PERANG METAFISIK

PERANG METAFISIK
Kematian Laguna dan Alice


__ADS_3

Dua jam perjalanan dari Bandung selatan menuju timur kota Bandung, sekitar tiga puluh menit lagi Alice tiba di rumahnya. Hari sudah sangat siang, kemacetan sudah ia lewati sebanyak dua kali di perjalanan, tidak biasanya. Tentu saja itu semakin menambah kekesalannya yang memang sudah berada di ubun-ubun, biasanya tidak pernah macet seperti itu, matanya mencari-cari penyebab kemacetan di jalan raya perbatasan selatan dan timur kota Bandung dari jendela angkutan kota yang ia tumpangi, orang-orang banyak berkerumun 7 meter dihadapan Alice, sepertinya ada sebuah kecelakaan beruntun, pikirnya.


Sampai di rumah, ia lihat Nenek Damanik masih sibuk membersihkan pekarangan rumah yang tidak terlalu besar padahal hari sudah siang. Raduma masih tertidur karena masih terkena demam sejak tadi malam. Sesampainya di rumah, Alice tidak menceritakan semua yang ia alami di rumah mertuanya tadi. Ia berpikir cukup sudah merepotkan orang tua, kali ini ia tidak boleh sedikit pun ibunya merasa sedih lagi, apalagi setelah beliau lama menjanda dan membanting tulang untuk menghidupi dirinya.


Rasanya tidak tahu diri jika ia membebani lagi ibunya dengan hal-hal yang seharusnya tidak perlu beliau dengar. Akhirnya, Alice hanya memendam semua kesedihannya di dalam hati hingga ketika malam itu tiba, satu jam setelah Laguna baru saja pulang dari pekerjaannya, mandi dan makan malam. Alice mencurahkan semua unek-unek dalam kepalanya pada Laguna, tentang Yuniar, Samirah dan beberapa peristiwa yang tidak mengenakkan yang pernah ia alami.


Tapi reaksi Laguna justru di luar dugaan Alice, suaminya tampak lebih memihak Samirah dan adik-adiknya. Sikap yang sebenarnya wajar karena ia belum melihat sendiri semua kebusukan keluarganya itu. Namun mungkin kesalahan Laguna adalah ia membalas keluhan Alice dengan nada tinggi dan menuduh Alice yang tidak-tidak sehingga Alice pun tersulut amarahnya.


“Pak kamu gak percaya sama aku ? “ tanya Alice wajahnya tampak kalut. Beberapa kali ia mengusap sudut matanya yang basah oleh air mata.


“Bukan gak percaya, tapi kamu jangan punya pikiran yang enggak-enggak deh sama Ibu dan adik-adik aku, mereka orang baik gak mungkin punya niatan kayak gitu, apalagi apa kata kamu ? Coba mencelakai ? Gak mungkin !” tegas Laguna.


"Itu karena kamu belum liat aslinya mereka kayak apa !"


"Cukup ! Cukup ! Kalau kamu ngomong kayak gitu lagi aku akan--"


"Akan apa ? Akan cerain aku ? Silahkan !"


"Alice...!"


PLAK !!


Telapak tangan kanan Laguna mendarat cepat di pipi Alice, ia menamparnya dengan penuh nafsu. Satu hal yang tidak pernah Laguna lakukan sebelumnya, ia berubah namun hatinya mendustai, untungnya Rasta dan Raduma tidak melihat momen itu karena sedang berada di ruang tengah bersama neneknya.


Ia mondar mandir masih merasa kesal dengan tuduhan istrinya, Alice terlihat murung menahan tangis enggan bertatap muka dengan Laguna. Hingga akhirnya keduanya saling tidak menyapa dan tidur saling membelakangi sampai pagi.


Sementara Raduma di pagi hari ia menangis tanpa sebab padahal demamnya sudah reda. Matanya terus menerus melihat kakinya, sesekali ke kanan dan ke kiri seperti mengikuti sesuatu.

__ADS_1


“Cup cup jangan nangis Nak, ada Ibu di sini,“ ucap Alice menenangkan Raduma dalam pelukannya.


Alice coba membawanya keluar rumah, ia berpikir barangkali Raduma bosan di dalam rumah. Tapi anaknya masih saja menangis bahkan lebih keras hingga akhirnya Nenek Damanik menghubungi salah satu anak dari saudarinya yang paling bontot.


“Witarsa, nuju sibuk heunteu ? (Witarsa, lagi sibuk tidak ?) “ sapa Nenek Damanik di ujung telepon.


Witarsa, anak dari Tungga Dewi adik dari Nenek Damanik. 3 tahun lebih muda dari Nenek damanik yang sudah berusia 52 tahun. Sedangkan Witarsa adalah seorang pemuda berumur 24 tahun dengan kulit hitam namun manis untuk dipandang, orang-orang terdekatnya mengatakan ia lebih mirip ibunya daripada ayahnya. Sejak usianya 11 tahun ia sudah bisa melihat makhluk tak kasat mata, berbeda dengan anak pada umumnya ia tidak terlihat takut ketika pertama kali melihat yang tidak bisa orang lain lihat.


Waktu terus berjalan hingga kemampuannya meningkat tapi orang-orang selain keluarganya tidak ada satu pun yang tahu bahwa ia memiliki kemampuan di luar nalar, demi menghindari cap dukun dari masyarakat awam.


Siang itu Witarsa datang ke rumah Nenek Damanik dengan menggunakan motor tiger, sesuai permintaan Nenek Damanik yang mengundangnya karena curiga dengan kondisi cucunya itu. Sementara Raduma terkadang menangis terkadang tidak.


“Wit, ini Raduma kok nangis terus dari pagi kenapa, ya ?“ Nenek Damanik memulai cerita. “Padahal demamnya sudah reda, malem kata dokter ga ada penyakit serius cuma demam aja.”


“Hmm ini mah lagi dikerubuti jin, Uwa Damanik,” ungkap Witarsa santai. “Itu makhluknya juga masih ada, ada empat malah.”


Witarsa terdiam beberapa saat, seperti sedang mengamati atau berfikir sesuatu. Nenek Damanik terlihat cemas dan bergidik begitu pula Alice yang belum juga pulih dari kesedihannya sekarang ia ditimpa lagi masalah baru. Suasana rumah menjadi sedikit lebih horor padahal masih pagi apalagi memang rumah Nenek Damanik menghadap ke selatan sehingga cahaya matahari tidak masuk ke dalam rumah, ditambah rumah tetangganya lebih tinggi dibandingkan rumah Nenek Damanik semakin membuat tempat tinggalnya teduh di luar namun gelap di dalam.


Sementara empat sosok yang Witarsa lihat di dekat Raduma kecil masih saja berputar-putar mengelilingi Witarsa, Nenek Damanik dan Alice. Semenjak Witarsa datang ekspresi keempatnya berubah total yang tadinya tertawa kecil dengan menyeringai ganjil sambil menyentuh dan menggelitiki telapak kaki Raduma dengan kuku-kuku tajamnya, kini menjadi memandang penuh amarah tanda tak suka.


Tubuh mereka dekil kehitaman, bau tanah comberan, kurus bungkuk dengan tangan yang lebih panjang dari tangan manusia hingga ketika mereka berdiri jari jemarinya bisa menyentuh lantai. Tetesan darah menetes membasahi lantai dari ujung kuku tajam kedua lengan mereka.


Wajah yang menyeramkan dengan rambut panjang terurai dan mata yang melotot memancarkan sinar jingga. Witarsa tampak tidak terintimidasi dengan penampakan keempat makhluk astral yang berada dekat dengannya, wajar saja, itu karena ia pernah melihat yang lebih menyeramkan dari yang sekarang ia lihat.


“Siapa kau ?“ tanya salah satu jin yang mengelilingi Witarsa, sepertinya pemimpin dari keempat jin. “Kau menganggu kami.”


“Aku Witarsa, aku bahkan belum bergerak sedikit pun.“

__ADS_1


Witarsa tersenyum tenang melihat reaksi keempat makhluk astral yang sudah ia ukur tingkatan energinya, itu sebabnya ia tidak merasa terancam sama sekali. Komunikasi di antara mereka terjadi melalui telepati, Witarsa sengaja menjawab pertanyaan jin tersebut dengan telepati karena khawatir menambah takut Nenek Damanik, Alice, Raduma dan Rasta yang baru saja bangun menghampiri ibunya.


“Mengapa kalian menggangu anak ini ? “ tanya Witarsa akhirnya mulai serius.


“Aku hanya menyukainya, anak ini istimewa,” jawab salah satu jin dengan nada serak dan berat perlahan berbisik di telinga Witarsa. “Pergilah dari rumah ini anak muda...”


“Jangan coba-coba mengancamku, jika tidak, aku ratakan kalian dengan tanah,“ tegas Witarsa tiba-tiba tubuhnya mengeluarkan energi yang menekan ke empat jin sehingga menjauh dari posisi Witarsa. “Kubiarkan kalian hidup jika kalian pergi dari tempat ini tapi jika kalian menggangu anak ini lagi, akan kucari kalian ke mana pun kalian bersembunyi.“


Mendengar ancaman Witarsa yang tidak main-main nyali empat jin mulai menciut. Keempat jin akhirnya memutuskan untuk mundur perlahan hingga akhirnya pergi menuju ke arah timur laut Sancang karena merasa takut dengan energi Witarsa yang sudah setingkat dengan pemimpin batalyon dalam pasukan perang bangsa jin.


Raduma kecil mulai berhenti menangis sorot matanya kembali tenang perlahan tertidur di pelukan Alice dibius rasa lelah yang menghinggapinya.


“Jinnya sudah pergi Uwa, sekarang Raduma aman, ga apa-apa,” kata Witarsa.


“Iya, haturnuhun Wit ya, udah rela jauh-jauh datang ke sini,” jawab Nenek Damanik.


“Tapi gak akan datang lagi, kan ?” Alice masih saja khawatir.


“Gak Teh Alice, saya udah buat semacam dinding pelindung di tubuh Raduma. Tapi ya...itu cuma bertahan beberapa tahun, namanya juga energi pada akhirnya akan memudar juga. Tolong jaga Raduma, saya ingin liat dia ketika dewasa.”


Alice terdiam mendengar kalimat terakhir Witarsa, seiring langkah kaki Witarsa yang pamit untuk pulang. Ia memang memutuskan untuk tidak berlama-lama di rumah Nenek Damanik, ada urusan yang memaksanya harus segera bergerak kembali.


"Sepertinya terlambat." Batin Witarsa.


Ia lalu mengambil handphone layar sentuh di saku jaketnya dan mengetik sebuah pesan singkat.


"Tunggu saya pukul satu siang Kaganga."

__ADS_1


__ADS_2