PERANG METAFISIK

PERANG METAFISIK
Pria misterius.


__ADS_3

Pria tua misterius.


Selepas pulang dari wilayah Bandung selatan Raduma menyempatkan dahulu untuk berbelanja ke pasar induk tradisional. Bagaimana pun kini ia sudah hidup seorang diri. Jadi, segala sesuatunya harus dilakukan sendiri, termasuk urusan memasak.


Turun dari transportasi online, kakinya langsung memasuki tanah becek pasar tradisional dengan berdoa. Karena salah satu tempat yang paling buruk adalah pasar. Selain karena tempatnya yang tentu saja kotor, banyak dusta para pedagang, pasar adalah salah satu tempat dimana orang-orang yang hanya demi sebuah keuntungan duniawi, rela bekerjasama dengan makhluk terkutuk.


“Astaga...banyak sekali,” gumam Raduma bergidik, lirik kanan dan kiri.


Terkejut bukan karena banyaknya pembeli yang datang ke pasar tradisional di penghujung sore itu. Namun karena banyaknya setan yang berkeliaran layaknya manusia, sebagiannya berjaga-jaga di lapak para pedagang, sepertinya memang sengaja dipelihara untuk kepentingan tertentu. Ada yang menghunuskan pedang, ada yang diam saja sambil melotot, ada pula yang berputar-putar terus di lapak para majikannya.


Delapan langkah ia berjalan, Raduma berhenti di sebuah lapak tahu dan tempe, menurutnya cuma dua sejoli itu yang paling simpel untuk diolah, tinggal tenggelam ke dalam minyak panas, jadilah teman nasi.


“Pak beli tahu 5000, tempe 4000,” ujar Raduma seraya mengambil uang kertas di dompetnya. “Ini tahu cibuntu, kan ?”


“Tahu cibuntu Nak, enggak bohong di sini mah. Karena yang Bapak cari berkahnya bukan untungnya semata,” jawab Bapak tua pemilik tatapan teduh itu.


“Hehe maaf Pak, soalnya kurang tahu. Semenjak Nenek wafat otomatis harus belanja sendiri, masak sendiri.”


“Oh, yatim piatu ?” Pak tua cukup terenyuh. Meski Raduma tertawa kecil namun raut kesedihan yang bersemayam dibelakang tawa itu bisa beliau tangkap.


“Iya.”


“Gak apa-apa, hidup cuma sebentar ya Nak, dinikmati saja.” Hibur Pak tua. “Tapi saudara lain masih punya, kan ?”


“Enggak Pak.”


Bapak tua terdiam, mungkin ia merasa iba terhadap Raduma. Usianya masih terlalu muda untuk hidup sendirian.


“Kulihat cuma lapak Bapak yang tidak ada penunggunya.” Raduma menurunkan volume suaranya, tiba-tiba beralih topik pembicaraan. “Bapak juga sepertinya bukan orang biasa.”


Bapak tua tersenyum, dari awal ketika Raduma menuju lapaknya. Ia sudah tahu bahwa Raduma memiliki kemampuan metafisik dan tenaga dalam di atas rata-rata.


“Begitulah,” jawabnya singkat agar tak didengar orang lain.


“Bagaimana membuat ini ?” tanya Raduma kini lewat telepati karena ia mengerti, pertanyaan yang ia lontarkan terlalu sensitif jika sampai didengar oleh orang-orang yang lewat. Ia bertanya tentang bagaimana membuat perisai enam penjuru yang melindungi lapaknya.


“Cukup sulit, Bapak dulu harus bersusah payah untuk mempunyai energi sampai di angka 30.000 dengan olah napas, barulah Bapak bisa membuatnya,” ungkapnya. “Tapi... sepertinya bagimu itu tidak akan terlalu sulit, Bapak lihat engkau berbeda, energi besar dalam tubuhmu bukan dari olah napas, siapa kau sebenarnya Nak ?”


Bapak tua terdiam lalu menatap serius Raduma.


2 detik berikutnya, sambil berbincang dalam telepati, Pak tua dengan santai memasukan tahu dan tempe ke dalam keresek hitam.


“Jika dinding perisai empat arahnya, aku bisa melakukannya, tapi maksudku, bagaimana Bapak membuat dinding bawah tanahnya ? Berulang kali kucoba, khusus dinding bawah selalu saja menipis lalu pudar.” Raduma tampak berpikir. ”Aku juga tak tahu siapa sebenarnya diri ku ini.”


Jawaban Raduma membuat Pak tua terdiam kembali dalam sesaat. Ia tidak mengerti mengapa ada orang seperti Raduma, pemuda dengan kekuatan yang cukup besar namun tidak tahu asal usulnya sendiri.


“Unik, kau anak yang unik. Hmm, mengenai perisai atau dinding pelindung bawah tanah, ya ? Hmm...jawabannya sangat mudah. Jangan membuatnya dengan jumlah energi di bawah 5000, jika kau buat di bawah 5000 maka hasilnya memang akan seperti itu, kenapa ? Karena bumi memiliki medan magnet yang sangat kuat dan dapat pula menyerap listrik, dinding energi yang disimpan di bawah tanah akan tersedot oleh bumi semakin dalam kau tanam semakin cepat memudar, dinding energi yang dibuat di atas permukaan saja memiliki batas waktu beberapa tahun lalu memudar, apalagi jika kita tanam di bawah tanah dengan kedalaman 10 meter, tentu saja akan lebih cepat tersedot. Dan...cara membuat perisai enam penjuru ini berbeda dengan pengunci empat arah, setiap membuat satu dinding kau hanya punya waktu 51 detik, artinya kau harus cepat beralih dari satu dinding ke dinding yang lain dalam membuatnya, jika telat, maka ujung-ujung dindingnya tidak akan saling tersambung, kau harus berpacu dengan waktu,” ungkap Pak tua. “Ini tahu dan tempenya, berhati-hatilah berjalan di pasar ini. Karena banyak yang merasa terganggu dengan kehadiranmu Nak. Ada beragam jenis siluman di sini, jika kau lengah, bukan tidak mungkin kau akan repot juga.”


“Aku mengerti sekarang, terimakasih atas penjelasannya,” jawab Raduma kini berbicara seperti biasa tidak lagi lewat telepati. “Tidak perlu khawatir Pak, aku sudah mulai terbiasa dengan banyaknya siluman.”


Raduma meraih kantung keresek hitam yang disodorkan Bapak tua sambil memberi uang kertas yang sedari tadi ia pegang. Sesungging senyum ikhlas ia lepaskan tatkala hendak pergi.


“Oh ya satu lagi,” ujar Pak tua menghentikan gerak Raduma, spontan Raduma menoleh. “Asam lambungmu sudah hampir melebihi batas. Segeralah seimbangkan, meski kita berbeda dengan manusia lain (Diberi kekuatan), hakikatnya kita tetap bisa jatuh sakit juga, kan ?”


Bapak tua tersenyum lagi.


“Bapak benar,” saut Raduma. “Tapi bagaimana caranya ?”


“Hehe, ternyata kau memang belum pengalaman.” Pak tua yang tidak diketahui identitasnya itu tertawa kecil menganggap lucu, pemuda dengan tingkatan energi yang luar biasa namun tidak tahu sama sekali tentang cara mengobati diri sendiri. “Gunakan saja energi dalam tubuhmu untuk mengobati, energi dalam tubuh ibarat sebuah bahan mentah. Kau bisa gunakan itu untuk apa saja.”


“Lebih detailnya bagaimana ? Aku masih belum mengerti.”


Raduma benar-benar minim pengalaman, ia tidak tahu bahwa energi dalam tubuhnya bisa dipergunakan untuk mengobati diri sendiri.

__ADS_1


“Energi dalam tubuh digerakkan oleh koneksi antara hati dan otak. Ia akan mengikuti perintah hati dan otak, kau cukup meniatkannya untuk menetralisir asam lambung, ingat ! Menetralisir, bukan menurunkan. Jika salah meniatkan kau malah bisa jatuh sakit. Bahkan menurut Bapak dengan energi sebesar itu, kau bisa meregenerasi sel dalam tubuh serta merekayasa otak orang lain.”


Tiba-tiba Raduma tertegun seperti menyadari sesuatu, satu detik dua detik tiga detik.


“Merekayasa otak orang lain ?” Benak Raduma.


“Ya...bukankah kau baru saja melakukannya ?”


Suasana seketika menjadi serius. Bapak tua sepertinya mengetahui bahwa Raduma baru saja membunuh manusia dengan merekayasa otaknya dengan tekniknya yang ia beri nama penggempur sukma.


“Tapi sepertinya yang kau lakukan itu jauh lebih tinggi,” katanya lagi.


Enggan terlalu lama Bapak tua terus melakukan pembicaraan dengannya. Raduma segera meninggalkan lapak Pak tua, menghindari Bapak tua untuk tidak mengorek lebih jauh tentangnya.


“Maaf, Aku terburu-buru,” ujar Raduma.


“Jangan khawatir, Bapak tidak akan bicara pada siapapun tentang apa yang baru saja kau lakukan,” tutupnya.


Raduma berhenti melangkah sesaat tanpa menoleh. Lalu kembali berjalan meninggalkan Bapak tua yang memandanginya dengan tatapan kasihan.


“Dia tahu aku telah membunuh dukun mesum itu.” Batin Raduma. “Tapi kurasa beliau orang baik.”


Raduma tidak mau berlama-lama di dalam pasar, bukan karena takut tapi karena enggan membuang-buang energi untuk meladeni para siluman yang begitu banyak, salah satu siluman dengan wujud ular dari tadi malah terus mengincarnya dengan sebuah pedang yang berasal dari taring ular raksasa.


Ojek online kembali ia pesan, tahu dan tempe sudah cukup untuk membuat perutnya kenyang nanti. Sepeda motor membawanya pulang dengan tubuh lelah merindukan air hangat untuk mandi.


Lampu-lampu jalan sudah menyala satu persatu tapi hujan kembali menyapa. Lagi-lagi jalanan basah, untungnya jarak pasar induk tradisional dengan rumahnya tidak terlalu jauh. Ia turun di portal komplek, Sula dan Sulu sudah terlihat di pos hansip padahal jam kerjanya baru mulai pukul 8 malam.


“Pulang kerja Kang Raduma ?” sapa Sula dengan bahasa isyarat, ia tidak bisa mendengar sedangkan saudara kembarnya, Sulu tidak bisa bicara.


Sebisa mungkin Raduma menjawabnya dengan bahasa isyarat pula, walaupun entah benar atau tidak isyarat yang ia gunakan karena ia benar-benar tidak tahu tentang ilmu bahasa isyarat untuk tuna rungu.


Untungnya Sula mengerti, ia mengangguk dan menawarkan makanan yang Sula dan Sulu konsumsi, dari warnanya hitam bundar dan coklat lumer ditaburi keju, tidak salah lagi, itu brownies.


“Tidak, saya baru aja belanja.” Raduma mengerakkan tangannya, memberi isyarat.


Sula dan Sulu tersenyum mengerti, Raduma kemudian berjalan menuju rumah melewati rumah Tobias, masih terlihat sepi. Setiap kali ingat sahabatnya itu setiap kali itu pula hatinya merasa sakit. Ia baru saja kehilangan neneknya, anggota keluarga terakhir yang ia punya, sekarang ia harus kehilangan sahabatnya saat ia merasa punya harapan dengan adanya Tobi yang selalu menemani.


Sudah ditikam di tenggelamkan pula.


Mungkin itu kalimat yang bisa menggambarkan isi hati seorang Raduma. Dibukanya gerbang karatan, pekeng terlihat beristirahat di teras rumah beserta 4 anaknya.


Barangkali, sekarang pekenglah yang menjadi penawar sepi. Setidaknya ia masih punya gairah hidup dengan ditemani pekeng si kucing kampung meski tak bisa berbicara dan hanya bisa mengeong saja.


“Lupa beli bubuk ikan pindang,” ujar Raduma saat menyapa pekeng dengan telapak tangannya.


“Orang gila,” celetuk Ibu Ina saat lewat di depan rumah Raduma dan melihatnya berbicara dengan seekor kucing yang bahkan membalasnya dengan wajah acuh.


Dua kata itu jelas terdengar di gendang telinga Raduma. Sakit memang, rasanya pedih ketika mendengar hinaan orang lain. Tapi Raduma sama sekali tidak berniat untuk melakukan seperti apa yang ia lakukan terhadap para dukun. Ia lupakan saja apa yang ia dengar tadi lalu masuk ke dalam rumah.


Masih berantakan.


Itu dua kata yang terbersit di benak Raduma tatkala melihat ruang demi ruang rumahnya. Karena sebelum pergi ia memang tidak sempat beres-beres rumah. Kalau sang Nenek masih ada, mungkin beliau memarahinya tanpa henti melihat rumah bak kapal pecah.


“Tahu dari siapa aku pindah ke Bandung selatan waktu SD ?” Direct message masuk dari Visa Mapa.


Smartphone Raduma menyala, sebuah logo kecil media sosial terlihat muncul di atas layar. Satu tangannya segera membuka media sosial.


“Tahu dari Rivany Vis, lama jawabnya lagi sibuk, ya ?” Ketik Raduma.


“Iya sorry Rad, aku kemarin-kemarin harus keluar kota ngerjain ini itu, ya ampun gak sempet buka medsos...”


“Rivany ? Dia dimana ya sekarang ? Kalau gak salah waktu SMP sama kan sekolahnya ?” katanya lagi.

__ADS_1


“Iya, tapi... sekarang gak tahu kemana, dia juga pindah. Hehe rata-rata emang gak pada betah ya di sini (Komplek parabintang).” Ketik Raduma seraya mengambil satu minuman isotonik dari dalam kulkas.


“Tau sendirilah, air di sana kan kurang bagus,” keluh Visa.


“Iya sih.”


Dua menit keduanya saling terdiam, seperti lamanya waktu yang memisahkan keduanya membuat suasana masih terasa kaku.


“Bisa ketemuan enggak Vis ?"


“Kayaknya gak bisa dalam waktu dekat ini, sorry ya.” Visa Mapa lantas memasuki mobil sedan hitam miliknya dengan stelan kacamata hitam, kemeja biru dan celana jeans.


“Gak apa-apa Visa, santai aja,” balasnya dengan emoticon tersenyum.


Setelah itu tidak ada lagi balasan dari Visa Mapa, sepertinya ia memang sibuk dengan pekerjaannya. Pekerjaan memang membuat ia seringkali berpergian dengan jarak yang cukup jauh, entah itu karena bisnis atau yang lainnya. Raduma pun tidak menunggu lagi balasan Visa Mapa, ia segera menuju dapur untuk memasak tahu dan tempe.


3 jam kemudian.


Jarum jam menunjukkan pukul 21.54 menit. Tahu dan tempe sudah ia masak dengan cara sederhana. Ia makan sebelum pukul delapan malam. Waktu yang sebenarnya tidak Raduma sukai itu karena ia tidak biasa makan malam hari. Paling akhir ia makan pukul tujuh malam lalu meminum segelas air putih setelah itu tak ada satupun yang masuk ke mulutnya.


“Huft, hari ini telat makan, minum pun hanya sedikit,” gumam Raduma di atas sofa. “Perutku sedikit kurang nyaman, lebih baik kucoba saran Pak tua tadi sore.”


Raduma memejamkan matanya lalu ia kini bisa melihat seluruh tubuhnya menyala, diliputi energi berwarna biru.


“Kuniatkan untuk menetralisir asam lambung, memperlancar oksigen ke otak.” Batin Raduma.


Perlahan namun pasti, tubuhnya mulai merasakan hawa hangat yang berdesir di permukaan kulit tubuhnya dan akhirnya terpusat di lambung.


Energi dalam tubuhnya mulai bekerja sesuai perintah otak dan hatinya. Jumlah asam lambung sedikit demi sedikit dikurangi hingga berhenti di batas normal asam lambung manusia.


Sementara justru rasa sejuk berdesir di leher dan otak Raduma, seperti ada angin lembut nan sejuk masuk ke otaknya hingga membuatnya menjadi sangat relaks dan segar.


“Ternyata memang benar berfungsi.” Raduma membuka matanya. “Kenapa tidak dari dulu... bodohnya.”


“Kau telah berkembang begitu pesat anak muda,” ujar jin Kakek tua pembawa kendi kecil.


Tiba-tiba ia keluar dari batang pohon nangka lalu menembus tembok, meski jaraknya tidak terlalu dekat dengan posisi Raduma dan terhalang tembok lain dan sebuah pintu kamar yang masih tertutup. Namun suara bisa terdengar oleh telinga Raduma.


“Lagi-lagi kau Kakek tua.” Raduma melirik ke arah pintu kamar begitu Kakek tua itu muncul menembus pintu.


“Kau bunuh Ratu yang cukup diperhitungkan di bangsa kami, tapi kau melupakan satu hal,” jawab Kakek tua ia lantas berjalan ke arah ruang tamu lalu melihat ke luar jendela dengan kedua tangan ia taruh di belakang pinggangnya.


“Apa bangsa kalian memang suka bertele-tele ?” sindirnya, Raduma kesal karena gaya bicara Kakek tua yang selalu tidak langsung pada inti pembicaraan.


Kakek tua tertawa kecil.


“Manusia memang unik,” katanya sambil menyeringai ganjil. Di dalam mulutnya terlihat sesuatu berwarna hitam yang ia kunyah. “Ini akan menarik...”


“Apa maksud mu ?”


Raduma mengarahkan pandangannya pada Kakek tua yang memunggunginya. Namun perkataan Raduma tidak dibalas oleh Kakek tua penghuni pohon nangka di belakang rumahnya itu.


Kakek tua dengan cuek berjalan menembus pintu masuk ruang tamu menuju pekarangan rumah lalu menghilang dibalik tanaman kemangi yang kini sudah tumbuh cukup lebat.


“Aku tidak akan terkecoh dengan perkataan para jin,” gumam Raduma setelah tahu sosok penghuni pohon nangka tersebut menghilang entah kemana. “Dia berkata benar atau dusta, aku tidak boleh sampai terpengaruh.”


Televisi dinyalakan, lampu ruang tamu dimatikan dan piring-piring kotor ia taruh di dapur. Para jangkrik perindu malam sudah saling bersahutan.


Raduma menghabiskan malam dengan menonton televisi sementara esok pagi ia harus bekerja kembali. Sudah terlalu sering ia bolos bekerja, rasanya ia harus tetap mempertahankan namanya agar tidak dicoret dari daftar pegawai cuci mobil.


Perkataan ganjil Kakek tua penunggu pohon nangka sama sekali tidak dipedulikan olehnya. Langkah yang benar karena seharusnya manusia memang tidak perlu berdialog dengan para jin.


Bantu penulis dengan like dan komentar ya.

__ADS_1


__ADS_2