
Kematian.
Tiga bulan kemudian 24 februari 2031, hari itu hari senin. Hari dimana biasanya semua orang merasa sibuk dengan rutinitas pekerjaannya tapi berbeda dengan Raduma pasalnya hari itu ia bukan disibukkan dengan rutinitas pekerjaan melainkan oleh berita kematian neneknya yang ia terima di tengah perjalanan menuju tempat kerja.
Pekerjaan baru sebagai operator cuci mobil di sebelah barat kota Bandung yang ia dapat dengan susah payah satu bulan sebelumnya.
“Hallo...hallo...Kang Raduma, cepet pulang kang, Nenek Damanik wafat," kata seorang ibu beranak dua yang bernama Santy, tergesa-gesa suaranya bergetar menahan tangis, tetangga Raduma yang baik hati, teman berbincang Nenek di saung dekat rumah semasa hidupnya.
“Hah ? astaga...masa Bu ? Kok bisa, kenapa ?" Raduma terhenyak.
“Nanti aja kang diceritainnya, sekarang cepet pulang dulu aja.“
“Iya, iya Bu, saya lagi di jalan langsung pulang ke rumah Bu," tutup Raduma.
Ia langsung turun dari bus dalam negeri (DAMRI) dan menaiki angkutan kota yang menuju lokasi rumahnya. Kaget bukan kepalang, perasaan Raduma campur aduk, tak menentu, bahkan detak jantungnya terasa lebih keras terdengar oleh kedua gendang telinganya.
Sesekali ia tak kuasa menahan air mata yang keluar dari sudut matanya namun dengan cepat pula Raduma menghapus air mata dengan lengan bajunya yang berwarna biru tua karena malu, ia memang pemalu, kondisi angkutan kota saat itu pun secara kebetulan sedang penuh, tidak biasanya.
Angkutan kota yang eksistensinya cukup lama dibandingkan angkutan kota yang lain, meski sering kali muatannya sedikit tapi tetap konsisten nan istiqomah untuk beroperasi dari pagi sampai malam hari seperti Istiqomahnya para jomblo menahun mengharapkan pendamping hidup.
Angkutan kota yang setia menemaninya selama ini sejak duduk di sekolah dasar, sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah kejuruan. Banyak suka dan duka yang ia alami walaupun sebenarnya lebih banyak dukanya, satu jam tiga puluh menit berlalu, Raduma sampai di pertigaan jalan sebelum menuju ke rumahnya.
Dari jauh, warga sudah berkerumun, Pak RT dan Bu Santy tampak di antara orang-orang yang melayat ke rumahnya. Rasa sedih Raduma menuju puncaknya seiring langkah kaki yang mendekat menuju rumah.
Dadanya bergemuruh seperti angin ribut yang berkumpul pada satu titik karena menahan rasa ingin menangis yang sangat kuat.
Mulutnya kaku, badannya bergetar hebat dan keringat sebesar biji semangka bermunculan di keningnya namun ia masih tetap kuat berdiri, seandainya itu menimpa pada seorang wanita niscaya ia akan langsung tersungkur lemas lalu pingsan.
Bagaimana tidak ? ia akan hidup seorang diri setelah bergantian orang-orang yang dicintainya mati.
__ADS_1
“Duh Nek, jangan tinggalin duma sendiri,“ ucap Raduma dengan nada yang lirih dan bergetar hingga Pak RT yang berada di sampingnya bergidik, merinding mendengar perkataan Raduma yang berbisik di telinga jasad neneknya yang sudah dikafani.
Setelah berbincang dengan orang-orang yang berada di lokasi termasuk ibu Santy dan Pak RT tentang penyebab kematian neneknya maka mereka berspekulasi bahwa Nenek Damanik wafat karena serangan jantung.
Nenek Damanik memang mempunyai penyakit darah tinggi tapi Raduma sebenarnya kurang yakin apakah benar darah tinggi memang bisa berkaitan dengan serangan jantung ?
“Kalau mau lebih jelas mah, lebih baik bawa ke rumah sakit aja Rad,“ kata Pak RT yang nama lengkapnya adalah Suryalaya, ia selalu memakai kopiah hitam, berkumis dan giginya ompong satu, rival abadi Raduma dalam bermain tenis meja saat hari kemerdekaan, 17 Agustusan. Kadang-kadang beliau juga tempat untuk Raduma meminjam uang jika terpepet.
“Enggak usah Pak RT, terimakasih."
“Harus ikhlas kang, mungkin ini ujian pasti ada hikmah di balik semua ini," ucap Bu Santy menempelkan telapak tangannya pada bahu Raduma yang cukup kekar hasil latihan fisik selama ini di subuh dan malam hari, Bu Santy memang orang yang lebih pengertian, perhatian dan bijaksana, bahkan tidak jarang ia selalu memberi makanan pada keluarga Raduma.
“Ya Bu, aamiin.“ Tatapan Raduma masih kosong bahkan ia jarang berkedip.
Namun setelah tangis yang akhirnya ia lepaskan tadi, perasaannya kini lebih tenang, napasnya terasa ringan, hawa dingin seolah menjalar di pernapasan Raduma, badannya terasa sangat ringan sementara satu persatu para pelayat mulai meninggalkan Raduma, tersisa hanya Bu santy, Pak RT dan dua orang hansip kembar bertubuh gemuk bernama Sula dan Sulu.
Hansip yang sering kali diusili oleh anak-anak kecil di komplek, satunya tidak bisa mendengar, satunya lagi tidak bisa bicara. Sebenarnya tidak ada yang menunjuk keduanya untuk menjadi hansip namun Sula dan Sulu lah yang menjadikan dirinya sendiri sebagai hansip.
Raduma duduk di samping jasad Nenek Damanik, mengamatinya dengan seksama, kain putih, wajah bersih yang sudah terasa dingin, mata yang terpejam dan hidung mancung yang disumbat kapas.
Entah apa yang ia pikirkan, yang jelas ia hanya terdiam seribu bahasa. Jasad Nenek Damanik terbujur kaku menunggu untuk dibawa menuju ke liang lahat, peristirahatanya sebelum memasuki dunia yang abadi selamanya.
Saat waktu menunjukkan pukul 12 siang seusai sholat jenazah berjamaah, jasad Nenek Damanik dibawa menuju pemakaman umum 253 meter dekat mushola kecil yang sehari-harinya dirawat oleh seorang pemulung yang rajin sekali beribadah dan bersedekah, pemulung saja rajin sedekah bagaimana dengan kita yang diberikan harta lebih ?
Sampai di sana beliau dikubur tanpa di beri papan nisan dan hanya diberi batu kali berukuran sedang, sebuah kesengajaan dari Raduma karena pesan neneknya yang berwasiat untuk tidak diberi papan nisan tanpa bunga-bunga, apalagi dilapisi keramik atau ditinggikan, hanya ditandai oleh batu cadas saja.
Wasiat Nenek Damanik adalah pesan turunan dari ibunya ketika menjelang kematian di kamp pengungsian kota Garut utara, tatkala Kota Paris Van Java sebutan untuk kota Bandung saat itu membara dengan peristiwa heroik yang dikenang sepanjang masa, Bandung lautan api !
Kala itu, warga kota Bandung memang terpaksa harus mengungsi ke arah timur dengan berjalan kaki, sebagian mengungsi ke daerah Sumedang sebagian lagi masuk ke wilayah kota Garut. Apabila manusia mengarahkan pandangannya ke arah kota Bandung saat malam hari. Maka mereka akan dapati Bandung merah menyala, peristiwa yang membuat hati banyak orang terasa sangat sakit hingga lagu halo-halo Bandung tercipta sebagai manifestasi dari tekad api warga kota Bandung.
__ADS_1
Di rumah, suasana semakin sunyi padahal saat itu baru pukul 13.30, televisi mati, radio yang biasa dinyalakan Nenek di siang hari untuk mendengarkan dongeng pun mati. Itu jauh lebih baik daripada hati yang mati.
Karena ketika hati mati seseorang menjadi sosok yang berbeda, gelap dan tak menemukan arah. Tidak ada yang lebih menyeramkan selain matinya hati, dibanned oleh mertua culas mungkin lebih baik ketimbang harus tenggelam dalam kubangan gelap seperti itu.
Sesekali hanya suara layangan yang menyambar-nyambar di atas rumah
sementara Raduma masih terduduk di teras rumah yang teduh dan sejuk, di samping pot bunga yang diisi tanaman jahe, pot yang membuatnya teringat saat-saat dimarahi nenek tercinta karena pecah tersenggol sepeda pemberian tetangganya, nenek memang sedikit pemarah.
“Woy, jangan melamun nanti kesurupan,“ tegur seseorang yang datang melayat hanya untuk sekedar mengucapkan bela sungkawa dan memberi bingkisan.
Dia adalah Tobias, teman komplek Raduma, bisa dibilang dimana ada Raduma di situ ada Tobias.Tobias selalu mengikuti Raduma dalam hal bersekolah, dari sekolah dasar hingga sekolah menengah kejuruan, bersekolah di sekolah yang sama seolah dia orang yang tak punya pendirian.
Ia juga satu-satunya teman yang paling dekat dan paling dipercaya oleh Raduma, agak sedikit bodoh memang tapi periang dan juga baik hati serta tidak pelit dalam hal meminjamkan uang.
“Kaget ane, kalo jantungan gimana ? “ bentak Raduma.
"Ya tinggal ke dokter." Tobias tertawa.
"Busset dah nih bocah, tega bener."
“Sorry...my brother, nih gua bawa bingkisan, enggak seberapa sih tapi lumayanlah. Gua turut berbelasungkawa juga atas kematian Nenek Damanik, sabar dan tetep kuat Rad.“
“Aamiin, sekarang ane seorang diri Tob, sedih banget enggak nyangka bakal kayak gini."
“Ya mau bagaimana lagi, takdir mah tidak bisa dicegah, kematian adalah sebuah keniscayaan.“ Tutup Tobi.
Sementara mereka berdua berbincang dari jam 14.30 hingga malam hari para tetangga datang bergantian melayat. Baik tua dan muda bahkan ibu-ibu yang selama ini culas pada keluarga Raduma ikut datang untuk mengutarakan rasa belasungkawa mereka.
Tumpukan makanan hasil pemberian pelayat tampak berjejer di dekat kursi ruang tamu, tak satupun yang dilirik Raduma, isinya berupa beras, minyak, ikan sarden kaleng, biscuit cokelat dan juga amplop yang berisi uang.
__ADS_1
Ia lebih memilih pergi keluar untuk beli nasi goreng rindu malam dari uang sisa ongkos tadi pagi, malam itu ia tidur larut malam sekali hingga pukul 01.30 ia baru bisa tertidur, sendirian, sepi, sesepi hatinya yang tidak lagi disinggahi satupun gadis atau janda setelah dia yang terpaksa pergi entah kemana.