
Terang bulan 14
Malam di hari kematian neneknya, Raduma sulit untuk tidur, ia lebih sering melamun dan puncaknya ia menangis hingga badannya menggigil seperti orang epilepsi pada pukul 23.30.
Menangis memang bukan hal yang buruk bagi seorang pria, yang salah adalah jika berkata-kata yang tidak layak, menentang takdir yang diberikan Tuhan atau meracau menyesali sesuatu yang sudah terjadi, bukankah itu gila ?
Lima menit setelah kejadian itu, tubuhnya kembali tenang hingga pendengarannya terasa lebih tajam. Tiba-tiba ia bangkit dari kasur tebal yang sudah tampak sedikit bolong-bolong di sana sini.
“Suara apa itu ?“
Samar-samar terdengar suara harimau menggeram beberapa detik kemudian berubah menjadi suara tembok yang digaruk disertai pekikan yang nyaring.
Bulu kuduk Raduma berdiri, sorot matanya tajam memperhatikan sekitar, jendela kamar, pintu dan arah dapur, ada apa gerangan ?
Ia berjalan dari kasur menuju dapur, kompor, tumpukan cucian baju, piring dan gelas terlihat biasa saja hingga ia berjalan pelan ke arah tangga yang menuju loteng tempat jemuran dengan mengendap-ngendap.
“Jangan tidur larut malam Nak.“
Seseorang berkata dari salah satu anak tangga paling atas, kondisinya gelap dan hanya diterangi sinar bulan yang malam itu tepat di hari ke 14, dimana bulan berada pada posisi yang bulat terang sempurna.
“Arghhhh !"
Raduma berteriak keras ketika ia mendongakkan wajahnya ke arah tangga paling atas, didapatinya seorang Kakek dengan pakaian tempo dulu sedang terduduk melayang dan tangan kanannya di atas tangan kiri serta di pinggangnya terdapat kendi kecil.
Ember dekat pintu, sapu yang tergantung, tersenggol oleh Raduma yang berlari tunggang langgang karena ketakutan setengah mati menuju kamarnya. Ia bergegas mengambil selimut sementara badannya lemas bukan main serta sulit untuk sekedar bersuara.
Sementara suara tembok digaruk terasa semakin mendekat, Raduma hanya bisa pasrah dan memegangi selimut merah peninggalan kedua orang tua, hingga akhirnya ia pingsan tak sadarkan diri dan terbangun kembali pada pukul 01.00 dini hari, suara menyeramkan itu sudah hilang berganti suara jangkrik dari kebun belakang milik tetangga orang China.
Karena merasa takut berada di kamar yang lokasinya berdekatan dengan dapur dan tangga loteng. Ia pindah ke ruang tamu sampai pada pukul 01.30 ia tertidur kembali hanya beralaskan karpet usang, selimut dan bantal kapuk warna kuning.
Esoknya, ia bangun dalam keadaan semua persendiannya terasa linu, ia bahkan tidak langsung mandi padahal pagi itu sudah menunjukkan pukul 07.23. Mengetahui bangun terlambat jari jemarinya mengetik layar handphone di depan teras rumah.
“Pak Sony saya hari ini ijin tidak masuk kerja karena sakit, terimakasih."
Belum juga jempol kanannya menyentuh tombol kirim. Matanya teralihkan oleh keberadaan anak-anak kecil yang tertawa riang janggal bermain di depan rumahnya, kira-kira tiga detik berikutnya motor dengan kecepatan tinggi datang dari arah kanan. Menjadi hal lumrah di wilayah Raduma memang tak terdapat satu pun polisi tidur sehingga motor bisa melaju dengan kencang.
“Awas...motor !" teriak Raduma pada anak-anak yang bermain seraya bangkit dari lantai teras rumahnya.
Namun ia kaget bukan kepalang, motor melaju begitu saja menembus tubuh anak-anak tersebut. Jantung Raduma terasa tersentak seperti ketika naik jalanan yang menanjak lalu turun dengan seketika.
Rupanya Raduma tak menyadari bahwa anak-anak yang ia lihat ternyata makhluk halus dari kalangan jin. Ia bahkan tidak bisa membedakan mereka dengan manusia, mirip sekali.
Sesaat ketika ia berteriak pengguna motor berhenti dan menoleh ke arah raduma dengan nada heran.
“Ada apa kang ?"
“Itu Pak, saya lihat anak-anak main di tengah jalan, Bapak lihat tidak ?"
“Masa ? Mana...?“ kata Bapak pengguna motor yang mulai sedikit ketakutan. “Waduh itu mungkin makhluk halus kang, hiii..."
“I-- iya mungkin."
Gas motor kembali ditarik pertanda si Bapak pengguna motor pergi meninggalkan Raduma di tepi jalan depan rumahnya sementara Raduma dibuat kebingungan dengan kejadian kejadian aneh yang menimpanya, ia mulai menyadari ada yang tidak beres pada dirinya.
“Ada apa ini,” bisik Raduma di dalam hati.
__ADS_1
Ia masuk kembali sambil menutup gerbang besi, yang akhirnya ia lumasi dengan oli bekas karena sudah sangat macet. Tanaman jahe, pohon singkong dua batang dan kuping gajah ia siram dari air selang yang dibawa dari pinggir rumah tempat penyimpanan sepeda yang memang langsung terhubung dengan dapur dan kamar mandi.
Enggan berlarut-larut memikirkan hal-hal aneh, ia coba mengalihkan perhatiannya dengan menyiram tanaman, menyapu dan mengepel teras, walau rasa takut sebenarnya masih terasa, bahkan ia sesekali melihat ke tengah jalan tempat anak-anak kecil tadi bermain karena khawatir muncul kembali.
Selesai beres-beres, siangnya ia berbaring di teras rumah sambil melihat langit-langit yang tampak terdapat jaring laba-laba. Dimanjakan dengan semilir angin serta suara dari penyiar radio yang menyampaikan berita bahwa terjadi pembunuhan terhadap salah satu pegawai lembaga pemerintah yang bertugas memberantas korupsi, di Jawa tengah.
Pelaku melarikan diri dan kepolisian kesulitan mengindentifikasi wajah pelaku yang terekam cctv berkualitas buruk. Lambat laun Raduma menutup mata dan membayangkan wajah pegawai lembaga pemerintah yang dibunuh tersebut karena sosoknya memang tak asing dan sering muncul di televisi sebagai juru bicara.
Tanpa diduga, yang semula gelap tiba-tiba Raduma melihat satu cahaya kecil di hadapinya, cahaya itu membesar hingga menjadi sebuah lokasi yang ia sendiri tidak tahu itu di mana.
Bagaikan seperti melihat video, Raduma terus bergerak ke depan hingga ia dapati seseorang yang wajahnya mirip dengan pegawai lembaga pemerintah yang dibunuh, dalam penglihatannya pegawai yang diketahui bernama Juli itu hendak masuk ke dalam sebuah rumah no 14 namun tiba-tiba ia ditembak dari belakang oleh seorang pria bertubuh tinggi, kurus serta memakai jaket bertuliskan California.
Sontak Raduma berteriak, maksud hati untuk memanggil warga sekitar namun ia baru menyadari bahwa warga yang ia panggil tidak bisa mendengarnya.
“Ini mimpi ?“ gumam Raduma merasa heran.
“Tapi aku bisa merasakan dan menggerakkan tubuh, ini bukan mimpi."
Saat itu pula Raduma membukakan mata perlahan dan menyadari bahwa itu memang bukan mimpi tapi semacam menerawang dan pergi ke masa lalu. Karena waktu kejadian pembunuhan memang terjadi kemarin tepat berbarengan dengan kematian neneknya.
“Ngimpleng, aku bisa ngimpleng ?“ kata Raduma yang menyebut-nyebut kata ngimpleng yang lebih bermakna menerawang dalam bahasa lokal asal tempat Raduma dilahirkan.
Demi memastikan dugaannya, ia mencoba sekali lagi memejamkan mata dan berkonsentrasi mengingat wajah pelaku yang ia lihat dengan jelas dalam terawangan yang pertama. Giginya gingsul dan terdapat tahi lalat di dagunya, setiap lekuk wajahnya ia ingat dengan detail.
Satu dua menit berlalu akhirnya cahaya kecil itu muncul kembali, pelan-pelan menjadi sebesar uang logam lima ratus, semakin kuat mengkonsentrasikan semakin membesar cahaya yang ia lihat dan akhirnya terbuka seluruhnya. Tampak si pelaku sedang melakukan aktivitas kesehariannya sebagai juru parkir di sebuah pusat perbelanjaan.
Raduma sedikit tak percaya, bagaimana mungkin orang seperti ini rela membunuh seseorang dengan keji. Karena ingin mengetahui daerah mana yang ia lihat Raduma terus bergerak di udara layaknya kamera drone untuk mencari alamat, jalan saba ayem Jawa tengah, alamat yang tertera pada spanduk toko meubel tidak jauh dari lokasi pusat perbelanjaan, merasa sukses mendapatkan posisi pelaku, Raduma memutuskan untuk mengakhiri perjalanan implengnya, ia hanya meniatkan dalam hati untuk kembali ke posisi asli, maka lambat laun visualisasi yang tampak di hadapannya kembali mengerucut hingga menjadi titik cahaya seperti di awal tadi.
Hanya sepuluh menit ia melakukan impleng tapi rasa capainya seperti habis mengangkat karung berkilo-kilo. Dadanya terasa sedikit berat, sedikit pusing dan dehidrasi mungkin karena impleng membutuhkan energi yang lebih besar.
Kehadirannya tidak diketahui Raduma, tiba-tiba ia sudah membuka gerbang dan masuk ke teras rumah sementara Raduma kembali merebahkan tubuhnya di lantai keramik putih setelah melihat sepintas Tobi yang membuka gerbang.
Sebagai seorang teman dekat, Raduma memang mempersilahkan Tobi untuk datang ke rumahnya kapan saja dan tidak perlu sungkan untuk menganggap rumahnya sebagai rumah kedua.
“Eh...malah tidur,” kata Tobi menyentil ibu jari kaki Raduma.
“Cape Tob, habis nonton tivi," jawab Raduma tidak serius. Ia menilai impleng yang baru saja ia lakukan memang seperti menonton televisi atau video.
“Waduh Cuma nonton tivi kok cape ?"
Raduma terdiam sesaat berpikir apakah perlu menceritakan apa yang baru saja ia alami atau tidak ? namun akhirnya ia putuskan untuk menceritakannya karena Tobi ia nilai bisa menjaga rahasia.
“Tob, kita masuk dulu ke dalem.“ Ajak Raduma yang bangkit dari rebahannya.
“Ada apa ? Aya naon ? and ono opo ?“
Pintu dibuka dan bingkisan para pelayat masih berjejer di samping kursi bahkan karpet usang, selimut dan bantal kapuk belum Raduma rapihkan.
“Banyak juga yang bawa bingkisan yah.“ Celoteh Tobias.
“Ambil saja yang ente mau Tob, bebas,“ balas Raduma sambil mengangkat Kedua kakinya di atas kursi.
“Oke siapa takut,“ canda Tobi sambil tertawa.
Ia ambil satu bingkisan yang berwarna hitam dengan wajah tengilnya, yang tanpa diketahui Tobi itu bingkisannya sendiri.
__ADS_1
“Itu kan bingkisan yang ente bawa sendiri kemarin Tob hahaha."
“Iya yah, haha biarlah enggak ada orang lain yang liat juga."
Keduanya tertawa sambil membuka biskuit yang berada dalam bingkisan, perbincangan serius pun dimulai.
“Tob, ente pernah liat orang bisa menerawang ke lokasi yang sangat jauh di film-film ?"
“Pernah, memang kenapa ?"
“Nah ini, ente boleh percaya atau tidak, ane bisa melakukannya.“
“Hah ? Masa sih.“ Tobi terkejut, biscuit yang ia pegang perlahan ia taruh di atas meja.
“Serius, ane juga ngerasa heran kenapa kok jadi kayak gini, semenjak kematian Nenek, hal-hal aneh pada muncul, kayak tadi malem, ane dengar suara harimau di rumah ini, lalu liat sosok kakek-kakek bawa kendi kecil tapi dari pakaiannya sih kayak orang tempo dulu.“
Mendengar itu, Tobias melirik ke kanan dan ke kiri, merasa sedikit takut dengan kondisi rumah Raduma, ditambah tirai jendela tidak dibuka sepenuhnya sehingga cahaya minim sekali di ruangan itu. Hal yang wajar bagi seseorang yang tidak pernah mengalami hal mistis dalam hidupnya.
“Waduh, jadi merinding bro,“ ujar Tobi mengusap tengkuk lehernya.
“Itu kejadian di rumah ini ?“ tanyanya lagi.
“Di alun-alun !" bentak Raduma dengan wajah kesal sesaat kemudian menyeringai. "Ya di rumah ini lah."
“Jirr...kalau gitu mending diluar kita ngobrolnya.“ Ajak Tobias.
“Enggak usah, di sini aja. Ini masih siang, walaupun sebenarnya ane juga sedikit takut sih kalo malem hari."
“Ya udah nanti malam nginep aja di rumah gua oke ?"
“Ide bagus, tapi-tapi Tob, yang paling ane heran, tadi ane jadi bisa menerawang Tob setelah serangkaian hal-hal aneh itu terjadi."
“Kapan ? Tadi sebelum gua dateng ?"
“Iya, awalnya sih cuma rebahan sambil dengerin radio, terus ada berita pembunuhan pegawai anti korupsi. Itu loh, yang suka nongol di tivi sebagai juri bicara."
“Oh si Pak Juli itu ? Waduh baru tahu beliau wafat, innalilahi wa Inna ilaihi raji'un, kasihan banget."
“Terus gimana ceritanya bisa sampe menerawang," tanya Tobi penasaran.
“Sambil merem ane cuma bayangin wajah beliau, eh tiba-tiba muncul cahaya kecil, sedikit demi sedikit makin membesar cahayanya hingga jadi sebuah gambaran lokasi tempat beliau tinggal, gua jadi kayak nonton tivi lah."
“Wah bisa kayak gitu ya, di luar nalar ini mah enggak bisa diilmiahkan,“ kata Tobi menggeleng-elengkan kepala, takjub sekaligus heran.
“Coba nanti malem di rumah gua, ente coba lagi bro, gimana ?"
“Boleh, tapi dah ngimpleng kayak gitu tuh rasanya kayak udah kuli kasar, cape pisan."
“Pasti ada cara lah untuk mengantisipasinya, coba ente pikirkan,“ kata Tobias meninju bahu kiri Raduma.
Raduma hanya terdiam namun mulutnya tak berhenti mengunyah biscuit coklat seakan-akan lupa bahwa ia punya riwayat sakit gigi.
“Haduh, lupa ini coklat. Ente sih ngajak ngobrol mulu.“ Raduma balas meninju Tobi setelah menyadari yang dikunyah sedari tadi adalah biscuit rasa cokelat.
“Eh tutup katel ! Kan ente yang ajak ngobrol duluan.“ Canda Tobi dilanjutkan dengan tertawa lepas keduanya.
__ADS_1