PERANG METAFISIK

PERANG METAFISIK
Menempuh jalan yang berbeda


__ADS_3

Menempuh jalan yang berbeda.


Lya menangis haru di waktu sepagi itu. Hatinya hancur dengan kematian Tobias, anak laki-laki yang ia sayangi selain dua anak laki-lakinya yang lain, Toni dan Robby. Di hari kematian Tobias keduanya hadir untuk menguatkan hati ibunya, mengurusi jenazah Tobi.


“Sabar Bu, ini ujian dari Tuhan. Jika Tobi tahu ibu terus menangis kayak gini, dia juga gak akan tenang,” Kata Toni. Anak pertama paling dewasa, berkacamata dengan mata yang sedikit sipit, tapi dia bukan orang Tionghoa.


“Kasihan Tobi Ton, anak ibu yang paling polos.”


Lya masih saja menangis tersedu-sedu. Sementara Robby berusaha membawa ibunya sedikit menjauh dari jenazah Tobi agar rasa sedih tidak terus menerus terpancing. Jasad Tobi di bawa ke pemakaman umum setelah dilakukan visum di salah satu rumah sakit di kota Bandung.


Hasil visum mengatakan bahwa jantung Tobi robek sedalam tiga centimeter, lebar sepanjang lima centimeter, pembuluh aortanya sudah pasti pecah, jantungnya seperti dirobek oleh senjata tajam namun anehnya kulit dadanya tidak tampak ada tanda-tanda kekerasan. Hal tersebut juga lah yang membuat bingung kepolisian dan dokter yang melakukan visum.


“Berdasarkan hasil visum, korban memang ditemukan luka di organ dalamnya, tepatnya jantung, ya," ungkap Akbp Irza kartono Kapolres Bandung pada wartawan. “Namun kami masih mempelajari penemuan mayat ini, jadi belum bisa kita sebutkan apakah ini murni karena kecelakaan, penyakit atau justru ada tindak pembunuhan.”


Berita kematian Tobias sebenarnya sempat dimuat di surat kabar meski hanya tercantum di halaman ketiga kanan atas. Tapi kasus Tobi menguap begitu saja tidak ada tindak lanjut, baik polisi dan keluarga enggan mengungkap lebih jauh. Mereka memilih untuk mengikhlaskan semua yang terjadi. Siapa sangka hal itu justru membuat Raduma semakin bernafsu untuk memburu pelaku pembunuhan Tobias, satu nama yang paling ia curigai, Raga.


Tidak butuh waktu lama bagi Raduma untuk mengetahui siapa dalangnya. Malam 6 hari setelah kematian Tobias, Raduma langsung menyerang Raga yang baru saja terlelap tidur. Ia tahu Raga yang telah membunuh Tobi dari kemampuan bola matanya dalam melihat peristiwa yang sudah terjadi.


“Akan ku kirim kau ke alam barzakh.”


Raduma duduk dalam posisi bersila dan kemudian konsentrasinya langsung tertuju pada wajah Raga.


Beberapa menit berlalu ia sudah melepas sukmanya untuk menyerang Raga. Melayang di udara menembus atap rumahnya lalu bergerak di ketinggian 70 meter melaju ke arah utara tempat Raga tinggal. Hanya butuh waktu kurang dari lima menit ia sudah sampai di rumah Raga. Rumah tipe 45 dengan gerbang berwarna biru, mobil terparkir di garasi sementara di lantai dua terlihat Siska sudah tertidur pulas.


“Bangun Raga...” Nun berbisik di telinga Raga, masuk ke alam bawah sadarnya. “Ada tamu tidak diundang.“


Seketika Raga membuka matanya perlahan, mengerjap beberapa kali, Nun sudah bersiaga dengan menghunuskan pedang yang tidak pernah dilihat oleh penduduk bumi sebelumnya. Sementara Raga duduk di atas kasur, tatapannya tajam dengan tubuh memancarkan cahaya, siap bertarung.


“Dia sudah di sini Nun.“


“Aku sudah tahu, persiapkan saja dirimu karena orang ini bukan amatiran, berbahaya,“ jawab Nun. Masih dengan mata yang melirik ke kanan dan ke kiri keduanya bisa merasakan energi milik Raduma namun tidak bisa menebak secara akurat posisi Raduma berada.


“Kau bisa mengukurnya ?“


“Tidak, justru itulah kusebut berbahaya. Karena sama sekali tingkatan energinya tidak bisa diukur, ini aneh.”


Saat keduanya berbincang lewat telepati, tiba-tiba secara mendadak satu belati yang terbuat dari butiran energi berwarna kuning menyala melesat mengincar Raga, datang dari arah timur.


Spontan Nun menepis belati yang bergerak sangat cepat ketika jaraknya hanya tinggal satu meter menuju bahu kiri Raga.


“Bisa kutangani.” Tebasan pedang Nun mengenai bilah belati dan berbelok arah mengenai lemari kayu, terbelah seketika.


Mata Raga melirik mengikuti lesatan belati yang membelah lemari. Sedikit terkejut karena sudah lama ia tidak bertarung secara metafisik dengan kecepatan seperti itu.


Sementara Raduma bergerak seperti seekor cheetah yang mengincar mangsa dari arah yang tidak diketahui.


“Kau lengah !“


Tangan kiri Raduma bergerak sangat cepat mengincar leher sebelah kanan Raga, mencoba merobek pembuluh darah. Namun tidak diduga pula oleh Raduma, Nun bereaksi tak kalah cepat dengan membuat perisai energi, warnanya jingga kehitaman di tengah ruangan yang minim pencahayaan. Hebatnya meski berhasil diblok oleh perisai energi, tebasan pedang yang keluar dari telapak tangan Raduma masih sempat menggores kulit leher Raga.


Pertempuran diluar nalar manusia terjadi tengah malam itu, siapa yang lengah dia lah yang akan tewas.


“Berengsek, darah ?” ucap Raga melihat sebercak darah segar dijari telunjuk setelah mengusap leher. “Hampir saja aku mati konyol.”


“Ah, kau tidak selaras ! Jika seperti ini kau dan aku bisa celaka,“ keluh Nun. Pandangan matanya tidak sedikit pun ia alihkan dari wujud halus Raduma, tetap bersiaga.


“Sejujurnya aku lebih menyukai pertarungan di dunia nyata,“ kilah Raga.


Melihat serangan pertama berhasil di tepis dan serangan kedua masih sempat di hadang perisai meski efek dari tebasan pedangnya sempat melukai kulit leher Raga, Raduma menurunkan ritme serangannya, ia mundur dua langkah, berada tepat di samping jendela kamar.


“Siapa kau ? “ tanya Raga dengan mata menyalak.


“Mungkin kau akan tahu jika kau tanya siapa aku pada seseorang yang kau bunuh beberapa hari yang lalu di alam barzakh nanti.“


“Oh...teman dari si pecundang itu rupanya.”


“Tutup mulutmu tua bangka !“ umpat Raduma. “Aku tahu kau jugalah orang yang telah mengirim makhluk-makhluk terkutuk seperti dia pada tubuh Ibunya ! Terlaknat kau.“


Amarah Raduma tak bisa dibendung, mengalir deras dari lisan dan gestur tubuhnya seraya menunjuk ke arah Nun.


Matanya memicing melihat Raga yang seolah tanpa penyesalan atas apa yang telah ia perbuat. Nyali Raduma sama sekali tak menciut meski pertarungan tak seimbang, dua lawan satu. Ia sudah tidak bisa berpikir tenang dan terencana, kini yang ada dalam hati dan pikirannya hanya hasrat untuk melenyapkan Raga dan jin pendampingnya secepat mungkin.

__ADS_1


“Omong kosong, bicaramu seperti engkau mampu mengalahkanku saja,” sela Nun di tengah percakapan singkat Raga dan Raduma. “Kau bahkan tidak mampu meleburkan perisai yang ku buat”


“Bagaimana dengan ini ?“


Raduma tanpa memberi aba-aba dan kesempatan untuk berbicara lebih jauh pada Nun, ia langsung menyerang Nun dengan kecepatan tinggi. Satu pukulan telak dengan tenaga dalam yang sudah di ubah menjadi bermuatan listrik tegangan tinggi mendarat di dada kanan Nun.


BAMM !


Dihantam oleh pukulan seperti itu, Nun terhempas beberapa meter, menembus beberapa dinding rumah, tersentak dengan sengatan listrik yang bagaikan mencabut sebagian nyawa dari tubuhnya. Terbakar hebat dan kulitnya hitam tersengat hingga ia sangat panik dengan meracau tak karuan, bola matanya bergerak tak tentu arah, tak menyangka ia bisa terluka separah itu. Baru kali ini ia menghadapi lawan berat yang andai saja pukulan Raduma mengenai area jantungnya niscaya ia bisa saja tewas seketika.


Beruntung nyawanya masih bisa selamat ketika ia memutuskan untuk melarikan diri ke dimensi lain, melemparkan dirinya sendiri ke kuil di kerajaan kumbang tanduk hitam seperti meteor yang jatuh ke permukaan bumi.


BRUKK BRUKK !


Suara benturan keras dari tubuh Nun dengan dua pilar kuil hingga ambruk dan luluh lantak. Seluruh penghuni kerajaan jin kumbang tanduk hitam terperanjat, mengarahkan kedua bola mata mereka ke arah suara dentuman keras itu berasal.


Sementara Raduma sesaat setelah melancarkan pukulan mematikan ia memutar tubuhnya dengan cepat dan menyerang Raga yang masih terperangah dengan apa yang terjadi pada Nun beberapa meter di sebelah kiri.


“Matilah kau ******* !”


Raga menahan serangan Raduma dengan kedua tangan yang sudah diliputi energi berwarna kuning, ia sedikit lebih beruntung masih sempat menahan pukulan Raduma yang mampu melepaskan listrik minimal sebesar 900 volt. Keduanya bertarung sangat sengit, jual beli pukulan dan tendangan silih berganti, serangan combo berkali-kali Raduma lancarkan hingga akhirnya Raga terpojok dengan luka di tangan.


Situasinya kurang menguntungkan bagi Raga yang memang bertarung dengan badan kasarnya sementara Raduma bisa bergerak lebih cepat karena bertarung dengan hanya sukmanya saja. walaupun tetap saja, jika ia terkena serangan lawan tubuh kasarnya juga akan merasakan sakit.


“Apa kau juga akan membunuhku ?” tanya Raga saat keduanya terdiam. Mungkin ia menyadari hari itu, malam itu, adalah hari dan malam yang terakhir kalinya ia melihat siska, anaknya sendiri. “ Kau boleh membunuhku, tapi jangan bawa kedua anakku dalam urusan ini, mereka berdua sama sekali tidak tahu apa-apa.”


“Kau benar, tapi aku tidak sama seperti dirimu !“ sanggah Raduma. “Aku tidak membunuh orang biasa, aku hanya membunuh orang-orang seperti dirimu, camkan itu.”


“Aku memang telah tersesat dan tak tentu arah, kurasa aku memang layak menerima ini semua.“ Sesal Raga lirih.


Matanya mulai sayu, buih-buih penyesalan mulai timbul di permukaan hati seorang Raga. Namun hal itu tidak sedikit pun meluluhkan hati Raduma yang sudah memilih jalan hidupnya.


“Percuma saja, meski kau menyesal dan bertaubat saat ini, tak perlu menunggu taubat untuk eksekusi mati para dukun, taubat atau tidak, eksekusi tetap harus dijalankan, itulah aturannya,“ tegas Raduma. “Karena orang-orang sepertimu lah yang merusak di permukaan bumi, menyesatkan banyak orang, melukai dan menggangu keharmonisan satu keluarga. Orang-orang sepertimu bagaikan kanker ganas yang memang harus segera di amputasi.”


Mendengar itu Raga tak berbicara lagi, hatinya yang paling dalam mengakui semua yang di ucapkan Raduma. Ia tertunduk lesu dengan lutut ditekuk dan lengan yang sudah mati rasa. Tenaganya sudah hampir habis yang tersisa hanya detik-detik menunggu ajal, di saat yang sama Raduma mendekatinya dan mencekik leher Raga, mencegat laju napasnya yang setengah putus asa lagi pasrah.


“Se—mua, se--karang ter--serah padamu,” ucap Raga dengan suara terputus-putus.


***Terang bulan 14


Sucikanlah permukaan bumi dari darah-darah terkutuk, sejernih cahaya bulan di malam ke 14***.


Sebuah kalimat yang sengaja ditulis oleh Raduma di dinding kamar dari darah yang mengalir dari tangan Raga. Malam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, hari esok mungkin akan menjadi hari yang sangat berat bagi Siska. Dalam kurun waktu yang berdekatan ia harus kehilangan dua orang yang ia cintai sekaligus.


Setelah menghabisi nyawa Raga kemudian Raduma kembali menuju tubuhnya yang sedang duduk memejamkan mata, butuh lima menit perjalanan. Perlahan menghirup oksigen di sekitar tubuhnya sebanyak tiga kali, semata-mata agar ia sepenuhnya kembali pada kondisi normal. Kini ia membuka mata dengan tatapan yang berbeda, kosong dan dingin.


Suasana hening.


Ia kembali merunut peristiwa yang baru saja terjadi, pandangan ia turunkan perlahan untuk melihat telapak tangannya yang sedikit terdapat goresan-goresan tipis efek pertarungan tadi, meyakinkan diri bahwa ia baru saja membunuh manusia.


“Aku telah memilih jalan ini, tak perlu menoleh kembali ke belakang dan berbalik arah.”


Raduma lantas berdiri lalu berjalan menuju jendela yang tinggi dan lebarnya hampir sama dengannya. Duduk di atas kursi memandangi pelataran rumah yang mulai basah oleh hujan gerimis yang turun menemani dengkuran setiap jiwa yang terlelap.


Jangankan untuk tidur, untuk mengambil segelas air putih pun rasanya tak terpikirkan oleh Raduma. Padahal tubuhnya sudah mendekati dehidrasi akibat energi yang terpakai cukup banyak. Ayah, Ibu, Nenek dan Rasta, empat orang yang membuat dirinya merasa sangat rindu.


Dua detik kemudian kantung matanya justru terasa sangat kantuk, ia tak kuasa lagi untuk tetap terjaga. Kepala bagian belakangnya lalu menyandar pada bagian atas kursi, Raduma tertidur barang sesaat, mungkin sekitar 15 menit. Sampai ia kemudian kembali terbangun dan kerongkongannya meronta-ronta merindukan air. Raduma berjalan menuju ruang tengah untuk mengambil segelas air dan beberapa makanan di kulkas, beruntung persediaan makanan masih banyak. Hasil dari gaji dan uang lembur yang ia tabung memang untuk misi yang ia akan arungi.


“Ini cukup untuk aku kembali mencari mereka.”


Ia kembali ke ruang tamu dan memakan apa yang ia bawa dari kulkas, selesai makan dan minum. Matanya kembali terpejam, badannya kembali menyala di sepertiga malam, satu orang yang ia incar.


Bapak putih.


Impleng sudah berjalan begitu matanya terpejam, Raduma kini sudah sangat lihai tak butuh beberapa menit baginya untuk menerawang ataupun melepaskan sukma halus. Dua jam sebelumnya ia bergerak ke utara kini sukmanya bergerak ke selatan. Namun ditengah perjalanan ia berubah pikiran.


“Jika aku langsung menyerangnya secara terbuka, kemungkinan akan terlalu menguras tenaga,” gumam Raduma di atas salah satu bangunan milik pemerintah. “Mungkin akan lebih jika aku melacak saja dua jin pendampingnya. Ah tidak, terlalu berani, mungkin salah satu dulu.”


Raduma melayang kembali dengan kecepatan sedang, ia lihat jalanan sudah sangat sepi hanya beberapa kendaraan yang lalu lalang, kecuali ketika ia melewati pasar tumpah di daerah Bandung selatan, kondisinya memang sudah sangat ramai sejak pukul satu dini hari.


Sampai di salah satu bangunan dua tingkat, 25 km dari kantor Samsat. Raduma terdiam beberapa saat, mengamati bangunan tersebut yang ternyata adalah rumah dari dukun Bapak putih. Mempelajari tipe pelindung yang digunakan Bapak putih untuk melindungi rumahnya dari serangan musuh-musuhnya.

__ADS_1


“Pengunci empat arah dengan ketebalan dan kedalaman mungkin sampai 1 meter, berarti energi yang harus ku lepaskan sekitar 1000.” Batin Raduma. “Tidak terlalu sulit hanya mungkin aku harus berpacu dengan waktu sampai mereka menyadari kehadiran ku di—“


Perhatiannya teralihkan oleh kedatangan makhluk astral sepertinya serangan dari pihak lain. Satu ekor gorila putih dengan tiba-tiba menyerang rumah Bapak putih. Satu pukulan mendarat di dinding pelindung yang menyelubungi atap.


Refleks Raduma menyembunyikan diri, akan sangat merepotkan jika ia harus bertarung dengan Bapak putih dan tamu tak diundang.


“Siapa lagi ini ?” Raduma kembali terkejut tatkala mengintip dari atap salah satu rumah tidak jauh dari lokasi pertempuran, datang lagi satu makhluk dengan wujud manusia dengan bertenjang dada membelah dinding energi yang dibuat Bapak putih dengan sebilah pedang yang mengobarkan api. “Tapi situasi ini menguntungkan.”


Saat pengunci empat arah dapat ditembus, otomatis sinyal bahaya langsung terkirim pada dua khodam (jin pendamping) milik Bapak putih yang berada di dimensinya masing-masing.


Di luar kebiasaan, para khodam ini tidak bersemayam di tubuh Bapak putih, biasanya khodam akan menempati salah satu dari bagian tubuh sekutunya dari kalangan manusia. Bisa di tangan, kaki atau bahkan di organ dalamnya.


“Nyai...tulungan abdi (Nyai...tolonglah saya),” ucap Bapak putih selepas ia terbangun dari tidurnya.


Ia lihat dua makhluk yang memasuki rumahnya semakin beringas. Berbeda dengan Raga, tampaknya ia hanya dukun tradisional yang sama sekali tidak dibekali ilmu beladiri, ia hanya sering melakukan perjanjian dengan bangsa jin untuk kepentingan tertentu.


“Sia ******* nu ngaganggu mangsa kami ? (Kau ******* yang mengganggu mangsa kami ?)” Bentak Gorila putih.


“Jangan bunuh dia terlalu cepat,” sergah sosok manusia yang bertelanjang dada yang sebenarnya adalah jin, tenaganya cukup tinggi sehingga bisa berubah bentuk. ”Kau buat saja dia gila.”


“Arrgh... dicincang sia ku aing, beungeut mesum, tempo ku maneh Putra Halimpu.(Arrgh... akan kucincang kau, muka mesum, lihatlah oleh mu Putra Halimpu).”


Gorila putih yang mendiami daratan Pasundan 800 tahun silam masih meraung penuh amarah, apalagi melihat lama-lama wajah Bapak putih yang memang memancarkan aura penjahat kelamin.


“Menjauhlah dari si tua bangka itu,” kata Ratu Urayaning tiba-tiba muncul dari balik tembok kamar Bapak putih disusul oleh siluman buaya. Lampu seketika mati namun Pak putih masih bisa melihat keempat makhluk yang sedang saling berhadapan.


“Kau datang juga Nyai, Dama Langsa.” Lirik Bapak putih sementara dadanya mulai sedikit berhenti bergetar.


“Semua karena budakmu ini Ratu Urayaning,” balas Putra Halimpu menunjuk Pak putih sementara satu tangan masih saja memegang pedang api, ia sangat sadar, yang ia waspadai sebenarnya bukanlah Ratu Urayaning melainkan Dama Langsa sang siluman buaya dari sebuah kerajaan siluman di daerah kota Semarang.


“Seharusnya kau tidak mencampuri garapan ku.”


“Kehilangan satu mangsa seharusnya tak membuatmu sedongkol ini, Putra Halimpu.” Ratu Urayaning berjalan perlahan lalu duduk di atas kasur dengan menyandar dengan bertumpu pada kedua telapak tangan yang ia simpan di belakang.


“Yang satu ini berbeda, aku mencintainya,” tegas Putra Halimpu.


“Kita bunuh saja dia, dia telah melanggar perjanjian untuk tidak saling mencampuri.” Gorila putih ikut bersuara.


“Ya ampun, memang susah berbicara dengan kaum sepertimu.”


“Berhenti menghambat waktu ku Ratu, serahkan dia (Pak putih) padaku dan kau dan kawanmu dari timur itu bisa pergi.”


“Kalau tidak, apa yang akan kau la--?”


Satu pukulan keras menghampiri Ratu Urayaning, disusul jerit Pak putih yang tak banyak bergerak dan hanya bisa menonton perkelahian sesama jin yang sepertinya sudah saling mengenal.


Putra Halimpu berang dengan perbuatan Bapak Putih yang membunuh satu prajuritnya ditubuh seorang gadis. Sebenarnya sang prajurit hanya ditugaskan untuk menjaga gadis berumur 21 tahun itu namun bagaimanapun kehadiran makhluk lain ditubuh manusia mau tidak mau akan menimbulkan efek negatif baik kesehatan fisik dan mentalnya. Entah bagaimana sejarahnya Putra Halimpu bisa sampai mencintai padahal awalnya datang untuk mencelakai.


Sang gadis akhirnya mencari pengobatan alternatif dengan mendatangi Bapak putih karena dari kabar yang beredar di kalangan bahwa Bapak putih bisa mengobati. Keluhan sering kesemutan ekstrim di kakinya hilang namun tubuh sang gadis tak selamat dari niat mesum Bapak putih. Meski tidak sampai disetubuhi akan tetapi pelecehan seksual telah terjadi pada tubuh indahnya. Entah mengapa sang tak bisa memberontak tatkala Bapak putih menggerayangi setiap inci kulit halusnya ia seperti berada dibawah pengaruh hipnotis.


Bapak putih memang seorang dukun yang dikenal di masyarakat luas, ia seringkali menerima pasien hingga puluhan orang dalam satu hari. Perbuatan syirik dan kejahatan seksualnya tidak pernah terungkap sampai saat ini.


“Kurang ajar kau ! Hanya karena gadis busuk itu kau rela menyalakan api perang dengan kaumku.” Ratu Urayaning terluka hingga bahu yang begitu mulus kini terlihat menghitam. Keempatnya kini sudah berada ditempat lain sepertinya bukan lagi di alam manusia melainkan sudah memasuki dimensi kedua bangsa astral.


Langitnya tidak seperti langit di alam manusia, terdapat seperti lapisan atau permukaan minyak di langitnya. Apabila malam tiba minyak tersebut akan menyala sebagai pengganti bulan sebagai mana di alam manusia. Suhunya sangat dingin, mungkin jika ada seorang manusia yang berhasil masuk dengan jasadnya ke dimensi kedua, dia akan sedikit kesulitan untuk beradaptasi.


“Kau salah lagi...engkaulah yang memulai semua ini Ratu, seandainya kau tidak bersekutu dengan si tua bangka itu dan membunuh prajurit ku. Ini tak perlu terjadi...”


“Tutup mulutmu, sekarang aku tidak peduli lagi tentang perjanjian yang dibuat putra Sakaro.”


Sakaro adalah wakil iblis untuk daerah Nusantara, setiap negara akan berbeda wakilnya.


Sementara Putra Halimpu sepertinya sudah kehilangan kesabaran dan berniat menghancurkan kerajaan Ratu Urayaning yang dibantu Sama Langsa. Dua pasukan besar sudah saling berhadapan, para makhluk terkutuk yang bisa mengikuti hawa nafsu tak lagi memperdulikan kawan atau lawan.


“Masuklah ke istana, biar aku yang menghadapi mereka berdua, dengan luka seperti itu kau bisa tewas dalam 6 menit di medan tempur,” ujar Dama Langsa pada Ratu Urayaning.


“Tidak, aku ingin memenggal lehernya dengan tanganku sendiri, kau bersiap saja di—“


“Masuklah !” Dama Langsa memotong perkataan Ratu Urayaning tatkala serangan berikutnya datang dari Gorila putih.


Sementara Raduma terus memantau pertempuran para jin dari kejauhan kini ia harus lebih berhati-hati karena ia bukan lagi berada di alam manusia. Kesempatan untuk membunuh Bapak putih yang terdiam menghela napas tidak ia ambil padahal bisa saja saat itu ia tebas Bapak putih yang sudah tidak lagi dijaga oleh dua khodamnya.

__ADS_1


Bantu penulis dengan like dan komentar, ya atau vote dan jadikan favorit, terimakasih.


__ADS_2