
Melihat kolom pencarian, sejenak ia teringat Visa, gadis 27 tahun berkulit putih dengan rambutnya yang sedikit di cat jingga, Uniknya, ada beberapa orang yang tidak bisa di lacak dengan impleng salah satunya adalah Visa. Entah apa penyebabnya, Raduma tidak menemui satu pun jawaban dari kejanggalan tersebut. Pada ujungnya orang-orang dengan kemampuan diluar nalar tetaplah mempunyai sebuah kelemahan, itu pun berlaku pada Raga.
Hingga setelah beberapa menit berseluncur di internet, ia menemukan satu akun dengan nama Visa mp, awalnya Raduma merasa kurang yakin ditambah lagi akun tersebut dikunci, terdapat pula akun serupa dan foto profil yang hanya berlatar warna biru langit.
Akan tetapi firasatnya yang bermain, menuntunnya untuk mengikuti akun Visa mp. Satu dua hari akun Visa mapa masih terkunci hingga ketika menginjak akhir pekan, akun terbuka pertanda Visa mengizinkan Raduma untuk mengikutinya.
“Visa masih ingat saya ?" ketik Raduma pada kolom dirrect message.
Hingga beberapa menit belum jua ada balasan padahal pesan terlihat sudah dibaca. Raduma mulai sedikit murung, jangan-jangan akun tersebut memang bukan akun Visa yang ia cari. Terlebih, tak ada satupun foto dari Visa mp hanya terlihat foto-foto pemandangan dan kucing-kucing peliharaan.
“Kayaknya memang bukan, ah sudahlah,“ keluh Raduma. Ia menaruh handphone di atas meja dengan data seluler yang masih menyala karena biasanya ia memindahkan dengan mode pesawat.
“Iya ini Visa." Tiba-tiba pesan balasan masuk saat Raduma sudah melangkah menuju ruang tengah. Wajahnya menoleh pada layar handphone yang menyala serta berbunyi.
Ia yakin itu pesan balasan maka ia menghampiri handphone kembali dengan senyum sumringah.
“Sudah kuduga ini visa.”
Raduma kembali tersenyum bahagia, meski sedikit agak canggung harus memulai dari mana hingga akhirnya ia memulai percakapan dengan berkata,
“Ini saya Vis, Raduma. Teman waktu sekolah dasar, kamu masih ingat ?”
“ Oh Raduma, ya ampun apa kabar Rad ? Masih di rumah yang dulu ?”
Senang bukan main Raduma tersenyum sendiri seperti orang gila. Ia berharap visa masih mencintainya.
“Masih Vis, kalau kamu sekarang dimana ?”
“Sekarang aku di daerah Bandung Selatan Rad, sudah lama ya enggak ketemu. Kangen temen-temen yang lain juga.”
“Oh, berarti bener, memang dulu sempet dengar sih kalau kamu pindah ke Bandung Selatan.”
Beberapa menit berlalu tak ada balasan lagi dari Visa mapa, Raduma berpikir mungkin Visa sudah beristirahat karena saat itu sudah larut malam juga apalagi esoknya adalah hari Senin, hari kerja.
Malam itu, Raduma masih terjaga, duduk setengah bersandar sambil memperhatikan tayangan televisi. Sesekali ia mengerakan lehernya yang terasa pegal, mungkin efek dari impleng tadi siang.
“Kau belum tidur anak muda ?“ suara kakek tua muncul dari arah dapur perlahan menuju posisi Raduma di ruang tengah. Dapur hanya ditutupi tirai yang menyisakan sedikit celah dipingir pinggirnya sehingga menimbulkan kesan horor dan sugesti berlebihan bagi siapa saja yang menginap di rumah Raduma.
Meski sudah beberapa minggu ia bisa melihat makhluk tak kasat mata namun tetap saja, terkadang ia terkejut dan merasa merinding juga, karena makhluk-makhluk ini terkadang muncul tiba-tiba, dan itu dirasa sangat menggangu, dirasakan pula oleh semua orang yang memiliki kemampuan metafisik karena pada dasarnya mereka tetaplah manusia biasa, tubuh dan mental mereka bukan diciptakan untuk melihat yang seperti itu.
Beberapa detik Raduma terlihat menunggu dan wajahnya yang sedikit tegang, fokus pada tirai dapur di samping kirinya. Setiap helaan napas terasa menegangkan, dada bidangnya naik turun menunggu siapa yang muncul di balik tirai.
Tak lama disingkaplah tirai dapur oleh angin lembut, sosok makhluk jin dengan wujud kakek tua berjalan perlahan di udara menuju raduma, kira-kira 10 centimeter dari permukaan tanah.
“Siapa kau ? Kau dahulu yang muncul di anak tangga bukan ?” tanya Raduma.
__ADS_1
“Jangan menatapku dengan wajah seperti itu anak muda, Jika kau tak menggangguku, aku tidak akan mengusikmu,“ jawab kakek tua itu dengan nada berat perlahan, berdiri di sudut ruangan tepat di samping vas bunga, usut punya usut dia adalah jin yang menghuni rumah Raduma sebelum rumah itu dibangun, ia lebih sering bersemayam di sebuah pohon nangka tua di belakang rumah Raduma.
Untuk pertama kalinya Raduma berinteraksi dengan makhluk astral, dari jarak dekat. Sementara Kakek tua tersenyum datar, matanya sayu namun tekanan energinya bisa Raduma rasakan dengan cukup kuat.
“Dengar baik-baik anak manusia, aku tahu kau berurusan dengan bangsa kami,” lanjutnya.
“Maksudmu ?”
“Kau berusaha menangkap makhluk dari kerajaan kumbang tanduk bukan ? Asal kau tahu, salah satu dari mereka datang ke sini, datang ke wilayah ku ! Mengawasi dari kejauhan, aku bisa merasakannya.“
“Lalu ?”
“Aku tidak suka ada yang memasuki teritorial ku ! Asal kau tahu juga, dulu, aku lah yang menghalau beberapa jin yang mengganggu keluarga mu...”
“Keluarga ku ? Apa maksudmu semakin tidak mengerti ?”
Belum juga kakek tua itu menyelesaikan perkataannya Raduma memotongnya dengan nada heran. Gesturnya mulai terlihat penasaran dengan apa yang dibicarakan kakek tua.
“ Ya...kau tak tahu apa-apa, beberapa tahun yang lalu keluargamu diganggu oleh bangsa jin, beberapa berhasil ku halau namun beberapa diantaranya berhasil masuk pada tubuh kedua orang tua mu.”
“Tidak mungkin, mengapa aku harus Percaya padamu ? kalian bangsa yang selalu berdusta dan tak bisa dipercaya ! “ Raduma sedikit menekan perkataannya dengan nada tinggi.
Berbicara dengan dengan bangsa jin memang tidak diperkenankan menurut keyakinan Raduma, baginya ia tidak tahu apakah jin yang berdialog itu benar atau sedang berdusta dan khawatir pula dipermainkan karena Raduma tetap merasa dirinya hanyalah manusia biasa.
“Aku tak memaksamu untuk percaya padaku anak muda...” balas kakek tua diawali dengan tawa yang menggema dan menyeramkan.
“Baiklah, ternyata kau memang keras kepala. Aku datang hanya untuk menyampaikan sebuah pesan, persiapkanlah dirimu...agar aku tak perlu lagi buang-buang tenaga untuk menghalau mereka yang masuk wilayah ku ini.”
kakek tua kemudian sedikit demi sedikit memudar dan hendak menembus tembok putih. Namun sebelum kakek tua itu menghilang seutuhnya, Raduma berkata,
“Aku tidak Sudi bekerja sama dengan mu.”
Lagi-lagi kakek tua itu tertawa kecil dan membalas perkataan Raduma.
“Jangan salah sangka anak muda, aku tidak berniat bekerjasama, kau sendirilah yang harus berusaha bertahan hidup.“
Suasana menjadi hening.
Kakek tua menghilang menembus tembok, di kegelapan malam yang menjanjikan misteri di hari-hari esok, dan jalan hidup yang tak pernah terduga.
Sementara Raduma menghela napas panjang dan merebahkan tubuhnya di atas sofa, hari yang melelahkan, pikirnya. Pikirannya terganggu dengan ucapan kakek tua bahwa keluarganya dahulu, diganggu bangsa jin.
Namun karena malam yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari, ia memutuskan untuk tidur.
“Sudahlah pecundang,” tutup Raduma berkata pada dirinya sendiri, malam sudah sangat menghitam, seakan akan ia berbisik kepadanya.
__ADS_1
Tidurlah nak, hari esok menantimu dengan sejuta misteri yang disiapkan Tuhan.
Hidup, ia merasa tak ubahnya seperti perahu kertas yang berlayar sangat singkat di atas air yang terkadang bergemericik dengan irama kesedihan, hingga akhirnya karam.
Di tempat lain, dua jam setengah sebelum Raduma berbicara dengan kakek tua. Tobias ternyata mendatangi rumah Siska, pacarnya. Namun ia tidak memutuskan untuk menghampiri rumah Siska, ia memilih untuk diam di sebuah pos ronda yang terbengkalai, lokasinya sunyi dan diapit oleh beberapa pohon, Ia datang untuk satu tujuan, membunuh !
Tobi sudah datang sejak pukul 21.00, ia menunggu lama di sana dengan berpura-pura membeli mie tek-tek yang memang sering berada di sana beberapa saat tepat pukul 21.00. Ia berencana untuk melenyapkan Raga, ayah dari Siska di malam itu, amarahnya telah menjadi panglima yang menuntunnya untuk melakukan sebuah tindakan tak terpuji.
Tobi tahu kebiasaan Raga, Raga kerap kali keluar rumah tepat pukul sepuluh malam hanya untuk menghisap rokok di taman dekat pos ronda dan membeli sebungkus nasi goreng di depan minimarket tidak jauh dari taman. Salah satu aktivitas yang sebenarnya dibenci Tobi dan anaknya sendiri, Siska. Dulu keduanya pernah menasehati Raga agar berhenti merokok namun nasehat itu tidak pernah ia dengar walau sesaat.
Tobias sama sekali tidak tahu orang yang ia hadapi seutuhnya. Malam itu boleh jadi malam terakhir ia menghela napas kehidupan, pasalnya 100 meter dari lokasi Tobi berada, Nun sudah menyadari keberadaan Tobi yang memegang pisau lipat milik almarhum ayahnya dulu.
Keadaan menjadi berbalik, Raga sudah bersiap usai Nun berbisik bahwa Tobi sudah menunggunya di balik pos ronda untuk membunuh.
“Ada orang yang berniat membunuh mu Raga.”
“Siapa ? “ tanya Raga.
“Tobi...dia berada di balik pos ronda, bersiaplah.”
Raga berjalan dengan santai seolah tidak merasa takut sama sekali, pandangannya lurus ke depan, membelah malam dengan sinar terang dari telapak tangannya yang berubah menjadi Belati. Sementara Tobi memburunya dari balik gelapnya pos dan pepohonan, celaka !
Sekali lagi Tobias tak mengetahui bahwa dia lah yang berada di ujung tanduk malam itu, ia menyangka buruannya seekor rusa nyatanya adalah seekor singa. Saat keduanya sudah sangat dekat dan Raga dengan sengaja melewati Tobi seolah-olah tidak tahu, membiarkannya untuk memulai serangan. Tobi melancarkan serangan tiba-tiba dari arah belakang, pisau yang terhunus melesat mengincar tukang rusuk Raga.
**** !
Satu kata yang keluar dari mulut Raga sesaat setelah mengayunkan lengan kanannya, menepis pergelangan tangan Tobi. Refleks mengagumkan dari hasil latihan beladiri bertahun-tahun sementara tangan kiri Raga menusuk cepat tak terduga ke arah jantung Tobias dengan sebuah belati energi yang tak dapat dilihat secara kasat mata.
“Terkutuk kau pria ****," umpat Tobi dalam keadaan sekarat, satu tangannya memegangi dada kiri, menahan sakit yang menyiksa. Suaranya tersengal dan merintih, butuh beberapa detik untuk meregang nyawa.
Tobi tersungkur ke tanah dengan mata yang masih terbuka, sekarat dalam dendam, ia mati di tangan ayah dari kekasihnya sendiri. Belati energi merobek pembuluh aorta, jantungnya menganga, tanpa harus melukai kulit di dada. Sebuah teknik kelas berat karena untuk melukai objek yang hidup dengan energi tanpa menyentuh sangatlah sulit, butuh konsentrasi dan energi yang besar pula.
“Jangan terlalu lama di sini, ada manusia yang berjalan ke sini 200 meter dari posisi kita,“ bisik Nun.
“Tunggu dulu, kita harus melakukan sesuatu sebelum kita pergi.”
“Apalagi ?”
“Cctv, rumah dua tingkat itu memiliki cctv,“ tunjuk Raga pada sebuah rumah di arah barat yang memang menghadap pada lokasi ia membunuh Tobi. “Bakar saja !”
Nun dengan cepat melesat ke arah cctv, membakarnya dengan energi kombinasi dirinya dengan Raga. Cctv terbakar ! Menyala di sudut atas tembok lantai dua yang dalam beberapa menit membuat para penghuni rumah terbangun dari tidurnya, matanya menyapu ke setiap sudut halaman, cctv sudah terjatuh hangus dan Raga sudah menghilang dari lokasi.
Raga pulang ke rumah tanpa sedikit pun meninggalkan jejak, situasi lokasi yang sangat sepi didukung rimbunnya pepohonan semakin membuat kejahatan Raga sulit terendus. Tak ada saksi, tak ada bukti, bahkan untuk sekedar sidik jari, sempurna.
Tidak ada raut penyesalan, wajahnya dingin dengan bibir menjepit sebatang rokok, detak jantung yang seharusnya berpacu lebih cepat layaknya manusia normal setelah melakukan suatu tindak kejahatan tidak muncul sama sekali. Kali ini ia mungkin memang benar-benar menjadi seorang psikopat. Ya, jiwa sakit yang dikendalikan setan.
__ADS_1
Malam berbisik, jiwa-jiwa tertidur polos menunggu pagi dengan satu teriakan yang memekakkan telinga.
Mati !