
Dua hari berlalu hubungan antara Alice dan Laguna semakin memburuk akibat perubahan sikap suaminya yang di bawah pengaruh setan bawahan Bapak putih.
Wujudnya seorang wanita muda dengan busana jaman kerajaan ketika Majapahit belum berjaya, lebih cocoknya disebut Ratu. Tapi bukan Ratu pantai selatan seperti yang sudah familiar beredar di masyarakat, usianya sudah ribuan tahun, sangat cantik, manik coklatnya begitu menggoda hasrat seorang pria dan rambutnya yang lurus hitam pekat.
Sosok yang siapa saja yang melihatnya akan tertipu oleh senyum tipis lugunya, tidak akan menyangka bahwa ia adalah jin yang sangat agresif dan sering kali meminta tumbal baik lewat tangan manusia atau oleh tangannya sendiri.
Perselisihan semakin pelik ketika Laguna semakin tenggelam lebih dalam oleh pengaruh jin Ratu Urayaning. Ia terpincut oleh pesona wanita lain di tempat kerjanya sehingga membuat ia seringkali tidak pulang ke rumah. Pengaruh Ratu Urayaning memang sangat berbahaya, orang yang didekatinya akan menjadi lebih agresif terhadap wanita. Gairah seksnya meningkat tanpa sebab namun sebaliknya ia muak ketika melihat wajah Alice, istri sahnya sendiri.
“Hai... sayang...” sapa seorang wanita meletakkan dua jemarinya di tengkuk Laguna dan mendekatkan wajahnya ke wajah tampan Laguna, merayu.
“Kelinci ku yang manis, ingin bermain lagi ?” balas Laguna menggoda.
“Kemana kita hari ini ?”
“Gimana kalo ke—“
Kring ! Kring !
Perkataannya terhenti oleh suara panggilan masuk ke handphone Laguna, Alice memanggil, saat Laguna melihat layar handphonenya.
“Siapa yang ?” sang wanita muda itu kembali bertanya. “Dari istri, ya ? Angkat aja.”
“Ah, bukan. Ga pentinglah.” Laguna mematikan handphonenya. “Yang penting kita jalan-jalan sekarang, setelah itu kita...ekhm.”
“Kita apa ih ?”tanya wanita itu dengan manja pura-pura bodoh padahal ia tahu jawabannya.
Satu ciuman haram pun terjadi sore itu dan kedua sejoli tersebut lalu pergi meninggalkan perusahaan dengan mengendarai mobil warna silver milik Laguna menuju salah satu kafe di Bandung utara dan mengakhiri malam dengan menginap di sebuah hotel.
Pengaruh Ratu Urayaning sudah bekerja sejak lama bahkan sepanjang hari-hari yang Laguna lalui, Laguna semakin menggebu untuk melakukan tindakan melanggar hukum agama. Otaknya tak lagi waras, mesum dan selalu bergairah, ia bagaikan hewan liar yang memasuki musim kawin.
Suara adzan berkumandang di waktu fajar tak juga membangunkan Laguna yang masih saja menutup matanya rapat-rapat seraya tangan kirinya melingkar di pinggang wanita muda, selingkuhan di tempat kerja. Padahal letak masjid dengan hotel tidak terlalu jauh, hawa dingin seperti semakin menambah asyik batin Laguna untuk tenggelam dalam kemaksiatan yang nyata. Kulit dengan kulit saling menempel tanpa pembatas sedikit pun seharusnya ia sadar itu dosa. Keduanya kemudian setelah waktu sudah menunjukkan pukul pukul 8 pagi.
“Kamu gak cepet-cepet pulang ke rumah ?” wanita muda menoleh pada Laguna yang sama sekali tidak berbusana. Ia sudah bangun lebih dulu, berpakaian rapih.
“Tenang aja, lagian sekarang bagian shift malem.”
“Kali gitu aku duluan, ya ?” Tanpa menunggu jawaban Laguna ia meraih kantung wanita di meja dekat lampu duduk, lalu melangkah pergi meninggalkan Laguna. “Aku ada janji hari ini.”
“Kok buru-buru sih ?” Laguna mengucek matanya yang masih kantuk.
“Dah sayang, nanti aku janji hubungi kamu lagi, muah.”
Wanita muda itu keluar dari kamar 04 melangkah menuju tangga dengan kemeja abu-abu memakai rok pendek seatas lutut, sepertinya terburu-buru untuk bertemu seseorang. Suara dari sepatu yang dibawa berlari kecil menghiasinya menuju tempat parkir dan menghilang bersama mobil Avanza yang kacanya ditutup rapat. Sementara Laguna pulang ke rumah pada siang hari dan seperti biasa percekcokan kembali terjadi.
__ADS_1
Hari sabtu pukul dua dini hari Alice menjerit kesakitan. Tiba-tiba perutnya terasa sakit bagai diremas dengan kuat padahal selama ini ia hidup dengan pola makan yang sehat dan teratur. Makhluk astral kiriman Bapak putih mulai bekerja, meneror ibu dua anak itu secara berkala.
Esoknya, rasa sakit yang ia alami membuat dirinya memutuskan untuk pergi ke dokter spesialis penyakit dalam. Tapi hasil pemeriksaan medis tidak ditemukan tanda-tanda penyakit sehingga membuat para dokter kebingungan. Salah satu dokter bahkan menganggap Alice dalam kondisi stress berat tapi Alice menyangkalnya bahwa ia tidak dalam kondisi stress apalagi depresi berat. Meski ia menghadapi berbagai masalah namun ia masih bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Waktu terus berjalan hingga tahun demi tahun terlewati. Berbagai macam obat ia konsumsi demi mengobati rasa sakit yang terkadang muncul dan hilang kembali. Hingga pada suatu saat karena rasa penasaran yang masih tersisa, Alice kembali melakukan pemeriksaan medis dengan meminta dokter untuk melakukan pemeriksaan medis melalui MRI.
Anda menderita penyakit liver.
Kalimat pertama yang terlontar dari sang dokter setelah keluar dari balik pintu membuat Alice terpukul. Bagaimana mungkin dirinya bisa menderita penyakit liver ? Berulang kali batinnya bertanya-tanya.
Sepulang dari rumah sakit ia mengingat-ingat makanan yang selama ini ia konsumsi atau kesalahan apa yang telah ia perbuat sehingga harus menderita penyakit organ hati tersebut. Tapi tak satu pun yang membuat ia yakin.
Pasalnya, Alice memang orang yang sangat higienis dan teliti. Ia juga tidak suka sea food dan lebih suka masakan sehat seperti ubi rebus, singkong kukus dan sayuran. Sesekali memakan daging ayam namun jumlahnya masih bisa dihitung dalam sebulan. Otaknya masih tak percaya namun tanda-tanda fisiknya membenarkan vonis dokter. Yang paling kentara adalah mata dan kulitnya yang menguning.
Raduma yang saat itu masih dalam posisi ngimpleng (menerawang) ke masa lalu dengan cekatan melacak sumber penyakit almarhum ibunya hingga ia menemukan sebuah jawaban yang membuat geleng-geleng kepala tak menyangka.
“Sampai seperti ini, Ya Tuhan... kasihan engkau Ibu,” gumam Raduma. Matanya masih terpejam dan impleng masih berjalan.
Sebuah fakta tertangkap oleh kemampuan bola matanya yaitu Alice menderita penyakit liver karena ulah jin kiriman dukun Bapak putih dan tentunya itu pun tak lepas dari izin Tuhan yang maha esa. Jin sejenis siluman buaya yang bisa berubah wujud hingga tubuhnya bisa menjadi sangat kecil hingga lebih kecil dari pada bakteri atau virus.
Siluman buaya ini mengendarai bakteri dan virus dari daging yang belum dicuci oleh Nenek Damanik beberapa tahun kebelakang.
Bergerak di udara hingga akhirnya terhirup oleh Alice. Masuk ke dalam tubuh Alice untuk mengincar organ dalam yang disebut liver.
“Alice, kamu gak liat kemeja aku ?” tanya Laguna sesaat begitu keluar dari kamar mandi.
Pandangan matanya hanya sepintas melihat Alice di tepi Ranjang dengan posisi membelakangi. Laguna lalu sibuk mencari kemeja ke lemari antik dengan banyak ornamen. Dua kali ia bertanya namun tidak ada jawaban lantas ia menutup lemari dan langsung mengalihkan matanya untuk melihat Alice yang ia lihat tadi di tepi ranjang, bersiap untuk melempar pertanyaan yang sama untuk ketiga kalinya.
Namun saat ia melihat ke tepi ranjang, Laguna tersentak, jantungnya hampir copot karena tidak ada seorang pun orang yang berada di ranjang tersebut, kemana Alice ? Laguna yakin ia tadi melihat Alice yang sedang duduk meski hanya terlihat dari belakang dan sepintas, ditambah lagi tidak terdengar bunyi pintu terbuka jika memang Alice keluar kamar, semakin membuat bingung Laguna.
“Astaga...” Laguna memegang dadanya dengan satu tangan. “Tadi ada Alice...kemana dia ? Alice...Alice...”
Ia melangkah menuju kamar mandi, kosong tidak ada orang, begitu pula ia mencarinya ke ruang tengah tak ada satu pun orang. Alice ternyata tidak ada di rumah. Rupanya Alice sedang keluar rumah untuk berbelanja sesuatu sementara Nenek Damanik pergi jalan-jalan sore berserta Rasta dan Raduma.
Laguna kemudian kembali ke menuju kamarnya, begitu daun pintu didorong retinanya menangkap sesosok wanita sedang menatap cermin milik Alice dengan sesungging senyuman.
Satu teriakan cukup keras keluar dari kerongkongan Laguna, ia terkejut untuk kedua kalinya, spontan ia membalikan badan berlari untuk ke luar rumah secepat yang ia mampu. Kali ini ia yakin seratus persen yang ia lihat di kamar adalah setan. Namun belum juga ia sampai di pintu masuk jantungnya dibuat terguncang lebih keras. Ratu Urayaning sudah berdiri dihadapannya dengan senyuman janggal.
Seharusnya Laguna bisa keluar rumah sebab hanya butuh 3 detik menuju pelataran rumah, itu karena rumah Nenek Damanik memang tidaklah besar. Akan tetapi kecepatan Ratu Urayaning memang lebih cepat dari manusia.
Ia sudah berdiri menghadang Laguna yang kedua lututnya mulai tak kuasa untuk menopang badannya karena lemas akibat mental dan otaknya yang tidak siap melihat makhluk astral yang tiba-tiba menampakkan diri dengan wujud yang asing.
Satu mahkota kecil dari logam perak ditanami berlian dan batu giok hijau terselip di atas ubun-ubun Ratu Urayaning, kalung emas dengan sebuah simbol segitiga dihiasi ukel di setiap sisinya melingkar anggun di batang lehernya yang putih bagai air susu serta kebaya biru yang tidak pernah Laguna lihat, jauh berbeda dari sosok-sosok Ratu kerajaan yang ia lihat di film-film laga.
__ADS_1
Bukannya melafadzkan setiap doa, Laguna justru terpaku sulit untuk bersuara, seperti ada sesuatu yang menahan pita suaranya. Tapi anehnya saat itu ia bisa mendengar perkataan Ratu Urayaning padahal sosok wanita yang berada dihadapannya ia lihat dengan jelas sama sekali tidak menggerakkan bibir, hanya tersenyum janggal.
“Kau yang tampan...” Puji Ratu Urayaning mendekat hingga Laguna bisa melihat dada putih bersih yang dibalut dengan kemben berwarna hitam dan sedikit tertutup selendang sutra.
“Siapa kau ?” tanya Laguna, sedetik kemudian ia terkejut menyadari ia bisa berbicara padahal mulutnya dalam keadaan seperti terkunci. Detik berikutnya ia menyadari bahwa ini telepati dan dua detik selanjutnya ia menyakini wajah wanita yang berada dihadapannya pernah ia lihat. “Kau yang pernah aku lihat di dalam mimpi, mustahil.”
“Wajah cantikku ini ternyata mudah diingat oleh para pria...” jawab Ratu Urayaning.
“Apa yang akan kau lakukan padaku ?”
“Tidak banyak...aku hanya harus menyelesaikan perjanjian ku dengan seseorang.” Ratu Urayaning lalu terlihat mencabut tusuk konde yang terselip di rambutnya yang hitam pekat.
“Apa yang kau lakukan ?” Laguna mulai bergetar hebat karena ketakutan. “Jangan bunuh aku, jangan lakukan itu, ja—“
Perkataannya terputus oleh cengkraman tangan kiri Ratu Urayaning yang mencekik leher Laguna sementara tangan kanannya menggenggam tusuk konde dengan ukiran burung Nuri.
JLEBB !!
Tusuk konde menusuk jantung Laguna yang sepersekian detik kemudian berhenti berdetak.
“Semudah ini, padahal aku masih ingin berhubungan badan dengannya. Apa boleh buat, waktunya terbatas.”
Laguna tewas di dekat pintu masuk, terkapar tak bernyawa menunggu seseorang menemukan jasadnya di penghujung sore memasuki maghrib. Alice menemukannya setelah pulang dari berbelanja ke supermarket disusul Nenek Damanik dan kedua cucunya.
Keempatnya menangis histeris mengetahui Laguna tewas hanya dengan memakai celana pendek dan kaus oblong pakaian dalam, saat itu Laguna memang baru selesai mandi.
Hari itu hari senin, Laguna menutup usia dengan kematian tidak wajar, jenazahnya dimakamkan di pemakaman keluarga Samirah.
Namun berita kematiannya tidak satu pun orang curiga termasuk Witarsa yang memang mempunyai kesibukan tersendiri. Apalagi jarak rumah Witarsa dan keluarga Alice sangatlah jauh.
Dalam perjalanan Raduma melihat ke masa lalu pun ia mengetahui bahwa Witarsa lah yang menutup mata batinnya saat berusia 7 tahun.
Sekilas Raduma teringat berbagai kejadian di masa lalu dimana ia melihat sesosok ular putih terbang dari barat ke timur di atas gunung manglayang, yang ia sangka itu mimpi padahal nyata. Atau ketika ia digendong oleh Alice melewati jalan setapak subuh hari untuk menuju ke rumah sakit karena ia sering kali demam. Di tengah perjalanan melalui sebuah rumah dengan pekarangan yang sangat luas gerbangnya tinggi dan gapura kukuh berdiri.
Ia berpapasan dengan sesosok makhluk menyeramkan, galak dan buas dengan wujud beruang besar setinggi tiga meter berjaga di gerbang masuk. Tatkala ia dan ibunya sering kali melewati rumah itu, sosok jin tersebut selalu berusaha ingin menerkam Raduma namun seperti ada sekat penghalang antara Raduma dengan sosok jin tersebut yang membuatnya tidak bisa mendekat.
Satu persatu peristiwa mulai terbuka, apa yang selama ini ia anggap mimpi buruk, nyatanya adalah kisah nyata yang benar adanya.
Hampir tiga puluh menit Raduma melakukan impleng. Rasa lelah dan suara bising knalpot motor yang mulai lalu lalang dari para pekerja yang berangkat sejak subuh hari menghentikan Raduma dari menerawang ke masa lalu. Baginya, sudah cukup informasi yang ia peroleh, yang terpenting ia tahu siapa dukunnya dan dari mana para jin itu berasal.
Hingga ketika ia pergi ke warung untuk membeli makanan sebagai bekal kerja. Informasi tentang terbunuhnya Tobi sampai juga di telinga Raduma dari percakapan ibu-ibu yang sedang berbelanja di warung Bu Wita, istri seorang polisi.
Sejak saat itu, kisah Raduma dimulai.
__ADS_1