
Pertemuan dengan shadow satellite.
Ibu kota mulai terasa panas mungkin karena musim sudah beralih ke musim kemarau. Dua mobil milik kepolisian republik Indonesia mendatangi gedung Badan Intelijen Negara. Satu orang pria diiringi dua orang berseragam polisi turun dari mobil hitam-hitam.
“Pak Kapolri, Jenderal polisi Chandra Damara sudah menunggu anda di lantai paling atas,” ujar salah seorang petugas di dalam gedung Badan Intelijen Negara itu.
Jenderal polisi Teddy menggangguk lalu melanjutkan langkahnya.
“Jam berapa sekarang ?”
Pengawalnya melirik jam tangan yang dia gunakan.
“Jam 2 kurang lima menit.”
“Syukurlah kita tidak terlambat.” Pak Kapolri bergegas menaiki lantai dua. “Hari ini jadwal padat sekali. Pers juga berulang kali menghubungi untuk meminta statement tentang korupsi di Direktorat jenderal pajak.”
Satu dua lantai terlewati, langkah kaki Teddy diikuti dua pengawalnya yang tak kalah cepat dalam berjalan. Keluar dari lift, Teddy langsung tertuju pada satu ruangan milik Kepala BIN, Jenderal polisi Chandra Damara.
Pintu dibuka, senyum sesaat terlihat sudah menyambut ketiganya.
“Silahkan duduk,” ujar Chandra.
“Terimakasih.”
“Saya tak punya waktu banyak, saya langsung saja ke inti pertemuannya.” Teddy duduk di hadapan Chandra Damara hanya terpisah oleh meja kayu jati kualitas baik. “Sepertinya ada sesuatu yang sangat rahasia, sehingga anda ingin saya sendiri yang datang ke sini."
“Anda benar Pak Kapolri, ini tentang hasil dari penyelidikan kasus pembunuhan paranormal, sampai saat ini anggota yang kami beri tugas khusus untuk mencari informasi tentang siapa pelaku dari kasus ini belum juga dapat memberikan hasil positif. Kami mohon maaf Pak Kapolri.”
“Hanya itu ? Apa tidak ada cara lain ? Kasus ini benar-benar tidak bisa ditelusuri oleh intelijen ?” Teddy merebahkan tubuhnya ke kursi dari kulit asli.
“Tentu bukan itu inti yang ingin kami sampaikan, jika anda tanya ada opsi lain ? Tentu saja ada, yang paling terdekat sepertinya memang opsi pengalihan isu dengan kasus terorisme, kami rasa bisa sedikit membantu,” usulnya. “Angkat isu itu lalu kasus ini akan tenggelam dengan sendirinya.”
“Anda benar. Lagipula kasus ini memang kasus diluar nalar. Kurasa siapa pun akan kesulitan memecahkannya.” Teddy memegang dagunya.
“Hmm.”
“Tapi masyarakat kita sekarang jauh lebih kritis, mereka tahu itu pengalihan isu, mungkin harus ada kasus lain yang diangkat secara berbarengan. saya lebih suka menamakannya sebagai serangan combo."
“Itu juga bukan ide yang jelek.”
Tiba-tiba suara smartphone berdering dari kedua pimpinan itu.
Keduanya kompak melirik layar smartphone di tangan kirinya masing-masing. Chandra Damara lalu menempelkan benda pipih itu di telinganya.
Chandra hanya mengangguk, sementara tombol volume ia tekan untuk mengurangi suara yang keluar. Sementara Teddy selaku Kapolri membaca sebuah pesan dari staf ahli kepresidenan untuk segera merapat ke istana.
“Tolong tinggalkan kami berdua,” pinta Chandra pada dua pengawal Pak Kapolri.
Keduanya lalu keluar dari ruangan dengan bergegas.
“Pak Kapolri, inilah yang Ingin kami sampaikan. Untuk kasus pembunuhan paranormal itu kami memutuskan akan memakai shadow satellite guna melacak dan menghentikannya,” ujar Chandra saat ia hanya berdua saja dengan Teddy. “Jadi kemungkinan terburuknya, SS akan melenyapkannya. Dengan kata lain, itu juga berarti Kepolisian akan dianggap tidak menyelesaikan kasus ini dengan baik di mata media dan masyarakat. Anda bersedia ?”
“Tidak ada pilihan lain jadi tentu saja saya bersedia, meski saya harus pandai-pandai membuat statement nantinya. Tapi yang terpenting fenomena tindak kriminal berbau mistis ini segera usai dan tak pernah lagi terjadi.”
“Ya, kami harap juga begitu.”
“Seperti yang saya katakan tadi, waktu saya tidak banyak Pak Chandra, kalau begitu saya pamit dan jika memang ada informasi penting selanjutnya dari kasus tersebut. Segera informasikan.”
Perkataan Teddy hanya dijawab anggukan oleh Chandra Damara. Teddy bangkit dari kursi diiringi dua pengawalnya. Ketiganya berlalu setelah lift itu tertutup seluruhnya.
Sementara Chandra segera menemui rapat di salah satu ruangan di gedung BIN itu. Rapat tertutup yang hanya dihadiri oleh 6 orang termasuk dirinya. Dari beberapa orang itu tampak 3 orang yang tidak seperti pegawai Badan Intelijen Negara.
Satu berperawakan tinggi ideal, pria dengan kisaran umur 70 tahun lebih. Sudah tua tapi badannya masih saja tegap dan atletis. Sepintas orang-orang tidak akan menyangka bahwa usianya sudah 70 tahun lebih.
Yang kedua adalah seorang pria muda dengan kisaran umur 33 tahun. Berambut panjang, berhidung mancung sedikit kurus tapi kemampuan beladirinya sangat baik. Ia juga mahir untuk sekedar bongkar pasang AK47 dengan mata tertutup serta menggunakannya.
Terakhir adalah seorang wanita 37 tahun, wanita blesteran Indonesia dan Perancis. Ayahnya lahir di Le mans sedangkan ibunya adalah orang Kalimantan.
Rapat tertutup itu berjalan 30 menit. Dua orang bawahan Chandra Damara memaparkan apa yang hendak dibicarakan hingga di akhir rapat Chandra berkata,
“Bagaimana pendapatmu Tuan Sastra Kuning ?”
“Tidakku sangka kalian akan mendatangiku lagi, kukira Barbara dan Evan sudah cukup untuk membantu kinerja kalian selama ini ? Sejak 2015 aku sudah mengajukan untuk vakum terlebih dahulu sampai batas waktu yang telah ditentukan pada Kepala BIN waktu itu,” jawab Pria 73 tahun yang diketahui bernama Sastra Kuning.
Evan Bagaskara dan Barbara Luel saling melirik satu sama lain. Memang jarang sekali ketiganya dikumpulkan jika bukan karena darurat, biasanya bekerja sendiri-sendiri sudah cukup.
“Kasus kali ini berbeda, aku sengaja mengumpulkan kalian bertiga agar semuanya berjalan maksimal.” Chandra merapatkan dua jari jemarinya, menyimak dengan seksama apa jawaban selanjut dari pria tua yang keberadaannya hanya di ketahui oleh petinggi BIN saja. Bahkan anggota Intel tak ada satupun yang tahu. “Lagipula kau adalah satu-satunya aset kami setelah orang itu. Aku yakin dengan kemampuanmu, track record mu sangat mengesankan, sumbangsihmu terhadap Lembaga ini cukup besar bahkan kau juga telah memberikan bantuan penting terhadap Amerika serikat dalam menangani insiden blackout tahun 77 di kota New York. Dan masih banyak lagi yang kurasa tak perlu ku sebutkan satu-persatu.”
Setelah mendengar penjelasan dua orang bawahan Chandra dan Chandra sendiri. Sastra Kuning tampak berpikir dalam beberapa saat. Dia gerakkan tubuhnya di kursi yang bisa berputar itu ke kanan dan kiri.
“Suruh dua orang di belakangmu untuk keluar dari ruangan ini.” Sastra Kuning kini tampak lebih serius. "Kau melanggar aturan, kau biarkan mereka berdua mengetahui shadow satellite."
Chandra meresponnya dengan memberi isyarat dengan dua jari pada dua orang yang berdiri di belakang kursinya untuk segera keluar. Ruangan tersebut kini hanya diisi oleh 4 orang saja.
Suara pintu ditutup, Sastra Kuning lalu melanjutkan perbincangannya dengan Chandra Damara selaku Kepala BIN.
"Hanya dua orang itu yang mengetahui shadow satellite, selebihnya tidak ada yang tahu."
“Terserah kau saja, itu nanti jadi urusanmu jika keduanya tidak mampu pegang rahasia," balasnya. "Sejak dua orang bawahanmu memaparkan kasus yang kalian hadapi sekarang. Sejak itu aku sudah melacak siapa orang yang telah membantai orang-orang ini."
__ADS_1
“Bagus, dengan begitu aku tidak perlu bersusah payah untuk membujukmu.” Chandra Damara menyeringai senang.
Dia merasa usahanya untuk membujuk ketua tim shadow satellite berjalan mulus karena biasanya untuk menemui Sastra Kuning saja sulit apalagi meminta bantuannya.
“Lalu apa pendapatmu tentang orang ini ?” lanjut Chandra.
“Orang ini memang bukan orang biasa, dia punya kemampuan yang unik dan energinya tidak bisa diukur. Ini menarik.”
“Jika bisa, tugasmu hanya membantu kami untuk mengetahui identitasnya dan lokasinya berada.”
“Kusarankan kau untuk tidak menangkapnya,” cegah Sastra.
“Kenapa ?” tanya Evan akhirnya ikut bicara tapi matanya malah menatap smartphone.
Perkataan Sastra Kuning tidak membuat Chandra Damara terkejut. Jadi ia diam saja menyimak apa jawaban Sastra Kuning selanjutnya, ia memang sudah menduga pria 70 tahun lebih itu akan berkata demikian.
“Karena itu hanya perbuatan sia-sia, terlebih orang ini bukan tipe orang yang mudah dipaksa bicara walaupun mata pedang Damaskus kau tempelkan di lehernya,” tatap Sastra pada Chandra. “Menangkapnya tanpa bukti hanya akan memancing media dan semakin menambah runyam permasalahan meski sekuat tenaga kau tutup-tutupi. Kau juga harus berhati-hati karena pemuda ini bisa membunuh anggotamu di alam nyata.”
“Lalu kita harus bagaimana ?” Chandra bangkit dari tempat duduknya lalu menuju jendela untuk sekedar melihat pemandangan ibu kota.
“Kau tak perlu khawatir, anggap saja kasus ini selesai. Biarlah kasus ini beralih ke tanganku, dengan syarat, kau, anak buahmu beserta kepolisian tak perlu lagi ikut campur dalam masalah ini,” jawab Sastra. “Aku sangat excited jika lawannya tangguh.”
“Terserah kau. Tapi pastikan untuk serapih mungkin dan jangan meninggalkan jejak.” Chandra menggeleng.
“Kau akan membunuhnya ?” Barbara Luel tampak bangkit dari kursi setelah 30 menit ia duduk menyimak.
“Sepertinya begitu Luel. Jika kau tak suka kau boleh pergi. Aku tidak meminta bantuan siapapun termasuk kau Evan.”
Evan yang mendengar itu tak membalas komentar dingin Sastra Kuning. Ia tahu karakter Sastra Kuning memang seperti itu. Evan masih saja sibuk memainkan smartphone di tangannya.
“Tidak, kau butuh bantuan aku dan Evan, untuk menghentikan orang ini, 3 orang lebih baik,” kata Barbara Luel.
“Kalau begitu, kalian boleh pergi.” Chandra menutup rapat.
“Luel, Evan, kita akan bertemu kembali 5 hari setelah ini. Di tempat ku,” ujar Sastra lalu diikuti anggukan keduanya rekannya.
Ketiganya keluar dari ruangan tersebut lalu berpencar ketiga arah.
Shadow satellite mulai bekerja untuk menghentikan langkah Raduma yang memang dirasa sangat berbahaya.
Satra Kuning tidak pernah sebergairah ini, mungkin karena yang hadapinya kini bukanlah orang biasa. Biasanya ia hanya diminta untuk melacak jaringan *******, dalang dari misteri pembunuhan berencana, aktor intelektual dari korupsi kelas kakap dan masalah intelijen asing yang menyusup ke Indonesia dan tidak bisa dilacak oleh anggota BIN resmi.
Salah satu kasus yang paling membuatnya bergairah dulu adalah ketika dia menangani intelijen asing yang memiliki kemampuan metafisik dan mencoba bermain di momen lengsernya sang pemimpin negara, jenderal ahli taktik dan strategi tahun 98.
Tidak banyak yang tahu tentang latar belakangnya, bahkan beredar kabar Sastra Kuning bukanlah nama aslinya. Dia seperti hantu, bahkan mungkin hantu pun punya keluarga. Tapi tidak bagi Sastra Kuning, keberadaannya tidak ketahui kecuali oleh para mantan Kepala BIN termasuk Chandra Damara yang sekarang menjabat.
Di sisi lain, Raduma tampaknya sedang tidak berada di kota Bandung, ia bergerak beserta rombongan orang-orang RT 6 ke Parangtritis untuk berekreasi.
Ada 4 bus pariwisata yang dipakai rombongan RT 6, awalnya Raduma menolak untuk ikut namun Robby dan Lya selaku ibu dari sahabatnya dulu memaksanya untuk ikut, akhirnya ia tidak bisa menolak.
Lya kini sudah bisa melupakan kejadian tragis yang menimpa anak yang paling bontot (Tobias). Keputusannya untuk mengajak Raduma semata-mata karena tingkat kepekaannya terhadap orang-orang disekitarnya yang cukup tinggi. Ia melihat dan memahami, kehidupan yang tidak mudah harus dijalani Raduma sekarang. Ia juga beranggapan barangkali penderitaan dan rasa kehilangan Raduma jauh lebih besar dibandingkan dirinya.
Jika ia masih punya dua orang anak yang sudah besar pula, tapi tidak untuk Raduma. Dia tak punya siapa-siapa lagi untuk diajak mengobrol, bersenda gurau atau sekedar jalan-jalan di minggu pagi.
“Kang Raduma, kalau kekurangan makanan bilang saja, ya,” ujar Lya tempat duduknya tepat di samping Raduma.
Raduma duduk di dekat pintu keluar belakang bus. Ia memilih duduk sendirian karena perjalanan akan sangat panjang serta memakan waktu berjam-jam. Kalau duduk sendiri, ia bisa meluruskan kaki ke kursi sebelah. Setidaknya tidak merasa gerah juga, pikirnya.
“Iya Bu, makasih,” jawabnya lalu meletakkan headset di lubang telinganya.
Ada banyak orang yang ikut, baik ibu-ibu, bapak-bapak dan anak-anak. Pak RT, Bu Santy dan Robby pun ikut, termasuk Sula dan Sulu. Segala perbekalan dibawa oleh masing-masing orang, baju-celana, makanan, alat P3K, minyak kayu putih dan tentunya uang.
Sepanjang perjalanan mereka bersenda gurau, bernyanyi dan melihat-lihat kota yang terlewati. Raduma memilih untuk mendengarkan radio dan musik di smartphonenya, tentu saja karena suaranya lebih enak didengar daripada suara ibu-ibu.
Hampir sepuluh jam perjalanan yang mereka butuhkan untuk sampai di pantai Parangtritis, tinggal 4 jam lagi mereka sampai, Pak RT selaku koordinator rombongan memutuskan untuk beristirahat di sebuah restoran masakan khas daerah.
“Pir, di depan ada restoran, kita sudah rencanakan istirahat dulu di sana sambil makan,” pinta Suryalaya.
“Siap Pak RT, tapi mahal gak tuh ?” katanya ragu.
“Terjangkau...lagian bayarnya juga pake uang kas.”
Sang supir lalu memarkirkan busnya di halaman restoran yang memang cukup luas, diikuti pula 3 bus lain.
“Asyik makan euy,” teriak Ibu Ina yang halisnya seperti tokoh kartun Sinchan.
“Paling jago Ibu Ina mah kalau urusan makan ! sikat Bu Ina !” celetuk Sulu.
“Diem kamu ndut !” Bu Ina membentak jutek.
“Emang Bu Ina langsing ?” gerutunya.
“Apa kamu bilang ?” Sifat Bu Ina yang mudah marah dan mau menang sendiri masih saja belum hilang.
“Sudah, sudah Bu Ina. Sulu cuma bercanda,” lerai Bu Santy dengan senyuman manis.
Bu Ina masih saja merengut seperti buntelan kentut. Lalu melengos beranjak turun dari bus yang cukup membuatnya gerah.
“Ayo, ayo cepet turun kita istirahat dulu sambil makan-makan,” ajak Bu Santy sambil matanya menelisik mencari Raduma di kursi agak belakang yang rupanya tertidur. “Bu Lya, bangunin Kang Raduma, kita makan dulu.”
__ADS_1
“Iya Bu.”
“Robby, bangun Nak, kita makan dulu sekalian tiduran, ada saung di restorannya, yuk.” Lya menepuk bahu Robby yang sama-sama tertidur sementara saat Robby ia dapati sudah mengerjap-ngerjapkan matanya, Lya kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Raduma. “Kang, Kang Raduma bangun.”
“Eh Bu, ada apa ?” tanya Raduma setengah sadar.
“Rombongan mau istirahat dulu, yuk bangun dulu, kita makan-makan dulu di restoran. Nanti bisa sekalian tiduran di saung daripada di sini sempit.”
“Oh gitu Bu ? Ya kalau gitu Bu Lya duluan nanti saya nyusul.” Raduma melempar senyum.
“Turun yah, kalau gak makan nanti maag kambuh. Kalau gak salah kan Kang Raduma juga punya riwayat penyakit maag ?” Lya kemudian lekas turun dari bus.
“Iya Bu hehe.”
Setelah beberapa detik mengumpulkan nyawa akhirnya Raduma dan Robby turun dari bus lalu mengikuti langkah kaki para Bapak-Bapak yang berjalan memasuki restoran. Di dalam lokasi restoran tersebut terdapat beberapa saung dan kolam ikan, Raduma melihat beberapa saung sudah dipenuhi rombongan. Hanya tersisa dua yang masih terlihat tidak terlalu penuh. Ia berjalan ke saung tersebut untuk segera makan siang.
“Kenapa Nak nangis terus ?” tanya salah seorang Ibu tetangga Raduma pada anaknya yang berusia 4 tahun.
“Takut...takut ummi,” jawab sang anak laki-laki tersebut.
Tangis sang anak rupanya mengundang perhatian yang lain. Ibu-ibu, Bapak-bapak serentak mengarahkan pandangannya ke arah Ibu dan anak itu.
“Ada apa Bu Tysa ?” tanya Pak RT menghampiri.
“Ini Elnino nangis terus,” jawab Bu Tysa.
"Kenapa Nak ? Takut sama kepiting ? Kepitingnya gede-gede yah ?”
“Gak apa-apa, kepitingnya kan udah mati, udah mateng, tinggal di makan. Gak akan hidup lagi," lanjutnya.
Elnino menggeleng tanda bukan itu yang ia maksud.
“Kenapa atuh ?”
“Kenapa Nak ?” Pak mengulangi pertanyaan Ibunya.
“Itu...itu...” Tunjuk Elnino pada salah satu kolam ikan gurame.
Pak RT dan Bu Tysa menoleh ke arah yang dimaksud Elnino sementara orang-orang yang lain kembali menyantap makanan yang ada dihadapan mereka. Tapi tidak untuk Raduma, semenjak ia memasuki restoran, matanya memang sudah mengawasi beberapa titik. Raduma pun mendekat ke arah Elnino, Pak RT dan Bu Tysa.
“Itu, di situ kenapa ?” kata Pak RT dan Bu Tysa berbarengan.
“Ada kerbau terbang ummi.”
DEG !
Seketika jantung Pak RT terasa mau copot dan merasa sedikit takut. Berbeda dengan Bu Tysa yang tampak coba tenang , Pak RT memang agak sedikit penakut.
“Anak ini bisa melihat.” Batin Raduma ketika melihat kening Elnino yang memancar cahaya putih seperti cahaya senter berukuran kecil.
Lantas ia menoleh ke arah yang ditunjuk Elnino tadi. Didapatinya tidak ada apa-apa, di restoran itu memang ada beberapa karyawan yang bukan manusia dan Raduma menyadari itu. Tapi sepertinya bukan itu yang membuat Elnino menangis ketakutan, barangkali mungkin Elnino pun tidak tahu jika salah satu diantara karyawan restoran itu bukan manusia jadi ia tak merasa takut.
Elnino masih memasang raut muka ketakutannya. Hal itu membuat Raduma untuk melakukan sedikit tindakan.
“Pak gak usah pasang wajah takut kayak gitu,” ujar Raduma. “Hehe, Elnino Cuma halusinasi karena kelelahan.” Raduma berbisik di telinga Pak RT.
“Gimana kalau bener ? Kan serem juga Rad, jangan-jangan yang punya restoran munjung (pesugihan).”
“Enggaklah, jangan su'udzon."
Raduma lalu meletakkan satu tangannya ke atas kepala Elnino sambil menghiburnya. Namun hatinya Langsung meniatkan untuk menutup mata batin Elnino yang terangsang tekanan energi di tempat itu.
45 detik kemudian Elnino merasa sangat kantuk, otomatis ia tak lagi menangis sementara Ibunya lalu membawa Elnino untuk keluar setelah mendengar saran dari Raduma.
Raduma tetap bersikap normal, layaknya orang-orang di sekitarnya. Ia tak mau memperlihatkan diri bahwa ia juga mampu melihat apa yang dilihat oleh Elnino. Raduma tidak mau ada cap dukun, paranormal, indigo dari pengunjung restoran maupun para tetangganya.
Rasa penasarannya masih saja belum selesai. Kakinya bergerak ke arah jam 3, didapatinya sebuah kolam ikan, 100 meter persegi.
Semakin dekat jarak tubuhnya dengan kolam ikan tersebut semakin jelas terdengar di telinganya suara lonceng kecil dan musik jaman dulu. Bukan gamelan, lebih seperti alat musik yang berasal dari tatar Sunda, sebuah bambu kecil yang dijepit di bibir lalu dipukul oleh satu jari.
Hanya butuh 3 detik untuk Raduma mengetahui bahwa ada sebuah lubang sebesar roda sepeda untuk usia remaja. Hitam pekat, terkadang ukurannya mengecil.
Nuansanya yang terbentuk di lingkungan itu kini terasa menjadi menyeramkan. Bayangkan suara musik aneh itu terus berbunyi di telinga Raduma dengan aroma yang khas menyentuh bulu hidungnya.
Ini portal menuju dimensi lain.
Raduma menyadari bahwa lubang yang ia lihat adalah portal untuk memasuki dimensi.
“Ini terhubung ke dimensi lain,” gumamnya sambil mengeluarkan sebilah belati energi dari telapak tangannya jaga-jaga jika sesosok makhluk tak kasat mata menyergapnya. “Tapi ini sepertinya bukan menuju dimensi kedua, lebih baik aku tak ambil risiko untuk memasukinya. Semuanya harus dengan perhitungan yang matang. Yang pasti sepertinya di sebrang sana tempat makhluk-makhluk yang lebih bertenaga. Lagipula aku hanya singgah sebentar di sini.”
Akhirnya Raduma kembali menuju saung miliknya untuk menyantap kepiting yang sudah berwarna jingga. Tumis kangkung, gurame dan sambal pedas. Meski sebelum memakannya ia harus bersusah payah dahulu untuk menghilangkan buhul-buhul sihir yang terdapat di dalam makanan para rombongan termasuk makanan yang ada di hadapannya, tentu saja cukup dengan mengetuk jari telunjuknya ke kayu saung yang ia duduki sebanyak tiga kali.
Hanya dengan tiga ketukan, ledakan energi tak terlihat keluar dari tubuhnya seperti efek ledakan bom nuklir Hiroshima. Jangkauannya cukup luas, bisa sampai radius 1 kilometer. Namun karena jarak antara dirinya dengan para rombongan lain tidak sampai 1 kilometer. Jadi ia hanya mengeluarkan energi sebanyak 6000, itu cukup untuk ******* dan membinasakan semua buhul yang sengaja di tempel oleh pemilik restoran di makanan yang disajikan.
Teknik baru yang Raduma ciptakan untuk jaga-jaga jikalau ia harus bertempur kembali seperti di dimensi kedua.
Bantu penulis dengan like dan komentar ya.
(Vote tergantung kebijaksanaan pribadi masing-masing, tidak ada paksaan.) 🙏🙂
__ADS_1