
Dari siang hingga pukul tujuh malam hari Tobi dan Raduma berbincang tentang banyak hal. Sorenya mereka berdua menyempatkan waktu bermain tenis meja sebentar di depan rumah Pak RT yang hanya terpisah jarak lima rumah dari rumah Raduma.
Rumah Pak RT memang cukup besar, halamannya luas serta ditanami rumput Jepang, meja tenis sengaja selalu di simpan oleh beliau di pelataran rumah agar anak-anak dan para pemuda mudah untuk menggunakannya.
Malam harinya, seperti yang dijanjikan Tobi, Raduma pergi bersama Tobi menuju rumah Tobi nomor tujuh dekat jalan raya pukul 20.00 malam.
“Kunci pintu, awas jangan ada yang lupa gak dikunci, itu pinggir sudah dikunci belum bro ? nanti maling masuk, ente juga yang repot,“ kata Tobi menunjuk pintu pinggir tempat penyimpanan sepeda.
“Sudah Tob, nanti tinggal gerbang, ente jalan duluan aja.“
Beres mengunci gerbang, keduanya berjalan santai, celana pendek jeans dan turtle neck hitam dipakai Raduma, nyamuk-nyamuk berkeliaran di sepanjang jalan mengincar kulit kaki Raduma dan tangan Tobi yang hanya memakai baju lengan pendek.
Segerombolan anak kecil tampak bersholawat sepulang mengaji di mushola, setiap kali mereka lewat di depan rumah TK (5 rumah dari rumah Raduma ke arah kanan) yang ketika malam hari tampak gelap dan menyeramkan, mereka seringkali membaca sholawat berbarengan untuk mengusir rasa takut, begitu sudah melewati rumah TK mereka langsung lari sekencang-kencangnya sambil berteriak menakut-nakuti rekannya yang paling belakang.
“Liat, itu anak-anak setiap kali lewat TK pasti kayak gitu," kata Raduma tertawa kecil.
“Emang menyeramkan juga sih itu TK, kenapa enggak dikasih lampu kek."
Karena jarak yang tak terlalu jauh, tak terasa keduanya sampai di rumah Tobi, tipe 45, cukup besar memang rumah para tetangga Raduma, jika di pikir-pikir hanya berukuran kecil.
Belum juga kaki kanannya masuk gerbang rumah Tobi. Tiba-tiba Raduma kaget untuk ke-tiga kalinya, ia melihat makhluk astral yang berada di samping rumah Tobi dengan sorot mata merah menyala memperhatikannya, seolah terganggu oleh kehadirannya.
Tubuhnya seperti beruang tinggi besar tapi anehnya di kepalanya terdapat tanduk, yang kanan pendek yang kiri panjang.
Sorot matanya terus menatap tajam kearah Raduma seakan akan ingin membunuh namun tidak bisa.
“Wuih...” Raduma bergidik dan menggelengkan kepalanya tanda merasa sedikit mual.
Untuk ketiga kalinya ia melihat sosok makhluk astral tapi respon tubuh dan syaraf kepala Raduma mulai cukup kuat dan terbiasa meski masih sedikit terasa rasa mual.
Sebuah peningkatan yang cukup signifikan karena umumnya manusia biasa apalagi jika seorang wanita ketika kemampuan bola matanya aktif dan melihat makhluk astral dengan kondisi yang bermacam-macam bentuk serta menyeramkan biasanya akan membuat tubuhnya lemas dan pingsan.
“Ada apa bro ?“ tanya Tobi seusai membuka gerbang.
“Eggak, enggak ada apa-apa," jawab Raduma menyembunyikan apa yang ia lihat khawatir Tobi ketakutan karena lokasi makhluk astral memang berdiam diri di samping rumahnya.
Keduanya masuk dan disapa juga oleh orang tua tobi, Tobi adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Ayahnya sudah wafat sejak lama sementara ibunya adalah seorang guru matematika di sebuah sekolah dasar di kota Bandung.
Dua kakak laki-lakinya sudah berumah tangga dan tinggal di kota yang berbeda, satu tinggal di Jakarta satu lagi tinggal di Bekasi hanya Tobi yang tinggal di Bandung menemani ibunya yang sudah berumur 53 tahun.
“Bu, Raduma malam ini menginap di sini, katanya di rumah sendirian agak takut," kata Tobi pada ibunya diruang tamu. "Emang penakut dia Bu."
“Oh ya enggak apa-apa, di sini saja dulu Kang Raduma," sapa ibu Tobi yang bernama Lya.
“Haturnuhun Bu, saya jadi ngerepotin."
“Ah enggak, di sini juga sepi cuma ibu sama Tobi, kamar banyak yang kosong, Tobi beli makanan buat Raduma mumpung Mas Samsul masih jualan,“ jawab Lya sambil menyuruh Tobi untuk membeli mie goreng mas Samsul.
“Siap Bu, bro ente langsung saja ke kamar atas."
“Ya, Tob."
Sementara Tobi keluar rumah, Raduma naik ke kamar atas. Laptop, komik manga dan beberapa gambar sketsa yang belum discan berserakan. Tobi memang penggemar komik-komik Jepang, ia juga bekerja sebagai ilustrator di sebuah perusahaan yang terletak di kota Bandung.
Di dalam kamar Tobi, ia nyalakan televisi dan salah satu channel menyajikan sebuah acara magic show internasional. Di tengah performance salah satu peserta kompetisi magic show, lagi-lagi Raduma melihat sesuatu yang tak biasa.
__ADS_1
“Gila ini orang, dibantu makhluk astral hanya untuk acara seperti itu." Hardik Raduma melihat sesosok makhluk astral dengan wujud wanita cantik dengan gaun tempo dulu khas orang eropa timur, wajahnya hampir tak terlihat tertutup rambut, di lehernya terdapat energi yang melingkar mengikat kuat, sosok wanita itu membantu sang peserta yang sedang menjalankan aksi panggungnya.
Satu hal yang membuat ia bertanya-tanya adalah energi yang keluar dari tangan peserta yang berwarna kuning, timbul keinginan dari dalam diri Raduma untuk bisa melakukannya.
“Bagaimana ia melakukannya ?“
Di sisi lain Ia semakin terbiasa dengan kemampuannya bola matanya, seolah menemukan mainan baru, Raduma mulai berkreasi dan berpikir kreatif dalam menggunakan kemampuan metafisiknya.
Tanpa disadari Raduma, energi dalam tubuhnya sebenarnya terus meningkat sedikit demi sedikit, seperti lubang air yang pernah ditutup lalu dibuka kembali, itu terlihat dari bentuk tubuh Raduma yang membentuk ideal meski memang Raduma sering melakukan latihan fisik namun pembentukan otot pada tubuh Raduma berbeda dengan hasil latihan fisik biasa atau bahkan hasil dari tempat fitness. Ia juga merasa sangat prima begitu pula ketajaman mata dan penglihatannya yang semakin meningkat.
Sambil menunggu Tobias yang masih mengantri di kedai Mas Samsul. Raduma secara iseng membayangkan dan mengkonsentrasikan tangannya agar mengeluarkan energi, hanya butuh lima belas menit energi berwarna biru cerah keluar dari pori-pori telapak tangan kanannya seperti butiran debu berukuran sangat kecil dan terang.
“Mie goreng datang bro," ucap Tobi sambil menendang pintu untuk mengagetkan Raduma.
Sontak Raduma menoleh ke arah Tobi yang menjinjing kresek hitam berisi mie goreng seharga lima belas ribu rupiah, aroma bawang, bumbu dan irisan daging ayam yang sudah matang menyelinap di antara bulu-bulu hidung membuat lapar siapa saja yang menghirupnya.
“Kebiasaan ente, pintu bisa rusak kalo ditendang mulu,“ saut Raduma.
Sementara energi yang berkumpul di telapak tangannya memudar hilang.
“Haha biarlah tanpa pintu juga enggak masalah yang penting jangan sampai hidup tanpa si dia.“ Kelakar Tobi yang memang sedang dekat dengan seorang wanita. “Mamam bro, sebelum ente coba lagi ngimpleng nanti."
Mie goreng dengan cabe dua biji itu mereka santap dengan lahap. Sesekali Raduma teringat sang Nenek, baru saja satu minggu yang lalu ia makan mie goreng mas Samsul bersama neneknya di teras rumah tapi kini beliau sudah tiada. Ada kesan rasa tak percaya, semua ini bisa terjadi.
Selepas makan, minum dan membereskan kamar keduanya berjalan menuju ke balkon.
“Bro, gua punya ide, penasaran nih, coba ente liat rumah-rumah itu, yang mana aja yang ada makhluk astralnya ?" kata Tobi sambil berjalan menuju balkon rumah dan menunjuk pemandangan komplek di malam hari. Karena rumahnya yang tiga tingkat, semua rumah di sekitarnya dapat terlihat hingga sampai RT yang paling ujung.
“Sebentar ane tarik napas dulu.“
“Itu yang itu ? Ada apa dengan rumah Pak Satia ?“ Tanya Tobi penasaran seraya menunjuk rumah yang dimaksud.
Berbincang tentang hal mistis di malam hari memang mengasyikkan bagi sebagian orang, termasuk Tobias.
“Kalau ente bisa lihat makhluk astralnya kayaknya enggak bakal kuat Tob."
“Emang bentuknya kayak gimana ?"
“Di atas atapnya ada semacem kelelawar tapi ukurannya besar.....banget, bahkan sayapnya tuh hampir menutupi atap. Dua kakinya mencengkeram atap, wajahnya anjing tapi badannya kelelawar, galak," ungkap Raduma sambil duduk di atas kursi.
“Serem Rad, menurut ente itu kiriman atau emang peliharaan Pak Satia ? Dia kan pengusaha.“ Tobi yang sedari cukup riang seketika memasang wajah serius.
“Kayaknya itu peliharaan Tob, untuk--"
Belum juga Raduma selesai berbicara, ia tampak terkejut dan hampir terjatuh dari kursi.
“Ada apa Rad ?“ Tobi khawatir.
“Kaget ane, tiba-tiba ada serangan dari makhluk astral lain. Kagetnya karena ga tau itu makhluk tiba-tiba udah ada di hadapan kelelawar gitu aja. Langsung menembakkan semacam peluru meriam."
“Wiiih, terus gimana ?"
“Ya...spontanlah ditepis dengan satu sayap oleh peliharaan Pak Satia."
“Berarti emang untuk jaga-jaga dari saingan bisnisnya ya Rad ?“
__ADS_1
“Iya, tapi tetep, bersekutu dengan makhluk jin mah melanggar hukum agama Tob, enggak boleh, musyrik.“
“Ho'oh juga sih,“ tutup Tobi.
Karena takut dengan penjelasan Raduma, Tobi mengajaknya untuk masuk kembali ke dalam kamar apalagi saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 21.34. Tobi juga kembali melanjutkan pekerjaannya yang mangkrak dari tadi siang, tangan kanannya lincah bergerak-gerak di atas papan tracer. Papan elektronik khusus untuk menggambar di komputer, sesekali ia juga membalas pesan masuk dari pacarnya yang bernama Siska.
Wanita 25 tahun asal Bandung utara, satu kantor dengan Tobi, keduanya menjalin hubungan lebih dari sekedar teman satu tahun yang lalu. Perawakannya tinggi, berisi, sehingga meninggalkan kesan sexy, namun ayahnya sebenarnya kurang menyetujui hubungan putrinya dengan Tobi, setiap kali Tobi berkunjung ke rumah Siska, acap kali ia menerima perkataan ketus dan wajah tak bersahabat dari ayah Siska, Bukan tanpa alasan, usut punya usut ayah Siska adalah orang yang pernah jatuh hati pada ibu dari Tobi di masa lalu namun baik Tobi dan Siska tak mengetahuinya sedikit pun, begitu pula Lya selaku ibu dari Tobi tak mengetahui bahwa siska adalah anak dari orang yang pernah menyukainya puluhan tahun yang lalu, hanya ayah Siska yang menyadari bahwa Tobi adalah anak dari Lya.
Pukul 11.39, Raduma belum juga tertidur sementara Tobi sudah tertidur di dekat laptop miliknya, tadinya ia berniat untuk meminta Raduma untuk menerawang Siska, sedang apa ia sekarang dan melacaknya apakah ia punya hubungan dengan pria lain atau tidak ? namun ia lupa karena tersibukan oleh sisa-sisa pekerjaannya sendiri.
Lima menit kemudian, ibu Tobi berteriak kesakitan di kamar bawah dekat ruang tamu, sontak Raduma terkejut dan segera membangunkan Tobi.
“Tob, bangun... bangun Tob,“ kata Raduma mengguncangkan tubuh Tobi dengan keras.
“Ada apa ? Ada apa ?“ jawab Tobi bangkit dengan cepat setengah melek.
“Ibu ente berteriak, coba kita lihat."
“Hah, yang bener ? Ayo ke bawah," ajak Tobi dengan cepat loncat dari atas kasur bagitu pula Raduma.
Dua tangga terlewati dan didapatinya Lya sedang mengerang kesakitan di perutnya. Gelas tampak pecah di atas lantai, dua bungkus roti dan obat asam lambung terlihat di samping Lya.
“Ada apa Bu ? Perut kambuh lagi ?“ tanya Tobi dengan wajah cemas.
“Iya, duh sakit sekali," jawab ibunya menahan sakit.
Sementara Raduma mencoba membawakan air minum hangat, seperti halnya ketika maagnya kambuh, setidaknya itu bisa meredakan rasa sakitnya.
“Minum dulu Bu,“ kata Raduma.
“Gak bisa masuk, minum enggak bisa, makan juga enggak bisa, paling sedikit,“ jawab Lya.
“Ya, enggak apa-apa Bu, paksain aja, karena kalo gak di beri asupan makanan, bahaya. ibu harus diinfus."
Tobi yang melihat ibunya terbaring lemas, mencoba untuk menyuapi dengan bubur yang ia buat 45 menit yang lalu. Hampir satu jam lebih mereka berada dikamar ibu Lya, namun tak lama kemudian Raduma mulai curiga dengan penyakit yang diderita ibu Tobi.
Setelah menanyakan kepada Tobi dan mendengarkan penjelasan Tobi bahwa ibunya sudah ia bawa ke dokter namun dokter mengatakan tak ada penyakit yang bisa ditemukan di perut ibunya, akhirnya dokter hanya memberi obat untuk menormalkan asam lambung.
“Ada yang aneh, mungkin ini bukan penyakit medis," Raduma berbisik dalam hati.
Dua matanya yang tajam menatap perut ibu Lya, hanya satu meter antara ia dan ibu dari Tobi. Tiba-tiba ia merasakan energi menyelimuti sekujur tubuhnya sensasinya mirip seperti berada di samping api unggun.
Perlahan tanpa terduga ia bisa melihat bentuk lambung ibu Lya, meski awalnya samar namun tidak butuh waktu lama gambarannya semakin jelas.
Layaknya Rontgen pada dunia kedokteran, limpa, hati dan lambung dapat ia lihat, awalnya Raduma terkejut bisa sejauh ini namun pada akhirnya ia cukup bergembira karena ternyata kemampuan bola matanya bermanfaat juga.
Semakin lama ia menatap akhirnya ia melihat sosok yang tak terlihat oleh Tobi dan ibunya, wujudnya seperti kumbang tanduk, bertaring, sebesar biji buah nangka menancap di area lambung ibu Lya, tepat di dalam.
Tak ingin ibu Tobi merasa semakin ketakutan jika Raduma menjelaskan penyakit sebenarnya yang ia lihat. Raduma memilih untuk memendamnya sendiri untuk sementara waktu.
Esoknya, saat kentongan dipukul cukup keras oleh Bapak-Bapak yang melakukan aktivitas jadwal ronda subuh hari, di komplek Raduma aktivitas jaga malam atau biasa disebut ronda memang masih dilestarikan, berbeda dengan di tempat lain yang sudah memakai satpam atau hansip. Di tempatnya ronda dinilai lebih bermanfaat serta mampu mempererat hubungan antar warga, dengan begitu warga bisa saling mengenal satu sama lain saat kumpul di pos ronda.
Subuh hari Raduma pamit pulang untuk kembali ke rumahnya dan mempersiapkan segala keperluannya untuk bekerja pagi hari itu.
Suhu timur kota Bandung saat itu terasa lebih dingin dari biasanya. Cerita punya cerita berdasarkan berita yang ia dengar dari salah satu channel televisi seusai mandi dan menggoreng nasi dicampur telur bebek. Suhu kota Bandung dan semua wilayah di pulau Jawa meningkat akibat angin muson yang berasal dari arah Australia.
__ADS_1
Pagi itu Raduma kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa, berdesakan di dalam bus dalam negeri dengan AC nya yang menyebalkan, mendengar celotehan pedas ketua tim cuci mobil, berkutat dengan busa dan kanebo sepanjang hari.