PERANG METAFISIK

PERANG METAFISIK
Bertemu Ratu pantai selatan.


__ADS_3

Bertemu Ratu pantai selatan.


Sementara Evan Bagaskara beranjak tidur, di tempat lain pemuda dengan energi luar biasa itu rupanya merangsang sosok jin penghuni laut Parangtritis untuk mendekatinya. Orang sekitar menyebutnya Ratu pantai selatan.


Para rombongan RT 6 sudah memasuki penginapan tidak jauh dari pantai Parangtritis. Begitu pula Raduma, sejak sampai di pantai Parangtritis, ia tidak banyak melakukan aktivitas. Hanya jalan-jalan di sekitar pantai dan menikmati keindahan laut Parangtritis yang banyak menyuguhkan berbagai mitos itu.


Tidak seperti yang lain, terutama Ibu-ibu dan anak-anak, mereka lebih suka bersenda gurau dan bermain di tepi pantai sambil berselfi ria. Raduma tidak suka itu, pikirnya apa pentingnya bermain di pasir pantai sambil berselfi ria ? Apalagi cuaca cukup terik. Lebih baik berdiam diri di bawah pepohonan rindang sambil meneguk air kelapa dan memandangi laut, hidup terasa damai diterpa semilir angin sejuk.


Mendekati sore hari, keanehan muncul. Ada semacam kabut hitam yang berada di atas laut Parangtritis, tidak seluruhnya menutupi hanya sebagian saja tapi yang jelas itu bukan karena faktor alam melainkan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan ilmiah. Sayangnya fenomena itu hanya bisa dilihat oleh Raduma.


Semakin matahari tenggelam dan memasuki waktu malam, sesuatu yang mengejutkan pun terjadi. Dari arah sebelah kiri pantai, sesosok wanita melambaikan tangan. Momen yang membuat manusia biasa akan lari ketakutan jika melihatnya karena ekspresinya yang janggal dan berdiri di atas air. Momen yang menyeramkan dan membuat bulu kuduk berdiri, merinding.


“Apalagi ini ?” gumam Raduma.


Meski waktu sudah beranjak mendekati malam dalam beberapa menit lagi, orang-orang masih terlihat di tepi pantai dan itu membuat Raduma sedikit khawatir. Sosok yang ia lihat sepertinya menyukai manusia.


Raduma akhirnya berinisiatif untuk mengajak beberapa orang dari rombongan yang masih berada di tepi pantai untuk segera menjauh dan pergi ke penginapan untuk menunaikan ibadah magrib. Usahanya itu dilakukan agar tidak ada satupun dari orang-orang yang ia kenal didekati oleh sosok wanita di atas air laut itu.


Bisa saja ia mengincar salah satu orang yang memang lemah secara ketahanan tubuh, untuk dirasuki. Akan sangat menegangkan jika orang yang dirasuki itu lalu disetir untuk berlari ke tengah laut lalu terseret ombak Parangtritis.


“Rad...!” panggil Pak RT dari kejauhan. “Ayo kita ke penginapan dulu, ajak yang lain.”


“Iya Pak RT, duluan aja." Raduma menoleh.


Saat pandangan kembali ia tujukan ke arah sosok wanita di atas laut. Sosok jin wanita itu sudah tidak ada. Kemana dia pergi ?


Raduma mengedarkan pandangan ke seluruh arah di lokasi pantai Parangtritis. Sampai badannya berputar, sosok jin tersebut dengan cepat menghilang dari pengawasannya.


“Bu Santy...kata Pak RT ke penginapan dulu, kumpul,” ujar Raduma saat melihat tetangganya yang selalu menjadi teman mengobrol Nenek Damanik itu masih saja asyik bermain dengan satu anaknya yang masih belum dewasa di tepi pantai. Lalu Raduma kembali menoleh ke arah laut, memastikan bahwa sosok jin tadi muncul lagi atau tidak ?


“Mungkin wanita itu kembali ke alamnya,” gumam Raduma lalu membalikkan badan.


“Siapa yang kau maksud itu manusia...?”


Tiba-tiba suara pelan terdengar di gendang telinga Raduma menghentikan langkahnya, jelas sekali. Seperti ketika memakai sebuah earphone.


DEG !


Sosok wanita tersebut sudah ada di belakang sebelah kiri Raduma dengan mencondongkan wajahnya ke telinga Raduma hingga rambut lurus itu jatuh. Semerbak wangi bunga melati menyusup ke dalam lubang hidung yang lebih sensitif dari manusia biasa. Lama-lama menjadi seperti bau minyak urang-aring yang warnanya kehitaman.


Jantung Raduma dibuat sedikit terkejut, inilah salah satu kelakuan menyebalkan para jin yang membuat Raduma bisa merasa sangat kesal. Seperti biasa, makhluk-makhluk itu sering muncul secara tiba-tiba sesuka hati mereka. Entah mungkin tujuannya agar membuat kaget dan takut manusia lalu manusia itu celaka karena ketakutannya sendiri. Atau mungkin memang sudah watak mereka seperti itu.


“Menyingkir kau makhluk terkutuk !” Raduma tak bisa lagi menahan rasa kesalnya. Tangan kirinya mengeluarkan belati energi sepanjang 20 centimeter lalu diayunkan ke arah luar sisi kiri untuk menebas makhluk astral yang sepertinya penghuni pantai Parangtritis.


Aroma yang tercium berganti menjadi bau busuk yang menusuk alat penciumannya. Sosok jin tersebut menghindar dengan kecepatan tinggi, dari gerakannya Raduma menduga, makhluk tersebut sudah terbiasa dengan pertarungan.


Wajah masam mengintimidasi Raduma, sosok jin itu termundur beberapa langkah lalu menghilang ketika ia menyentuh air laut.


“Melelahkan juga bisa melihat mereka yang tak kasat mata,” keluh Raduma saat ia tahu sosok yang ia serang secara mendadak tadi telah menghilang.


Muncul perasaan di dalam hati Raduma seandainya ia menjadi manusia normal lagi seperti dulu. Akan tetapi nasi telah menjadi bubur, takdir telah dipilih dan jalan untuk membantai para dukun dan sekutunya telah ditapaki.


Dengan mata yang sayu, ia melangkah pergi meninggalkan pasir pantai. Meski ada seseorang yang memperhatikan dan menganggapnya aneh saat ia melihat Raduma melakukan gerakan menebas tadi. Namun Raduma tidak menyadarinya bahwa ada orang yang memperhatikannya.


“Darimana aja Kang ? Kirain diculik Roro kedul (malas dalam bahasa Sunda) eh kidul maksudnya,” canda Robby yang diperintahkan Ibunya untuk mencari Raduma yang tidak kunjung ke penginapan.


“Hehe, iya nih Kang Robby duh saya tadi ngintip dulu Roro kedul mandi.”


“Jiaah bisa aja si Akang.”


“Hahaha.”


Suasana kini lebih cair, setidaknya Raduma sekarang bisa sedikit bersenda gurau dengan salah satu anak dari Lya Rustika. Meski jarak umur keduanya agak jauh namun Raduma tidak canggung dalam berinteraksi. Lagipula ia kini mampu melihat karakter orang lain dengan kedua bola matanya walaupun tidak secara detail.


“Sudah lama Kang Robby di Bandung ?” tanya Raduma sambil berjalan menuju penginapan yang hanya tinggal beberapa meter saja. “Saya kok sering liat kalau pas pulang kerja.”


“La...baru tau ya ? Saya kan emang tinggal sama Ibu sekarang.” Robby merasa lucu dengan pertanyaan yang dilontarkan Raduma. “Makanya jangan bertapa terus di dalem rumah Kang Raduma,” candanya lagi.


“Hahaha, sakti dong saya kalau tapa terus.”


Raduma tertawa lepas.


“Sekali-kali main atuh ke rumah, saya juga ada di rumah kok selepas isya mah.”


“Iya Kang makasih, lain waktu."


“Kenapa gak nikah aja Kang daripada di rumah sendiri, biar gak sepi. Masa berdua...mulu sama kucing ?"

__ADS_1


“Berenam Kang sekarang mah.” Ralat Raduma.


“La sama siapa ?”


“Sama anak kucing lainnya,” bisik Raduma.


“Hehe bener juga.”


“Tapi seriusan, kalau saran saya lebih baik cari istri Kang, apalagi umur udah 27, kan ?”


“Iya kurang lebih.”


“Nah tunggu apa lagi ?”


Raduma terdiam beberapa saat sambil terus melangkah menuju penginapan yang sudah sangat dekat. Tinggal beberapa langkah lagi keduanya sampai di pelataran.


“Saya merasa belum mapan Kang, lagipula saya masih punya urusan yang harus diselesaikan.” Mimik wajah Raduma seketika tersenyum namun senyuman itu sepertinya tidak benar-benar berasal dari rasa bahagia, ada sesuatu dibalik senyumannya.


“Kita gak tahu masa depan Kang, apa kita bisa mencapai titik mapan atau masih tetap di titik yang sama. Prinsip saya langsung aja terjun perang sambil mikirin strategi. Kalau mikirin strategi dulu, nanti gak perang-perang. Nah begitu juga nikah, insya Allah kalau niat kita benar untuk ibadah, ada jodohnya langsung aja nikah sambil berusaha cari nafkah nanti pasti ditolong Allah juga.” Robby memberi wejangan. “Kalau misal butuh bantuan dana, bilang aja sama saya. Nanti saya bantu, jangan sungkan.”


“Iya Kang, makasih sudah peduli sama saya. Nanti saya cari dulu ceweknya siapa tahu ada di minimarket,“ jawab Raduma dengan cengar-cengir.


“Jiah...bisa aja si Akang.”


Keduanya pun sampai di penginapan, tidak terlalu mewah tidak pula terlalu murah. Terjangkaulah untuk para rombongan yang dipimpin oleh Suryalaya selaku Ketua RT 6.


Di penginapan, Raduma tidur di kamar nomor 16 bersama Sula dan Sulu. Awalnya Pak RT mengajak Raduma untuk tidur di kamarnya namun ia menolak dan memilih tidur dengan dua orang hansip yang memiliki kekurangan dan kelebihan.


Kamar nomor 16, pukul 11 malam Sula dan Sulu sudah tampak tertidur pulas, hampir seharian mereka terus bergerak dan mengunyah. Kelelahan dan kekenyangan mungkin menjadi dua faktor yang menyebabkan keduanya begitu pulas tertidur.


Sementara Raduma belum juga tertidur, ia masih memainkan smartphone. Sesekali mendengarkan radio milik pemerintah Indonesia. Gadis cantik yang ia lihat memasuki kamar nomor 25 tadi sedikit banyak membuat nafsu birahinya naik. Itu karena sang gadis berpakaian tidak layak untuk dipandang di muka umum. Sebagai seorang pria normal dengan daya impleng yang sangat kuat, tentulah jika melihat aurat wanita sedekat itu akan terangsang juga.


Akhirnya niat jelek muncul di permukaan hati Raduma. Iseng-iseng, membawanya memasuki kerajaan ghaib yang ia lihat sepintas tadi sore di laut Parangtritis. Impleng Raduma lakukan dengan mata terbuka, tidak biasanya. Biasanya ketika ia harus melakukan impleng atau melihat objek dan lokasi yang terpisah jarak dan waktu, haruslah dengan memejamkan mata. Namun kali ini tidak, ia cukup mengkonsentrasikan pikirannya pada apa yang ia tuju.


Tirai ghaib mulai tersingkap, Raduma sudah berada di tepi pantai Parangtritis. Keduanya matanya terarah pada satu titik. Arah jam 1, sebuah gerbang besar dari besi-besi berkarat dengan motif ornamen mulai terlihat seiring kabut hitam di atas laut itu menyingkir dengan sendirinya.


Suasana menjadi lebih horor, suara ombak sama sekali tidak terdengar. Raduma iseng-iseng untuk memasuki kerajaan yang konon dihuni oleh seorang Ratu yang katanya menyukai warna hijau. Motivasinya hanya untuk mengetes seberapa tinggi penjagaan di kerajaan tersebut dan untuk melihat seberapa cantik Ratu yang menghuninya, siapa tahu Ratu tersebut sedang mandi. Menurut perkiraannya, kerajaan yang berada di hadapan matanya sekarang sepertinya lebih banyak dihuni oleh para wanita


Sosok jin yang coba mendekatinya tadi sore contohnya. Dari tampilannya jauh sekali dengan sosok yang sering di deskripsikan oleh penduduk sekitar. Bukan bermahkota, memakai kemben, kebaya dan berselendang hijau melainkan wanita berambut lurus, wajah oval dan berpakaian hampir mirip dengan gaun court mantua yang dimiliki oleh istri bangsawan haddington di abad ke 18.


“Mereka sama sekali tidak melihatku,” ujar Raduma sambil terbang perlahan. Ia lihat kanan dan kiri dindingnya terbuat dari batu bata putih. Lima meter ia terbang menyusuri jalan yang tersambung dengan gerbang, tepat di depan Raduma kini terlihat gapura besar sekali dengan hiasa bunga melati putih.


Sejauh Raduma memandang ke dalam gapura tersebut dari jarak 30 meter, tidak ada satupun yang dapat dilihat. Semuanya gelap gulita. Tanpa penerangan apapun, mencekam dan hawa dingin dari dalam sana serasa mengintimidasi kulit dan mental makhluk hidup yang mendekatinya.


“Gelap sekali, hawa jahat begitu terasa. Ini berbeda dengan markas Ratu Urayaning tapi mungkin hampir sama dengan lubang yang kulihat di restoran tadi siang.”


Kepalang tanggung, Raduma memutuskan untuk masuk lebih dalam menembus dimensi lain. Lorong gelap tiba-tiba berubah menjadi pemandangan lembah hijau dengan satu istana di tengah-tengahnya, tidak salah lagi itu markas Ratu kidul.


“Ternyata masih berada di dimensi kedua. Tapi mengapa hawa jahat dan tekanan energinya lebih terasa daripada markas Ratu Urayaning ?”


Langit yang menaungi istana dan lokasi Ratu kidul ternyata masih sama dengan apa yang Raduma lihat di markas Ratu Urayaning. Yaitu berminyak dan apabila langit menghitam (malam) minyak tersebut akan menyala sebagai pengganti bulan, ciri khas dimensi kedua.


Bedanya, tanah di tempat itu tidak berwarna ungu kehitaman namun justru berwarna sangat hitam. Hingga kerikil pun hampir-hampir tak terlihat teksturnya.


Dengan teknik yang ia kembangkan 3:bulan yang lalu, Raduma menyelinap masuk ke kompleks istana Ratu kidul. Tubuhnya kini tak terlihat sedikit pun namun teknik yang ia namakan dengan teknik hologram itu masih memiliki kelemahan atau belum sempurna karena hanya berjalan 19 menit menit.


“Kau tahu kemana Ratu ?” ujar salah seorang yang berpenampilan seperti seorang panglima perang. Posisinya lebih dekat dengan sebuah bola besar terbuat dari batu bata. Ukurannya sebesar rumah tipe 45. Dalam setiap batu bata ditanami emas sebesar kelereng, di bola itu Ratu kidul biasa bersemayam.


Setidaknya itulah dugaan Raduma setelah membaca gestur tubuh panglima perang yang berbicara dengan beberapa penasehatnya.


“Mungkin itu singgasananya,” gumam Raduma sambil terus menajamkan pendengarannya untuk menguping apa yang dibicarakan panglima dan beberapa penasehat kerajaan.


“Dia tidak berbicara kepada kami sedikitpun, dia keluar sejak tadi sore,” jawab penasehat yang wujudnya seperti manusia tua.


“Ada perintah dari Sakaro untuk menemui rapat besar di samudera Hindia,” jelas Panglima.


“Biar kami yang menyampaikan soal itu nanti. Tapi kurasa jika di jam-jam seperti ini, dia sedang mandi di Cakahurip Dan itu bisa memakan waktu lama, kami juga tidak berani mendekat.”


“Baiklah.”


Panglima menghilang dari hadapan para penasehat, dari energi yang dipancarkannya, Raduma bisa merasakan panglima dengan badan besar dengan zirah baja dan tombak emasnya itu bergerak ke sebelah selatan kompleks istana yang memang terdapat sebuah bangunan panjang sekali, seperti sebuah barak tentara dalam penglihatan Raduma.


“Cakahurip ?”


Satu kata yang terbersit di benak Raduma saat mendengar percakapan mereka. Tanpa menunda waktu lagi ia bergerak ke segala arah untuk mencari lokasi Cakahurip yang sudah dapat dipastikan itu adalah tempat pemandian khusus Ratu.


Dimulai dengan terbang ke arah timur, yang ia lihat banyak sekali bangunan kubus dengan ukuran tidak begitu besar dengan atapnya yang terdapat pipa-pipa (jika di alam manusia jika di di alam makhluk astral ini entah terbuat dari apa) yang terhubung ke kubus-kubus lain.

__ADS_1


Akan tetapi yang paling mengejutkannya adalah isi dari kubus itu sendiri. Ya, sebuah perbuatan kotor yang lebih buruk dari hewan. Terdapat para pasangan setan dari kalangan jin yang sedang melakukan hubungan intim.


Awalnya Raduma ingin mengintip Ratu siluman mandi. Namun setelah melihat begitu banyak setan yang melakukan perbuatan itu, Raduma justru seperti tersadarkan bahwa niat yang ada di dalam hatinya tadi salah, ia merasa khilaf.


Raduma telah melihat fenomena yang diluar dugaannya. Nalar dan batin manusia mana pun tidak akan menikmati serta membenarkan ritual massal yang mereka lakukan, kecuali manusia yang dirasuki atau telah berubah menjadi setan sepenuhnya.


Akhirnya, ia memutuskan untuk kembali, terbang dengan membuka jari jemarinya, semakin lebar ia membuka jari, semakin tinggi pula ia melayang terbang.


Dengan gerakan cepat, Raduma melewati beberapa blok, termasuk menara yang berisi alat seperti bedug. Raduma pikir mungkin para jin di kerajaan itu dalam sejarahnya punya keterkaitan dengan masyarakat sekitar tempo dulu.


Gapura sudah terlihat, tanpa menoleh lagi ke belakang ia langsung keluar dari dimensi kedua dan menuju penginapan.


Dua kelopak mata mulai terbuka perlahan dengan napas dada yang teratur. Raduma sudah berada di penginapan sepenuhnya, kini ia dalam keadaan terduduk menyesali apa yang baru saja ia lakukan. Meski niatnya belum terlaksanakan namun rasa sesal hadir menghantui. Ia merasa jika ia menuruti apa kata birahinya, apa bedanya dia dengan Bapak putih atau Rudi Karsa dahulu ?


Saat ia memegang rambut di ubun-ubunnya dengan bahasa tubuh penuh kecewa dan penyesalan. Tiba-tiba terdengar, suara ombak disertai desir angin yang menyeramkan. Lalu diikuti suara laju kereta kuda.


Siapa yang datang ?


Sebuah pertanyaan muncul di hati Raduma saat ia tertunduk dan menatap lantai putih. Semerbak melati kembali tercium, setiap detiknya terasa semakin dekat. Perlahan Raduma mendongakkan kepalanya dan melihat.


“Astaga...” Raduma sedikit terkejut saat melihat sosok wanita yang ia lihat tadi sore namun dengan pakaian yang berbeda mendekat dengan menaiki kereta kuda yang berjalan di udara, terbang. Raduma bisa melihat dengan jelas meski jika dalam penglihatan manusia biasa hanya melihat tembok saja.


Sosok jin wanita itu turun dari kereta kuda dengan menggunakan selendang hijau berkonde dan memakai kebaya. Satu mahkota berada di atas kepalanya, senyumnya yang ganjil menambah aura yang tidak disukai Raduma.


“Siapa kau sebenarnya ?” tatap Raduma.


Sosok jin wanita itu tersipu malu semakin menambah kesal Raduma yang seolah-oah menggodanya dengan bertingkah so imut.


“Sudah lama aku tidak ditatap oleh pria tampan sepertimu,” jawabnya.


“Jawab pertanyaanku.”


Keduanya berinteraksi melalui telepati karena Raduma tidak mau kedua hansip yang sedang tertidur tiba-tiba bangun.


“Seharusnya kau bisa menyimpulkannya sendiri setelah melihat penampilan ku hihihi.” Suara kuda yang berjumlah 4 ekor itu serentak meringkik nyaring mengikuti pemiliknya yang tertawa agak horor.


“Ratu kidul.” Raduma menyadari dengan ekpresi tidak suka.


“Ya...benar sekali.”


“Sebaiknya kau pergi, tidak ada yang bisa kau dapatkan dari ku.”


“Tentu saja ada, yaitu dirimu.” Ratu kidul mendekat.


Segera Raduma menaikkan energi dalam tubuhnya hingga menyala luar biasa dan menekan Ratu hingga termundur beberapa meter.


“Sudah kubilang pergilah.”


“Bagaimana kalau kuberikan penawaran menarik ?” tatap Ratu. “Jadikanlah aku khodammu lalu akan kubantu kau membantai para dukun., kau mau ?”


Raduma terkejut satu halisnya terangkat.


“Bagaimana dia tahu ?” Batin Raduma.


“Kau pikir aku sama dengan mereka ? Yang mau diperdaya oleh para jin seperti mu ?” Raduma tersenyum menghina. “Mereka mengira dengan menjadikan kalian khodam lantas kalian menjadi budak mereka. Padahal hakikatnya tidaklah demikian, justru merekalah yang menjadi budak kalian. Secara perlahan kalian pun menggerogoti tubuh mereka. Aku tidak sebodoh itu !”


“Sayang sekali ternyata kau lebih pintar dari mereka yang telah kusesatkan. Mereka yang rela mendatangi ku seolah-olah aku bisa memberikan kekuatan. Mereka yang mempersembahkan kepala kerbau ke laut agar diberi keselamatan atas nama budaya. Dan masih banyak lagi, aku suka kebodohan mereka.” Ratu tertawa nyaring.


“Kau telah menyesatkan banyak manusia."


“Itu salah mereka sendiri. Semakin mereka melakukan persembahan ke laut, menganggap ku ada, mempercayai dongeng-dongeng penuh dusta yang kami hembuskan ke telinga -telinga manusia yang berhati sakit. Semakin menambah kuat diriku.”


“Sayangnya aku sedang tidak berhasrat untuk bertempur, jika tidak, akan kutebas kepala mu !” ancam Raduma.


“Kunantikan itu,” balas Ratu kidul seraya mundur perlahan wajahnya kini tampak lebih serius lalu pergi menaiki kereta kuda.


"Ternyata dia mengambil wujud dari orang yang pernah mendatangi pantai ini di masa lampau. Wujud aslinya pasti bukan seperti itu, itu hanya casing. Ia juga pergi ke lokasi lain dengan wujud yang berbeda untuk mengelabui manusia agar manusia menjadikannya dongeng yang dipercayai. Tampilan tadi sore pun mungkin dahulu ada seorang gadis bangsawan Eropa yang berlayar ke laut ini dan dia mencuri karakter wajahnya. setan ini sudah sangat merusak manusia." Batin Raduma.


15 detik kemudian suasana kembali normal. Tidak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 malam lebih 23 menit. Rasa lelah mulai merangkul tubuh kekar Raduma, kantuk sudah tak tertahan lagi.


“Melelahkan.”


Lalu pemuda 27 tahun itu tergeletak ke samping kanan di atas lantai putih sampai suara adzan subuh membangunkannya.


Bantu penulis dengan like dan komentar, ya.


Mau sedekah poin vote juga boleh, penulis sangat berterima kasih.

__ADS_1


__ADS_2