
Masih perbincangan dengan Kaganga.
Berbincang dengan seorang pria tua yang sudah mengenyam asam garam kehidupan, semakin menambah wawasan Raduma dan semakin menyadarkannya bahwa di atas langit masih ada langit. Selama ini boleh jadi ia menganggap bahwa dirinyalah yang terkuat. Tapi anggapannya ternyata boleh jadi salah, seperti pria tua yang berada di hadapannya kini, Raduma bisa merasakan dengan jelas tekanan energinya yang sangat kuat. Padahal mungkin pria tua yang memiliki nama Kaganga itu sudah menekan energinya setipis mungkin agar tidak membuat ruangan terasa panas.
“Bagaimana dengan orang yang bernama Gumuruh ?” tanya Raduma.
“Tak perlu kau pikirkan, dia sudah tidak menjadi anggota shadow satellite. Selepas menyelamatkan seorang bayi milik pasangan militan dari kelompok bawah tanah yang di perangi oleh tentara pasukan khusus dengan bantuan shadow satellite, ia seolah mengasingkan diri.”
“Kalau begitu akan lebih mudah karena shadow satellite tinggal satu orang.”
“Sepertinya tidak, shadow satellite selalu berisikan tiga orang. Menurut informasi yang masuk padaku ada dua orang yang masuk sebagai anggota shadow satellite. Satu seorang pemuda yang tak lain dan tak bukan ternyata anak pungut dari Gumuruh. Dan satu lagi adalah seorang wanita, latar belakangnya tidak begitu aku ketahui.”
“Satu pria tua yang sangat berpengalaman, satu pemuda dan satu wanita, hmm...” Raduma membuka jaketnya. Kini ia tidak merasa kikuk bersama dengan Kaganga anak angkatnya.
“Agar kau bisa berhati-hati dalam mengambil keputusan, mungkin tidak ada salahnya kalau kau lihat dulu seberapa tinggi kemampuan kedua orang baru itu,” ujar Kaganga sambil memerintahkan kepada Hamim untuk mengambil makanan di atas. “Hamim, bawakan makanan untuk Raduma, kau juga mungkin belum makan, kan ?”
“Baik Ayah,” jawab Hamim.
Meski Hamim tahu bahwa Kaganga bukan Ayah kandungnya namun rasa hormat dan kesetiaannya pada Kaganga begitu terasa dari bahasa tubuh dan mimik wajahnya.
“Tidak perlu repot-repot, tapi jika memaksa aku ingin nasi padang dan sate maranggi,” canda Raduma.
"Ya ampun belum genap sehari keponakan Ayah ini sudah banyak maunya.” Hamim membalas perkataan Raduma tentu saja dengan candaan pula.
“Itu artinya kau harus keluar rumah sebentar, tidak apalah. Lagipula kita mungkin harus merayakan bertambahnya satu orang anggota keluarga,” ujar Kaganga tersenyum. “Sekalian saja kau beli daging kalkun untuk kita bakar bersama nanti malam.”
“Hmm seru juga kayaknya, kalau begitu aku keluar dulu untuk berbelanja.” Hamim melangkah menuju pintu untuk mencari makanan.
Pintu dibuka, suara sepatu Hamim terdengar nyaring menaiki anak tangga disertai nyanyian tanpa lirik. Pemuda dengan tubuh ideal itu meninggalkan ruangan yang hanya memiliki ventilasi langsung terhubung ke salah satu lubang dinding depan rumah, berupa lubang persegi panjang yang ditutupi kawat berduri.
“Bagaimana ? Kau mau mengukur mereka dahulu ?” tanya Kaganga.
“Boleh juga.” Raduma mengangkat bahu. “Tapi aku tidak tahu wajah mereka, aku tidak bisa melakukan impleng jika tidak tahu wajah mereka.”
Tanpa tahu wajah sasaran maka Raduma tidak bisa melacak Evan Bagaskara dan Barbara Luel. Kecuali jika Raduma mendatangi sebuah tempat yang pernah terjadi peristiwa yang melibatkan Evan dan Luel, barulah ia bisa melihat ke masa lalu dan mengetahui wajah keduanya.
“Kau bisa mengikutiku, aku pernah melihat wajah mereka.” Hanya butuh beberapa detik untuk Kaganga langsung membuka tirai ghaib di hadapan kedua bola matanya. “Kita mulai sekarang.”
“Baiklah.” Satu ketukan jari pada meja kaca di depan dengkul Raduma membuat Raduma langsung membuka tirai ghaib di hadapan juga dan seketika berada di belakang Kaganga.
Keduanya kini sudah ada di atap rumah, genting-genting rumah terlihat jelas, angin yang berhembus terasa menyentuh bulu-bulu halus di tangan Raduma. Sekelompok burung Pipit terbang di udara menuju sarangnya masing-masing. Lalu Kaganga menunjuk ke arah timur dan berkata,
“Kita akan pergi ke sana.”
Tiba-tiba ada sebuah gumpalan awan putih yang menghampiri Kaganga. Hal itu juga membuat Raduma merasa heran sekaligus merasa lucu.
“Apa itu awan kinton ?” Raduma terkekeh. “Seperti di kartun legendaris.”
“Kau pikir dari mana mereka (pembuat ide kartun legendaris) mendapatkan ide tentang awan itu ?” Kaganga meski usianya sudah tua, tapi ia tahu kartun apa yang Raduma maksud.
“Memangnya darimana ?”
“Tentu saja dari dunia seperti ini, di Jepang pun terdapat orang-orang yang memiliki kemampuan metafisik dan tenaga dalam.”
“Kupikir itu cuma hasil dari fantasi saja.”
“Sekarang naiklah, aku menggunakan ini agar kita tidak terlihat,” ujar Kaganga sambil menaiki awan putih. “Jangan lupa, tekan energimu hingga setipis mungkin agar tidak terdeteksi. Yang kita hadapi adalah orang-orang dengan kemampuan di atas rata-rata.”
“Aku mengerti.”
Keduanya lalu bergerak dengan mengendarai awan putih, terbang ke atas hingga setara dengan awan-awan lain di langit utara kota Cirebon. Melesat di antara awan yang bergerak, keduanya menuju ke arah timur tempat kediaman Evan Bagaskara dan ayahnya, Gumuruh.
Tidak sampai tiga puluh menit, Kaganga dan Raduma sampai juga di atas sebuah gunung di Jawa tengah. Tempat kediaman Evan Bagaskara. Sementara hari sudah mendekati waktu penghujung sore.
“Kau lihat villa itu ?” kata Kaganga sambil menatap sebuah villa milik Gumuruh.
“Ya aku lihat, apa yang akan kita lakukan ?”
“Tajamkan penglihatanmu dan lihatlah seorang pemuda yang berada di dalamnya.”
Tanpa ba-bi-bu, Raduma menajamkan penglihatannya lalu terlihat seorang pemuda sedang duduk di atas shofa sambil memegang smartphone.
“Kau bisa lihat energinya ?”
__ADS_1
“Ya... cukup besar juga. Aku rasa aku bisa untuk mengatasinya.”
“Tapi kau juga perlu mengukurnya secara detail.”
“Bagaimana caranya ?”
“Arahkan telapak tanganmu padanya.” Perintah Kaganga.
Raduma mengikuti.
“Lalu ?”
“Niatkan dalam hati untuk mengukur berapa jumlah energi miliknya, kau bisa memasang energi pada telapak tanganmu dulu di angka 10.000 lalu perhatikan apa yang terjadi.”
Dengan konsentrasi Raduma mengerahkan energi pada telapak tangannya di angka 10.000, tepat mengarah ke tubuh Evan Bagaskara.
Lima detik berikutnya.
“Rasanya seperti ada yang menekan telapak tanganku,” ujar Raduma.
“Itu artinya energi miliknya di atas angka yang kau pasang,” jawab Kaganga. “Langkah selanjutnya, jika kau sudah tahu, tinggal kau naikkan jumlah energi di telapak tanganmu.”
“Hmm...aku mengerti sekarang, sampai menemukan angka yang pas dengan jumlah energi miliknya, begitu ?”
“Tepat sekali.”
“Kalau begitu akan kunaikkan jumlahnya.”
Raduma menaikkan jumlah energi di telapak tangannya hingga, 40.000. Hasilnya masih sama, begitu pula pada angka 100.000 hasilnya pun masih sama.
“Besar juga energi orang ini,” gumamnya.
“Dengan tahu lebih detail, kau mungkin bisa lebih siap menghadapi mereka.”
“Benar.”
Raduma naikkan kembali jumlahnya hingga sampai di angka 700.000 barulah tidak terasa apa-apa.
“Di angka 700.000 sudah tidak terasa apa-apa.”
“Kau benar.” Raduma menelan ludah. “Lalu apalagi kemampuan orang ini ?”
“Dia anak dari Gumuruh. Jadi tentu kemampuannya pun tidak akan jauh berbeda dengan Gumuruh, meski tenaga dalam dari jenis olah napas itu tergantung dari kondisi tubuh dan bakat masing-masing manusianya. Orang ini tenaganya besar, selain itu, dia juga ahli beladiri. Kau harus menghindari bertarung dengannya dengan jarak dekat di alam nyata. Tapi dia juga kulihat punya kelemahan.”
“Apa itu ?”
“Kemampuan implengnya tidak begitu baik, durasinya juga kurang baik. Ini mungkin celah yang harus kau manfaatkan.”
Raduma terdiam mendengar penjelasan Kaganga, kali ini ia menghadapi jurang besar yang bisa saja membuatnya tewas. Rintangan yang tentu saja akan lebih sulit dibandingkan menghadapi dukun dan paranormal yang telah ia binasakan.
Rasa khawatir tentu saja ada di dalam hati Raduma, menyelinap diantara bilik-bilik hati. Hak yang wajar bagi manusia, merasakan rasa takut pada sesuatu yang mungkin akan mengancam nyawanya. Tapi ketakutan itu tidak begitu besar dibandingkan tekadnya untuk membantai para dukun dan paranormal. Jika ia mati, selesai sudah !
Perjalanan terhenti, misi telah berakhir.
“Sekarang tinggal satu lagi,” ujar Raduma.
“Tidak, sekarang kita pulang saja dulu. Kau belum makan, jika kita paksakan melakukan impleng dalam kondisi tubuh kurang asupan makanan. Itu tidak baik.”
Tanpa berkata lagi Kaganga dan Raduma memutuskan untuk kembali ke rumah. Melesat dengan mengendarai awan putih. Dalam perjalanan Raduma melihat banyak pemandangan, baik pemandangan kota maupun gunung, apalagi langit sudah bercumbu dengan sang matahari yang sedikit demi sedikit akan pamit sehingga warnanya menjadi merah merona.
Di sisi lain ia merasa sangat bersyukur bisa bertemu Kaganga, tidak dapat dipungkiri Kaganga banyak memberi informasi baru yang boleh jadi akan bermanfaat untuk dirinya di masa yang akan datang.
Dua ketukan pada pintu bawah tanah sekaligus menyambut Kaganga dan Raduma yang baru saja kembali dari perjalanan impleng.
“Kita makan dulu,” panggil Hamim pada keduanya.
“Oke Hamim, kita akan ke atas,” jawab Kaganga.
Keduanya lalu beranjak dari kursi masing-masing untuk memenuhi panggilan Hamim yang sudah membawa makanan pesanan Raduma dan Kaganga.
Di atas, Hamim sudah menaruh makanan yang ia beli di atas meja makan, yaitu nasi Padang dan sate Maranggi. Hamim sengaja membeli menu makan sore kala itu seragam padahal makanan kesukaan ayahnya adalah sayur asem dan tahu tempe namun karena khawatir nanti Raduma merasa tidak enak saat melihat pamannya makan dengan makanan yang dianggap biasa akhirnya ia menyeragamkan, attitude yang diajarkan Kaganga pada Hamim dalam menerima tamu. Sementara daging kalkun ia masukan ke dalam kulkas, gelas-gelas di atas meja sudah ia isi dengan air mineral.
“Hmm harumnya sudah menggoda,” ujar Raduma. Ia menarik kursi lalu mendudukinya begitu pula Kaganga.
__ADS_1
“Ini nasi Padang yang bikin asli orang Padang bukan kw-kw.” Hamim menanggapi.
“Emang ada yang kw ?”
“Ada lah, misalnya ngaku warung nasi Padang tapi yang bikinnya bukan orang Padang. Kan lucu.”
“Hehe apa bedanya ? Rasanya mungkin sama saja.”
“No...no... yang asli dan kw itu jelas beda Rad, kalau yang asli masakan orang Padang itu kalau beres makan suka otomatis ngomong gini, tambuah ciek. Ajaib."
Raduma tertawa mendengar candaan Hamim meski agak receh namun ia terlanjur mengira bahwa memang ada penjelasan yang masuk akal tentang citarasa nasi Padang yang dibuat oleh asli orang Padang dan yang dibuat oleh non Padang.
“Kirain serius.”
“Sudah, sekarang cepat kita makan bersama dulu.” Ajak Kaganga.
Kaganga mempersilahkan Raduma dan anak angkatnya untuk menyantap makanan. Mereka bertiga makan dengan lahap.
“Sekarang kau tinggal dimana ?” tanya Kaganga.
“Aku tinggal di Bandung, tepatnya di ujung timur kota Bandung. Mau kemana lagi, rumah ku cuman di sana, peninggalan Nenek,” jawab Raduma.
“Jadi Nenek Damanik sudah tewas.” Kaganga menundukkan pandangan.
“Kau pernah menemuinya ? Jika kau tahu Nenek Damanik mengapa kau tidak menemui kami ?”
“Tidak, aku belum pernah bertemu beliau, dulu saat aku hendak menemui kalian di saat yang sama aku bertemu Witarsa. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak menemui kalian saat iti karena suatu hal yang tidak bisa aku sebutkan.”
“Witarsa ?” Raduma berhenti mengunyah. “Tunggu, rasanya aku pernah mendengar namanya.”
Beberapa saat Raduma coba mengingat kembali nama Witarsa hingga ia menyadari bahwa ia mengetahui sosok Witarsa saat ia melihat kembali masa lalu kematian kedua orang tuanya.
“Ah...aku ingat, dia yang menutup mata batinku saat berusia tujuh tahun. Anak dari adik Nenek Damanik, Tungga Dewi.” Raduma menjentikkan jari. “Kenapa kau tidak menemui kami ? itu artinya kau sebenarnya tahu posisi keberadaanku selama ini.”
“Tidak semua alasan harus dikemukakan Raduma tapi jika kau ingin tahu, itu karena aku dan Witarsa mengetahui bahwa kau bukan anak biasa. Sejak peristiwa pagi dimana kau melihat 4 jin dengan tangan dan cakar panjang mengelilingmu, Witarsa menemuiku dan menceritakan semua yang terjadi padamu.”
“Apa Witarsa juga sama seperti kita ?”
“Dia mirip dengan kita, hanya saja Witarsa semakin memoles dirinya dengan olah napas. Sejak kecil dia sudah sangat berbakat.”
“Dimana ia sekarang ?” tanya Raduma penasaran.
“Aku tidak bisa mengatakannya Raduma, aku dan Witarsa memprediksi kau akan tumbuh menjadi kuat, oleh karena itu kami sengaja membiarkan alur ceritanya berjalan natural. Meski kami tahu bersamaan dengan itu kau juga merasa tersiksa dengan keadaan yang tidak sesuai hatimu."
Raduma terdiam.
“Aku mengawasimu selama ini, tapi tak kusangka kau akan tumbuh di luar rencana kami. Kau keluar jalur hingga kau membunuh beberapa dukun dan paranormal tapi mungkin memang inilah saatnya aku harus muncul.”
Raduma masih terdiam. Perkataan Kaganga masih saja mengandung unsur nasehat agar Raduma berhenti dari ambisinya. Berbalik arah dan menempuh jalur yang benar. Mungkin saja hati Raduma kini mulai goyah meskipun ia mendustainya.
Melihat suasana menjadi agak kaku, Hamim langsung mengalihkannya pembicaraan.
“Ayah, sepertinya Raduma juga memerlukan kendaraan. Kurasa Ayah bisa membelikannya motor trail.”
“Motor trail, kenapa memilih motor trail ? Jika kau mau kau bisa bawa mobil ku Raduma.” Kaganga tersenyum untuk mencairkan kembali suasana. “Raduma.”
“Apa ?” Raduma terkesiap dari lamunan saat Kaganga memanggilnya kembali.
“Motor trail, mengapa kau ingin motor trail ?”
“Oh ya, motor trail. Itu karena instingku saja yang spontan mengatakannya,” jawab Raduma terkekeh. “Itu juga kau tak keberatan.”
“Tentu saja aku tak keberatan. Kau bisa membelinya besok ditemani Hamim.”
Hamim tersenyum ke arah Raduma dengan membuat huruf O dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.
“Terimakasih paman.”
“Paman ?”
“Tidak apa-apa, sekarang aku tidak canggung memanggilmu paman. Aku bersyukur bisa bertemu denganmu, seandainya waktu bisa diputar aku ingin kita semua bersama dengan Ibu, Ayah dan Nenek.”
Kini Kaganga yang terdiam.
__ADS_1
Lalu ketiganya pun melanjutkan makan bersama. Hingga malam datang, Raduma menginap di rumah yang ukurannya besar itu. Malam tiba menyambut manusia yang malu mengakui kesalahannya di siang hari kepada Tuhan. Ia hadirkan kegelapan pada manusia agar mereka yakin dan berharap fajar kebahagiaan akan menyingsing.
Bantu penulis dengan like dan komentar ya.