PERANG METAFISIK

PERANG METAFISIK
Tugas baru dan korban ke 6


__ADS_3

Tugas baru dan korban ke 6.


Berkumpul 30 orang berpakaian rapi duduk mengelilingi meja bundar. Beberapa berambut panjang dengan senjata api terselip di balik jasnya masing-masing.


“Rapat ditutup, lakukan tugas dengan baik.” Seorang pria dengan gaya rambut cepak bergegas meninggalkan kursinya dengan membawa map, sepertinya Kepala BIN (Badan intelijen negara).


Suara sepatu pantofel yang berjalan di atas lantai putih saling bersahutan lalu lenyap ketika seluruh tubuh manusia itu memasuki dua lift yang tersedia di gedung milik pemerintah.


Beberapa menit kemudian datang seorang wanita muda menemui staf ahli bidang pertahanan dan keamanan yang baru saja memaparkan masalah yang baru dikaji.


“Silahkan duduk,” ujar Girarda. Di usianya yang terbilang muda tapi matang ia sudah berhasil menjabat posisi staf ahli di Badan Intelijen Negara.


“Terima kasih.” Wanita muda itu kemudian duduk mengikuti perintah staf ahli di badan intelijen negara. “Anda memanggiiku untuk tugas baru ?”


“Benar, kali ini kau akan ditugaskan untuk mencari informasi tentang satu kasus pembunuhan berantai.”


“Kasus pembunuhan ?”


“Iya, selama tiga bulan ini sudah 5 orang yang diketahui sebagai paranormal mati tanpa diketahui siapa pembunuhnya,” terangnya. “Beberapa diantara jenazah yang diketemukan polisi, terdapat pesan yang sepertinya ditulis oleh pelaku.”


“Maaf Pak tapi sepertinya anda salah orang.” Wanita muda itu menolak. “Harusnya seorang detektif magang yang anda tugaskan untuk kasus ini.”


“Kau benar Sandra, tapi... reputasimu dalam mencari informasi tidak perlu diragukan lagi, terakhir kau mampu mendapatkan informasi tentang siapa aktor intelektual dari penyelundupan senjata di perbatasan Qatar. Masa untuk misi yang mudah seperti ini kau tidak bisa ? Lagipula kau sedang tidak mendapat tugas hampir satu bulan ini. Anggap saja ini hiburan. "


“Tapi—“


“Sudah sudah, kau tidak bisa menolaknya, ini perintah. Kau hanya perlu mengawasi paranormal yang sekarang paling digandrungi, logikanya menurut ku pelaku akan mengincar lagi 'dukun' yang punya pengaruh besar di masyarakat. Mudah, kan ?”


“Baik Pak kalau begitu.” Dengan terpaksa ia menerima tugas yang diberikan padanya.


“Kau boleh pergi.” Girarda menutup map yang berisi data-data tentang kasus pembunuhan berantai dan foto pesan terang bulan 14.


“Permisi.” Sandra pamit.


Wanita muda itu bernama Sandra, ia melenggang keluar dari ruangan yang dipasangi AC, apalagi ia memang paling tidak suka AC jadi terkesan ia buru-buru untuk keluar dari sana. Sepotong roti dan keju berukuran kecil ia raih dari saku rompinya, makanan sederhana yang paling ia sukai. Sambil berjalan ia memakannya layaknya anak kecil menikmati cemilan.


Setelah itu Sandra bergegas memasuki lift yang seringkali dipakai pegawai gedung itu daripada anak tangga. Baru saja ia sukses menyelesaikan misinya dalam mencari informasi tentang jaringan ******* di Yaman atas permintaan intelijen Yaman. Karena setelah ditelaah ada koneksi antara ******* yang beroperasi di Indonesia dan di negara Yaman.


Atas kinerjanya itu, dalang dari serangan teror dari pemberontak Yaman ternyata berasal dari Asfahan Iran. Suplai senjata mengalir dari sana. Namanya mulai dimasukan ke dalam daftar anggota elit BIN. Kini, ia harus melaksanakan tugas yang terbilang mudah tapi mungkin juga sulit. Karena mungkin baru kali ini ia mendapatkan misi seperti itu.


“Kamu rekan kerjaku sekarang,” ujar salah seorang pria yang seusia dengannya.


Keduanya berjalan berdampingan namun sepertinya Sandra bersikap dingin terhadap pria yang tiba-tiba berjalan di sampingnya itu.


“Tanpa mengurangi rasa hormat, aku lebih suka bekerja sendiri.” Sandra jutek.


Pria tersebut mengangkat kedua bahu dan berkata,


“Yah...aku juga begitu sih tapi ini perintah atasan. Jika kamu mau, kamu bisa menyampaikan nota keberatan.”


Sandra memutar kedua matanya lalu mengembuskan napas.


“Oke, kemana kita sekarang ?”


“Ke kantin,” jawab pria yang diketahui bernama Pedro. Ia meraih tangan halus namun terlatih milik Sandra. Keduanya belok ke arah kanan menuju kantin gedung badan intelijen negara.


“Pedro ! Lepaskan !” bentaknya risih.


Pedro terus saja berjalan sambil menarik tangan wanita cantik yang menjadi rekan kerjanya kali ini.


Sampai di kantin mereka Pedro duduk di atas bangku panjang dan memaksa Sandra juga untuk duduk di hadapannya.


“Come on Sandra... sekali-kali kita santai dulu, jangan terlalu serius, kita manusia bukan mesin yang tak punya perasaan.” Pedro menatapnya lekat-lekat.


“Apa lagi sih ?” keluh Sandra.


“Sandra aku serius sama kamu, please kasih aku kesempatan untuk mengisi ruang di hati kamu.” Pedro memegang kedua jemari Sandra, sepertinya ia jatuh hati padanya.

__ADS_1


“Tapi aku...aku tuh gak bisa Pedro, aku sama sekali gak punya perasaan sama kamu,” jawab Sandra pelan. Ia coba meyakinkan pria di hadapannya itu agar berhenti mengejar cintanya. “Kamu cuma akan buang-buang waktu.”


“Gak masalah, aku akan tetep nunggu kamu sampai kapanpun.” Perlahan Pedro melepas cengkraman tangannya dari jemari Sandra.


“Keras kepala.” Sandra membuang muka.


“I don’t care.”


“Terserah.” Sandra bangkit dari bangku lalu beranjak menuju pelataran parkir. Mobil sedan hitam sudah menunggunya untuk segera pergi.


Sementara Pedro masih tertegun melihat reaksi Sandra yang masih sama, dingin. Ia pesan segelas kopi late untuk menemani siang waktu istirahatnya. Entah harus bagaimana lagi ia membujuk Sandra agar mau menerimanya sebagai kekasih.


Esoknya, Sandra harus bertemu lagi dengan Pedro karena bagaimanapun ia adalah rekan kerja dalam misi kali ini.


“Jadi dari mana kita memulainya ?” Pedro membuka percakapan.


Di sebuah tempat sepi di dataran tinggi Bandung utara mereka berdua bertemu. Dari tempat itu Sandra biasa berpikir tentang setiap misinya sambil memandangi pemandangan kota Bandung.


“Kita teliti dulu korban pertama dan kedua kasus itu,” jawabnya. “Kau mengerti maksudku ?”


“Tidak.” Pedro pura-pura tidak mengerti.


“Sudah kuduga kita tidak akan selaras.” Sandra menggeleng.


“Bisa tidak kamu tidak bawa rasa bencimu padaku dalam misi ini ?” Pedro melirik.


Lirikannya dibalas oleh tatapan dingin Sandra.


“Oke, sekarang kita fokus pada pekerjaan.” Sandra berjalan dua langkah hingga di ujung pagar yang menjaganya untuk tidak melewati lebih jauh karena di depannya terdapat jurang.


“Mm. jelaskanlah.”


“Dengar Pedro, setelah kuperiksa data-data di map yang Girarda berikan tempo hari. Korban pertama dan kedua adalah warga kota Bandung. Kurasa pelakunya juga berada di kota Bandung.”


“Tapi itu kesimpulan yang terlalu dini, Prematur.”


“Katakanlah dugaanmu itu benar, lalu darimana kita memulai ?”


“Dari korban yang bernama Raga, aku ingin kita selidiki dan cari informasi siapa saja yang pernah berkaitan dengan orang bernama Raga satu bulan sebelum ia terbunuh. Kerabat, mantan, teman anaknya, pokoknya kita mengembangkannya dari situ.”


“Aku mengerti, kalau begitu aku berangkat.” Pedro bergegas menuju mobil miliknya.


Sementara Sandra masih terdiam memikirkan sesuatu, selain makan cemilan roti dan keju kecil kebiasaan lain darinya adalah merenung di tempat yang tinggi.


********


1 Juni 2031


Raduma baru saja bangun dari tidurnya karena ekor Pekeng terasa mengusap pipinya dengan lembut. Sementara empat anaknya sudah tumbuh cukup besar, keempatnya tidur tidak jauh dari tubuh Raduma.


Hari itu, rencananya ia akan melanjutkannya misinya untuk membersihkan permukaan bumi, khususnya di Indonesia dari para dukun yang seringkali menyamarkan identitasnya dengan istilah paranormal.


Hampir lima bulan ia sudah membunuh lima dukun. Dua orang adalah Raga dan Rudi Karsa atau Bapak putih dan tiga lagi adalah Ariwesi, seorang guru besar perguruan tenaga dalam yang sering membuka praktek pemasangan susuk, Sania darty, seorang ahli terapi pengobatan tradisional yang namanya menjadi terkenal lewat media sosial, sama seperti Rudi Karsa ia banyak dibantu khodam dalam menjalankan praktek pengobatannya dan yang terakhir adalah Anggita, seorang ahli sihir yang banyak muncul di televisi.


Awalnya Raduma tidak mengincar namanya namun karena melihat begitu banyak manusia yang terpukau dengan aksinya, akhirnya Raduma memutuskan untuk melenyapkannya juga.


Bisa dibilang, membunuh Anggita hanyalah iseng-iseng semata. Sekarang, target ke enam adalah seorang pria yang baru saja naik daun. Kemampuan metafisiknya yang terbilang lumayan, membuat Raduma tertarik untuk mengincar nyawanya. Terlebih, Balton mempunyai program khusus di salah satu stasiun televisi dengan rating yang cukup tinggi. Program cenayang yang membuka sesi tanya jawab konsultasi, barangkali banyaknya orang-orang yang menggandrungi hal-hal seperti itu, itu yang semakin membuat Raduma berhasrat untuk segera mengirimnya ke alam barzakh.


“Tayangan televisi yang sama sekali tidak mendidik, kalo dibiarin terus bisa meracuni generasi muda dengan hal-hal beginian.” Raduma menambah volume televisi sementara Balton masih saja melayani pertanyaan-pertanyaan dari bintang tamu.


"Apa harus kuberi pelajaran gitu produsernya ? Ah tidak, jika kulakukan itu maka aku telah melampaui batas, dia sama sekali bukan dukun. Yang paling pas mungkin kubunuh saja orang berwajah boneka ini (Balton).”


Jari jemarinya lihai mencari informasi tentang Balton, apa saja kegiatannya selain mengisi acara di stasiun televisi. Hidup di zaman serba canggih ini tidak membuat Raduma kesulitan dalam mengali informasi tentang Balton. Diketahui olehnya, Balton dalam waktu dekat akan berkunjung ke Bandung untuk mengisi salah satu acara lainnya di stasiun televisi. Kali ini Balton diminta untuk mengeksplorasi atau menceritakan apa yang saja sosok astral yang menunggu museum tua pos Indonesia.


14 Juni, hari sabtu malam Raduma menapakkan kakinya di sebuah jalan tidak jauh dari museum pos Indonesia. Orang-orang sudah terlihat ramai, sepertinya mereka datang untuk menonton. Situasi menjadi lebih menguntungkan, Raduma pikir situasi yang ramai akan menutupi aksinya supaya tidak mencurigakan. Tidak biasanya, Raduma sekarang lebih suka menyelesaikan misinya dengan Langsung mendatangi calon korban.


“Pak, maaf itu lagi ada acara Balton paranormal itu, ya ?” tanya Raduma basa-basi pada seorang pria tegap satpam yang bertugas mengamankan warga yang ingin menonton dari dekat.

__ADS_1


“Iya Mas tapi jangan dekat-dekat ya kalau mau nonton nanti kesurupan,” jawabnya.


“Oh gitu ? Nonton ah asyik kayaknya.” Raduma masuk seperti warga pada umumnya.


Di dalam pelataran, Balton dan salah seorang pembawa acara sedang memaparkan sejarah museum pos Indonesia termasuk hal-hal mistis apa saja yang pernah terjadi.


“Ya, Mas Balton, sebenarnya betul tidak apa yang dikatakan Bapak Entis (warga yang ditanyai) terkait sosok gundurewo yang sering menampakkan diri di salah satu jendela ?” tanya Gilang Sukmo.


“Kalo yang aku lihat sih ya, emang betul yang dikatakan Bapak ini bahwa ada semacam gundurewo, tapi sebenernya itu bukan genderuwo yah. Ini siluman, kalo gundurewo kan jenisnya bukan siluman.”


“Hmm kira-kira kenapa sosok tersebut sering menganggu orang yang lewat Mas Balton ?”


“Dia sengaja sih, sosok yang satu ini emang agak kurang bersahabat yah. Negatif,” tutur Balton sambil berjalan menuju pintu masuk. “Dia gak suka ada orang yang masuk ke sini, kadang dia juga iseng menampakkan diri di jalan depan sana, ini sekarang juga sosoknya ada dan kayak marah gitu.”


Sementara warga dan Raduma yang berdiri paling belakang mengikuti Balton dan pembawa acara pelan-pelan, jaraknya tercipta 10 meter. Ketika Balton dan pembawa acara memasuki bangunan tua tersebut, ternyata warga atau penonton tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam. Hal itu membuat Raduma harus berpikir kembali agar bisa mendekatkan jarak dengan Balton. Padahal ia sudah berniat untuk melakukan telekinesis.


“Lokasinya menyulitkan, yang datang terlalu banyak ini di luar prediksi.” Batin Raduma.


Satu teriakan terdengar sangat keras, datang dari arah penonton. Satu orang warga dirasuki makhluk astral yang terangsang oleh kehadiran banyak orang di lokasi tersebut.


“Sepertinya ada yang kesurupan Mas Balton.” Pembawa acara berlari mendekati salah seorang pria yang matanya menjadi menyalak galak. Lalu mengeluarkan gerakan aneh. “Sosok apa yang merasukinya Mas Balton ?”


Balton dengan sigap membuka telapak tangannya, mengarahkannya pada sosok pria yang sudah kehilangan kesadaran untuk berkomunikasi.


“Siapa kisanak ?” tanya Balton.


“Aing nu ngageugeuh di tempat ieu ! (Saya yang menguasai tempat ini !)” jawab makhluk astral yang berada di tubuh warga. “Rek naon maneh kadieu ? (Mau apa kamu kesini. ?)


“Oh jadi katanya, beliau ini yang menguasai tempat ini,” ujar Balton pada pembawa acara. “Mau apa kita kesini katanya ?”


Merasa pertanyaannya dihiraukan, makhluk yang suaranya berat itu mengganggap Balton sama saja telah menghinanya, makhluk itu langsung menyerang Balton dengan satu tangan yang yang mengeluarkan senjata Kujang namun itu hanya bisa dilihat Raduma dan Balton saja.


Spontan Balton menghindar dari serangan dadakan. Balton mulai membuat lingkaran energi agar makhluk dihadapannya tidak keluar dan menyerang warga yang lain. Di lain kasus juga sangat rawan seseorang yang sudah dirasuki jin lalu membiarkannya tanpa di kunci atau di awasi. Makhluk astral tersebut bisa saja menyetir tubuh manusia yang ia singgahi untuk melakukan tindakan melukai diri, bisa menabrakkan diri, loncat ke jurang atau menceburkan diri ke dalam sungai dan danau.


“Ini saatnya, Balton terpancing keluar oleh makhluk itu.” Raduma segera mengeluarkan energi dari telapak tangannya bagai partikel debu yang berjatuhan lalu bergerak di udara.


Satu baut dari tangga yang terbuat dari besi mulai terlepas sendirinya, berputar perlahan hingga terlepas dan melayang di udara oleh energi milik Raduma. Teknik yang sulit untuk dilakukan para manusia yang hidup di zaman abad ke 21.


Balton sama sekali tidak menyadari sesuatu yang mengincarnya. Mungkin ia juga sibuk menangani makhluk astral yang agresif di hadapannya.


Melesat !


Baut kecil dengan diameter 3 milimeter panjang 3 centimeter itu bergerak sangat cepat seperti sebuah peluru sniper yang memburu target.


JLEBB !!


Baju kemeja hitam itu berlubang, rongga pernapasan sempat tersentak. Darah ? Jelas keluar dengan mudah dari kulit dada Balton.


“Astaga,” ujarnya dengan tubuh mulai oleng.


“Tolong...!” Gilang Sukmo berteriak, ia tidak tahu pasti apa yang melesat menembus dada Balton, yang jelas saat Balton mengerang kesakitan dengan memegang dada kiri, ia lihat darah sudah mengucur.


Ajal lebih cepat merengkuh jiwanya daripada langkah kaki warga dan satpam yang spontan mendekati Balton.


Kameramen panik, warga juga panik sementara seorang warga yang tadi dirasuki makhluk astral, tiba-tiba tergeletak. Entah kenapa saat Balton terkena serangan Raduma, makhluk yang agresif tadi memutuskan untuk keluar dari tubuh seorang warga.


“Pak panggil ambulance, astaga...Balton, Mas Balton.” Gilang Sukmo coba membangunkan Balton yang sudah tidak menampakkan tanda-tanda kehidupan.


Sebagian wanita dari penduduk sekitar yang hadir, histeris bukan main. Sebagiannya cepat-cepat pulang karena menganggap kematian Balton yang terkenal itu akibat serangan makhluk penunggu museum pos Indonesia.


Suasana menjadi keos, minimnya jumlah pengaman membuat situasinya tak terkendali. Semakin banyak orang yang datang untuk melihat ketika Gilang Sukmo dan rombongan dari karyawan televisi membawa tubuh Balton ke dalam mobil karyawan karena memang memanggil ambulance hanyalah keputusan yang sia-sia, terlalu memakan waktu.


Disisi lain, Raduma segera meninggalkan lokasi tatkala ia lihat Balton sudah tewas. Ia harus memastikan Balton tewas karena jika tidak, kemungkinan Balton bisa melacaknya sangatlah memungkinkan.


Perbuatan Raduma lolos dari saksi, baik saksi hidup maupun cctv. Tak mungkin ada cctv dari bangunan tua yang terbengkalai itu, sementara rekaman kamera yang dipegang oleh karyawan televisi pun tidak menangkap momen itu dengan jelas, misi sukses tak ada bukti tak ada saksi.


Bantu penulis dengan like dan komentar ya.

__ADS_1


__ADS_2