
Sementara Lya, malam itu sudah tertidur lelap sampai-sampai ia lupa untuk berdoa sebelum tidur. Alhasil, celah semakin terbuka bagi dua utusan Nun putra kerajaan siluman kumbang tanduk. Tidak ada hambatan bagi keduanya untuk masuk, begitu sampai di lokasi, keduanya langsung merasuk, menempel pada lambung dan kepala sebelah kanan Lya Rustika hingga jarum jam dinding terus bergerak anggun perlahan menyambut pagi dengan sebuah misteri.
Semenjak melewati malam itu, Lya lebih sering merasakan sakit di perut dan lambungnya, awalnya dia sama sekali tidak berniat untuk pergi ke dokter dan hanya menganggap apa yang ia alami hanyalah sakit biasa akibat terlalu lelah atau karena stress yang terlalu tinggi.
Apalagi, rasa sakit itu muncul memang tidak setiap hari, hanya di hari-hari tertentu tapi Lya tidak sedikitpun curiga tentang apa yang ia alami. Ia memang bukan orang yang percaya terhadap dunia perdukunan, santet dan segala tektekbengeknya atau dunia supranatural dalam bahasa kerennya, Ia lebih berpikir logis dan rasional sebagai mana karakteristik orang yang terpelajar.
Tibalah di hari reuni, dimana retorika dan basa-basi bersahutan menemani gelas-gelas kaca yang berisi air anggur tanpa alkohol. Semua hadir kecuali lima orang yang statusnya memang orang sibuk, dengan berbagai kondisi, nasib yang berbeda, wajah yang telah berubah, tubuh yang telah juga berubah, semua orang saling mengingat masa lalu, canda tawa menghiasi siang sampai malam hari itu.
Lya dan Raga pun turut hadir, keduanya tidak saling menyapa, Lya memang sengaja tidak menyapa Raga karena ia datang terlambat, hanya beberapa orang yang ia rasa cukup dekat dengannya yang ia ajak berbincang sedangkan Raga sudah tak lagi memikirkan Lya.
"Sudah masuk ?" tanya Raga lewat telepati pada Nun yang berada di sampingnya, mengikuti kemana pun ia melangkah.
“Seperti yang engkau lihat.“
Setengah jam sebelum acara usai, Raga memang melihat Lya yang sedang berbincang di arah jam 3, meja ketiga dekat pintu masuk.
Ia tidak banyak bicara bahkan ia hanya sesekali mengobrol dengan temannya yang paling dekat sewaktu sekolah menengah pertama.
Sementara Aro dan Ciro memang sudah menempel di tubuh Lya seperti yang dilihat Raga.
“Nikmati masa sulit mu Lya."
Raga tampak puas dengan apa yang ia lihat, jikalau saat itu tidak ada satupun manusia di sana niscaya ia akan tertawa terbahak-bahak, cibiran kebencian dan sorot mata penuh kekecewaan memancar tanpa jeda.
Raga bisa melihat dua makhluk yang menancap di tubuh Lya tapi ia juga tidak menyadari, bahwa suatu hari nanti akan ada orang yang mengetahui perbuatannya.
“Buat dia sakit sekarang !“ titah Raga lagi-lagi lewat telepati.
Telepati memang sangat unik, tanpa harus bibir bersuara tapi pesan bisa sampai pada tujuan. Layaknya sebuah handphone yang mampu mengirimkan sebuah pesan singkat pada tujuan yang terpisah jarak. Rahasia Tuhan yang belum bisa terpecah oleh umat manusia sepanjang zaman.
__ADS_1
Mendengar perintah Raga, dengan senang hati Nun memerintahkan pula dua anak buahnya untuk menyakiti Lya saat itu juga. 5 detik kemudian, tiba-tiba Lya mengerang kesakitan, dua tangannya memegang perutnya sementara 3 detik kemudian disusul oleh rasa sakit yang sangat ekstrim timbul di sekitar kepalanya.
“Aduh...duh, kenapa ini."
Badannya tersungkur ke arah kanan dan kursi pun terjatuh. Pingsan seketika karena serangan mendadak dari dua utusan Nun sang putra siluman kumbang tanduk, sontak hadirin yang berada di dalam gedung mengedarkan pandangan, satu detik kemudian semua mata tertuju pada satu tubuh yang terkapar di atas lantai putih, beberapa lalu menghampiri untuk melihat kondisi Lya.
“Lya, kenapa ? Lya bangun !“ ujar Lusi yang terlihat sangat panik disertai teman-temannya yang juga ikut panik.
“Satpam...satpam...! Bapak-Bapak tolong bantu gotong dong, cepat !" lanjutnya lagi dengan mata menyalak.
Dua satpam akhirnya datang, namun tubuh Lya sudah diangkat dan digotong perlahan beberapa langkah oleh teman-temannya dari kalangan pria. Suasana gedung yang tadinya meriah rapih tiba-tiba berubah menjadi keos, karena tidak sedikit pula wanita, baik itu anggota reuni atau istri dari alumni kalangan pria yang berada di dalam gedung. Kaum wanita memang lebih sensitif dan sering panik berlebihan ketika terjadi sesuatu.
Beberapa di antaranya syok melihat Lya tak sadarkan diri, sebagian yang lain saling berbincang tentang apa yang terjadi pada teman lamanya itu dan akhirnya saling berpamitan usai acara berakhir.
Sementara Raga hanya terdiam dan tertawa kejam dalam hatinya, ia sangat merasa puas melihat ekspresi Lya saat menderita karena rasa sakit. Bahkan ia memutuskan langsung meninggalkan gedung begitu keinginannya tercapai.
Sejak hari itu lya menjadi sering mengeluh sakit di dua area tubuhnya, ia menjadi seorang pesakitan yang tidak ada satupun orang yang menolongnya.
Hampir 40 menit Raduma dalam kondisi ngimpleng, akhirnya ia memutuskan untuk kembali dari melihat masa lalu. Napasnya terengah-engah, badannya sedikit bergetar karena energi yang digunakan terlalu banyak.
“Sulit dipercaya,“ ujar Raduma masih dengan napas yang sedikit berat.
“Gimana Rad, ketemu ?“ tanya Tobi.
“Ente bener-bener ingin tahu siapa orang yang ngirim itu makhluk ?"
“Iyalah !"
“Serius ? tapi mungkin ente bakal gak percaya."
__ADS_1
“Sudah, ceritain aja !“
“Singkatnya dia orang yang ente kenal."
“Maksudnya ?" kata Tobi heran.
“Iya, dalangnya adalah ayah dari pacar ente sendiri."
“ What ? “ Tobi kaget bukan kepalang,
Mendengar itu baginya mungkin seperti disambar petir di siang bolong, sesuatu yang sama sekali di luar dugaannya.
“Tapi kok bisa ?"
Seolah masih tak percaya, ia berulang kali menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Itu karena dia adalah orang yang kenal sama ibu ente juga, ya...singkatnya mah dia temen waktu SMP dulu dan dia juga sempet suka sama ibu ente tapi gak diterima. Dengan kata lain, ini murni karena dendam.“
Tobias hanya termangu mendengar penjelasan Raduma, ia memandangi karpet warna merah marun tapi pikirannya entah kemana.
“Jadi gitu, enggak nyangka. Pantesan setiap kali ketemu dengan gua, tu orang selalu pasang muka gak suka, barangkali dia juga udah tahu gua anak dari orang yang ia suka Rad ?" ungkap Tobi akhirnya bersuara, jari jemarinya mengepal keras di atas lantai.
“Iya, emang dia udah tahu Tob, tapi ingat ente jangan terbawa emosi karena perkara seperti ini sulit dibuktikan (tidak ada alat bukti).“
Raduma berusaha menekan amarah Tobi.
Tobi kembali terdiam, entah keputusan apa yang ia ambil, sesaat setelah mendengar nasehat Raduma, ia pamit pulang. Sementara Raduma juga termangu mencerna apa yang baru saja ia lihat tadi sewaktu menerawang ke masa lalu, melamun di atas kursi yang kadang-kadang terdapat tumbila (kutu Jepang dalam bahasa lokal)
Ia sendiri tidak menyangka dalang dari semua itu adalah ayah dari pacar Tobi sendiri. Sesekali ia meraih handphone di sampingnya hanya untuk melihat-lihat Instagram, jejaring media sosial.
__ADS_1