
“Lya datang yuk ke reunian SMP, saya sudah undang juga yang lain." Sebuah pesan singkat masuk dari Lusi teman dari Lya sewaktu smp.
Sementara keduanya kini sudah berumur 50 tahun, usia yang terbilang tua. Namun SMP tempat Lya dan Lusi memang bukan sekolah kaleng-kaleng (biasa-biasa), sekolah favorit dengan para siswanya yang rata-rata cerdas.
Berbeda dengan Lya, nama Lusi lebih dikenal masyarakat, ia adalah seorang politikus yang sekarang duduk di kursi DPR RI.
Wajahnya sering kali muncul di berbagai televisi ketika diundang untuk berbicara berbagai isu-isu politik. Semua teman seangkatan Lya memang beberapa menjadi orang dengan status yang cukup baik, di antaranya bahkan menjadi orang besar dengan menduduki posisi penting di instansi pemerintahan dan jabatan menteri.
Namun pada acara reuni yang terjadi sekitar akhir tahun 2028 itu tidak dihadiri orang-orang di atas, dari 41 siswa yang tercatat sebagai alumni angkatan 90, hanya 36 yang hadir termasuk Raga, ayah dari Siska.
5 orang yang tak hadir itu adalah mereka yang duduk di kursi menteri, dirjen pajak, kemenaker dan kantor imigrasi.
Reuni tersebut terlaksana di sebuah gedung 5 kilometer dari alun-alun kota Bandung, disertai pengisi acara ternama dan hiburan musik-musik lawas, acara berjalan meriah.
“Memang mereka mau hadir Lus ?“ balas Lya 5 menit berikutnya, jari-jemarinya bergerak lincah mengetik huruf demi huruf di layar handphone.
“Serahkan sama saya, pokoknya semua beres."
“Hebat kamu Lus, padahal susah loh ngumpulin orang yang sudah tak tahu dimana posisinya," puji Lya.
“Hehe, demi acara reuni ini terlaksana, segala usaha dilakukan, sebenarnya sulit juga sih, karena kan kita semua sudah berumah tangga. Tapi ini untuk silaturahim dan nostalgia Lya. Jadi, dateng ya."
“Kalau gitu nanti saya hadir Lus,“ tutup Lya mengirim pesan terakhir.
Layar Handphone kembali gelap, tanda Lya mematikannya, refleks ia masukan ke dalam kantung yang terbuat dari kulit buaya.
Kantung wanita dengan harga yang cukup fantastis, cukup untuk membeli laptop berkualitas baik dua buah. Bel sekolah berbunyi, suara dari anak-anak lugu bersorak riang gembira menyambut waktu pulang sekolah apalagi esoknya adalah hari minggu, hari dimana anak-anak seusia itu bisa bermain seharian tanpa lelah.
Sebuah mobil meninggalkan pelataran sekolah diiringi suara gerbang yang ditutup oleh Pak Slamet, penjaga sekolah yang sudah bekerja 10 tahun di lingkungan sekolah itu. Di dalam mobil, Lya tidak pernah terpikir bahwa nanti Raga juga akan hadir di acara reuni itu. Pikirannya cenderung pada cucian yang menumpuk, dan biaya untuk membetulkan atap dua kontrakan yang rapuh miliknya.
Selain mengajar di sekolah dasar, Lya juga mempunyai 8 kontrakan yang ia buat semasa suaminya masih hidup.
“Ke siapa ya harus perbaiki atap ?" katanya berbicara sendirian di dalam mobil.
Sore itu, kondisi jalanan kota Bandung macet parah bisa memakan waktu 1 jam lebih untuk sampai ke rumah. Jenuh, gerah dan terkadang amarah bisa muncul di jalanan.
Jalanan terkadang adalah tempat untuk mengetahui sifat seseorang selain gunung dan hutan, watak asli seseorang apakah seseorang itu penyabar atau pemarah akan terlihat saat di jalanan.
Tersenggol sedikit, dua orang manusia baik tua dan muda, pria atau wanita, bisa saling mengumpat bahkan melukai. Kesabaran dan konsentrasi diuji di jalanan, hanya butuh beberapa detik bagi manusia untuk mengambil keputusan apakah ia akan bersabar atau meluapkan amarah serta berkata kotor ketika terjadi gesekan atau sesuatu yang tidak sesuai dengan hati.
__ADS_1
Di jalanan pula ternyata Lya dan Raga bertemu setelah sekian lama, pertemuan tidak disengaja itu terjadi di sebuah SPBU dekat kantor kepolres Bandung tengah. Setelah uang kertas senilai lima ribu Rupiah masuk kedalam kotak amal yang ditaruh samping pintu Raga berjalan pelan seusai buang air kecil.
“Kayaknya kenal,“ bisik Raga melihat seorang wanita dari dalam mobil dengan kaca terbuka untuk mengantri mengisi bensin.
Sementara Lya tak menyadari bahwa Raga melihatnya dari jarak 8 meter, rasa lelah dan gerahnya sore itu membuatnya tidak banyak memperhatikan sekitar, pandangan fokus kedepan dan pegawai SPBU yang dengan lihai menekan tombol-tombol angka dengan cepat.
“Lya sehat ?“ sapa Raga yang menghampirinya.
Namun respon Lya tak seperti yang Raga harapkan, Lya hanya menjawabnya dengan basa-basi. Sejak dulu, Lya memang tidak pernah memiliki perasaan lebih dari sekedar teman pada Raga.
"Eh Raga ? Saya sehat,“ jawab Lya singkat dan tidak ingin panjang lebar.
“Sekarang tinggal dimana ?“ Raga bertanya lagi seolah-olah mengharapkan perbincangannya dengan Lya tidak berakhir singkat begitu saja.
Namun ternyata Lya tidak menjawab pertanyaan Raga, Lya memberikan gestur menghindar dengan menginjak pedal gas kembali setelah usai mengisi bensin dan menerima uang kembalian dari pegawai SPBU.
“Duh maaf ya pak Raga saya buru buru.“
Mobil Lya berjalan lagi seraya menutup kaca,
siapa sangka respon Lya yang datar itu ternyata membangkitkan lagi api dendam, sakit hati karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan sejak dulu hingga kini. Setelah sebelumnya, sebenarnya Raga sudah melupakan rasa sakit itu bertahun tahun yang lalu dan mengikhlaskannya.
Tanpa diketahui Lya, Raga yang sekarang bukanlah Raga yang dahulu ia kenal. Kini ia adalah orang yang memiliki ilmu metafisik hasil belajar 5 tahun terakhir dari seorang guru. Sore itu menjadi awal dari penderitaan Lya 3 tahun kedepan, usai pertemuan kembali dengan Lya, Raga terus terbayang wajah Lya sehingga rasa bencinya kembali muncul sesampainya di rumah, di utara kota Bandung.
“Pah kenapa kok cemberut ?" tanya Siska sambil satu dua keripik kentang ia makan dengan nikmat.
Duduk di atas sofa merah marun, kemeja biru muda dan celana panjang hitam. Siska baru saja sampai rumah 45 menit yang lalu seusai bekerja sebagai ilustrator dan design grafis di tempat yang sama Tobi bekerja.
Raga menjinjing sepatu pantofel dan menaruhnya di sebuah rak sepatu tepat samping kamarnya.
“Si teteh belum pulang ?“ tanya Raga sebelum membuka pintu kamar.
“Belum pah, katanya mau nginep di rumah temannya.“
“Kok enggak kirim pesan ke Papah ?"
“Mungkin lupa Pah."
Siska asyik dengan keripik kentang yang ia beli di minimarket sementara Raga masuk ke kamar untuk mengganti baju seusai bekerja sebuah perusahaan tekstil sebagai kepala bagian lalu ia beranjak mandi.
__ADS_1
Malamnya pukul 22.00, ide gila muncul dari jiwanya yang sedikit sakit. Ia mulai berpikir bagaimana caranya untuk melampiaskan rasa sakit hatinya dahulu yang kini bangkit kembali, ketika Lya menolaknya dengan mimik wajah yang tidak mengenakkan.
Semakin ia ingat semakin ia merasa sakit, sampai makhluk pendamping yang ia dapat dari gurunya berbisik.
"Jika kau mau...aku bisa mengirim bawahanku untuk menyiksanya secara perlahan.“
Nun, jin pendamping Raga, wujudnya seperti manusia dengan kisaran umur 40 tahun namun sebenarnya usianya sudah ratusan tahun.
Seorang anak dari Raja siluman kumbang tanduk yang mendiami gunung manglayang, wajahnya tenang dan selalu berada di samping kiri bahu Raga.
Layaknya seorang anak raja, Nun berpenampilan seperti seorang pemimpin perang, dari atas sampai kaki memakai kain berwarna hitam, zirah baja dan satu pedang sepanjang 1 meter.
“Tidak, aku tidak boleh menyakitinya, itu dosa."
“Kenapa tidak ? Sampai kapan kau akan menderita seperti ini...? Dia juga berhak untuk merasakan sakit seperti yang kau alami...” Rayu Nun dengan suaranya yang pelan memberi kesan menyeramkan.
Sekitar lima detik Raga terdiam memegangi kepalanya dengan kedua telapak tangan seperti orang depresi. Satu detik kemudian ia menatap langit l-langit dan berkata,
“Ya, dia juga harus merasakan sakit."
“Berikan perintah..” Lagi, Nun berbisik di telinga Raga, lambat dan berat.
“Beri dia pelajaran !“ tutup Raga seraya merebahkan tubuhnya di atas matras alas untuk meditasi.
Sementara dari balik pintu Siska yang hendak mengambil cemilan di kulkas samar samar mendengar ayahnya tadi berkata sendiri.
“Ngobrol sama siapa Pah ?"
“Oh, enggak. Kamu salah denger kali, sudah tidur sana, besok kan kerja pagi," kata Raga menyembunyikan percakapannya dengan Nun sambil membuka salah satu matanya.
Siska menggaruk-garuk rambut kepalanya yang sedikit berwarna merah dengan telunjuk karena merasa heran dengan siapa ayahnya berbicara ? Ia kembali berjalan kembali ke arah kulkas di dekat dapur, melupakan apa yang ia dengar.
Sementara Nun dalam beberapa menit sudah berada di kerajaan milik ayahnya untuk memerintahkan dua anak buahnya untuk mengganggu Lya.
Istana dari batang-batang kayu yang sangat besar terlihat dari kejauhan, banyak pohon besar dan bebatuan yang tersusun rapih. Setiap tepi jalan menuju istana siluman kumbang tanduk hitam terdapat batu dan prajurit yang berbagai macam bentuknya. Terdapat pula beberapa pintu, istananya lebih mirip seperti kuil. Hanya saja banyak api yang mengelilingi lokasi istananya.
“Pergilah menuju seorang manusia yang bernama Lya rustika, kita sudah mendapatkan celah.“ Titah Nun pada dua orang siluman di hadapan singgasananya.
Tanpa berkata kata, dua siluman sudah tak terlihat di hadapan Nun, keduanya pergi begitu kata terakhir terucap di bibir Nun, menuju ke alam manusia untuk mencari orang yang bernama Lya rustika.
__ADS_1
Pada dasarnya kaum makhluk astral tidak bisa melukai manusia begitu saja, mereka butuh tenaga yang muncul dari ' dosa ' yang dilakukan manusia yang bersekutu dengan mereka. Ketika Raga memutuskan untuk menyakiti Lya, maka dari situlah mereka menyerap tenaga dari Raga.