PERANG METAFISIK

PERANG METAFISIK
Membunuh Ratu Urayaning di dimensi kedua


__ADS_3

Dua pasukan besar saling memandang di atas tanah yang warnanya ungu tua. Lebih keras dari tanah di alam manusia, apabila siang datang tanah tersebut akan merekah, merenggang hingga seperti lahan pesawahan yang kering dilanda kemarau, penuh retakan tanpa diairi dan ditanami padi. Sebaliknya apabila langit menghitam (malam) kondisi tanah akan kembali merapat.


“Aku menunggu cukup lama untuk menunggu momen ini,” ujar Dama Langsa seusai menendang sadis Gorila putih, tangan kanan Putra Halimpu hingga terhempas ke utara membentur tebing spiral.


Penampakannya pria dengan tubuh tegap, berotot hanya saja di area dadanya yang kukuh itu terdapat sisik-sisik buaya yang sangat keras menjalar ke bahunya sehingga seperti zirah perang. Pundak dan lehernya dipenuhi bulu seperti bulu pada jacket musim dingin di eropa.


Ia selamat dari operasi penaklukan Jawa tengah di dimensi kedua dari kelompok lain yang menyerang kerajaannya dahulu hingga luluh lantak, dibumi hanguskan tanpa tersisa dan akhirnya meminta perllndungan serta tempat tinggal di kerajaan Ratu Urayaning selatan gunung patuha. Sebagai bentuk balas budi ia mengabdi pada sang Ratu hingga kini.


Satu gerakan balasan Dama Langsa tadi menjadi isyarat untuk 3000 pasukan Ratu Urayaning yang berbagai macam bentuknya untuk memulai serangan.


Rentetan suara teriakan yang bisa mencapai 200 desibel itu saling bertubrukan di udara sehingga menciptakan getaran cukup kuat yang bisa dirasakan Raduma dan bala tentara Putra Halimpu.


“Persentase keberhasilannya mungkin hanya 40 persen, tapi seandainya Gorila putih cepat bangkit untuk melakukan serangan kedua padanya, setidaknya untuk membelah konsentrasi Dama Langsa. Mungkin aku bisa membunuhnya.” Tatap Putra Halimpu pada Dama langsa yang berdiri di atas salah satu pilar dari lima pilar yang membentuk simbol bintang jika dilihat dari ketinggian, sepertinya lokasi untuk pemujaan. “Tapi sepertinya, Gorila putih terluka parah.”


Wilayah kerajaan Ratu Urayaning memang cukup asing, dari kejauhan beberapa tebing spiral terlihat mengelilingi istana Ratu Urayaning. Cukup membuat heran Raduma yang sedari tadi terus mengawasi.


“Lokasi yang aneh ?” gumamnya. “Apa tebing-tebing berbentuk spiral itu semacam media yang digunakan untuk menangkap sinyal ? Ah Bukan. Kurasa itu bukan untuk menangkap sinyal dari dinding pengunci empat arah. Jika hanya untuk membuat pelindung empat arah, aku pun bisa. Itu pasti untuk menangkap sinyal atau sesuatu yang lebih besar.”


Rasa penasaran yang menyeruak di hati Raduma menuntunnya berinisiatif untuk melihat ke masa lalu. Akan tetapi di luar dugaan teknik yang satu itu tidak berfungsi sama sekali di dimensi kedua.


Di sisi lain, dua kubu yang saling berhadapan sudah terlihat bertempur, saking cepatnya dalam waktu 60 detik pertempuran mereka seperti kilatan cahaya yang saling bertubrukan, cukup indah sebenarnya, justru malah seperti budaya perang kembang api di salah satu negara di eropa. Kelap kelip cahaya yang bergerak abstrak lagi banyak jumlahnya seolah melukis malam yang semakin eksotik ditambah minyak-minyak di langit yang menyala. Namun lewat dari 60 detik kedua kubu kembali bertempur layaknya seperti bertempur dengan gaya klasik para pasukan perang bangsa manusia. 


Sepertinya memang ada batas tertentu kapan atau berapa lama mereka bisa berubah menjadi seperti kilatan cahaya. Dan yang baru diketahui Raduma adalah 60 detik.


"56, 57, 58, 59, 60.” Raduma mengerakkan jari jemarinya tatkala mengamati pertempuran itu. Ia terlihat terus menggali informasi sebanyak mungkin tentang apa yang ia lihat dan ia dengar. “Dugaan ku benar. Batas waktu mereka hanya 60 detik.”


Matanya kemudian mencari posisi Putra Halimpu, ternyata ia sudah melesat ke arah Dama Langsa. Pedang yang mengobarkan api merah itu ia tebaskan, meski sebenarnya jaraknya mungkin masih 12 meter lagi menuju Dama Langsa.


“Belum cukup cepat untuk mengenai jasadku ini.” Dama Langsa segera melompat dari satu pilar ke pilar lainnya saat hawa panas yang dihasilkan oleh api pedang Putra Halimpu dapat ia rasakan membakar kulit. “Jika hanya seperti ini, engkau hanya akan jadi pecundang di tempat ini.”


“Sejak kapan kau jadi banyak bicara ?” balas Putra Halimpu masih dengan gerakan gesit memburu kemanapun Dama Langsa menghindar. “Tidak pernah tercatat dalam sejarah seekor buaya bisa menang dari seekor gorila.”


“Kau benar. Tak pernah tercatat dalam sejarah seekor buaya bertekuk lutut di hadapan seekor gorila...” Dama Langsa mengangkat kedua bahu.


Putra Halimpu menggeram.


Lima detik ia terdiam di udara, memicing ke arah Dama Langsa yang perlahan menepi ke salah satu atap istana berbentuk segitiga sama sisi. Pedang di tangannya mulai memudar dan hilang seketika. Ia hanya mampu menggunakannya dalam waktu 15 menit, selalu ada kelemahan dalam sebuah jurus.


“Seharusnya kau tak perlu melindunginya,” kata Putra Halimpu. “Dengan kemampuanmu saat ini. Buat saja pengikut baru, wilayah baru. Daripada kau menjadi kacung dari wanita itu.”


Putra Halimpu melemparkan pandangannya ke arah dalam istana, maksudnya kepada Ratu Urayaning. Kali ini ia coba bernegosiasi atau setidaknya mengulur waktu sampai tenaganya pulih kembali sambil menanti pula Gorila putih sadarkan diri.

__ADS_1


“Hmm..ya. Itu juga bukan ide yang buruk.” Respon Dama langsa santai. “Mungkin lain waktu.”


Keduanya terdiam.


“Jadi, pergilah. Dan kita anggap saja hari ini tak pernah terjadi.”


“Sayangnya aku tidak tertarik untuk hal yang satu itu,” jawab Dama Langsa. “Aku lebih tertarik untuk menjadi pemimpin dari rakyat mu, artinya kau harus mati !"


BAMM !!


Elbow strike tiba-tiba masuk di rahang kiri Putra Halimpu, sangat telak hingga bunyi patahan keras terdengar. Dama Langsa tak terduga sudah berada di hadapan Putra Halimpu seraya melakukan gerakan berputar untuk mengayunkan elbow padahal jarak antara keduanya tadi tercipta 20 meter.


Disusul teknik bantingan, tubuh Putra Halimpu dilemparkan dengan kecepatan tinggi ke tanah yang sudah memadat kembali. Sehingga sensasi jatuh ke tanah yang sangat keras akan terasa jauh lebih sakit.


“Sakit sekali, tangan kiri ku sudah mati rasa.” Gorila putih bangun dari pingsan yang ia alami tadi. “Gawat, Putra Halimpu sepertinya kesulitan menghadapi buaya busuk itu. Tak ada pilihan lain selain harus melakukan ini “


Gorila putih melayang di udara bergerak ke arah barat lokasi pertarungan keduanya, bersembunyi di salah satu menara istana Ratu Urayaning, mencari kesempatan untuk mengunci tubuh Dama Langsa saat dia lengah. Dama Langsa hanya tinggal dua meter lagi untuk mencekik atau memenggal kepala Putra Halimpu dengan sebuah keris yang terselip di pinggangnya.


“Tak ada kawan sejati tak ada lawan sejati, demi bertahan hidup, apapun akan kulakukan.”


“Apa maksudmu ? tanya Putra Halimpu meski ia sudah tidak kuat untuk berbicara karena rahangnya patah.


Mendengar itu Putra Halimpu memicingkan matanya namun disaat beberapa detik lagi bilah kerisnya menyambar batang leher Putra Halimpu. Dengan cepat tak terduga Gorila putih menangkap kedua tangan Dama Langsa dari belakang sekaligus menekuk kedua lututnya.


“Brengsek kau monyet besar ! Bagaimana bisa ?” Dama Langsa terkejut. “Lepaskan aku !”


“Meski kau telah menendang ku hingga pingsan. Daya tahan tubuh ku jauh lebih baik dari bangsa siluman lainnya,” bisik Gorila putih. “Putra Halimpu, jika kau masih bisa bergerak, menjauhlah. Aku akan gunakan jurus terakhir.”


“Tidak, jangan lakukan itu. Kita bisa membunuhnya lain waktu, kau bawa saja aku dari sini !” telepati Putra Halimpu.


“Tidak ada pilihan lain, ini kesempatan bagus untuk membunuhnya. Sebelum tenaganya pulih ia bisa menggunakan jurus mancala.”


Mancala, sebuah jurus seangkatan dengan lahirnya jurus rawarontek, jurus tersebut lebih terkonsentrasi untuk merubah wujud si penggunaannya menjadi apa saja yang ia inginkan namun tentu memiliki sebuah resiko dan kelemahan bahwa untuk kembali ke wujud asli membutuh waktu dan menguras tenaga. Sementara Dama Langsa mulai panik, sepertinya Gorila putih akan melakukan sesuatu yang bisa membuat keduanya mati bersamaan.


“Ini berbahaya, apa yang harus kulakukan ?” Batin Dama Langsa. “Untuk melakukan mancala, butuh energi yang cukup besar. Sementara jika lolos dari kunciannya ini pun. Aku sudah kehilangan energi dan sudah pasti Gorila putih akan menyerangku dengan kekuatan penuh.”


“Sudah terlambat Dama Langsa,” ujar Gorila putih menyeringai pasrah. “Tidak ada yang bisa kau lakukan, matilah bersama ku.”


Seketika terbentuk gelembung energi yang mengurung keduanya, butuh tiga detik untuk menunggu. Putra Halimpu segera mengeluarkan sisa-sisa tenaganya untuk melompat sejauh mungkin dengan satu hentakan kaki.


Duaarr !!

__ADS_1


Ledakan besar terjadi, tubuh keduanya binasa tak terlihat sisa-sisa jasad mereka berdua, yang ada hanya gumpalan api besar yang ******* keduanya. Putra Halimpu terhempas cukup jauh namun ia masih bisa selamat dari jurus khas kaumnya sendiri.


“Itu gila,” gumam Raduma dari kejauhan. “Meledakan diri sendiri, aku harus berhati-hati jika berurusan dengan makhluk yang bertelanjang dada itu, sepertinya mereka memiliki jurus tersebut.”


Perhatian Raduma teralihkan oleh suara lengkingan dari dalam istana, Lengkingan yang juga mengejutkan kedua kubu yang sedang bertempur. Ratu Urayaning menjerit sejadi-jadinya saat melihat Dama Langsa tewas oleh jurus Gorila putih dari salah satu jendela.


“ini saatnya untuk membunuh si Ratu ******.” 


Raduma bergerak cepat mendekati istana Ratu Urayaning yang terdapat beberapa menara, menuruni beberapa tangga serta banyak cermin di dalam bangunan tiga tingkat tersebut, entah untuk apa namun yang jelas cukup membuat bingung Raduma. Ada banyak sekali makhluk astral di setiap ruangan istana yang saling terhubung dan sepertinya terus menjorok ke bawah seperti sebuah lubang berongga yang tidak diketahui kedalamannya.


“Bangunan yang rumit.” Raduma mendengus. “Tidak boleh gagal, tinggal satu langkah lagi lalu pergi dari tempat aneh ini.”


Hingga tinggal jaraknya beberapa puluh meter lagi Raduma bersiap melepaskan sebuah belati energi yang bisa ia lempar dengan kecepatan yang sama cepatnya seperti sebuah arrow (anak panah) yang dilepaskan dari busur terbaik turki ber-lbs 100 ke atas.


Jarak antara Raduma dengan ribuan makhluk astral yang menghuni istana Ratu Urayaning sebenarnya cukup dekat namun ia berhasil menekan energinya hingga menjadi sangat tipis, itu yang membuat keberadaannya tidak diketahui oleh para makhluk astral dari jenis siluman termasuk Ratu Urayaning sendiri.


Ssett !!


Satu belati energi melesat bahkan tidak sempat disadari oleh para pengawal sang Ratu dari salah satu lubang di langit-langit istana, Ratu Urayaning menjerit untuk kedua kalinya, ia oleng barang sesaat sambil memegangi tengkuknya yang sudah tertusuk belati, lengkingan suaranya yang tiba-tiba, mengagetkan seisi istana.


“Siapa itu ?” Salah satu pengawal mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru istana dan langit-langit istana.


“Ada penyusup !” Kawannya yang lain langsung bergerak ke salah satu lubang cahaya di langit-langit istana. "Tangkap dia hidup atau mati."


Ratu Urayaning terpelungkup tewas di tempat dan terbakar sesaat kemudian, Hal itu membuat para penghuni istana marah lalu sebagiannya mengerumuni. Salah satu pengawal Ratu yang berusaha mengejar Raduma tadi kini diikuti ratusan siluman yang bersama-sama untuk menangkap Raduma.


Beruntung Raduma bergerak lebih cepat, kembali menuju ke arah timur asal mula ia masuk ke dimensi kedua, gerakannya cepat masih bisa tertangkap oleh mata bala tentara dari kedua kubu yang bertempur di luar istana.


“Itu manusia...” ujar Putra Halimpu ketika melihat Raduma melarikan diri akan tetapi ia tidak bisa berbuat banyak karena masih dalam keadaan mengalami banyak luka, ia pun kembali merebahkan tubuhnya.


Sementara tatkala para penghuni istana keluar untuk mengejar Raduma, mereka dicegat oleh bala tentara Putra Halimpu yang sudah unggul dalam peperangan, mereka dibantai habis hingga tak tersisa dan bala tentara Putra Halimpu merangsek ke dalam istana untuk mendudukinya.


“Hampir saja....” Raduma kembali memasuki alam manusia dengan napas tersengal. Perpindahan Sukma dari satu alam ke alam lain seperti diremas dan dihisap tenaganya dengan kuat. “Lain kali aku harus membuat perhitungan yang matang jika memasuki dimensi mereka, jika sampai ceroboh, bisa-bisa aku tidak bisa kembali.”


"Tinggal satu lagi, si tua bangka,” tutupnya.


Ia kembali ke posisi tubuhnya di rumah sementara waktu sudah hampir masuk adzan subuh. Dua misi telah sukses diselesaikan Raduma, tinggal beberapa misi yang harus lakukan yakni membunuh beberapa dukun di tanah air yang banyak menarik perhatian sehingga menampung banyak pasien.


Dilain tempat Putra Halimpu yang masih terkapar menunggu badannya pulih memandangi langit seraya memikirkan apa maksud dari perkataan terakhir Dama Langsa sebelum ia tewas.


"Rencana besar, apa maksudnya ?"

__ADS_1


__ADS_2