
Rencana - untuk sebuah kemenangan butuh persiapan.
Buru-buru tiga manusia beda usia itu memasuki rumah dengan berlari kecil. Hujan dengan tidak sopan turun secara tiba-tiba, memaksa mereka untuk tidak berlama-lama di taman rumah. Gagang pintu di raih lebih dulu oleh Hamim, ketiganya masuk satu persatu.
Makan di malam hari sebetulnya bukanlah kebiasaan Raduma apalagi makanan berat seperti daging namun demi menghormati Kaganga dan Hamim ia bersedia untuk menyantap daging kalkun panggang tadi. Mungkin itu sebabnya pula ia sekalian membuat kopi, kepalang tanggung.
Itu hanyalah etika sederhana ketika seseorang bertamu di rumah orang lain. Sepele namun bermakna, menolak ajakan makan pemilik rumah kurang beretika bagi keluarga Raduma walaupun sang pemilik rumah tidak merasa tersinggung.
“Jika mau langsung tidur kau bisa tempati kamar manapun,” ujar Kaganga. “Selamat malam.”
“Ya, paman,” jawab Raduma.
Kaganga beranjak ke kamar pribadinya, tidak jauh dari ruang tengah. Hamim dan Raduma masih sibuk menaruh perlengkapan dapur yang mereka gunakan tadi.
“Ini sudah malam tidur saja duluan.” Suruh Hamim sambil melirik jam dinding.
“Nggak apa-apa, lagipula aku memang sering tidur larut malam. Biar kubantu merapikan sekalian mencuci piringnya.”
“Repot juga gak punya pembantu tapi aku selalu berusaha untuk menikmatinya.”
Raduma tertawa kecil lalu berkata,
"Ngomong-ngomong dimana dahulu paman Kaganga bertemu denganmu ?”
Hamim berhenti sejenak, otaknya kembali mengingat awal ketika ia bisa bertemu dengan Kaganga.
“Kalau mengingat momen itu rasanya sedih sekali,” jawabnya parau padahal ia tidak sedang flu. “Dulu aku bertemu dengannya di salah satu terminal bus di kota Bogor saat aku mencari uang seorang diri dengan menjadi ojek payung tatkala musim hujan, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya. Jika musim penghujan reda aku beralih jadi pemulung.”
“Di Bogor ? sedang apa paman di terminal ?” gumam Raduma. “Kau tak punya keluarga ?”
“Entahlah, yang jelas saat itu pamanmu itu terlihat sangat lelah, tangannya sedikit mengalami luka gores, sepertinya luka dari tebasan benda tajam, entah pisau lipat, karambit atau semacamnya. Lalu dia melambaikan tangan padaku untuk mendekat, memintaku untuk membelikan perban dan sebagainya dengan imbalan uang yang cukup besar. Spontan aku mau saja, lagipula aku juga kasihan melihat luka ditangannya. Dari sana aku berbincang dengannya di sebuah warung Tegal, hehe rasanya rindu sekali momen itu,” bebernya. “Aku tidak tahu siapa ibuku Raduma karena beliau tewas begitu melahirkanku sedangkan ayahku pergi entah kemana saat usiaku 4 tahun, satu satunya yang kupunya saat itu hanyalah seorang Kakak. Tapi Kakak ku juga tewas karena salah pergaulan. Kehidupan jalanan telah menjerumuskannya pada jurang kehancuran.”
“Aku turut prihatin, ternyata hidupmu jauh lebih sulit.” Raduma tertunduk sesaat.
“Begitulah.” Singkatnya seraya tersenyum.
“Tapi apa kau dulu tidak takut jika seandainya paman seorang penjahat ?” Canda Raduma dengan nyengir kuda.
“Iya ya, aku baru sadar sekarang,” jawab Hamim tertawa lepas. “Mungkin karena saking bahagianya aku makan dengan ikan gurame, sambal dan rolade yang tidak pernah aku makan sebelumnya. Hingga tak terlintas sedikitpun rasa curiga. Dan kurasa hatiku juga mengatakan bahwa Ayah atau pamanmu itu orang yang baik.”
“Usai makan bersama, pamanmu lalu memintaku untuk menjadi anak angkatnya dan bersedia untuk tinggal di rumah ini, sekaligus merawat rumah ini. Karena sejak aku datang kesini pun rumah ini memang tidak ada siapa-siapa,” katanya lagi.
Mendengar jawaban Hamim Raduma ikut tertawa.
“Selesai juga, kalau begitu aku pergi tidur duluan.” Hamim meninggalkan dapur.
“Ya, duluan saja, aku tinggal satu piring lagi.”
Hamim pergi ke kamarnya yang berada di dekat ruang tamu sementara Raduma masih berada di dapur. Setelah mencuci piring terakhir, akhirnya ia kembali ke ruang tengah. Duduk di sofa dan menunda untuk memasuki kamar yang berada di sebelah kamar Hamim.
Sebenarnya Raduma sudah berada dalam perlindungan, celah bagi shadow satellite untuk menyerangnya sudah tertutup.
Terutama bagi Evan Bagaskara dan Barbara Luel yang ternyata tidak sanggup melihat rumah Kaganga , itu karena selubung energi yang membuat rumah Kaganga tidak bisa dilacak oleh sembarangan orang hanya bisa dilihat oleh orang dengan metafisik level paling tinggi. Raduma pun belum tentu bisa melacaknya.
Rupanya, Kaganga sudah merencanakan agar Raduma segera berada di sana supaya tidak bisa diketahui dan memiliki waktu untuk mempersiapkan diri. Namun ia keliru, pasalnya Sastra Kuning kini jauh lebih cerdik. Dengan bantuan khodam miliknya ia bisa menemukan lokasi rumah Kaganga. Level energi miliknya telah memenuhi syarat untuk membuka satu tingkat lagi kemampuan bola matanya.
“Malam pun menangis Kaganga ketika aku bisa menemukan orang yang kau sembunyikan ini,” ujar Sastra Kuning di atas sebuah bangunan tinggi yaitu milik sekolah menengah kejuruan, 500 meter dari rumah Kaganga. “Seperti sebuah kebetulan, tak kusangka pemuda ini telah mengantarkan ku juga padamu.”
Dengan kaus hitam yang ketat, tubuh atletis sastra kuning terlihat jelas. Celana jeans tanpa memakai alas kaki ia meraga sukma dari kediamannya di kota Bali. Ia mengambil keputusan sepihak untuk melakukan serangan seorang diri tanpa bantuan dua anggota shadow satellite lainnya. Sastra berpikir, jika mampu membunuh Raduma seorang diri, ia merasa memiliki kepuasan tersendiri. Jika memang tak sanggup diselesaikan olehnya opsi untuk bekerja secara tim barulah ia akan ambil dan memang pertemuan dengan Barbara dan Evan pun tinggal 3 hari lagi di Bali.
Dari atas bangunan sekolah ia terbang perlahan mendekati rumah Kaganga, bersiap melancarkan satu pukulan yang dapat membuat lubang yang cukup untuk di masuki manusia.
__ADS_1
“Selubung energi, menyusahkan. Darimana kau belajar membuat teknik seperti ini, Kaganga ?” gumamnya. “Tapi aku masih bisa memasukinya. Hanya saja—mungkin selubung energi ini di desain untuk melipatgandakan atau memperbaiki diri. Seperti regenerasi sel dalam tubuh manusia. Hmm...aku hanya punya waktu 45 menit sampai lubangnya tertutup kembali dan aku tidak bisa keluar.”
Sastra Kuning harus berpikir dua kali saat mempelajari karakteristik selubung energi dalam waktu singkat. Ia tidak mau ceroboh, jika saja lawannya hanya Raduma mungkin ia tidak perlu banyak berpikir bagaimana cara meloloskan diri jika ia gagal dalam bertarung.
“Badra, keluarlah dari tubuhku, kau hadapi anak muda itu. Kaganga biar aku yang menghadapinya.” Batin Sastra.
Tiba-tiba keluar dari tubuh asli Sastra Kuning yang berada di Bali, tepatnya di rumahnya sendiri. Dalam posisi duduk di kursi goyang, makhluk astral yang bernama Badra keluar dari tubuh kasar Sastra Kuning dan langsung merespon telepati yang dikirim tuannya. Wujudnya seorang pria dengan badan hitam tapi wajahnya putih rambut hitam acak-acakan, dan kain motif papan catur yang menutupi pinggangnya. Mirip Semar dalam kisah pewayangan hanya saja tubuhnya six pack dan berambut.
“Kau yakin ? Sebaiknya kita tidak terburu-buru,” jawabnya lewat telepati.
“Kita lihat saja nanti.”
“Masalahnya kita tidak akan bertempur di ruang terbuka. Ini berisiko, untuk apa ambil risiko jika masih ada pilihan lain ?”
Sastra Kuning tidak berkata lagi, ekspresi wajahnya datar, mengundang tanya dan sulit dibaca. Tanpa menunggu lagi Badra berangkat menuju lokasi dimana Sastra Kuning berdiri. Tidak butuh waktu lama, mungkin kurang dari 4 menit dari Bali ke wilayah Cirebon.
“Begitu kubuat lubang, serang pemuda yang berada di atas sofa itu.” Instruksi Sastra saat Badra tiba di sampingnya.
Sastra melompat seperti katak pohon yang dapat melompat 150 kali lebih tinggi dibandingkan tinggi tubuhnya sendiri. Melesat seraya melesatkan satu pukulan keras menghantam selubung energi, sebuah lubang tercipta diikuti lesatan Badra yang masuk untuk menyerang Raduma.
BAMM !!
Raduma terpental hingga dua meter jauhnya, ia sempat menyadari sesuatu yang datang dari sebelah kiri atas namun ia tidak punya waktu lebih untuk menghindar sepenuhnya.
Meski begitu, beruntung pukulan tangan kanan Badra yang bisa memecah batu cadas itu tidak semerta-merta menghancurkan tubuh Raduma. Ia hanya merasakan sedikit rasa nyeri.
Itu karena sifat dari energi atau tenaga dalam yang dimiliki orang-orang seperti Raduma bersifat defensif. Akan meledak seketika, tatkala dirangsang oleh keterkejutan, kepanikan yang sangat spontan. Atau mendeteksi datangnya sesuatu yang bertolak belakang dengan energi milik Raduma.
“Siapa kau ?” Raduma menghela napas lalu memicingkan mata.
“Masih bisa bertahan dengan pukulan seperti itu,” ujar Badra. “Huft, ini yang kubenci dari orang-orang sepertimu."
“Awas !” pekik Badra.
Gerakan Sastra Kuning masih terlalu cepat, ia berhasil meloloskan diri dari incaran empat anak panah yang sebenarnya sudah mengunci posisi Sastra Kuning.
“Teknik ini, masih saja kau pakai Kaganga tapi setidaknya bagus juga, ada peningkatan. Dari segi kecepatan, ukuran. Lebih meningkat dibandingkan saat pertama kali aku melihatnya, dan sedikit tambahan muatan api di ujung anak panahnya.” Sastra Kuning melihat ke arah kamar Kaganga.
“Aku sengaja tidak melakukannya dengan kekuatan penuh, akan kubiarkan pemuda itu yang kelak membunuhmu.” Tiba-tiba pintu kamar terbuka perlahan, terlihat Kaganga keluar dengan membawa sebilah pedang yang terbuat dari energi.
Ucapan Kaganga, diterima sastra Kuning sebagai sebuah penghinaan. Raut wajah datar itu akhirnya terlihat gusar.
“Kau menganggap kau bisa membunuhku kapan saja ?” pekik Sastra Kuning lalu meludah. “Hari ini juga akan kutuntaskan yang dahulu belum tertuntaskan. Termasuk membunuh pemuda ini !”
“Tidak, tidak hari ini,” balas Kaganga. “Begini saja, mari kita buat kesepakatan. Jika kau mampu membunuh pemuda ini tiga hari setelah malam ini, aku akan bersedia bertarung denganmu dengan sekali lagi sampai mati. Kau bersedia ?”
“Apa yang kau rencanakan Kaganga ?” Cibir Sastra Kuning.
Badra mendekat lalu berbisik.
“Tidak masalah Sastra, kita terima tantangannya. Lagipula kita lebih unggul dari segi jumlah nanti.”
Sastra Kuning terdiam sesaat.
“Lagipula kau juga pasti tahu, selubung energi itu akan tertutup kembali. Kau hanya punya sedikit waktu. Dan kau tidak akan menduga apa yang akan kulakukan selanjutnya,” terang Kaganga sambil menunjuk selubung energi.
“Kau lupa Kaganga, aku bukan tipe orang yang cepat mati.” Sastra tersenyum miring. “Aku masih bisa keluar.”
“Kau yakin ?” Tiba-tiba Hamim sudah berada di luar rumah tepat di area lubang yang tercipta di selubung energi.
Meski jaraknya jauh tapi suara Hamim bisa terdengar oleh Sastra dan yang lainnya.
__ADS_1
“Sejak kapan dia ada di sana ?” gumam Badra.
Sastra Kuning memicingkan matanya ke arah Hamim yang seperti hendak melakukan sesuatu.
“Kau tidak akan bisa keluar Sastra, sebaliknya kami bisa keluar dari selubung energi ini karena masih berada di wujud kasar. Selubung energi ini hanya akan mengunci wujud halus. Dan saat itu terjadi, akan kuledakan rumah ini. Jika wujud halusmu terluka, wujud kasarmu juga terluka. Kau juga tahu itu.” Ancam Kaganga.
Badra lagi-lagi berbisik.
"Jangan ambil risiko Sastra..."
Sastra semakin kesal, amarahnya tersembunyi dibalik wajah datarnya. Namun sesaat kemudian ia tersenyum lalu tertawa.
“Menarik, sejujurnya aku tak menyangka kau akan menjadi lebih kuat seperti sekarang. Itu semakin membuat ku bersemangat.”
“Jadi ?” tanya Kaganga sekali lagi.
“Baiklah, akan kutunggu tiga hari, persiapkanlah anak buahmu ini (Raduma) agar ia tidak cepat mati.”
Mendengar itu Raduma merasa terpancing.
“Kita lihat saja nanti,” ujarnya.
Sastra dan Badra pun akhirnya keluar dari rumah Kaganga, kembali menuju posisi aslinya di kota Bali.
Selubung energi kembali tertutup sempurna, Hamim masuk ke dalam rumah dan Kaganga pun duduk di atas sofa begitu pula Raduma.
Ketiganya hendak berbincang tentang sesuatu yang baru saja terjadi.
“Dia kini lebih kuat, ini diluar dugaan ku. Seharusnya tak ada satupun yang bisa melihat rumah ini. Selubung energi dibuat dengan pasokan energi yang sangat besar dengan dipengaruhi dari gelombang elektromagnetik dari logam langka yang berada di dalam bumi tepat di wilayah ini,” ujar Kaganga menyandarkan tubuhnya.
“Kau bisa melihat logam di bawah tanah ? Sejauh itu ?” Raduma heran.
“Itu butuh level energi di atas 60 %. Karena letaknya yang sangat jauh hampir ke perut bumi. Bisa dibilang itu hal yang hampir mustahil dilakukan manusia biasa ataupun yang memiliki kemampuan metafisik.,” sela Hamim.
“Ya.” Kaganga membenarkan.
“Lalu bagaimana sekarang ? Sastra Kuning sudah tahu keberadaan ku saat ini. Itu artinya, akan percuma rencana awal yang akan kita jalankan.” Raduma ikut menyandarkan tubuhnya. Ia merasa lelah bahkan ia tidak sempat untuk tidur barang sesaat. “Ia tentu akan langsung mengawasi ku sejak malam ini.”
“Kau benar, tapi jangan khawatir, aku masih punya rencana lain. Kau tak perlu berpindah-pindah untuk menghindari kejaran impleng shadow satellite. Tapi mungkin kau akan perang terbuka,” tutur Kaganga.
“Apa yang harus kulakukan ?”
“Yang perlu kita lakukan hanyalah membuat impleng tidak dapat dilakukan.”
“Tapi bagaimana caranya paman ?”
“Kurasa itu mustahil Ayah jika kita tidak memperbesar jarak.” Hamim mengomentari.
“Itu bisa saja tanpa harus memakai rencana yang pertama, di Indonesia ini ada beberapa titik misterius, dimana area itu kita tidak bisa ngimpleng (menerawang). Kalaupun dipaksakan, tetap saja tidak akan terlihat jelas dan hanya akan membuat kepala pusing.”
“Dimana itu ?”
“Kurasa kau juga pernah ke sana.” Kaganga akhirnya merebahkan tubuhnya karena kantuk yang menjejal di pelupuk mata. “Aku akan jelaskan besok pagi.”
Hamim dan Raduma pun tak bertanya lagi saat melihat orang tua di hadapan mereka hendak tidur di atas sofa. Sementara Raduma, hatinya bertanya-tanya, dimana lokasi yang pernah ia datangi itu.
Bantu penulis dengan like dan komentar ya.
Dengan sedekah vote poin itu lebih bagus tapi itu tidak ada paksaan.
note : Sampai akhir Mei atau lebaran bulan ramadhan penulis akan libur dulu menulis cerita ini.
__ADS_1