
Evan Bagaskara.
Ungkapan jangan pernah menilai seseorang dari tampilan luar, rasa-rasanya bukan sekedar ungkapan tanpa fakta yang mengikutinya. Pemuda dengan nilai akademik tidak membanggakan itu nyatanya memiliki bakat lain yang membuat dirinya diperhitungkan di dunia persilatan. Evan Bagaskara begitu nama lengkap yang diberikan oleh kedua orang tuanya 33 tahun silam ketika ia lahir di salah satu kota tertua di Rusia, Kazan.
Kota dengan suhu mencapai -7°c itu menjadi salah satu kota yang pernah disinggahi oleh kedua orang tua Evan Bagaskara. Kota yang merupakan pusat industri dan perdagangan itu menjadi salah satu saksi bisu militansi kedua orang tuanya untuk mencari semua informasi yang dibutuhkan oleh PP66.
Sebuah kelompok sangat rahasia dan ilegal yang bergerak atas dasar hati nurani untuk melindungi Nusantara dari ancaman asing. Selepas meletusnya insiden berdarah yang menyakiti seluruh rakyat Indonesia di akhir bulan september tahun 65. Seakan-akan ada ledakan semangat dari sekelompok orang Indonesia saat itu untuk melahirkan sebuah kelompok pergerakan. Kelompok ini muncul setelah menyadari bahwa ideologi asing seperti komunis timur salah satunya, akan terus merongrong kedaulatan negara republik Indonesia. Tragedi 30 September seperti menyadarkan mereka bahwa ternyata negeri ini tidak pernah benar-benar aman.
Hal itu pula yang melecut para orang-orang kaya yang sepaham dengan para pendiri PP66 untuk mendanai mereka, sekaligus penyuplai tetap finansial mereka. Bagi para pendiri PP66 membuat pertahanan negara dengan alutsista dan tentara di dalam negeri dirasa tidaklah cukup, apalagi dari teknologi negara ini jauh tertinggal.
Menurut mereka harus ada senjata hidup (manusia) yang bisa dipergunakan kapan saja sebagai sebuah serangan balik sekaligus alat untuk mencari informasi dan oleh karena itu lahirlah PP66. Jika suatu saat Indonesia mengalami agresi militer dari pihak asing siapa pun itu. Maka para anggota PP66 akan melakukan serangan balik mematikan di negara yang melakukan agresi militer di Indonesia.
Kedua orang tua Evan Bagaskara adalah anggota PP66, mereka adalah angkatan ke 21 dari organisasi yang namanya tidak tercatat dalam sejarah itu. PP66 sendiri adalah singkatan dari pergerakan perlindungan sedangkan 66 adalah tahun dibentuknya organisasi yang dinilai sangat keras dan memilih bergerak dibawah tanah.
Banyak anggota PP66 disebar ke seluruh dunia untuk menjadi mata-mata untuk bangsa Indonesia bukan untuk pemerintah semata. Meski tidak diakui oleh keduanya.
Sesuai dengan prinsip mereka yang berbunyi,
“Jadilah lilin yang menerangi negeri seribu pulau meski harus mengorbankan tubuhnya sendiri, ranjau tersembunyi di tanah asing dan perisai yang siap dihantam pukulan bertubi-tubi agar jasad-jasad di belakangnya tetap terlindungi.”
Semua anggota PP66 siap mati demi melindungi bangsa Indonesia dari ancaman pihak asing meski namanya tidak akan pernah dinyatakan sebagai pahlawan di kemudian hari. Mereka yang tergabung dalam organisasi bawah tanah ini bukanlah orang-orang biasa. Baik wanita maupun pria, semuanya memiliki kemampuan beladiri dan pandai berbahasa asing, terlatih menggunakan senjata. Tidak sampai di situ, banyak dari mereka pula menguasai kemampuan metafisik dan tenaga dalam.
Orang tua Evan Bagaskara mendapat tugas untuk memata-matai para pejabat Rusia termasuk intelijen milik negara komunis itu. Pemimpin PP66 mencurigai bahwa Rusia coba melebarkan pengaruhnya ke seluruh kawasan Asia tenggara. Tidak hanya ke Rusia namun PP66 pun mengirim anggotanya ke China, Amerika, Inggris, Jerman dan termasuk Iran.
Semua tugas yang diberikan PP66 dapat dijalankan dengan baik oleh kedua orang tua Evan Bagaskara. Itu juga karena kemampuan mumpuni Ayah dan Ibu dari Evan untuk mempengaruhi orang lain dengan ilmu metafisiknya, termasuk dengan kemampuan keduanya yang unik yaitu ilusi yang sangat kuat dengan membuat orang-orang ketika melihat wajah mereka, terkadang seperti wajah orang tua, terkadang mirip warga sekitar (berubah-rubah). Sehingga mereka sangat sulit untuk diidentifikasi cara berkomunikasi mereka pun melalui ilmu metafisik sehingga tidak dapat disadap oleh pihak asing.
Seperti sebuah berlian yang tertanam di bawah tanah, pada akhirnya keberadaan PP66 dapat diketahui oleh Badan Intelijen Negara melalui Shadow satellite. Tidak mungkin ada dua serigala jantan dalam satu kandang (Indonesia). Maka dari itu pemerintah menganggap PP66 adalah sebuah ancaman, memeliharanya sama saja dengan merawat singa dalam satu rumah.
Meskipun kemungkinan bisa dikendalikan namun kekhawatiran bisa menjadi ancaman itu tetap ada. Terlebih alasan lain adalah rawannya PP66 disetir oleh orang-orang politik sehingga mereka melenceng dari tujuan yang sebenarnya.
Menjelang tahun 2000 akhirnya PP66 dibubarkan, meski tidak pernah ada yang mengatakan dengan yakin bahwa mereka benar-benar bubar.
Kedua orang tua Evan tewas dalam baku tembak dengan pasukan khusus tentara nasional Indonesia di pegunungan irian jaya. Sementara Evan Bagaskara dengan sangat cepat tanpa diketahui diselamatkan oleh salah satu anggota shadow satellite kala itu dan menjadikannya sebagai anak angkat.
Tanpa sedikitpun mengungkapkan rahasia besar yang ia tutupi sampai saat ini, Gumuruh merekayasa kematian dan identitas kedua orang tua Evan Bagaskara.
“Evan, Ayah dengar BIN menghadapi masalah baru ?” tanya Gumuruh.
Pria 75 tahun dengan postur tubuh tinggi atletis, berjambang putih serta memiliki sebuah luka goresan di tangan kirinya. Untuk usia setua itu seharusnya sudah tinggal menikmati hari tua dengan penyakit stroke, pengapuran dan pikun layaknya lansia pada umumnya.
“Betul Yah, kasus kali ini terbilang unik. Ada orang seperti kita yang memiliki prinsip dan pemahaman yang cukup ekstrim,” jawabnya sambil membuka sepatu dari salah satu merk terkenal dengan pola tiga garisnya.
“Ekstrim ?” Gumuruh menoleh dan berhenti memotong bawang daun di atas talenan. “Memangnya apa yang orang itu lakukan ?”
Evan Bagaskara lalu menutup pintu, menyimpan sepatu di rak sepatu yang berada di dekat pintu. Lalu berjalan menuju kamar atas seraya berkata,
“Dia membantai orang-orang yang dia anggap sebagai dukun dan paranormal. Baginya dukun adalah orang-orang yang paling besar membuat kerusakan di muka bumi. Apa Ayah tidak nonton televisi ?”
“Kau tahu sendiri, Ayah tidak suka menonton televisi, banyak sandiwara dan kepalsuan,” keluhnya penuh kecewa. “Mungkin orang itu memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap para dukun.”
Evan Bagaskara menanggapi sambil menaiki anak tangga.
“Sepertinya begitu, tapi yang jelas orang yang shadow satellite incar kali ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Sastra Kuning sampai turun tangan dan begitu lapar untuk menghadapinya.”
__ADS_1
“Huft, dia memang begitu.” Gumuruh mengembuskan napas ketika mendengar Sastra Kuning. “Orang seperti apa yang membuat Sastra begitu tertarik untuk memburunya ?”
“Aku belum lacak, Ayah bisa lacak sendiri untuk mengetahui tingkat keilmuannya,” saut Evan sampai di ujung tangga.
“Tidak, Ayah tidak tertarik. Masih ada kesibukan yang menyandera Ayah selain memotong bawang daun dan menggoreng telur ini.”
“Ayah berhasil meretas fasilitas nuklir Rusia ?” teriak Evan.
Ia berteriak karena kini ia sudah berada di lantai atas. Meski begitu, suaranya tidak akan terdengar oleh tetangga karena selain rumahnya kedap suara. Rumah dari Gumuruh pun berada di sebuah gunung di Jawa tengah, tepatnya di sebuah villa, tidak ada tetangga dekat villa di sana.
“Belum, Ayah tidak akan benar-benar melakukannya. Ini bukan situasi yang mengharuskan untuk itu. Tapi Ayah sedang sibuk karena ada yang coba meretas website milik pemerintah Indonesia. Sepertinya dari Amerika Selatan, ayah harus tanam para penjaga di website itu. Peretas ini cerdik, jadi Ayah hanya mau bilang bahwa otak Ayah tidak lebih pintar dari orang ini.”
“Hahaha, rupanya itu masalahnya.” Evan terlihat menuruni anak tangga setelah mengganti baju dengan baju kesukaannya, kaos polos warna biru langit.
“Mengapa tidak sekalian Ayah beri pelajaran dia ? jika memang kewalahan menghadapinya di dunia maya.”
“Ayah tidak mau melakukannya. Walaupun sebenarnya perang siber sama berbahayanya dengan perang nuklir.”
Gumuruh lalu memasukkan bawah daun yang sudah dipotong-potong ke dalam mangkuk berisi kuning dan putih telur. Lalu menyalakan kompor gas dan menuangkan minyak kelapa ke dalam katel.
“Loh kok bisa begitu ?” Evan heran.
“Karena menurut Ayah, dampak yang ditimbulkan dari perang siber sama-sama merusak. Orang bisa kelaparan dan kekurangan pasokan listrik, keracunan karena dirusaknya fasilitas pabrik pengolahan air, kecelakaan lalulintas dan kereta listrik termasuk kebocoran reaktor nuklir,” beber Gumuruh. “Satu-satunya negara yang mungkin bisa memutus koneksi internet dengan mudah adalah Korea Utara karena mereka tidak punya infrastruktur kritikal.”
“Crazy...”
Keduanya lalu terdiam sesaat.
“Astaga aku lupa, Ayah.” Evan terperanjat ketika sadar bahwa dua kuda milik Ayah dan dirinya belum diberi makanan. “Kenapa tidak Ayah beri makan ? Ayah ada di rumah.”
Evan berdecak kesal.
“Ayah juga sebetulnya baru pulang.”
Gumuruh lalu menyantap makanan sederhana yang baru saja ia buat.
“Darimana ?” Evan berhenti berjalan saat mendengar Ayahnya juga tadi pagi keluar rumah.
“Dari Bibi Hana, dia beli satu rumah di perkotaan untuk buka usaha kedai kopi, Bibi Hana minta Ayah menemaninya untuk beli beberapa mesin kopi, termasuk untuk menerima beberapa karyawan baru.”
“Kenapa tidak dengan suaminya saja ?”
“Mas Sadewa lagi keluar kota, itu pun Ayah dipinta juga oleh Mas Sadewa untuk menemani Bibi Hana, katanya biar tidak kena tipu. Ayah juga kan bisa baca karakter orang, Bibi Hana dan Mas Sadewa ingin karyawannya orang-orang yang baik dan jujur.”
“Hmm...”
“Sudah sana, beri makan kuda, kok malah banyak tanya.” Gumuruh menegur dengan sedikit seringai.
“Repot juga ternyata pelihara hewan,” gerutunya.
Evan bergegas menuju kandang kuda di samping villa. Hari sudah sore, untung saja kedua kudanya tidak sakit karena lupa tidak diberi makan.
Dibukanya pintu kayu jati yang dikunci gembok dengan kode tertentu untuk membukanya. Suara Evan yang membuka pintu sudah disambut oleh Drogba dan Snow dengan menggerakkan kaki-kakinya. Dari suara dan baunya mereka berdua tahu yang datang adalah majikannya.
__ADS_1
“Tega sekali aku ini menelantarkan kalian berdua,” ujar Evan sambil mendekatkan telapak tangannya ke hidung Drogba dan Snow untuk meyakinkan bahwa yang mendekatinya adalah pemiliknya, walaupun sebenarnya kedua kuda itu sudah tahu tapi ritual itu harus tetap diulang-ulang agar kudanya semakin kuat mengingat bahwa Evan adalah pemiliknya.
Drogba dan Snow mengedipkan mata tatkala Evan mengusap dahi dan rambutnya. Lalu Evan kembali lagi ke halaman belakang villa untuk mengambil rumput dan jerami sebanyak 5 kilogram dengan campuran gandum yang diukur.
“Makanlah, jangan marah padaku, anggap saja dari pagi sampai jam empat sore tadi kalian puasa.”
Keduanya lalu melahap makanan yang dibawa Evan Bagaskara.
Gumuruh memang sengaja membeli dua ekor kuda, satu jantan dan betina untuk sekedar menemani dari keseharian. Menambah kesibukan, lagipula jalan-jalan keliling desa dan kebun teh dengan menunggangi kuda sangat menyenangkan, baginya.
Ada kepuasan tersendiri serta kewibawaan yang berbeda ketika ia menunggangi kuda. Bernostalgia dengan romantisme sejarah, bagaimana para ksatria terdahulu selalu memiliki satu ekor kuda sebagai kendaraan sekaligus teman hidup.
Tidak sampai 30 menit Evan Bagaskara di kandang kuda termasuk membersihkannya. Ia kembali lagi ke dalam rumah, mencuci kedua tangan dan langsung memasuki kamar ayahnya, Gumuruh sedang berada di depan layar komputer.
“Sudah selesai ?” tanya Gumuruh tanpa menoleh.
“Sudah.”
“Bagus dong.”
“Ternyata ini salah satu website pemerintah yang coba dirusak,” kata Evan sambil mendekatkan wajahnya ke layar.
“Iya, peretasnya orang yang tidak ada kerjaan, masih anak-anak. Tapi repot juga menghadapinya.”
“Padahal biarkan saja, Yah. Ayah tidak bekerja untuk pemerintah.”
“Maunya sih begitu, tapi ada seorang kenalan Ayah yang bekerja di sana. Beliau meminta Ayah untuk memulihkannya.” Gumuruh masih saja mengetik sesuatu kemudian berhenti dan menutup mata.
“Masuklah dua orang dari kalian, cegah virus yang dikirim dari para peretas.” Batin Gumuruh memerintahkan dua jin yang pandai untuk memasuki internet dan website baik milik pemerintah dan perusahaan.
Terdengar mustahil namun keduanya bisa mengecilkan wujudnya menjadi ukuran nano.
“Sudah masuk, Yah,” kata Evan begitu mengamati dua anak buah Gumuruh dari kalangan makhluk astral mulai membentengi salah satu website milik pemerintah.
“Iya.” Gumuruh membuka mata lalu mematikan komputer. “Selesai, menguras tenaga dan pikiran.”
Keduanya lalu keluar dari kamar dan berencana untuk mengunjungi salah satu kedai minuman di kaki gunung saat malam tiba dan melatih silat ilmu pernapasan tenaga dalam pada warga sekitar terutama anak-anak dan para pemuda.
Evan Bagaskara selain mahir untuk meretas situs-situs pemerintah asing, ia juga sangat piawai dalam bertarung. Di usia 17 tahun ia sudah menumbangkan salah satu jawara di daerah Jawa timur. Selain silat ia juga mahir teknik beladiri Brazilian jujitsu. Evan tidak berguru kepada orang lain melainkan pada ayahnya sendiri yang mantan anggota shadow satellite sampai ayahnya memutuskan untuk pensiun atau tidak lagi bekerja dengan Badan Intelijen Negara.
Meski kurus akan tetapi tenaga Evan Bagaskara terbilang luar biasa. Staminanya dalam bertarung sangat teruji, ia juga pernah berlari di hutan belantara Brazil saat Ayahnya melatihnya dulu.
"Ayah, malam ini aku ingin mengajari mereka untuk meraga sukma," kata Evan saat keduanya menikmati minuman jahe hangat di teras rumah.
"Jangan terburu-buru, mereka baru saja mengolah napas, otot-otot mereka juga masih belum kuat. Terlebih banyak anak-anak, kalau mau saat mereka (anak-anak) tidak ada. Biar yang dewasa saja yang belajarnya," cegah Gumuruh. "Lagipula Ayah sebetulnya kurang setuju ketika kau memutuskan untuk mengajari mereka tenaga dalam."
Evan mengerutkan kening.
"Loh memang kenapa ?"
"Entahlah, Ayah hanya kurang sreg," tutupnya. "Ayah lebih suka kita tidak dikenal."
Bantu penulis dengan like dan komentar ya.
__ADS_1