang sebenarnya sudah sangat matang untuk berkeluarga.


Dalam hidupnya hanya satu orang yang sempat mengisi hati dan pikirannya, gadis cantik yang sewaktu duduk di sekolah dasar jatuh hati padanya. Namun akhirnya baik Raduma dan sang gadis harus terpisah jarak dan waktu.


Selain itu, Raduma tak berpernah tenggelam dalam asmara, batin dan pikirannya lebih terkuras oleh percekcokan kedua orang tuanya, kesulitan ekonomi dan sakit yang silih berganti menimpa anggota keluarganya. Ia bahkan tak merasakan yang namanya piknik bersama sekeluarga seperti keluarga-keluarga lain.


Malam hari setelah siangnya ia mencari kerja, tepat pukul 9 malam, listrik mati, perusahaan listrik negara (PLN) setempat rupanya melakukan pemadaman listrik bergilir.


“Duh, nasi belum matang lagi.“ keluh nenek Damanik. Lampu LED merah magiccom belum turun yang pertanda nasi belum matang.


“Gimana dong nek ?“


“Ya...nunggu nyala, mau gimana lagi."


“Gelap, lilin di mana nek ?“


“Kayaknya di laci lemari," jawab nenek

__ADS_1


Lemari kuno peninggalan ibu dari nenek Damanik sekaligus saksi bisu perjalanan hidup nenek dan suaminya, sedikit rapuh dimakan rayap dan usia.


__ADS_2