
Latihan pernapasan tenaga dalam.
Malam sudah muncul begitu sisa-sisa cahaya di langit menghilang seluruhnya, orang-orang sudah tidak banyak terlihat satu kilometer dari rumah Evan Bagaskara, hanya beberapa orang yang terlihat mendatangi sebuah warung dan kedai minuman untuk sekedar mengisi ulang baterai dan menghangatkan tubuh dengan secangkir kopi. Dari pakaian yang mereka kenakan, kupluk, sarung tangan dan jaket yang bertuliskan pecinta alam, sepertinya hanya orang-orang yang berniat untuk mendaki gunung dan berkemah.
“Darimana Mas ?” tanya Evan di kedai minuman.
“Saya ?” kata pria berkupluk tersebut balik bertanya dengan menunjuk hidungnya sendiri. “Saya dari Cirebon Mas.”
“Mm.”
“Mas asli orang sini ?” Pria Cirebon itu lalu memesan satu mangkuk mie instan dan satu gelas teh hangat. “Dingin juga di sini ya.”
“Bukan, saya cuma kebetulan punya villa di atas sana,” jawab Evan. “Ini Ayah saya, kenalkan.” Tunjuk Evan pada Gumuruh yang duduk tidak jauh dengannya.
“Oh gitu, kita izin berkemah ya Pak.” Pria Cirebon itu lalu melempar senyum dan menyalami Gumuruh yang ia pikir sesepuh di tempat itu.
“Ya silahkan aja, asal jaga diri baik-baik. Jangan buang sampah sembarangan. Dan yang terpenting jangan mesum karena saya bisa tahu loh,” balas Gumuruh.
“Hehe gak lah Pak, kita gak akan macem-macem. Bapak paranormal ya ?” Pria Cirebon dengan gestur tubuh yang kikuk percaya begitu saja dengan candaan Gumuruh.
“Haha saya bercanda.”
Jikalau momen itu bisa diabadikan, wajah pria Cirebon itu tampak kecewa namun tetap menghormati Gumuruh dengan senyum terpaksa. Ia kadung percaya namun ternyata pria tua di hadapannya itu hanya sedang bercanda. Padahal boleh jadi memang betul, Seorang Gumuruh bisa tahu jika mereka yang berkemah di gunung itu berbuat mesum.
“Tapi seriusan, hati-hati loh di gunung ini, banyak yang linglung ke sasar, iya kan Van ?.” Pesan Gumuruh seraya menoleh Evan yang sedang menyantap ubi bakar.
“Ho’oh,” saut Evan.
“Masa sih ?” Pria Cirebon sedikit tak percaya.
“Sudah 16 orang yang kesasar di salah satu wilayah gunung ini. Jadi tetep konsentrasi ya.” Gumuruh berbisik pelan.
“Insya Allah gak, kita sudah hapal jalur pendakiannya kok Pak, jadi gak perlu khawatir,” tukasnya. “Makasih sudah mengingatkan.”
“Oh ya syukur...”
Orang-orang yang hendak berkemah dan mendaki itu lalu pergi dari kedai minuman Pak Sukarjo. Langkah kaki mereka mulai memasuki semak-semak lebat dari kejauhan.
Kedai tidak biasanya sepi, Sukarjo kemudian duduk santai setelah melayani pembeli dan berbincang dengan kedua orang yang masih berada di kedainya.
“Hari ini kok sepi ya ?” kata Sukarjo dengan pakaian adatnya yang selalu beliau pakai.
“Mungkin karena cuaca sedang tidak bersahabat. Jadi pengunjung juga berkurang.” Evan menanggapi.
“Bisa jadi.”
“Malam ini latihan Mas Evan ?” lanjutnya lagi.
“Latihan Pak, bapak ikut ya.”
Sukarjo berpikir sejenak, ia merasa agak kurang semangat karena hanya beberapa yang ikut latihan pernapasan tenaga dalam yang seusia dengannya. Berbeda dengan para pemuda dan anak-anak, motivasi Sukarjo hanya untuk olahraga saja, lagipula olah napas bermanfaat berdasarkan penuturan Evan Bagaskara.
“Iya ikut Mas, nanti sekalian aja bareng ke tempat latihannya.” Sukarjo bangkit lalu mengambil mangkuk dan gelas kosong untuk ditaruh di dapur. “Ngomong-ngomong kenapa ya banyak yang kesasar ?”
“Bukan karena kekurangtahuan para pendaki akan jalur-jalur di gunung ini sih sebetulnya. Tapi ada sesuatu yang gak bisa dijelaskan ke sembarang orang.” Tiba-tiba Gumuruh berkomentar saat Sukarjo menanyakan penyebab kenapa banyak orang kesasar dan linglung.
“Apa itu Pak ?” Sukarjo penasaran.
Evan Bagaskara dan Gumuruh saling memandang dalam beberapa detik.
“Di salah satu wilayah gunung ini terdapat pertemuan dua energi, dari sungai kecil ke arah barat itu dihuni kerajaan jin yang tidak bersahabat (jahat) sedangkan dari sungai kecil ke arah timur itu dihuni kerajaan jin yang baik, mereka gak ganggu manusia bahkan tidak mau keluar dari kerajaannya. Nah pertemuan dua energi yang bertolak belakang itu menghasilkan gelombang energi yang sangat halus namun terkadang meningkatkan di waktu-waktu tertentu, itulah yang mempengaruhi salah satu bagian di otak manusia yang kebetulan lewat di lokasi itu saat gelombang yang dihasilkan dari tubrukan dua energi yang bertolak belakang itu meningkat.”
“Oh...jadi itu penyebabnya Pak Gumuruh. Terus kita-kita harus gimana kalau lewat ke situ ? Lokasinya tuh yang ada sungai itu kan ? yang ada beberapa tanaman cantigi di deketnya kalau gak salah.”
“Iya itu.” Evan Bagaskara membenarkan. “Ya kalau saran saya Pak Sukarjo, jangan lewat ke sana pas maghrib, atau selepas jam tiga sore. Setelah saya pelajari di jam-jam tersebut biasanya gelombang energi itu meningkat secara tiba-tiba.”
Gumuruh menggangguk sambil mengunyah beberapa permen mint, membenarkan penjelasan anaknya.
“Hmm, iya-iya. Kasih tahu warga jangan yah kira-kira ?”
“Jangan Pak Sukarjo, pola pikir manusia beda-beda. Nanti kalau Bapak jelasin kayak gitu, bisa dianggap orang gak waras," cegah Gumuruh.
“Hehe, bener juga.”
Ketiganya pun berbincang tentang banyak hal malam itu sampai pukul sembilan pas. Kedai ditutup lalu Evan Bagaskara, Gumuruh dan Sukarjo melangkah pergi menuju tempat latihan.
Demikian juga para pemuda dan beberapa anak-anak yang masih memiliki kekerabatan dengan para orang dewasa seperti Sukarjo. Semua sudah berkumpul di tempat yang biasanya dipakai untuk membuat tenda untuk kemah. Lokasi untuk berkemah memang ada beberapa titik salah satunya yang dijadikan tempat latihan pernapasan tenaga dalam. Sedangkan lokasi kemah para pecinta alam tadi berada di tengah gunung.
Di tempat latihan ini terdapat saung-saung berukuran 4 kali 5 meter persegi, lokasi ini biasanya untuk para pelajar yang melakukan kegiatan api unggun, Pramuka atau ospek jurusan karena sangat strategis dan sudah ditata dengan baik, tidak terlalu jauh ke kedai dan pemukiman warga juga.
Mereka yang hadir total berjumlah 25 orang, berpakaian bebas namun Evan menyarankan untuk memakai pakaian yang tebal sebab semakin malam semakin terasa dingin.
Begitu Evan Bagaskara hadir semuanya menyalaminya sebagai tanda hormat. Evan Bagaskara tidak langsung memulai latihan ke olah napas melainkan ia memulainya dengan lari-lari kecil memutari sebuah lapangan kecil. Lalu Evan memimpin para pesertanya untuk melakukan pemanasan dengan meregangkan otot, dari atas sampai kaki.
Barulah setelah itu semua terlewati ia mulai memasuki latihan pernapasan. Jadwal malam itu hanya olah napas dan satu gerakan jurus karena latihan dengan disertai ilmu beladiri hanya diadakan di hari sabtu dan minggu.
“Oke semuanya, berada di posisinya masing-masing,” pinta Evan.
Para peserta merapikan posisi sementara Gumuruh hanya menonton di saung. Ia tidak mau ikut melatih, mungkin baginya seorang Evan Bagaskara sudah cukup bagi orang-orang ini.
“Tarik napas dari hidung...” instruksi Evan.
Para peserta serentak menekuk lutut mereka setengah dan menarik napas dalam-dalam dari hidung.
__ADS_1
Evan lalu berjalan pelan menghitung langkah kaki sampai 8 langkah.
“Buang...sambil membuka jari jemarinya,” katanya lagi setelah hitungan kedelapan. “Pelan-pelan membuang napasnya, rasakan energi mengalir ke seluruh tubuh.
6 detik kemudian.
“Tarik napas...”
Para peserta kemudian menarik napas kembali dari hidung mereka lalu membuangnya lewat mulut perlahan. aktivitas itu terus diulang-ulang sampai 16 kali.
“Nah sekarang kita masuk ke jurus putar bintang.”
“Loh kenapa masih di jurus putar bintang terus sih Mas ?” keluh seorang pemuda berbadan tegap. “Ini hampir 6 bulan aku di jurus putar bintang.”
Mendengar itu Evan Bagaskara lalu menoleh dan berdiri normal.
“Lah emang itu kuncinya, banyak orang ingin langsung ke jurus kerak bumi 6. Padahal jika belum kuat di sini (Putar bintang) mustahil akan kuat di *k*erak bumi 6.”
“Iya bener Mas, sabar aja. Semua butuh kesabaran, nanti kalau Mas Evan kasih jurus kerak bumi 6 jangan-jangan situ malah kenapa-kenapa gimana ?” Sukarjo menasehati pemuda berbadan tegap yang begitu semangat namun tidak punya kesabaran.
“Ya udeh lanjut...” ujarnya sambil cemberut.
Evan pun tersenyum.
Ia memang harus disiplin untuk tidak terburu-buru memberi menu latihan yang terbilang sangat berat. Itu juga demi keselamatan para peserta, ia lebih memilih ditinggalkan pergi oleh para pesertanya jika memang merasa jenuh dengan menu latihan yang itu-itu saja. Daripada memaksakan hanya untuk memenuhi permintaan peserta dan agar dianggap keren.
“Oke lanjut, tarik napas...”
Para peserta memulai kembali latihan dengan serius namun adapula yang tidak serius, mereka adalah anak-anak. Kadang-kadang anak-anak tersebut jika tidak kuat mempertahankan posisi karena ada beberapa momen yang mengharuskan tahan napas sambil menekuk lutut (kuda-kuda) lalu mengeluarkan napas sambil menggerakkan satu tangan kedepan seperti akan memukul dengan telapak tangan.
Gerakan jurus putar bintang lebih mengutamakan keseluruhan tubuh bergerak, kaki kiri melangkah perlahan seiring tarikan napas dan menggerakkan tangan kanan ke dalam (kearah dada) sedangkan tangan kiri bergerak keluar dengan telapak tangan terbuka sambil membuang napas perlahan.
Setelah membuang napas, peserta akan menarik napas kembali sambil menarik tangan kiri dan mengeluarkan tangan kanan dengan kepalan sekeras mungkin bersamaan dengan kaki kanan yang melangkah perlahan sambil membuang napas perlahan.
Jurus putar bintang tidak berhenti di situ, Evan lalu menginstruksikan para peserta untuk tarik napas kembali diiringi dengan menggerakkan tangan kiri dari kiri ke ujung jari tangan kanan lalu menariknya ke dalam mengikuti panjang tangan kanan sampai ke dada peserta, begitu sampai di dada dan posisi masih menekuk lutut. Para peserta harus menahan napas 10 detik lalu mengembuskannya ke arah kiri dengan telapak tangan terbuka dan mendorong dengan sekuat tenaga serta perlahan dan dengan mengejangkan otot lengan dan telapak tangan sedangkan pergelangan kaki kiri berputar ke arah kiri.
Jurus putar bintang terus diulang-ulang sampai 16 kali, para peserta terlihat mulai kelelahan dan mengeluarkan keringat padahal suhu udara begitu dingin.
“Selesai, sekarang normalkan,” ujar Evan Bagaskara dengan duduk bersila.
Para peserta spontan mengikuti dengan duduk bersila. Mereka pun menarik napas dengan lembut sesuai perintah Evan selanjutnya.
“Tarik napas senatural mungkin, rasakan oksigen masuk kedalam lubang hidung hingga paru-paru. Jangan ada tahan napas, bernapas saja dengan normal namun dengan selembut dan serileks mungkin.”
Tubuh peserta pun mulai menyala dengan normal setelah sebelumnya ketika latihan jurus putar bintang, tubuh mereka menyala dengan tidak wajar tergantung dari kualitas mereka masing-masing dalam mengolah napas dan melakukan gerakan jurus putar bintang. Namun itu hanya bisa dilihat oleh Evan Bagaskara dan Gumuruh yang sedari menonton.
“Selesai, latihan ditutup.” Evan bangkit dan menghampiri Ayahnya.
“Apa kata Ayah, jangan terburu-buru. Semua yang terburu-buru tidak akan baik hasilnya.”
“Mm.”
Evan Bagaskara dan para peserta pun berbincang sebentar untuk sekedar beristirahat dan menghangatkan tubuh mereka dengan teh hangat yang sengaja dipersiapkan para peserta. Lalu pulang ke rumah mereka masing-masing ketika waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam kurang 15 menit.
“Mas, latihan besok kita sambil bakar-bakar ikan gimana ?” usul pemuda tegap yang sempat protes tentang menu latihan tadi.
“Ide bagus tuh, biar gak bosen dan bervariasi seminggu dua kali kita makan-makanya ganti-ganti. Tentunya bisa nambah semangat, minggu ini bakar ikan, minggu depan kita udunan daging kalkun.” Sukarjo menambahi.
“Iya Minggu depannya lagi bakar rumah yah Pak Karjo ?" celetuk salah seorang anak
lantas disambut gelak tawa para peserta lain.
“Huss, sompral kamu kalau ngomong !”
Anak tersebut spontan menutup mulutnya dengan satu tangan disertai jitakan dari teman-temannya.
“Boleh juga, biar gak monoton juga. Kalian atur aja semuanya. Saya gak bisa bantu karena sekarang-sekarang lagi sibuk,” jawab Evan seraya memakai jaketnya.
“Tenang aja biar kami yang urus Mas,” ujar pemuda tegap.
“Kalau gitu bubar dan pulang sekarang, takut kemaleman.”
“Ayo,” jawab para peserta serentak.
Malam sudah hampir menuju puncaknya, para pemuda dan anak-anak termasuk orang dewasa seperti Sukarjo telah memasuki rumah mereka masing-masing. Mengambil air dari sumur untuk mencuci kaki dan tangan mereka yang kotor oleh tanah.
Tapi tidak untuk Gumuruh, dalam perjalanan menuju villa miliknya, ia memutuskan untuk memeriksa para pendaki yang berkemah ditengah gunung.
“Van, kau langsung pulang saja ke rumah. Ayah ada perlu,” titahnya.
“Mau kemana, Yah ?”
“Para pendaki yang tadi kita ajak ngobrol di kedai sepertinya ada diantara mereka yang berbuat mesum,” ungkapnya. “Ayah hanya mau memastikan sekaligus menegur jika memang apa yang Ayah lihat tadi benar.”
“Hmm, kalau gitu jaga diri baik-baik, Evan pulang ke rumah.” Evan melangkah menuju villa sementara Gumuruh bergerak memasuki semak-semak lebat untuk mendekat tenda-tenda para pendaki.
Rupanya sejak berada di saung, Gumuruh tidak hanya menonton tanpa aktivitas apapun. Sedari tadi ia langsung bergerak dengan impleng untuk mengecek tenda-tenda para pendaki dengan mata batinnya. Apa yang ia lihat adalah dua orang sejoli sedang berbuat tak senonoh saat kawan-kawannya sudah tertidur pulas di tenda lain.
Gumuruh ingin memastikan apa yang ia lihat dalam impleng itu benar, sebetulnya ia berharap ia keliru dan apa yang ia lihat tidak benar-benar terjadi.
Hampir 45 menit Gumuruh berjalan melewati jalan setapak yang licin dan sampingnya jurang menganga. Konsentrasi dan kejelian mata bermain di sana, sedikit saja hilang konsentrasi pasti akan terpeleset atau minimal terkena ranting pohon yang sedikit tajam. Belum lagi ia harus seapik mungkin untuk tidak terkena hewan-hewan yang bisa merepotkan. Seperti ular, lintah dan katak beracun.
Dari kejauhan, lampu patromak dari dalam tenda yang berjumlah empat itu sudah terlihat. Suasana sudah sunyi hanya suara jangkrik yang menemani mereka di malam itu. Gumuruh berjalan mengendap-endap seperti seekor macan tutul yang bergerak memburu kijang di hutan belantara. Ia dapati satu tenda yang sinar lampunya agak redup, suara yang tak pantas didengar oleh anak-anak terdengar selang-seling. Untungnya Gumuruh bukan anak-anak melainkan pria tua lanjut usia yang sudah tidak berhasrat lagi pada hal yang demikian.
__ADS_1
Jika itu menimpa seorang pria muda, mungkin bukannya mau menegur tapi malah asyik menonton dan mendengarkannya.
Jarak antara satu tenda ke tenda lain agak jauh, 5 sampai 6 meteran. Gumuruh semakin yakin ada yang tak beres. Jarak antara dirinya dengan tenda berisi satu pasangan pria dan wanita sudah semakin dekat hanya tiga meter. Dari balik pohon pinus Gumuruh coba melihat isi tenda yang dimaksud dengan mata batin. Ia tatap dalam-dalam tenda dengan cahaya sedikit redup itu dan terlihatlah dua orang manusia berbeda jenis kelamin sedang berpelukan dengan busana dari pria dan wanita itu terbuka terlepas sebagian.
“Astaga, ternyata benar. Sudah kubilang pada pemimpinnya agar tidak ada yang berbuat kotor tapi masih saja melakukannya.” Batin Gumuruh, rahangnya mengeras.
“Mengalirkan energi listrik di telapak,” gumamnya lagi meniatkan untuk mengaktifkan tenaga dalam.
Kini salah satu telapak tangan Gumuruh sudah menyala dengan cahaya berwarna kuning. Tenaga dalam telah berkumpul di telapak tangannya dan mengubahnya menjadi bermuatan listrik.
Gumuruh berjaga-jaga jikalau sang pria atau para pendaki yang tertidur dan berusaha menyerangnya. Tenaga dalam dalamdi telapak tangannya bukan untuk membunuh mereka melainkan hanya untuk membuat mereka pingsan.
Gumuruh mulai mendekat dan tanpa basa-basi apalagi permisi, ia membuka tenda tersebut secara tiba-tiba sehingga terkesiap dibuatnya.
“Arrgh...” teriak sang wanita sambil buru-buru menutup auratnya yang terbuka.
Begitu juga sang pria ia dengan cepat meraih sarung di dekatnya untuk menutupi pemberian Tuhan yang seharusnya dipakai pada wanita yang sudah halal baginya.
“Kalian ngapain berduaan dengan sedikit telanjang kayak gitu ?” bentak Gumuruh.
Para pendaki lain dibuat terbangun oleh suara Gumuruh yang membentak dua rekannya yang baru saja berbuat mesum. Segera keluar tenda dan membawa senter ke arah tenda yang didatangi Gumuruh.
“Ng—nggak Pak kita gak ngapa-ngapain,” jawab si pria gugup sementara si wanita tertunduk malu.
“Nggak ngapa-ngapain gimana ? Kamu saya intip tadi sedang berzina dengan wanita ini.” Tunjuk Gumuruh pada wanita cantik yang tertunduk malu.
“Tapi kita suami istri kok Pak ?” pria itu berkelit.
“Jangan bohong !” Gumuruh tak percaya begitu saja.
“Ada apa ini ?” tanya pria Cirebon setelah melihat keributan yang terjadi. “Loh bukannya Bapak yang di kedai itu, ya ? Kok bisa di sini ?”
“Sebaiknya kamu tanya teman kamu ini , kenapa berduaan dengan seorang perempuan dengan celana terbuka kayak gitu ?”
Pria Cirebon lantas melihat dua temannya yang tidak bisa menyembunyikan perbuatan mesumnya tadi. Apalagi satu buah alat kontrasepsi terlihat di sampingnya.
“Astaghfirullah...kalian ngapain Mar, Des ?” pria Cirebon itu sangat terkejut sekaligus malu melihat aurat keduanya yang walaupun sudah berusaha ditutupi sarung tapi masih saja terlihat sebagian karena saking tidak karuannya konsentrasi dan perasaan keduanya. Apalagi sang wanita memang terlihat juga aurat bagian atas tubuhnya.
“Sorry... sorry Mas Eksan, kita khilaf,” sesal pria it yang diketahui bernama Mardiono sedangkan sang wanita bernama Dessy.
“Tuh kan benar, kalian bukan suami istri.” Gumuruh masih saja menyalak galak.
“Bukan Pak, mereka bukan suami istri,” kata Eksan pria asal Cirebon. “Ya ampun...kalian bikin malu.” Eksan memegang keningnya.
Eksan tak bisa menahan ekspresi wajahnya yang sangat kecewa padahal sebelum berangkat ke gunung ini ia sudah mewanti-wanti agar menjauhi segala perbuatan yang tidak diperbolehkan. Tapi akhirnya ia kecolongan juga.
“Ada apa ini ? Ada apa ini ?” ujar para pendaki lain.
Mereka saling memandang termasuk melihat ke dalam tenda yang sudah terbuka lebar.
“Ini, dua teman kalian sedang berbuat mesum tadi, saya pergoki mereka dan mereka pun akhirnya mengakui,” beber Gumuruh sementara energi di telapak tangannya sudah mulai ia hilangkan karena ia menilai situasi cukup terkendali.
“Waduh...gila lu Mar, bisa-bisanya,” ujar salah seorang wanita di antara pendaki. “Ngomong-ngomong kenapa kok bisa setenda ? Kan harusnya Mardiono sama si Angga ?”
“Oh iya betul, kenapa bisa ? Angga...kamu sekongkol sama Mardiono ?” Eksan menatap Angga yang berada paling belakang mungkin sadar bahwa persekongkolannya akan terbongkar.
“Enggak kok, aku cuman lagi buang air kecil tadi sebentar,” kilahnya.
“Bohong lu, kalau cuman buang air kecil la ngapain terus tidur di tenda kita ? Lu kan tadi gua liat tidur di tenda gua,” sanggah salah seorang pria lain bertubuh pendek.
“Ya kan gua takut kalau cuma berdua sama si Mardiono, apalagi deket pohon besar banget. Kalau di tenda lu kan bertiga dan jauh dari pohon besar itu.” Angga masih saja tidak mau mengakui.
“Jangan bohong Ga, alasan kamu gak masuk akal.” Eksan tidak menerima alasan Angga.
“Angga emang saya suruh tidur di tenda Bang Saldy (pria tubuh pendek), saya kasih dia uang 500 ribu biar mau pindah, terus saya bisa berduaan dengan Dessy.” Mardiono akhirnya mengakui dan Angga Eksan hanya berdecak kesal.
“Tuh kan,” kata salah seorang wanita tadi, teman dari Dessy. “Wah, lu kok mau sih diajak begituan sama si Mardiono, Des ?”
“Gue khilaf, Anna,” jawabnya sambil tersedu-sedu.
“Pasti deh semua yang udah berbuat mesum terus kepergok jawabannya pasti gue khilaf gue khilaf,” cibirnya. “Lu juga Mar, kalau lu sayang sama dia harusnya nikahin dulu. Jangan lu cobain dulu, gak takut dosa lu, ya !”
Mardiono tak bisa berkata-kata lagi, ia sudah terpojok dan tak berkutik.
“Ya sudah sekarang gini aja, kalian sekarang juga segera turun dari gunung. Saya gak akan kasih ijin lagi untuk mendaki dan berkemah di sini,” ujar Gumuruh. “Semuanya bergegas untuk merapikan perbekalan termasuk tenda dan ikut saya.”
“Waduh jangan dilaporin ke warga Pak, please...saya malu...” rayu Mardiono sambil merengek.
Sementara Eksan selaku pemimpin dari rekan-rekannya tidak bisa berbuat banyak apalagi menolak perintah Gumuruh.
Rekannya memang sudah melakukan kesalahan fatal yang tidak bisa ditolerir lagi. Meskipun diantara rekan-rekannya ada yang merasa kecewa dengan keputusan Eksan dengan mengikuti perintah Gumuruh, bagi mereka yang seharusnya di bawa hanya Mardiono dan Dessy saja, kenapa harus semuanya.
“Gak bisa, kalian akan saya laporkan ke tokoh masyarakat di sini agar tidak diijinkan kembali ke sini. Dan akan saya laporkan juga ke orang tua kalian masing-masing.” Sekali lagi jawaban tegas Gumuruh membuat kedua sejoli yang telah berbuat mesum itu berlinang air mata.
Penyesalan selalu datang di akhir, setan selalu membuat perbuatan buruk itu terasa indah. Padahal ada penyesalan yang membuntutinya dan itu pasti.
Mereka pun mengemas barang-barang, membongkar tenda dan bergerak turun untuk menuju rumah tokok masyarakat agar ditindaklanjuti.
Sampai di rumah seorang pria yang dituakan, mereka berdua diceramahi dan tentu saja tidak diperbolehkan lagi untuk datang ke tempat mereka. Tokoh masyarakat itu masih mau berbaik hati untuk tidak melaporkan keduanya ke kepolisian namun tetap akan memaksa keduanya untuk meminta nomor handphone dari orang tua masing-masing sesuai saran Gumuruh.
Esoknya, keadaan menjadi ramai, perbuatan mesum Mardiono dan Dessy diketahui penduduk sekitar. Sampai orang tua keduanya datang untuk menyelesaikan masalah. Masalah itu pun diselesaikan dengan menikahkan keduanya sesegera mungkin.
Bantu penulis dengan like dan komentar, ya.
__ADS_1